
Seorang wanita tengah duduk termenung di dekat jendela kamar sebuah apartemen.Matanya menatap jauh pemandangan ibu kota dari ketinggian tempatnya duduk saat ini.
Ceklek...
Seorang pria masuk,lalu melihat makanan di atas meja yang masih utuh, bahkan nampak tak di sentuh. Ia mendesah lalu mendekati si wanita dan mengusap surai panjang wanitanya.
"Kenapa belum makan?"Tanyanya lalu ikut menatap jauh ke luar jendela.
"Aku tak lapar. "
"Naina... makanlah. "
"Kapan kau akan bawa aku menemui anakku?"
Pria itu mendesah lagi, "Bersabarlah, aku akan mencoba membujuknya lagi. "
"Kesabaranku juga ada batasnya. "
Pria itu tersenyum tipis, "Bukan sabar namanya jika ada batasnya,sekarang makanlah, aku akan pergi menemuinya lagi dan memohon agar kita bisa bertemu dengan Lucas. "
Baru pria itu berbalik dan melangkah mendekati pintu,suara wanita itu menghentikannya, "Baim... "Panggilnya.
"Ya Naina... "
Naina berdiri dan mendekat, "Bolehkah aku ikut, Aku ingin berbicara sendiri dengannya. "
Baim mendesah, "Lebih baik jangan, biar aku yang berbicara, akan berbahaya jika ada yang melihatmu. "
Naina mundur, "Aku lelah terus bersembunyi,apa salahku? Kau yang salah kenapa harus aku yang bersembunyi. "
"Baiklah, aku yang salah...maka dari itu, biarkan aku mengatur semuanya sekarang."
Setelah mengatakan itu Baim keluar meninggalkan Naina.
Naina menggigit bibirnya dan berfikir, "Aku bosan menunggu terus. Lebih baik ku ikuti dia."
..........
Axel duduk dengan malas di depan laptopnya, sementara Angel tengah mengajari Lucas mengerjakan PRnya di kamar anak itu.
"Angel.... "Panggil Axel.
Angel di kamar mendengar suara suaminya yang terdengar lemah itu.
"Sayang kamu kerjakan dulu ya, nanti mama balik lagi untuk mengeceknya. "
"Papa kenapa ma? Kok suaranya lemas gitu? "Tanya Lucas khawatir.Lucas sangat menyayangi Axel, bagi Lucas Axel adalah sosok papa yang sempurna,pria itu serba bisa, bisa main bola, basket, berenang,manjat pohon, menembak memanah dan papa Axel juga sangat pintar,semua soal pria itu bisa selesaikan dengan mudah.
Angel keluar dari kamar Lucas dan menghampiri suaminya.
"Kenapa? "
"Aku sakit Angel.. "Jawabnya lemas.
"Tidak usah alasan deh kalau mau aku maafkan soal tadi siang. "
Axel mendesah, "Tidak sayang kamu bisa cek sendiri, tubuhku panas. "
Angel mengerutkan keningnya lalu mendekati Axel dan menyentuh kening suaminya itu, pria itu benar dia demam.
"Tunggu sini biar aku ambil obat turun panas untukmu. "
Beberapa saat meninggalkan Axel,wanita itu kembali ke ruang tamu di mana Axel tadi berada, namun Axel sudah tak ada lagi di sana.
"Di mana dia? "Gumamnya sambil melihat ke arah pintu kamar yang terbuka. Angel segera menghampiri Axel yang ia yakin berada di kamar.
Dan benar dugaannya, pria itu sudah terbaring di atas ranjang dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Jangan pakai selimut, nanti malah tambah tinggi demamnya. "Ujar Angel sambil membuka selimut Axel.
"Dingin sayang. "
"Aku tahu, tapi jika demam lebih baik di buka bajunya."Ucap Angel sambil membuka kancing piyama Axel dan melepaskannya.
"Mau apa? "Tanya Angel saat melihat Axel bersiap membuka celananya.
"Kan tadi katanya buka baju. "
Angel menggeleng, "Cukup bajunya saja, celananya tidak usah. "
Angel meraih remot AC lalu mematikannya, "Bangun minum obatnya terus tidur. "
Axel menurut lalu segera meminum obatnya.
"Sudah kan? Tidur ya, aku mau kembali ke kamar Lucas. "
Buru-buru Axel menahan lengan istrinya,"Aku sakit Angel, masa kamu tega meninggalkan aku sendiri di kamar ini."
Angel melepas tangan Axel dari lengannya, "Aku mau memastikan Lucas tidur dulu,nanti balik lagi. "
Sepeninggal Angel, Axel tersenyum penuh kemenangan,"Ah untung aku makan kacang tadi, baru kali ini aku bersyukur dengan Alergiku. "Gumam Axel sambil segera melepas celananya dan menyelimuti tubuhnya kembali.
"Papa kenapa ma? "Tanya Lucas di kamarnya.
"Papa demam sayang,sekarang Lucas tidur ya... udah selesaikan PRnya? "
Lucas mengangguk lalu segera naik ke ranjang dan merebahkan dirinya.
"Selamat malam Lucas... "
"Selamat malam mama, jaga papa ya... Lucas sangat sayang papa. "
Angel tersenyum lalu mengecup kening Lucas, "Kami juga sayang Lucas. "
Setelah memastikan keadaan apartemen baik-baik saja, Angel masuk ke kamarnya dan segera naik ke ranjang dan di sebelah Axel.
"Kenapa pakai selimut?"Protes Angel lagi
"Dingin sayang. "
Axel tersenyum,"Biar cepat sembuh sayang, jadi di buka semua. "
"Ih pasti mau modus kan? "
Dengan cepat Axel menggeleng, "Tidak sayang, kan aku emang sakit."
"Iya tapi... "
belum selesai Angel protes,Axel lebih dulu menariknya hingga terbaring di sebelahnya dan memeluknya.
"Kak Axel.. "Protes Angel lagi.
"Cuma peluk sayang... "
Angel mendesah pasrah, percuma berdebat, kasihan pria itu benar-benar demam,jadi biarkan saja untuk malam ini,hukumannya di tunda dulu sampai pria itu sembuh.
"Kak Axel... " Protes Angel lagi.
"Aku tidak sengaja sayang Sumpah, itu reaksi alamiah dia bangun sendiri. "Ujar Axel membela diri membuat Angel lagi-lagi pasrah karena tak tega dengan kondisi sakit suaminya.
"Sayang... "Bisik Axel.
"Hmm..... "
"Udah kepalang, Sekalian ya... biar cepat sembuh."Bujuk Axel.
Angel tak menjawab, dan itu Axel anggap sebagai lampu hijau untuknya,'Yes... berhasil.'Batin pria itu.
...........
Bram tengah duduk di sebuah bangku taman yang menghadap ke sebuah danau kecil buatan. Pria tua itu merapatkan jaket yang ia kenakan karena udara malam ini sedikit dingin.
"Ayah... " Panggil seseorang membuat pria tua itu menoleh.
"Kau Ibrahim."
Ibrahim mendekat lagi ke arah Bram dan berdiri sigap di depan pria yang ia panggil ayah itu.
"Kenapa?"Tanya Bram.
Ibrahim menunduk sesaat sebelum ia memberanikan diri menatap pada Bram, "Kapan kami di perbolehkan bertemu Lucas. "
Bram tersenyum tipis, "Kenapa kalian masih bertanya soal itu, bukankah sudah aku katakan waktu itu padamu jika dia boleh kembali tapi jangan harap bertemu putranya."
"Ayah... tidak bisa seperti itu, bagaimanapun..."
"Cukup kalian tahu jika cucuku baik-baik saja dan dia sudah bersama putraku, dia bahagia."
Ibrahim mengerutkan keningnya, "Maksud ayah?"
Bram menghela nafasnya, "Cukup kalian tahu jika saat ini anak itu bernama Lucas Manuella Bramono. Kau... "Bram menatap Ibrahim lekat, "Paham maksudku kan. "
Tanpa mereka tahu, Naina mendengar semuanya di balik pohon tak jauh dari mereka, Wanita itu tersenyum, Ia tahu di mana putranya sekarang, dengan hati-hati ia pergi meninggalkan tempat itu.
...........
Naina meletakkan menu terakhir yang ia buat di atas meja makan di depan Alex yang tak hentinya memasang senyum sejak tadi.
"Kenapa senyum, gara-gara kamu kita terlambat makan malam kan? "Protes Naina karena Alex yang terus mengerjainya membuat mereka harus makan malam di jam 10 malam.
"Kamu membuat aku lupa akan rasa lapar sayang. "
"Cih gombal... "Naina duduk di depan Alex lalu mereka mulai makan malam mereka.
"Masakanmu selalu lezat, sepertimu. "
"Alex udah ih jangan menggodaku terus."
Alex tertawa melihat istrinya itu terlihat kesal.
Ting... tong....
Alex dan Naina menghentikan makan mereka saat mendengar suara bel pintu apartemen mereka.
"Siapa bertamu malam-malam. "Gumam Alex.
Naina menggeleng, "Biar aku buka, kamu tunggu di sini."
"Biar aku saja sayang. "
"Tidak usah, kamu makan saja dulu. "
"Takutnya tamunya berbahaya."
Naina menggeleng, "Aku bisa lihat dari monitor dulu kan? "
"Ya sudah."
Naina segera menuju pintu,dan ia mengerutkan keningnya saat hanya melihat rambut seseorang dari balik monitor,"Siapa?"Gumamnya sambil membuka pintu.
Ceklek...
"Anda siapa? "Tanya Naina pada seseorang yang tengah memunggunginya hingga membuat seseorang itu berbalik.
"Ana... "
...............myAmymy............ ...
Aahhhh... bakal seru part selanjutnya.... Ayok Vote dulu sampai 2000 Vote bakal aku Up lagi.
...🖤🖤...
...@myAmymy ...