
"Kalau begitu Axel akan putuskan semua pacar Axel." Ujar Axel sedikit ragu-ragu.
Fikirannya langsung melayang ke beberapa pacarnya yang sulit dia dapatkan dulu, mengingat perjuangannya jadi sedikit sayang kalau harus memutuskan mereka,Apa lagi ada beberapa dari mereka yang begitu perhatian padanya.Axel sangat suka di perhatikan,di manja ya begitulah Axel yang dari kecil kekurangan kasih sayang seorang ibu.
"Kamu yakin? " Tanya Banyu sambil melirik Angel. Melihat reaksi anaknya yang terlihat sedikit kaget.
"Ya.. yakin om.. " Axel menatap Angel, "Kalau angel sudah jadi istri Axel sepenuhnya sepertinya sudah cukup Angel saja. "
"Bagaimana menurutmu Ngel? " Tanya Banyu pada putrinya.
"Iya pa... Angel percaya kak Axel. " Angel masih sedikit ragu dengan ucapan Axel, tapi sekali lagi dia tak mau memikirkan itu, yang terpenting baginya dia bisa mengadopsi Lucas secepatnya.
Banyu mengehela nafasnya. Mungkin ini juga yang terbaik untuk Angel, dengan begitu akan ada yang menjaga Angel ke depan. Mengingat proyek yang sedang dia pegang mengharuskannya stay selama 10th ke depan. Dan dengan pernikahan ini maka dia akan merasa enak hati pada Bram untuk menitipkan Angel, jelas karena Angel akan menjadi menantu dari Bram sahabatnya dan ia yakin inilah pilihan terbaik meski tadinya ia dan Bram menginginkan Angel berjodoh dengan Alex, Banyu lebih mengenal Alex dari pada Axel.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi pilihan kalian, tapi mengingat papa tidak bisa pulang maka pernikahan kalian akan kita lakukan di sini, lusa saat papa libur. "
"APA... " Kaget Axel membuat Banyu heran.
"Kenapa apa kamu berubah pikiran? "
Axel melirik Angel yang sama terlihat bingung dengan reaksinya tadi,"Bukan begitu om, bagaimana dengan pestanya?"
Banyu menghela nafasnya, "Itu bisa kalian urus nanti di sana, Lusa hanya pemberkatan saja di gereja,Papa ingin menjadi saksi pernikahan putri papa sendiri. "
"Owh... " Axel mengangguk mengerti. Lalu menatap Angel yang tengah menangis.
"Jangan menangis Ngel, maafkan papa yang tak pernah ada di sampingmu di setiap momen penting dalam hidupmu, Tapi untuk kali ini, papi ingin mengantarmu ke altar dan menyerahkan kamu padanya."
"Papa.... " Angel langsung memeluk Banyu, bagitupun Banyu langsung memeluk putrinya dengan penuh sayang.
Axel memalingkan wajahnya ke samping untuk menghalau rasa harunya, Angel sama sepertinya, kurang kasih sayang ibu dan ayah.
'Baiklah Axel mungkin inilah jalan terbaik bagimu. 'Batin Axel.
................. myAmymy..................
Alex dan Naina baru saja tiba di kediaman Bramono sesuai undangan Bram untuk makan malam di sana.
"Silahkan tuan. " Ujar salah seorang pelayan mempersilakan Alex dan Naina menuju ruang makan.
"Papa mana bi? " Tanya Alex.
"Tuan besar sedang di ruang baca den. "
Alex menganguk lalu menarik kursi makan untuk Naina, "Duduklah dan jangan gugup ada aku bersamamu."
Naina hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Alex langsung duduk di sebelah Naina sambil menunggu papanya datang.
Di depannya ada beberapa pelayan yang sibuk menata makanan untuk mereka santap nanti.
"Sudah lama? " Tanya Bram yang ternyata sudah ada di belakang mereka.
Alex dan Naina menoleh dan mata mereka mengikuti hingga Bram duduk di kursinya.
"Baru sampai pa... "
"Baiklah kalau begitu kita langsung saja makan malamnya."
Sepanjang makan malam Bram terus mengawasi interaksi antara Alex dan Naina.
Bram tersenyum saat Naina mengupas kulit udang dan menyerahkannya untuk Alex.
"Terimakasih,kamu makan saja, Aku bisa sendiri. " Ujar Alex.
Naina menggeleng, "Kamu ngupasnya tidak bersih.Begini baru benar.Sudah makan saja."
"Baiklah tapi kamu juga makan. " Alex pun menyuapi Naina di depan Bram.
Naina melirik Bram,"Maaf om. " Gugup Naina.
"Tak apa... lanjutkan abaikan saja keberadaanku. "
"Biarkan saja dia sayang, dia pasti memaklumi kita. "
"Kamu bicara apa? Beliau adalah papamu bagaimana bisa kamu menyebutnya dengan Dia. "Bisik Naina.
Setelah makan malam mereka berdua sedikit mengobrol di ruang keluarga.
"Jadi apa kamu tahu jika putraku seorang duda? "
"Tahu om."
"Kamu juga tahu jika nama mendiang istrinya hampir mirip dengan namamu? "
Lagi Naina mengangguk, "Tahu juga om. "
"Pa.. " Tegur Alex.
"Kenapa, dia harus mengetahui semua masalalumu,Kenapa kamu keberatan? Atau kamu menganggap dia adalah Naina istrimu."
Deg..
Hati Naina mencelos, itu juga yang ia pikirkan setiap Alex berlaku lembut padanya.
"Kamu yakin? " Tanya Bram tak percaya.
"Tentu apa perlu kami buktikan bahwa kami saling mencintai?" Tanya Alex.
Bram tersenyum puas, ini yang ia tunggu dari Alex, Bram sangat mengenal karakter Alex yang selalu menyukai tantangan dan dia tak pernah akan menyerah.
"Tentu papa butuh bukti apa kamu berani melakukannya di depan papa. "
"A.. apa.. maksudnya? " Lirih Naina, ia merasa tegang layaknya berada di antara dua orang yang saling menodongkan senjata.
"Tentu, papa tahu bagaimana aku. "
Bram berdiri,"Menginaplah dan persiapkan diri kalian untuk membuktikan ucapan kalian besok pagi. "
Alex mengerutkan keningnya,apa maksud papanya menyuruh mereka menginap?
"Bawa kekasihmu ke kamarmu. " Setelah itu Bram pergi ke kamarnya.
"Apa papa anda percaya?" Ujar Naina.
"Pelankan suaramu. ingat berusahalah terlihat mesra di depan papa. "
"Ish.. aku sudah mesra dari tadi,anda saja yang kaku seperti kanebo kering."
"Kau... " Kesal Alex namun ia berusaha menahannya, "Sudah ayo ke kamar."
"Ish.. dasar es balok dan satu lagi julukan baru untukmu tuan.. kanebo kering."
"Ayo ke kamar biar ku tunjukan bagaimana kanebo ini jika sudah basah. "
"Jangan macam-macam." Ancam Naina.
"Kenapa kamu takut." Alex langsung mengambil tangan Naina dan menyeretnya ke kamarnya.
Ceklek...
Alex dan Naina masuk ke kamar bernuansa klasik.
"Ini kamar anda tuan?" Tanya Naina masih menatap takjub interior kamar milik Alex.
"Hmmm... semua kamar di sini di desain seperti ini, ini favorit mendiang mama. "
Naina mengangguk mengerti,"Bagus,indah sekali. "
"Kamu menyukainya? " Tanya Alex sambil memeluk Naina dari belakang.
"Eh... a.. apa yang anda lakukan tuan? "
"Menunjukan padamu bagaimana kanebo ini jika sudah basah."
Seketika Naina langsung gugup dan mengingat kejadian semalam di mana mereka hampir saja menyatukan diri.
"Em.. tuan, kita hanya berdua di sini, tak usah berakting lagi. " Jantung Naina berdegup kencang.
Alex menyingkirkan rambut Naina ke samping agar dia leluasa mengendus leher jenjang Naina, dan apa yang di lakukan Alex sukses membuat merinding Naina.
"T.. tuan aku mohon jangan..."
"Kenapa malu hmm..,aku sudah melihat semuanya.kenapa malu? "
Blush...
Naina yakin kini wajahnya sudah semerah tomat.
"Pfffttttt.... " Alex menahan tawanya lalu melepas pelukannya.Ia menatap Naina yang sudah menghadapnya dengan wajah marah.
"Apa ini,dari malu kamu sekarang marah?"
"Kau menggodaku. " Kesal Naina. Dia menuju ranjang mengambil bantal dan melemparnya ke arah Alex, " Menyebalkan tidurlah di sana." Tunjuk Naina pada Sofa di dekat jendela.
Sementara dirinya sudah langsung merebahkan dirinya di ranjang milik Alex.
"Hei setidaknya ganti dulu bajumu baru tidur."
"Aku tidak membawa baju ganti."
"Kamu bisa memakai kemejaku seperti waktu itu. " Lagi Alex menggoda Naina.
"Ya Tuhan, berhentilah menggodaku. " Kesal Naina langsung menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Alex menggelengkan kepalanya,dia.berfikir sepertinya dia sudah lama tak. merasakan senang seperti ini. Menggoda Naina sepertinya itu akan menjadi hobi barunya.
.
.
Siapa nih yang gemes lihat Alex dan Axel?
🖤🖤
@myAmymy