The Blackness Of Love

The Blackness Of Love
Part 10



Naina sudah selesai memasak,kini dia duduk sambil menatap makanan yang tersaji di meja makan. perutnya sudah lapar, tapi dia memilih menunggu tuan yang menolongnya itu selesai mandi.


Entah apa yang pria itu lakukan di kamar mandi hingga sudah hampir satu jam dia di dalam tapi belum juga keluar.


Naina yang tak sabar memilih menghampiri ke depan pintu kamar mandi.


Tok..tok..


"Tuan, apa anda baik-baik saja? " Tanya Naina.


Tak ada sahutan dari dalam, hanya suara air mengalir dari shower.


"Tuan, apa kau baik-baik saja? " Tanyanya sekali lagi.Dan kali ini Naina lega,dia bisa mendengar suara tuan itu meski hanya geraman.


Sekali lagi Naina bertanya," Tuan, sepertinya anda kesakitan apa anda butuh bantuanku? "


Ceklek...


Pintu terbuka menampilkan Alex yang hanya berbalut handuk yang melilit di pinggangnya.Mata pria itu menatap wanita di depannya dengan tajam.


"Apa kau sedang menggodaku? " Tanya Alex dingin.


"A apa? " Pipi Naina bersemu malu mendengar kalimat yang terucap dari tuan tampan yang menolongnya semalam.


"Aku tanya apa kau mau menggodaku?"


"M mmmenggoodda... " Gugup Naina.


"Ya, kau mengetuk pintu kamar mandi di mana seorang pria berada di dalam dan kau menawarkan bantuan. "


"Itu karena anda sudah terlalu lama berada di dalam,aku khawatir terjadi sesuatu jadi aku... "


"Cukup.. " Nafas Alex kian memburu," Sebaiknya kau diam saja.Biar aku selesaikan urusanku sendiri."


"Tapi anda.. "


Alex menghela nafasnya panjang lalu menarik Naina masuk ke dalam kamar mandinya.


..............


Axel mondar mandir di apartemen Alex.


Sejak kejadian kemarin Angel selalu menghindarinya.Gadis itu terus berada di dalam kamarnya. Dia hanya keluar jika mengambil minum atau makanan.


"Ini semua gara-gara papa. " Gerutu Axel.


"Ck... " Axel tak sabar, segera ia menghampiri kamar Angel dan mengetuk pintunya.


"Angel... " Panggilnya.


Masih tak ada sahutan dari dalam membuat Angel mendesah. Hingga tiba-tiba dia teringat sesuatu.


"Angel, apa kau mau jalan-jalan?" Masih tak ada reaksi dari dalam, " Bagaimana kalau kita ke panti dan menemui Lucas? "


Ceklek..


Dengan cepat pintu putih itu terbuka dan menampilkan Angel, hanya kepala gadis itu yang menyembul ke luar dari balik pintu.


"Tapi kata om Alex,Angel tidak boleh keluar apartemen sampai dia kembali. " Lirih Angel.


Axel sedikit terkekeh, " Apa kau meremehkan kemampuanku? "


Dengan cepat Angel mengangguk.


"Ck dasar, dengar aku ini lebih baik dari Alex, aku lebih muda pasti staminaku lebih kuat saat berkelahi dan kau tahu otakku lebih pintar di banding Alex. Kau tahu IQ ku 190 melebihi IQ Einstein dan hampir menyamai Habibie."


Angel memberanikan diri keluar dari kamar. Axel mundur ke belakang memberi ruang untuk Angel.


"Tapi berkelahi itu bukan hanya mengandalkan kekuatan, tapi juga akal. Orang banyak akal tidak harus berIQ tinggi. "


"Aku juga banyak akal. " Bela Axel,' Terutama mengakali para gadis'Imbuh Axel dalam hati.


"Kak Axel bukan banyak akal tapi NAKAL. " Ujar Angel, " Nakal karena akal kakak hanya untuk merayu perempuan."


Tepat sekali apa yang Angel ucapkan membuat Axel merasa kikuk,ia menggaruk tengkuknya salah tingkah.


"Bagaimana masih mau tidak kita ke panti menemui lucas. "


Angel nampak berfikir sesaat lalu mengangguk ragu.


Axel tersenyum senang, " Tenang saja akan aku pastikan keamananmu. "


"Aku ganti baju dulu kak. " Angel berbalik masuk ke kamar di ikuti Axel.


"Kakak ngaapain ikut. " Protes Angel kesal.


"Eh, habisnya kamu seperti magnet buatku tahu tidak."


Angel memutar bola matanya malas mendengar gombalan receh pria playboy yang sayangnya sangat tampan.


"Sudah ih tidak usah menggombal, keluar sana. " Usir Angel mendorong tubuh Axel agar keluar dari kamarnya.


"Iya Angel, sabar aku keluar."


Angel segera menutup pintu di depannya. Berbalik lalu bersandar di pintu sambil menetralkan detak jantungnya.


"Cepat ganti baju Ngel, jangan mikirin aku terus. " Teriak Axel dari luar kamar Angel mengagetkan gadis itu.


"Ah aku malu, kenapa dia bisa tahu.. " Gumam Angel langsung berlari ke lemari mengambil baju dan bersiap-siap keluar bersama Axel.


.................


Alex masih menatap lekat wanita di depannya.Bahkan tangannya masih menahan lengan wanita itu.


"Ayo lakukan... " Ujar Alex.


"A apa? " Tanya Naina gugup.


"Bukankah kau bilang mau membantuku? " Tanya Alex lagi.


"I iya, bbbantu apa? " Gugup Naina, pasalnya mereka berdua berada di kamar mandi dengan pintu yang tertutup.Bahkan di depannya kini berdiri pria tampan dengan dada telanjangnya yang sedikit basah dengan otot perut yang sungguh menggoda.


"Itu... " Tunjuk Alex dengan lirikan matanya ke arah bawah di balik handuknya. Dia sudah sangat kesal, adik kecilnya tak mau tidur sejak bangun tadi meski sudah ia usahakan sedari tadi.


Pipi Naina langsung merona malu saat tahu apa maksud dari Alex. Dia langsung merasa gugup.


"Ayo bantu... " Ujar Alex sambil meraih kaitan handuk di pinggangnya.


"No... " Tolak Naina sambil menahan tangan Alex yang akan melepas kaitan handuknya.


"M mmaaf tttuan, aku tidak bisa. " Naina langsung berbalik keluar kamar mandi,sebelum menutup pintu ia melirik lagi ke arah Alex yang terlihat mendongakan kepalanya ke atas.


Klik


Naina akhirnya bisa bernafas lega setelah keluar kamar mandi yang begitu terasa panas di dalam.


Lalu Naina memandang pantulan dirinya di cermin di samping kamar mandi.


"Astaga... " Kaget Naina melihat penampilannya sendiri di cermin,kemeja putih yang ia pakai begitu tipis hingga menampilkan bagian dalam tubuhnya yang tak terhalang kain lain. Dengan segera ia menarik kerah bajunya seolah itu bisa membantu menutup penampilannya.


.


.


setelah beberapa saat Alex keluar kamar mandi dengan tubuh basahnya melirik Naina yang sudah duduk manis di depan sofa dengan tubuh yang berbalut selimut seperti orang kedinginan.


Alex membuka lemari pakaiannya dan mengambil apa yang ia butuhkan lalu kembali ke kamar mandi. Tak lama kemudian ia keluar sudah dengan pakaian rapinya lalu menghampiri Naina.


"Apa kau sakit? " Tanya Alex santai.


Naina hanya menggeleng.


"Lalu kenapa kau pakai selimut? "


"Takut tuan kembali terangsang. " Ujar Naina polos.


Alex memejamkan matanya sesaat, " Tenang saja yang tadi itu bukan karena penampilanmu, tapi karena tadi pagi aku mengira kau adalah istriku." Jawab Alex jujur.


Naina menggangguk, " Tuan pasti sangat merindukannya. "


"Sudah tak usah di bahas lagi. " Alex melirik meja di mana tersaji 2 piring nasi goreng dengan telur mata sapi," Ayo sarapan."


Naina menganggukan kepalanya lalu meraih sendok dan mulai menyantap sarapan pagi mereka.


"Jadi apa tuan bisa membawaku ke Indonesia?" Tanya Naina di sela makannya.


Alex meneguk minumannya, " Apa kau punya paspor?"


Naina menggeleng,"Aku kabur dari mereka tak membawa apapun. "


Ah ya Alex ingat jika wanita ini belum menceritakan apa yang terjadi padanya.


"Kau belum menceritakan apa yang terjadi padamu, ceritalah agar aku bisa membantumu. "


Naina mengangguk lalu meletakan sendok makannya kemudian meminum air putih di gelasnya.


"Aku rasa aku di sekap selama 6 tahun. "


"Kau rasa? Maksudmu?"


"Aku tak ingat pasti, yang jelas aku ingat saat aku pergi itu sekitar 6 tahun lalu." Naina melirik ke arah kalender di atas nakas yang menampilkan tahun berapa sekarang.


"Aku tak tahu di mana data diriku, saat itu saat aku tersadar aku sudah ada di sini dan mereka semua mengurungku dan memanggilku Naina. "


"Jadi apa kau lupa ingatan?"


.


.


Haiya Si Alex sa ae ngelesnya 😅


.


.


🖤🖤


@myAmymy