
Alex menatap langit malam dari luar balkon, dia memikirkan semua yang sudah dia lakukan tadi bersama Naina. Jika saja dia tidak mendapatkan panggilan dari Adam,maka bisa di pastikan dia tidak akan bisa mengendalikan dirinya lagi.
Gluk....
Alex menenggak beer di tangannya.Dia bertanya pada hatinya,kenapa dia bisa berdebar saat begitu intim dengan Naina, berbeda saat bersama Raisa,melakukan tanpa rasa, yang dia lakukan hanya sekedarnya saja supaya cepat selesai.
Dengan Naina dia begitu menikmati setiap sentuhannya,Alex menarik nafasnya dalam, dia tahu jika yang di lakukannya bukan hanya karena hasrat semata,Sepanjang hidup hanya ada 2 wanita yang berciuman dengannya.Dua wanita dengan nama yang sama,Naina.
"Apa hatiku sudah meghianatimu Naina? " Tanya Alex sambil menatap bintang di langit.
"Di mana kamu Naina, kembalilah sebelum hatiku berpaling darimu. "
Sementara di dalam kamar, Naina baru saja selesai memakai kembali pakaiannya.Dia beruntung pria itu mendapatkan panggilan di ponselnya jika tidak dirinya tak akan bisa menjamin jika apa yang mereka lakukan tadi akan bisa berakhir.
"Kenapa aku bisa begitu pasrah tadi,apa sekarang dia menganggapku wanita murahan?"
Naina duduk di atas ranjang, bersandar pada kepala ranjang lalu menekuk kakinya,dagunya ia letakan pada kedua lututnya sambil tangannya memeluk kakinya.
"Kenapa aku bisa merasa berdebar saat dia mulai mencium bibirku dengan begitu lembut? Apa aku sudah jatuh cinta padanya? "
Naina menatap ke depan, ke arah pintu di mana ia pikir Alex berada sana.
"Sadar Naina, kamu tak tahu siapa dirimu? Bagaimana jika ternyata kamu wanita yang tak pantas untuknya. "
Ceklek...
Naina langsung gugup saat Alex masuk lagi ke kamar,Naina semakin gugup saat tiba-tiba Alex berganti pakaian di depannya.
"Kenapa kamu terlihat malu? " Tanya Alex sambil memakai pakaiannya.
"Kamu yang tak tahu malu, kenapa kamu berganti pakaian di sini tidak di kamar mandi?"
"Kenapa aku harus malu, bukankah kamu sudah melihatnya tadi?"
"Kau... " Tunjuk Naina kesal namun segera ia menunduk kembali saat di lihatnya Alex masih bertelanjang dada.
Alex tersenyum tipis melihat kegugupan Naina, ia semakin ingin menggodanya. Alex mendekat ke arah Naina sambil memakai kemejanya, " Tolong bantu aku. ".
Naina langsung mendongak menatap Alex, "Bantu?Bantu apa? "
Alex menyerahkan dasi di tangannya,"Pakaikan aku dasi? "
"Kenapa harus aku? "
"Aku buru-buru Naina, kamu lihat aku sedang merapikan lengan. "
Naina mengerti, ia bangkit lalu mulai memasangkan dasi pada Alex. Naina berusaha mengendalikan kegugupannya saat ia menyadari posisi mereka sangat dekat.
Alex tiba-tiba menarik pinggang Naina supaya lebih mendekat lalu menahannya.
"A.. apa yang kamu lakukan? " Gugup Naina.
"Jika kamu mundur terus, aku bisa tercekik."
"Ta.. tapi... "
"Cepat selesaikan maka akan aku lepaskan."
Alex sangat puas melihat pipi Naina yang semakin memerah.
"K.. kamu mau kemana? " Tanya Naina mencoba menghilangkan kegugupannya.
Alex menaikan satu alisnya,"Adam menelponku, ada pekerjaan, tak apakan jika aku pergi lagi. "
"Kenapa kamu bertanya padaku? Itu urusanmu,apa lagi itu tentang pekerjaan jadi kamu tak perlu bertanya padaku. "
"Aku pikir setelah apa yang kita lakukan tadi hubungan kita sudah cukup intim."
Naina mendorong tubuh Alex lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, "Kenapa kamu membuatku malu? "
Alex melepas tangan Naina dari wajahnya, "Kenapa malu? Tadi memang kita hampir... mmppp... "
Naina membungkam bibir Alex tak ingin mendengar kelanjutannya,"Jangan katakan apapun, dan lupakan soal tadi.Kita sama-sama khilaf dan itu tak akan terjadi lagi."
Entah kenapa Sudut hati Alex kecewa mendengar ucapan Naina,dia melepas tangan Naina dari bibirnya lalu berbalik tanpa kata. Mengambil jas kerjanya lalu ponsel dan kunci mobilnya langsung keluar kamar dan apartemen tanpa kata.
Naina menatap bingung,"Apa aku salah bicara?"
................
Setalah menempuh perjalanan 20 menit,mobil Alex memasuki area Markas DGS. Segera ia turun dan memasuki gedung itu.
"Ketua..." Sapa anak buah Alex.
"Joan, di mana bos besar? "
"Mr.Adam di ruangan utama. " Alex mengangguk lalu segera menuju ruangan yang di maksud.
Di sana bisa Alex lihat Adam tengah meminum alkohol.
"Sudah berapa gelas? " Tanya Alex pada salah seorang anak buahnya.
"Baru gelas ke 3."
Alex menghela nafasnya lalu duduk di depan Adam dengan gaya siapnya," Sir..."
Adam menatap Alex sesaat, "Aku memanggil sahabatku bukan pengawalku. "
Alex mengangguk lalu melepaskan jas kerjanya dan mengendurkan dasinya, ikut duduk di sebelah Adam.
Adam menghela nafasnya panjang,"Istriku meminta cerai dariku."
"Kamu berbuat salah apa lagi? "
Adam menatap Alex, "Menurutmu apa aku keterlaluan pada Dara?"
"Kamu hanya terlalu bodoh. "
Adam lantas menceritakan masalahnya pada Alex.
"Baiklah, besok akan ku temui Dara dan mencoba membujuknya." Alex memundurkan tubuhnya dan bersandar pada Sofa.
"Dam... " Panggil Alex.
"Hmmm..."
"Apa pendapatmu tentang Naina?"
Adam menoleh,"Naina yang mana?"
"Naina yang sekarang?"
Adam mengangguk,"Hmmm... cantik tapi lebih cantik Dara. "
"Aku serius Dam."
"Ya aku juga serius."
"Ck.. menyebalkan berbicara dengan bucin sepertimu. "
"Tak usah meledekku awas saja kalau kamu nanti mengalaminya akan ku bantai kamu dengan cacianku. "
"Eh.. menurutmu apa orang bisa kehilangan ingatan tanpa benturan di kepala? "
"Bisa saja,mungkin karena obat-obatan atau hipnotis. "
Alex mengangguk,"Ah ya kamu benar, sebaiknya aku menelpon Sam. "
"Kenapa Sam? "
"Dengar,Aku sudah berjanji membantu Naina mendapatkan kembali ingatannya dan membantu masalahnya jadi aku butuh Sam untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Naina, kenapa dia sampai kehilangan ingatannya dan juga asal kamu tahu bahkan sidik jari Naina rusak. "
Adam mengerti sekarang,"Terserah kamu saja tapi bantu aku baikan dengan Dara dulu,ini lebih darurat."
"Ya baiklah. "
Adam membuka kembali botol wisky di depannya.
"Stop Dam.. ingat batas toleransimu. "
"Satu gelas lagi Lex... lagian jika aku mabuk ada kalian yang mengantarku pulang."
"Ck... " Alex kesal lalu membiarkan saja Adam meminum kembali minumannya.
Alex memundurkan tubuhnya bersandar kembali pada sofa. Memikirkan semua tentang Naina, dia harus secepatnya membantunya sebelum perasaannya semakin berkembang untuk wanita itu.
............
Axel merasakan gugup yang teramat sangat,kini dia dan Angel duduk berhadapan dengan Banyu Wijaya, papa Angel.
Setelah berbasa-basi menanyakan kabar kini Axel bingung harus bicara apa lagi.
"Pa... " Panggil Angel.
Banyu mendesah, "Papa sudah tahu tujuanmu dan dia menemui papa, Bram sudah menceritakan semuanya."
Axel langsung memberanikan diri menatap papa Angel, "Jadi apa papa, eh maksud saya apa om menyetujuinya?"
Banyu mengerutkan keningnya,"Menyetujui?Apa yang harus saya setujui?"
"Papa, tadi katanya papa sudah tahu? "
Banyu menghela nafasnya, " Angel kamu putri satu-satunya yang papa miliki, hanya ada kamu harta yang papa punya?Apa menurutmu papa rela menyerahkan kamu pada pria playboy seperti dia? " Tunjuk Banyu pada Axel.
"Papa... " Rajuk Angel.
"Kamu lihatlah Ngel, bahkan dia tak berani mengatakan apapun, apa lagi meminta restu."
"Maaf om kalau saya kurang sopan tapi saya gugup sekali om. "
"Kenapa kamu harus gugup kalau kamu tak bersalah,dengar Axel,aku tidak akan mengijinkan putriku menikah dengan playboy sepertimu. "
"Tapi om... "
"Dengar saya hanya mau menikahkan putriku dengan pria yang bertanggung jawab,mencintai Angel sepenuh hati, bukan hati yang di bagi-bagi. "
"Kalau begitu Axel.... " Ujar Axel ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
.
**Kangen Alex dan Axel ya... Sabar ya, membuat cerita itu butuh perasaan, bukan cuma ide biar gak hambar.
semangatin dong aku untuk cerita ini dengan Vote yang banyak dan ramaikan komen.
🖤🖤
@myAmymy**