
Axel duduk di balkon, dia merenungkan semua yang ia tahu mengenai masalah Alex, Naina dan Ana juga kakak tirinya Ibrahim. Menarik nafasnya panjang, sungguh menyimpan sebuah rahasia adalah sesuatu yang sulit.
Ia tak bisa menyalahkan papanya karena menyembunyikan soal Lucas dari Alex,jujur ia membenarkan alasan papanya dulu mengambil Lucas dari Ibrahim dan meminta anak buahnya membawa Lucas sejauh mungkin.
Papa Bram tidak bisa membayangkan bagaimana terlukanya Alex jika mengetahui perselingkuhan Naina, terlebih dengan orang yang Alex benci, Alex membenci Ibrahim, karena Ibrahim adalah anak dari wanita yang membuat papa dan mamanya sering bertengkar,terlebih karena papa Bram pernah menampar mamanya di depan Alex hanya untuk membela ibu dari Ibrahim.
Dan satu hal yang Axel ketahui jika ibunya, Vivian meninggal karena stres pasca melahirkan dirinya, di saat Vivian melahirkan, papa Bram tak bisa pulang menemani, alasannya karena pekerjaannya yang tak bisa di tinggal tapi nyatanya Bram tengah berlibur dengan Ibrahim dan ibunya,Ratna.
Karena itulah, Axel remaja selalu membangkang sang papa, ia pernah membenci papanya, sama seperti Alex yang tak pernah mau dekat dengan papanya kecuali urusan pekerjaan.
"Kak Axel kenapa? Kok dari tadi Angel perhatikan melamun terus? "Tanya Angel yang kini berdiri di samping Axel dengan baju tidur baby dolnya membuat istrinya itu terlihat sangat imut.
Axel tersenyum lalu menarik Angel ke dalam pelukannya, "Angel... "
"Hmmm... "
"Kamu sangat menyayangi Lucas?"
"Iya... sangat sayang. "
Axel menghela nafasnya sesaat, "Kalau.... suatu saat nanti, ibu kandung Lucas datang dan menginginkan Lucas bagaimana?"
Angel langsung melepas pelukannya, ia menatap mata suaminya penuh selidik, jujur ia sedikit mendengar pembicaran antara Axel dan papa Bram tadi, hanya saja ia tak paham apa maksud pembicaraan mereka, tapi kini sepertinya itu soal Lucas.
"Ada apa kak? "Tanya Angel ragu-ragu.
"Hah... tidak, sudah malam pergilah tidur! "
Angel menggeleng, "Nanti tunggu kakak. "Ujarnya terdengar manja, bahkan tangan Angel sudah masuk ke dalam kaus hitam milik suaminya itu.
Axel menaikan satu alisnya melihat tingkah istrinya yang tak seperti biasanya,"Ada apa?"Tanya Axel, "Apa ada yang ingin kamu sampaikan?"
Dengan cepat Angel menggeleng,"Tidak ada."
"Angel... aku masih lemas, jangan menggodaku."Tegur Axel saat Angel membelai perut dan dadanya.
"Yah.... "Ucap Angel terdengar kecewa sambil mengeluarkan tangannya dari dalam kaus Axel, lalu ia berbalik meninggalkan Axel.
"Aaaaa.... "Kaget Angel karena tiba-tiba Axel mengangkat tubuhnya.
"Ayo kita olahraga bersama."
"Katanya tadi kak Axel masih lemas. "
"Kan bisa kamu yang ambil kendali. "
"Aku? Mana bisa? "
"Nanti aku ajari. "
Angel langsung menenggelamkan wajahnya ke dada bidang suaminya, Axel tersenyum lalu membawa Angel ke kamarnya dan menutup, mengunci pintunya.
................
Alex memasuki kamar inap Ana, di lihatnya istrinya itu masih memejamkan matanya, lalu ia duduk di sebelah Ana, menatap perut istrinya itu, lalu menyentuhnya, sedikit terasa jika perut istrinya tak serata dulu, jelas ada janin di dalam sana.
Mau tak mau Alex mengingat fakta yang baru saja ia ketahui, jika dia infertil, anak dalam kandungan Naina dulu bukan anaknya, jika itu semua benar, lalu bagaimana dengan Ana? Apakah Ana juga berkhianat sama seperti Naina? Tapi jika iya dengan siapa?
Pertama Ana masih gadis saat pertama bercinta dengannya, kedua Ana selalu dalam pengawasannya.Tidak,Alex yakin Ana tak mungkin berkhianat.Satu kemungkinan yang terjadi, jika benar dulu dia di vonis mandul, maka sekarang dia telah sembuh.
"Aku tak boleh gegabah, dari pada mencari tahu dengan hal yang membahayakan janin di perut Ana, lebih baik aku mencari tahu dulu dari diriku."
Melihat ke jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 11 malam, itu artinya dia harus bersabar sampai besok. Alex tetap yakin jika Ana tak menghianatinya.
Di ambilnya tangan wanita itu lalu di genggamnya erat, seraya mengecupinya Alex berharap jika Ana tak mengkhianatinya.
.................
Ana membuka matanya perlahan, sinar mentari pagi yang menembus dari balik tirai jendela kamar inapnya cukup membuatnya tak nyaman.
Baru saja berniat menggunakan tangannya untuk menutup matanya, rupanya tangan kanannya berada dalam genggaman tangan seseorang.
"Ana... sayang, kamu sudah sadar?"Tanya Alex antusias.
Ana menatap sesaat wajah suaminya itu namun dengan cepat ia memalingkan wajahnya ke samping.
"Ana... maafkan aku, aku tahu aku salah karena telah mendorongmu. "
"Cukup, pergilah aku orang yang berbahaya."Ujar Ana tanpa menoleh menatap Alex.
"Ana... jangan bicara seperti itu. "Ujar Alex sambil berusaha menggenggam tangan Ana kembali namun dengan cepat wanita itu menepisnya.
Naina beringsut berniat memunggungi Alex namun tiba-tiba ia merasa sakit di perutnya.
"Assshhh.... "Rintih Ana sambil memegang perutnya.
"Sayang, kamu kenapa? Mana yang sakit? "Tanya Alex khawatir, "Ku mohon jangan banyak bergerak, kandunganmu lemah sayang."
Ana langsung menatap pada Alex, "Apa kamu bilang? Kandungan? "
Alex menelan paksa salivanya, mendengar pertanyaan Ana membuatnya berfikir jika Ana belum mengetahui perihal kehamilannya.
"Ya Ana... kamu sedang hamil, 2 setengah bulan."
Ana langsung meraba perutnya, air matanya langsung menggenang, pantas ia tak kunjung mendapatkan tamu bulanannya,juga mual yang sering ia rasakan, ternyata ada kehidupan di dalam rahimnya.
"Alex, kamu yakin aku hamil? "Tanya Ana tak percaya.
Alex mengangguk, "Ya... kamu hamil. "
Ana langsung mengambil tangan Alex dan meletakannya di atas perutnya, "Alex, sayang... kita akan punya anak. "Ujarnya antusias,"Alex aku tak sebatang kara lagi, aku akan punya anak, kita akan punya anak. "Serunya antusias sambil menghapus air matanya.
Bisa Alex lihat Ana begitu bahagia dengan kehamilannya, wanita itu terlihat tersenyum tulus sambil membelai perutnya.Lalu haruskah ia masih meragukan wanita itu? Ana tak mungkin selingkuh.
"Alex aku bahagia, kamu juga kan? "
Alex mendongak ke atas agar air matanya tak jadi keluar, sungguh ia merasa bersalah karena sempat meragukan wanita sebaik Ana.
"Ya sayang aku bahagia."
Ana tersenyum lega, ia langsung membayangkan keluarganya nanti,ada Alex, dia dan anak-anaknya.
"Kamu istirahatlah, aku akan mencari sarapan dulu. "
"Hmm... jangan lama-lama, ah ya,nanti bawakan aku buah yang asam-asam ya, aku ingin makan itu, sebenarnya dari kemarin tapi aku tak mau merepotkanmu. "
Alex tersenyum lalu mengecup kening istrinya, "Tentu mintalah apapun yang kamu inginkan."
Ana tersenyum lalu mengangguk, "Pasti. "
"Aku keluar dulu. "
Setelah kepergian Alex, Ana menghela nafasnya panjang, ia lalu meraba perutnya,"Apa aku bisa merawatmu dengan kondisiku nanti? "
Ceklek...
"Kenapa kamu kembali? "Tanya Ana saat merasa ada yang masuk ke ruangannya yang ia pikir itu adalah Alex.
"Kau? "Tunjuk Ana dengan mata yang menatap seseorang itu tajam.
"Hai my Quen. "
..............myAmymy...............
Wah... author lagi kejar setoran buat lapak ini ya?Baiknya?hehe...
Ah Readers juga baik kok udah Vote... makasih ya.
...🖤🖤...
...@myAmymy...