The Blackness Of Love

The Blackness Of Love
part 08



Axel dan Angel duduk berjejer dengan wajah tegang. Di depannya duduk seseorang bak Hakim yang siap menyidang terdakwa.


"Sudah sejauh mana hubungan kalian? "


Angel menunduk, ia takut. Tapi lain halnya dengan Axel yang terlihat lebih santai.


"Sejauh yang papa lihat tadi. "


"Astaga Axel. Kau tahu Angel di titipkan di sini untuk kita jaga, bukan di rusak olehmu. "


"Yah pa, gampang tinggal nikahkan saja kami. "


Tak...


Bram menggetok kepala Axel dengan tongkatnya. Bram memang belum terlalu tua, usianya baru mau menginjak setengah abad. Tapi karena kecelakaan dalam tugas dulu mengakibatkan satu kakinya mengalami kecacatan.


"Aws,pa sakit. "


"Kamu gampang sekali ngomong nikah. Sudah papa tekankan kamu boleh menikah jika kakakmu sudah menikah lagi." Bram melirik Angel yang terus menundukkan kepalanya.


"Lagi pula Angel masih sangat muda, sayang sekali jika dia harus menikah dengan pria playboy sepertimu, apa yang harus aku katakan pada sahabatku. "


"Tapi aku suka Angel pa.. " Ujar Axel mantap.


"Tidak, aku sengaja menitipkan Angel pada Alex, agar Angel bisa merubah pikiran kakakmu itu."


Bram sangat berharap Alex mau membuka hatinya untuk gadis lain. Alex yang selalu menghindar untuk dekat dengan wanita,akhirnya dengan terpaksa dia mau menjaga Angel,Bram sangat berharap Angel bisa membuat Alex jatuh cinta. Tapi sepertinya rencananya gagal, bukannya dekat malah rupanya Alex melempar tanggung jawab itu pada Axel. Dan sialnya mereka berdua malah terlihat sama-sama tertarik.


"Yah pa, kasihan Angel kalau harus sama si balok es. Selain duda yang jauh lebih tua,pria itu juga tidak lebih tampan dari Axel. "


"Itu kan pikiranmu, tidak dengan Angel." Bram kembali melirik Angel," Iya kan nak... "


"Eh...Maaf om, Angel tidak...."


"Tuh kan pa, Angel tidak suka Alex, dia suka sama Axel. " Ujar Axel dengan percaya diri memotong ucapan Angel.


Sementara Bram bisa melihat bagaimana wajah gadis itu memerah. Bram menghela nafasnya. Dia tahu, memang benar gadis ini sepertinya lebih tertarik dengan Axel dari pada Alex, tapi tidak mungkin Bram biarkan Angel menjadi salah satu korban dari putra bungsunya.


Baiklah,sepertinya Bram memiliki cara agar Angel aman, dan Axel taubat.


"Tidak... Papa tidak merestui hubungan kalian. Dengar Axel, Papa berniat menjodohkan Angel dengan Alex, kamu kan bisa cari gadis lain. "


"Tidak bisa seperti itu pa, aku yang di sukai Angel, bukan Alex.. "


"Keputusan papa sudah bulat, setelah Alex kembali dari New York kamu kembali ke apartementmu, jangan ganggu rencana papa.. " Bram berdiri dan berlalu meninggalkan apartemen.


Axel memukulkan satu kepalan tangan kanannya pada tangan kirinya," Sial... " Kesal Axel lalu melirik Angel yang masih menunduk dengan wajah merahnya.


"Ehm,kamu baik-baik aja kan Angel? "


Angel hanya mengangguk kecil,sungguh dia sangat malu sekarang, mengingat bagaimana dia dan Axel begitu intim tadi,apa lagi sampai kepergok oleh om Bram.


Axel yang mengerti jika Angel malu, lalu meraih bahu Angel hingga membuat Angel tersentak kaget.


"Sorry, bukan maksud, tapi apa yang aku bilang sama papa tadi benar,aku suka kamu Angel.. "


"Mmm,tapi om Bram tidak setuju kak."


Jawaban Angel malah justru menerbitkan senyum di bibir Axel,


" Jadi kamu juga suka sama aku Angel?" Tanya Axel antusias.


Angel menggeleng," Kapan a..aku bilang suka kakak. "


"Tadi, terus tadi kamu juga mau aku cium, balas lagi.. " Goda Axel yang langsung menambah rona merah di pipi gadis itu.


Sungguh Angel sangat malu mengingat adegan tadi. Buru-buru ia berdiri dan langsung berlalu ke kamarnya.


Sepeninggal Angel,Axel berfikir kenapa ia mengatakan hal seperti tadi pada papanya, apa iya dia benar-benar menyukai Angel.


Axel memegang dadanya, meyakinkan dirinya tentang bagaimana perasaannya pada gadis itu.


...............


Sementara Alex tengah berada di New  York, kemarin dia mendapat info dari Adam tantang siapa saja yang menyewa jasa Angel dalam 3 bulan terakhir.


Duduk di ruang tunggu untuk bertemu papa Angel. Hingga tak lama kemudian muncul pria seuisia papa Bram dengan jas laboratorium berwarna putih menghampirinya.


"Apa kau yang bernama Alex? "


"Iya om. "


"Kau sangat mirip Bram saat muda."


Alex hanya tersenyum tipis.


"Bagaimana keadaan putriku? "


"Sejauh ini baik-baik saja om." Alex meletakan sebuah map pada papa Angel," Tolong di lihat om, apa ada yang om kenal? "


Papa Angel bernama Banyu Aji Setiawan, beliau seorang ilmuwan yang bekerja pada FBI. Dia seorang duda dengan seorang putri bernama Angela Setiawan yang sekarang berada pada penjagaan Alex dan Axel.


"Ya, dari sekian ada 2 orang yang om kenal, ini... " Tunjuk Om Banyu pada 2 nama dalam daftar.


"Baik om, saya akan menyelidiki 2 orang ini. "


"Tapi mereka adalah.. "


"Ah, baiklah.. "Ujar Banyu pasrah.


"Kalau begitu saya permisi om.. "


"Ya, silahkan, aku titip putriku. "


Alex mengangguk lalu berlalu meninggalkan Banyu yang terus menatap kepergian Alex.


.............


Alex duduk di sebuah caffe, sepanjang hari ia terus saja mengikuti salah satu target yang di tunjukkan oleh om Banyu papa Angel.


Dia adalah salah satu rekan kerja om Banyu yang awalnya berebut proyek dengan om Banyu, tapi sayangnya FBI lebih mempercayai proyek tersebut pada papa Angel.


Sepanjang hari mengikuti orang tersebut, Alex belum menemui sesuatu yang janggal darinya. Alex yakin pekerjaannya pasti tidak pernah terendus oleh targetnya.


Hingga malam dan di pastikan orang itu pulang ke rumahnya, Alex memutuskan untuk kembali ke apartementnya.


Dalam perjalanan pulang di dalam mobilnya, karena hujan Alex memilih mengendarai mobilnya dengan pelan.


Hingga matanya memicing melihat ada seseorang yang berlari di pinggir jalan searah dengan mobilnya. Dia terus berlari dengan sesekali menoleh ke belakang,wajahnya nampak ketakutan.


Brughhh...


Alex segera menghentikan laju mobilnya di saat ia melihat seseorang itu jatuh tersungkur hingga tak lama ada beberapa gerombolan pria yang mendekat dan membatunya. Oh tidak lebih tepatnya menyeret seseorang itu untuk mengikutinya.


Alex tak bisa jika hanya melihatnya saja. Dia bergegas turun dari mobilnya dan menghampiri mereka.


"Jangan harap kau bisa kabur dari kami dasar wanita bodoh. " Ujar salah seorang dari gerombolan pria yang Alex hitung berjumlah 7 orang.


Alex makin mendekat hingga ia membalik paksa bahu salah satu dari mereka.


"Hei bung, siapa kau berani mencampuri urusan kami? "


Alex hanya melirik seseorang yang terjatuh tadi yang Alex yakin adalah seorang wanita dan dia pasti korban di sini. Bisa Alex lihat pakaiannya begitu lusuh juga rambutnya.Alex yakin dia korban penyekapan yang berhasil kabur.


"Lepaskan dia maka kalian akan selamat." Ucap Alex yakin tetap dengan nada dinginnya.


Mereka semua tertawa dan menganggap ucapan Alex hanya gurauan.hingga tiba-tiba Alex mencengkram satu tangan salah seorang di antara mereka dan melipatnya hingga dia merasakan kesakitan karena tangannya di patahkan Alex dalam satu kali gerakan.


Mereka semua tak terima dengan apa yang Alex lakukan pada salah satu anggotanya.


"Sial berani sekali dia.Kau maju hadapi dia. " Ujar seorang di antara mereka.


Alex tersenyum tipis," Maju kalian semua agar ini cepat selesai."


Mereka semua membalas ucapan Alex dengan senyum mengejek, " Baiklah jika kau ingin mati lebih cepat."Mengangguk ke semua anggotanya, " Serang..." perintahnya.


Perkelahianpun terjadi di antara mereka,enam lawan satu. Tak butuh waktu lama bagi Alex untuk ia berdiri tangguh di antara 7 orang yang kini tersungkur di atas aspal dengan tubuh yang bagaikan remuk.


"Ku harap kalian bisa menelpon ambulans sendiri. "


Alex menepuk kedua tangannya seperti menyingkirkan debu di sana. Beralih pada wanita yang berjongkok takut,dan menghampirinya.


Alex mensejajarkan dirinya pada wanita itu kemudian memegang bahunya dan membuat wanita itu tersentak.


"Jangan takut, kau aman sekarang.. "


Wanita itu terlihat ragu-ragu,ia melihat ke belakang punggung Alex untuk memastikan keadaan. Setelah yakin ia mendongak menatap Alex.


Deg...


Lagi-lagi Alex merasa jantungnya berdegup kencang saat melihat sorot mata seorang wanita.


"Te.. Terima kasih..." Lirih wanita itu, tubuhnya masih gemetar ketakutan.


Alex menghela nafasnya, " Baiklah di mana rumahmu akan aku antar kau pulang. "


"Pu... pulang? " Beo wanita itu tak yakin.


"Iya,katakan alamatnya akan aku antar kau ke sana. "


"Indonesia. " Cicit wanita itu.


Alex mengerutkan keningnya, " Kau dari indonesia. "


Wanita itu menganggukan kepalanya.


"N... Nnnaina namaku Naina.. "


Mata Alex membulat mendengar nama wanita yang berpenampilan seperti orang gila di depannya. Wajahnya sangat kotor seperti orang yang sangat lama tak menyentuh air. Bahkan bau tubuhnya sangat tidak enak. Harapan tiba-tiba timbul di hati Alex.Apakah wanita ini Nainanya, Naina yang sama dalam hidupnya.


"Kau ikut aku. " Ujar Alex yakin.


.


.


Nah apakah harapan Readers juga sama dengan Alex?


🖤🖤


@myAmymy