
Bram menatap menantunya lekat, "Ana... "
"Kali ini aku tidak tahu apa aku harus mengikuti papa atau tidak, yang jelas saat ini aku butuh perlindungan untuk calon bayi ku, cucu papa. "
Bram menunduk, ia ingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Sandriana dulu.
"Apa hubunganmu dengan Marco dan Sandra? "
"Ck, kau... dari mana kau tahu nama orang tuaku? "
"Sadriana? "
"Wait, kau juga tahu nama asliku? "
"Ya Tuhan, bagaimana bisa gadis kecil itu menjadi seorang pembunuh?"
"Ck... tuan FBI jelaskan apa hubunganmu dengan mendiang orang tuaku? Atau kau yang telah membunuh mereka? "
Bram menghela nafasnya, "Aku sahabat lama ayah dan ibumu, puluhan tahun aku mencarimu, dan apa ini, aku menemukanku dengan status aku harus menangkapmu. "
"Ck... lepas, aku tahu kamu berbohong. "
"Wajahmu sangat mirip dengan Sandra ibumu."
Ana terdiam, "Benarkah?"Dia menunduk, jujur dia telah lupa bagaimana rupa kedua orangtuanya.
Bram mengambil dompetnya lalu mengambil sebuah foto lama, "Kau lihat, mereka orang tuamu,kau lihat kau sangat mirip ibumu. "
Ana menerima selembar foto lama berukuran kecil itu, ia menitikan air matanya, orang tua di depannya berkata benar, ia ingat mereka adalah orang tuanya.
"Ya Tuhan apa yang harus ku lakukan, aku tak mungkin menangkap anak sahabatku."Ujar Bram frustrasi.
Ia lalu menatap Ana lekat,"Tak ada cara lain. "
Ana menoleh, "Di mana makam orang tuaku? "
Bram menghela nafasnya, "Dengar Ana, kau ikutilah apa yang ku perintahkan, maka kau akan dapatkan kehidupan normalmu lagi. "
"Apa? "
"Bantu aku menangkap R02, maka kau akan kembali menjadi Ana, Sandriana bukan Queen lagi, King itu pria jahat,berhentilah menjadi partnernya melakukan kejahatan. "
Ana menggeleng, "Tidak, hanya dia yang aku miliki sekarang, dia keluargaku, dia kekasihku."
"Dengar Ana, orang tuamu akan tidak tenang di alamnya jika kau hidup seperti ini,kau ingat saat kecil, kau pernah mengatakan pada ibumu jika kau ingin menjadi seorang dokter anak, Dan ingatkah kau apa reaksi ibumu dulu? dia begitu bangga mendengar cita-citamu. "
"Hiks... ibu..."
"Bantu aku menangkap King, maka kau akan peroleh kehidupanmu yang dulu, Sandriana Muler. "
Ana mengangguk, "Iya... "
"Bagus, kau ikuti apa yang aku katakan."
Ana mendesah,ia tersenyum menyambut Alex yang baru saja turun dari pohon.
"Cukup?"Tanya Alex.
"Iya sayang... "
Alex menghela nafasnya, "Kalau begitu aku pergi ke kantor sebentar, nanti aku jemput lagi. "Ujar Alex sambil menatap papanya yang terlihat melamun.
"Tentu... "
"Bawalah ini pada mba di dapur, minta mereka mengupasnya. "Titah Alex pada salah satu penjaga di sana.
"Siap. "
"Ya sudah, aku pergi. "
Cup...
Alex mengecup kening istrinya dan memeluknya, "Aku mencintaimu."
Setelah mengatakan itu, Alexpun pergi dan hanya menatap sekilas pada Bram.
Beberapa saat setelah kepergian Alex, Bram mendesah, "Jadi apa kau sudah bertemu dengan King lagi? "
"Ya... "
"Kita bicara di ruang kerjaku. "
Ana mengangguk lalu mengikuti Bram.
Sementara Alex baru masuk ke dalam mobilnya, pria itu langsung memasang sebuah earphone ke telinganya dan mulai mendengar percakapan antara istrinya dan papanya.
Alex melihat ada prcakapan antara Bram dan Ana dari atas pohon, dan tepat saat Alex memeluk Ana tadi, pria itu meletakan sebuah alat perekam kecil ke dalam saku blazer yang istrinya kenakan.
"Jadi apa mau King sekarang? "
"Dia inginkan kematian Adam dan Alex."
Alex mencengkeram erat keudinya, 'Jadi R02 menginginkan kematianku dan Adam. 'Batin Alex saat mendengar percakapan Ana dan papanya dari balik earphone.
"Apa, lalu kau? "
"Aku tak mau menjadi pembunuh lagi, tapi aku tak mungkin lepas begitu saja dari pria itu,"
"Kau masih mencintainya? Lalu Alex? "
"Aku mencintai putramu, tenang saja, "
Alex menghela nafasnya lega, ia tersenyum karena Ana benar-benar mencintainya.
"Maka dari itu aku butuh bantuanku untuk mengawasi Mike. "
Alex mengangguk, "Ya kenapa tak meminta bantuanku saja."
"Tidak bisa, Kalau Mike sampai tahu aku bersekongkol dengan Alex pria itu akan melenyapkan anakku. "
Mata Alex langsung membola, ia tak bisa menerima apa yang baru saja ia dengar.
"Dengar pa, Mike belum tahu tentang siapa orang yang membantuku dulu, dia belum tahu tentang papa. "
"Baiklah, papa mengerti sekarang, jadi apa maumu? "
"Aku akan mengulur masalah ini sampai aku melahirkan dan nanti aku minta papa melindungi anakku, itu saja, soal Mike, aku.... aku akan ikut dengannya."
"Ana apa maksudmu? "
Alex mengetatkan rahangnya mendengar apa yang istrinya itu ucapkan.
"Mike hanya akan berhenti jika aku mati,baginya akulah kehidupannya, maka jika aku mati,diapun akan mati, dan kisah The Reapers benar-benar akan berakhir jika saat itu tiba. "
"Ana... "
"Lakukan pa, demi Alex dan demi anakku, cucu papa. "
Alex mencengkeram erat kemudinya, ia harus membicarakan ini dengan Adam segera,mereka harus menyusun strategi untuk mengatasi R02, atau The King atau Mike itu.
"Aku akan melindungimu Ana,aku berjanji. "Gumamnya sebelum menyalakan mobilnya dan pergi dari halaman rumah besar itu.
Sementara Ana dan Bram di dalam ruang kerja Bram.
"Mike memintaku menembus sistem situs keamanan DGS,tapi aku tak bisa melakukannya."
"Soal itu, papa tak bisa bantu, sistem itu di pegang oleh Adam sendiri."
"Aku tahu, maksudku aku dengar Axel adalah orang yang jenius, bisakah dia membuat situs palsu tanpa di ketahui Mike nanti, Mike juga ahli IT yang cukup jenius. "
"Ah ya, tunggu sepertinya Axel bisa menangani masalah ini. "
Ana tersenyum, "Tolong pa, sementara nanti aku bisa mengulur waktu hingga 7 bulan ke depan. "
"Tentu nak, papa janji papa akan melindungi cucu papa juga dirimu. percayalah dan berjuanglah untuk lepas darinya, anakmu kelak membutuhkanmu ibunya."
Ana menitikan air matanya, ia juga berharap bisa membesarkan anaknya sendiri, tapi ia tak yakin dengan dirinya sendiri, bukan hanya soal Mike tapi juga soal ptsd nya.
...................
Alex tiba di kediaman Adam,pria itu benar-benar ingin sekali membunuh pria bernama Mike sesegera mungkin, dia harus mengatasi ini dengan Adam segera, tanpa melibatkan Ana.
"Papi...tolong Leo jambak rambut Siena... huaaaa.."
"Ya Tuhan, Le... lepas kasihan kakakmu. "
Bukannya lepas, tapi justru Leo semakin menjambak rambut Siena kuat, bahkan balita itu hanya tertawa melihat kakaknya kesakitan.
"Le... lepas, nanti papi kasih mainan baru untukmu. "
Leo langsung melepas tangannya dan langsung naik ke punggung papi Adam.
"Sir. "
Adam menoleh, ia lalu mengangguk, "Baiklah jagoan papi, kalian main dulu dengan yang lain ya, papi ada kerja dengan om Alex. "
"Leo ayo tidur sayang, adikmu sudah tidur."Ujar Dara datang langsung membawa Leo di ikuti Siena.
"Kita bicara di ruang kerjaku. "
Alex mengangguk lalu mengikuti Adam.
"Jadi apa ada info lagi?"Tanya Adam.
Alex mengangguk, "Kau dan aku adalah target The Reapers selanjutnya."
"APA? Siapa orang yang berani membayarnya untuk membunuhku?"
Alex menggeleng, "Tidak ada, aku rasa ini dendam pribadinya, kau ingat terakhir kalian bertarung apa yang kau lakukan padanya. "
"Ah ya, aku mematikan masa depannya ck, harusnya kau berterima kasih padaku, berkat apa yang aku lakukan padanya, kau bisa mendapatkan istrimu masih tersegel."
Alex mendesah, "Baiklah terima kasih. "
Lalu Alex mengambil sesuatu dari balik saku jas nya, "Dengarkan ini. "Alex menunjukkan rekaman yang ia dengar tadi.
"Wah jadi ayahmu... keren, FBI memang the best, kapan DGS sekeren mereka."
"Apa pendapatmu? "
Adam menghela nafasnya, "Nanti malam minta ayahmu datang ke markas, kita harus bicarakan dengannya. "
Alex mengangguk, "Tapi aku tak bisa ikut, aku harus menjaga Ana. "
"Ya, nanti aku minta Axel dan Ibrahim,mereka saja, aku takut ada mata-mata."
.
.
................myAmymy.................
...Vote nya ya jangan lupa...
...🖤🖤...
...@myAmymy ...