The Blackness Of Love

The Blackness Of Love
Part 18



Bram masih menunggu jawaban dari wanita muda di depannya.Jelas terlihat sekali jika wanita itu tengah gugup.


"Jadi siapa namamu? "


"N.. naina om... "


Mata Bram membola mendengar jawaban Naina...


"Naina? " Beo Bram tak percaya.


Naina menggigit lidahnya saat ia sadar telah salah menyebut nama yang sudah si sepakati kemarin. Dengan cepat Naina menggeleng, "B.. bukan Naina om, tapi Naima. "


Bram menggangguk, "Oh mungkin saya salah dengar,tapi kenapa kamu terlihat gugup? " Tanya Bram curiga. Bekerja cukup lama menjadi agen rahasia membuat instingnya bekerja jika ada sesuatu yang di sembunyikan oleh lawan bicaranya.


"Itu ka.. karena ini ppertemuan pertama kita om, dan.. dan.. apa lagi Alex belum pernah mengenalkan saya sama om. "


Bram menganggukan kepalanya. Dia menerima alasan dari wanita yang ia harap benar akan menjadi menantunya.Bram cukup khawatir pada putra sulungnya yang tak mau membuka hati kembali setelah kepergian Naina.Bram berfikir mungkin nama mereka yang hampir mirip membuat Alex menyukainya.


"Sudah berapa lama kalian berhubungan?"


"3 bulan om. "


"Baru 3 bulan? " Jawaban Naina membuat Bram kembali meragukannya.


"Kenal di mana kalian? "


"NewYork om. "


Bram menganggukan kepalanya, "Dimana keluargamu? "


Naina menunduk ia tak tahu tapi ia harus menjawab sesuai arahan Axel kemarin,"Saya yatim piatu om. "


"Oh maaf saya tidak tahu,apa nama margamu?"


Naina kembali menunduk, "Saya tidak punya orang tua,saya besar dan tumbuh di panti asuhan sejak kecil. "


Axel menyarankan agar Naina menjawab seperti itu karena Bram paling tidak tega dengan anak yang besar dan tumbuh di panti Asuhan,itu mengingatkannya pada mendiang istrinya, mama Alex dan Axel. Dan lagi-lagi hubungan yang sama terulang. Alex dengan Naina dulu juga Naina hanya gadis panti asuhan dan sekarang lagi Naima juga gadis panti asuhan.


"Maaf om tidak tahu. "


Naina menggeleng, "Tidak apa om. "


Bram melihat jam di tangannya,"Baiklah ini sudah malam, om pulang dulu."


Naina mengangguk lalu mengikuti Bram untuk mengantar kepergian laki-laki paruh baya itu.


"Hati-hati di jalan om. "


Bram berbalik lalu tersenyum,"Masakanmu sangat enak. Sampaikan pada putraku aku tunggu kalian di rumah besok malam. Harus datang jika ingin mendapatkan restu dariku. "


Setelah mengatakannya Bram langsung pergi meninggalkan Naina yang masih tertegun.Dia tak percaya jika raut wajah Bram berubah di saat terakhir tadi. Pria tua itu terlihat begitu hangat padanya.


"Apa dia percaya?" Gumam Naina.


"Aaahhh... aku pusing sekali." Naina tiba-tiba mengingat Alex, "Si mesum itu,awas ya nanti beraninya membiarkanku dalam situasi seperti tadi seorang diri." Gerutu Naina.


.


.


Alex baru saja memasuki lobi apartemennya dia begitu terburu-buru, dia takut jika Naina ketahuan oleh Bram. Alex sangat tahu insting ayahnya begitu kuat maka dari itu sebenarnya dia kurang setuju dengan permainan Axel.


"Sial.. " Kesal Alex karena semua lift tengah jalan.


Ting.


Tepat saat lift terbuka Alex menatap pria tua di depannya.


"Papa... "


Bram menatap tajam putranya. Kebetulan dia harus menerima jawaban dari putra sulungnya.Dia kurang yakin dengan jawaban dari wanita yang ia temui tadi, tapi melihat ketulusan di mata dan sikap Naina tadi membuat hati Bram sedikit luluh padanya.


"Ikut papa. " Ujar Bram tegas.


Alex mengangguk lalu mengikuti Bram menuju mobilnya.


Setelahnya mereka kini duduk berdua di dalam mobil milik Bram. Alex diam menunggu Ayahnya memulai pembicaraan.Sementara Bram


memegang kepala tongkatnya sedang matanya menatap lurus ke depan.


"Kamu mencintainya? " Tanya Bram tiba-tiba.


Alex menoleh menatap ayahnya,Dia tak tahu harus menjawab apa, selain dia tidak pandai berbohong dia juga tahu kalau ayahnya bukan orang yang mudah di bohongi.


"Atau karena nama mereka yang hampir mirip jadi kamu membawanya sebagai pengganti istrimu?Kamu masih terjebak dengan bayang-bayang masalalumu? "


"Papa salah, Naima bukan Naina dan mereka adalah 2 wanita yang berbeda. "


"Papa tahu, dia tidak mirip Naina tapi kamu menganggap dia Naina. "


Alex menggeleng yakin, mengenal Naina selama beberapa bulan membuat Alex bisa melihat jelas perbedaan di antara keduanya. Naina ini tak selembut Nainanya. Bahkan dia terkesan bar-bar dan tak tahu malu.


"Mereka sangat berbeda. Naima berbeda dengan Naina. Sifat keduanya bertolak belakang, jangan hanya karena nama mereka yang hampir mirip membuat papa meregukan hubungan kami. "


Bram mengangguk,"Buktikan." Ujar Bram tegas.


"Maksud papa? "


"Besok malam kalian datang ke rumah,makan malam dan menginap. Papa akan urus semuanya."


"Maksud papa apa? Mengurus apa?"


"Turun kamu. " Usir Bram.


"Papa bilang turun kamu. "


Alex yang masih bingung hanya bisa menurut dan langsung keluar dari dalam mobil milik Bram.


Setelah Alex keluar supir Bram langsung masuk ke dalam mobil setelah memberi hormat pada Alex.


"Jalankan mobilnya. " Perintah Bram.


Ia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Semua akan segera berakhir,akan aku urus secepatnya."


Setelah mengatakan itu Bram segera menutup ponselnya dan kembali menatap lurus ke depan.


.


.


Naina baru saja membuat susu hangat untuknya sebelum dia pergi tidur. Dia butuh minuman yang hangat untuk melemaskan urat-urat di kepalanya setelah ketegangan yang terjadi tadi.


Klik


Ceklek...


Alex masuk ke dalam apartemen tepat saat Naina akan masuk ke kamarnya.


Naina langsung menatap kesal pada pria itu.


"Kamu baik-baik saja? " Tanya Alex.


"Menurutmu tuan? "


Alex menghela nafasnya lalu duduk di sofa sambil melepas sepatunya.


"Mau kemana kamu? " Tanya Alex melihat Naina akan masuk ke dalam kamarnya.


"Tidur apa lagi? "


"Aku belum makan malam, siapkan untukku. "


Naina menghela nafasnya, "Yang ku masak sudah habis tadi di makan bersama ayahmu. "


"Kalian makan bersama? " Tanya Alex tak percaya.


"Menurutmu, ayahmu datang tepat saat aku sedang memasak apa iya aku tak menawarinya. Siapa sangka dia memanfaatkan tawaranku untuk menginterogasiku. "


"Apa saja yang dia tanyakan?"


"Apa lagi, untung aku sudah hafal skenarionya."


Alex menghela nafasnya, ia tahu betul Bram belum mempercayainya.


"Baiklah,tapi aku lapar, bisa kamu buatkan mie instan saja."


Naina menghela nafas sejenak,"Baiklah. " Dengan malas Naina berbalik ke dapur untuk membuatkan pria itu makan malam.


Alex melepas dua kancing teratas kemejanya lalu mengikuti Naina ke dapur dan duduk menunggu di meja makan.


Beberapa saat kemudian Naina kembali dengan semangkok mie instan lengkap denga. telor dan sawinya.


"Terimakasih."


Naina mengangguk lalu bermaksud kembali ke kamarnya tapi di tahan oleh Alex.


"Mau kemana? Temani aku. "


Naina menghela nafasnya lalu dengan malas ia duduk di depan pria itu. Naina duduk diam sambil memperhatikan Alex memakan mie instannya. Mengambil gelas di depannya dan menuangkannya air ke dalamnya.


Baru saja bermaksud menyerahkan minuman itu pada Alex, mata Naina menangkap sesuatu pada diri alex dan seketika emosinya muncul.


Brakk...


Alex menatap kaget pada Naina yang tiba-tiba meletakan gelas dengan kasar hingga airnya tumpah.


"Kenapa? " Tanya Alex bingung.


"Kamu keterlaluan. " Ujar Naina kesal.


"Maksudmu? "


"Dasar brengsek. " Umpat Naina berdiri dan pergi meninggalkan Alex.


"Hei, mau kemana? " Cegah Alex yang sudah berdiri menahan lengan Naina,"Ada apa denganmu kenapa tiba-tiba marah? "


.


.


Kira-kira kenapa tiba-tiba Naina marah ya?


.


.


Vote ya... 😉


🖤🖤


@myAmymy