The Blackness Of Love

The Blackness Of Love
Part 59



Ana menatap keluar jendela, ada banyak mobil lalu lalang di bawah tempat ia berdiri sekarang,ia menghela nafasnya berkali-kali sambil mengusap perutnya.


Ceklek....


Ana menoleh dan mendapati pria yang membawanya ke gedung ini.


"Ini yang kamu minta Quen... "Ujarnya meletakan kantung keresek di atas meja Sofa.


Ana mengangguk, lalu menghampiri pria itu,dan membuka apa yang pria itu bawa.


"Ayolah Quen... aku tidak percaya kamu hilang ingatan,jangan bermain-main denganku."


"Terserah mau percaya atau tidak."


"Oke... "Pria itu menatap Ana yang tengah memakan gado-gado yang ia minta tadi,"Di mana platmu? "


Ana menghentikan suapannya, "Plat? Plat apa?"


"Ck... yang seperti ini. "Tunjuk pria itu pada plat kecil bertuliskan R02.


"Ya Tuhan, aku benar-benar tak mengerti maksudmu."


"Aarrggghhh.... sial... "Geram pria itu meremas rambutnya,"Harusnya aku tak biarkan kamu kabur malam itu."Kesalnya menendang kursi kayu hingga kursi itu tersungkur.


Ana hanya melirik sekilas pada pria itu yang kini sudah merebahkan dirinya di ranjang.


"Quen... "Panggilnya.


Ana tak menjawab, dia terus saja mengunyah makanannya.


"Quen... please dengarkan aku. "


"Namaku Ana... bukan Quen. "


"I Know... but Quen adalah panggilan kesayanganku untukmu."


Ana meletakan sendok dan segera minum, ia lalu menatap pria yang ternyata sudah duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Dengar, lebih baik kau pergi dari sini, karena suamiku pasti akan segera menemukanku."


"Heh... "Pria itu menyeringai, "Aku tak takut padanya, dia saja tak bisa mengalahkanku waktu itu. "


"Kau hanya beruntung waktu itu. "


Pria itu langsung bangkit dan menghampiri Ana, "Aku tahu kamu hanya pura-pura kan?"


Ana mengerutkan keningnya, "Pura-pura apa?"Tanya Ana sambil menepis tangan pria itu yang menjepit dagunya.


"Bagaimana kamu tahu kalau waktu itu..."


Ana tertawa, "Aku kan hanya menanggapi ucapanmu barusan, dan aku yakin Alex pasti bisa mengalahkanmu karena suamiku pria yang hebat. "


Pria itu menurunkan bahunya, lalu ia menyugar rambutnya,"Quen... "


"Namaku Ana... Sandriana. "


"I Don't Care... "Bentaknya,pria itu terlihat menghela nafasnya, "Sorry bukan maksudku membentakmu."Di genggamnya tangan Ana dan di kecup olehnya, "Listen to me... Oke jika kamu benar lupa ingatan tapi please jangan lupakan aku hmmm... "


Ana mengerutkan keningnya, entah kenapa jantungnya berdegup dengan kencang,ucapan pria itu terdengar begitu tulus. Ana melihat tangan yang di genggam oleh pria itu lalu segera melepasnya, Ana menoleh ke samping dan memejamkan matanya.


Pria itu berdiri, membelai rambut Ana dan mengecup puncak kepala Ana, "Habiskan makanmu dan istirahatlah.Aku pergi sebentar."


Ana hanya mengangguk kecil, entah saat ini dia hanya fokus pada debaran di jantungnya yang tak ia mengerti.


....................


Alex menatap sebuah bangunan di depannya, Ia tersenyum lalu memastikan alamat yang baru di kirim Axel dengan bangunan tua di depannya.


"Ana... " Gumamnya.


Segera Alex langkahkan kakinya masuk ke halaman rumah kecil itu, naik ke teras lalu di ketuknya pintu coklat di depannya.


Tok...tok.....


Alex menghela nafasnya lalu menoleh ke kanan dan kiri sebelum ia mengetuk lagi pintu itu.


Merasa tak mendengar jawaban, Alex mencoba membuka pintu itu dan ternyata tak di kunci.


"Tak di kunci?"Gumamnya lalu masuk ke dalam.


"Ana... sayang.... "Seru Alex memanggil istrinya.


Sepi tak ada jawaban, hanya ada Sofa kecil dan meja lalu Alex mencari pintu kamar dan langsung masuk ke dalam.


Mata Alex membulat mendapati kamar yang berantakan dengan pakaian milik Ana yang berantakan.


"Ana... "Lirih Alex saat ia mengambil pakaian itu,"Sial..."Geramnya.


Alex mengambil ponselnya lalu menelpon anak buahnya, "Datang kemari dan selidiki tempat ini. "


Ujar Alex lalu menutup teleponnya dan mengirim peta lokasi pada anak buahnya sebelum pergi dari rumah itu.


"Siapa dia? "Hingga tiba-tiba Alex ingat sesuatu, ia kembali meraih ponselnya dan menelpon Adam,"Hallo Dam, di mana? "


"Di rumah kenapa? "


"Aku mau lihat data The Reapers waktu itu."


"Ah ya... kerumah saja kalau begitu, si kembar sedang tidak mau di tinggal olehku."


"Ya. " Jawab Alex lalu menutup teleponnya dan segera melajukan mobilnya menuju kediaman Adam.


.................


Ana baru saja mandi, ia tengah mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Hingga ia merasakan pelukan di perutnya.


"Kau... lepas. " Kesal Ana menatap seseorang yang tengah memeluknya dari belakang di cermin.


"Quen... "


"Lepas... "


Pria itu menghela nafasnya, lalu melepas pelukannya pada Ana.


Ana segera berbalik, "Jangan pernah lakukan itu lagi, aku... aku sudah menikah."


Pria itu menggeleng,"Aku tak peduli, nanti jika ingatanmu kembali, aku yakin jika kamupun akan ingat jika kamu hanya mencintaiku. "


Deg....


Ana langsung menatap pria itu, Cinta?Apa hubungan di antara mereka adalah cinta? Apa itu arti dari debaran jantungnya saat ini.


Pria itu mengambil tangan Ana, "Quen... kamu tahu bagaimana aku mencintaimu, bagiku kamu bukan hanya partner kerjaku, tapi kamu juga belahan jiwaku. "


"Partner? "Beo Ana.


Pria itu mengangguk, "Ya...."


"Partner apa? Kerja apa yang kita lakukan sebelumnya? "


Pria itu nampak menatap mata Ana lekat, lalu mendekati telinga Ana dan berbisik di dekat telinga Ana, "Mengantar seseorang ke kematian. "


Ana langsung mencengkeram kuat genggaman tangan pria itu, matanya membola, sementara pria itu tersenyum menyeringai, "Kamu tahu Quen, aku merindukan kerja sama kita. "


Ana melepas genggaman tangannya lalu memegang kepalanya yang tiba-tiba merasa berat.


"Aku merindukan senyumanmu di depan korban kita, aku rindu tatapanmu saat kamu membidik target kita, aku rindu... Quen... Quen..."Panik pria itu saat tiba-tiba Ana terhuyung ke tubuhnya, "Quen... dia Pingsan. "


Pria itu langsung menggendong Ana dan merebahkannya ke ranjang. Mengambil sesuatu di lemari dan mulai memeriksa keadaan Ana.


Hingga beberapa saat kemudian pria itu membulatkan matanya, "Denyut nadi ini?"Pria itu mengerutkan keningnya, lalu menyingkap pakaian Ana di bagian perutnya,meraba dan sedikit menekannya, "Astaga... dia hamil."


Pria itu menatap Ana tajam, tangannya mengepal,'Kamu benar-benar menghianatiku Quen. 'Batin pria itu.


"Alex.... "Gumamnya sambil menyugar rambutnya,"Mati kau. "


Di lain tempat, Alex baru saja tiba di kediaman Adam, ia langsung di sambut oleh anak buahnya yang siaga di kediaman mewah itu.


"Di mana mr. Adam? "


"Di ruang keluarga bang. "


Alex langsung masuk ke dalam menuju tempat Adam berada.


"Leo sudah, papi lelah. "


"Ih mas masa baru gitu aja udah capek. "Ujar Dara yang datang membawa dua botol susu untuk kedua jagoan kembarnya.


"Papi jadi kuda."Seru Leo di atas tubuh Adam.


Sementara Lio duduk tenang di Sofa sambil meminum susunya dari botol susu.


"Ayo lagi pi...."Seru bocah 2 tahunan itu.


"No sayang, lihat ada om Alex, papi ada kerjakan. "


Leo mendesah, "Yah... "Lalu turun dari punggung papinya.


Adam berdiri dan langsung menghampiri Alex, "Ah kau menyelamatkanku dari singa kecil itu."Ujar Adam sambil melirik Leo yang sedang bermanja pada maminya, "Sudah ayo ke ruang kerja sebelum singa kecil itu berubah pikiran."


Alex mengangguk, menoleh menatap Leo dan Lio, ia mendesah mengingat kandungan Ana,sesaat kemudian dia segera mengikuti Adam ke ruang kerjanya.


..............myAmymy........... ...


Si pria bucinnya Ana itu kira-kira siapa ya?


...🖤🖤...


...@myAmymy ...