The Blackness Of Love

The Blackness Of Love
Part 24



Alex menunggu dengan cemas Naina di ruang inap yang baru saja di tempati oleh Naina yang hingga kini belum sadarkan diri.


"Permisi..." Ujar seorang perawat datang membawa baju khusus pasien rumah sakit.


"Maaf pak,ini baju ganti untuk istrinya, silahkan di ganti ya supaya istrinya nyaman. "


"Tunggu suster,maaf bisakah anda saja yang menggantinya. "


Suster itu tampak mengulum senyumnya,


"Tolong jangan salah sangka, hanya saja gaun itu terlalu rumit. " Gugup Alex.


"Baik pak... ".


Alex mengangguk lalu keluar dari kamar inap Naina.


"Apa yang terjadi Lex? " Tanya Bram yang baru saja datang.


"Belum tahu pa... dia belum sadar, kata dokter mungkin dia kelelahan. "


Bram mengangguk lega,"Papa harap papa segera punya cucu... "


Uhuk... uhuk....


Alex terbatuk karena kaget dengan ucapan ayahnya.


Ceklek....


Suster yang membantu Naina berganti pakaian keluar kamar.


"Sudah pak, dan istri anda sudah sadar. " Ujarnya


"Terima kasih sus. "


Alex dan Bram segera masuk untuk menemui Naina.


"Sayang. " Ujar Alex cemas.


Naina mengerutkan keningnya menatap Alex.


"Bagaimana apa kamu baik-baik saja. " Imbuk Bram juga khawatir.


Naina hanya menatap bingung pada Alex dan Bram.


Alex menggenggam tangan Naina dengan lembut,ia memang sungguh khawatir pada Naina. Di tambah ada Bram di samping mereka membuat Alex harus bersikap layaknya pasangan yang saling mencintai.


"Aku haus. " Lirih Naina.


Alex mengangguk lalu segera membantu Naina untuk duduk dan membantunya supaya bisa minum.


"Bagaimana?Apa yang kamu rasakan?" Tanya Alex setelah meletakan kembali gelas minum ke atas nakas.


Naina melirik ke arah Bram,"Aku hanya merasa pusing. "


"Permisi... " Ujar Dokter yang baru saja datang setelah di panggil oleh suster yang keluar tadi.


"Bagaimana keadaan menantu saya dok? Apa dia hamil?" Tanya Bram tak sabar.


Dokter itu langsung menatap Alex dan Naina bergantian lalu kembali pada Bram, "Mohon maaf tuan tapi menantu anda hanya kelelahan hingga tekanan darahnya rendah."


"Owh...." Lirih Bram kecewa.


"Papa jangan seperti itu, kami baru menikah,bersabarlah nanti tiba saatnya kami memberikan cucu untuk Papa. " Ucap Alex begitu entengnya.


Sementara Naina masih nampak kebingungan.


"Ya sudah,karena istrimu sudah baik-baik saja lebih baik papa pulang saja. "


"Iya pa... " Bram segera pamit dan meninggalkan Alex dan Naina bersama.


Alex menghela nafasnya lega setelah kepergian Ayahnya, kemudian menatap Naina khawatir.


"Apa kamu butuh sesuatu? " Tanya Alex.


Naina menggeleng, "Tadi katanya aku ini istrimu?"


Alex mengangguk,"Iya kita baru saja menikah,Itu gaun pengantinmu. " Tunjuk Alex pada gaun pengantin di atas sofa.


Naina melihat ke arah yang Alex tunjukan, lalu menatap Alex masih dengan pandangan bingung membuat Alex ikut kebingungan.


"Lihat ini cincin pernikahan kita, ada apa denganmu Naina? " Tanya Alex khawatir,dia yakin ada yang tidak beres dengan wanita berstatus istrinya itu.


"Tadi katamu kita baru menikah? " Tanya Naina.


Alex mengangguk yakin,dan ia semakin yakin ada yang tidak beres dengan Naina.


"Jadi siapa aku? " Tanya Naina.


Alex mundur ke belakang,ia tak percaya dengan apa yang ia dengar,bagaimana bisa Naina menanyakan siapa dirinya.


................myAmymy.....................


Axel menatap tak percaya pada gadis cantik di depannya, sesuai kesepakatan hari ini dia dan Angel akan menikah di saksikan oleh tuan Banyu ayah Angel.


"Kamu cantik sekali Ngel.. " Puji Axel saat Banyu mengantar putrinya pada Axel di depan Altar.


Blush...


Pipi Angel langsung merona merah karena pujian dari Axel.


"Sudah nanti saja kalian saling pandangnya sekarang kita laksanakan pernikahannya dulu. " Protes Banyu.


"Iya pa... "


Akhirnya Axel dan Angel menikah.Axel tak menyangka jika kedatangan mereka ke Newyork berujung pada pernikahan mereka yang terjadi begitu saja tanpa persiapan.


"Silahkan kalian saling memasang cincin pernikahannya. "


Axel dan Angel segera memasang cincin pernikahan mereka yang rupanya adalah cincin pernikahan ayahnya dan juga mendiang ibunya.


"Lihat Ngel bahkan cincin pernikahannya bisa pas di jari kita." Lirih Axel berbisik di telinga Angel.


"Selamat kalian sudah resmi menjadi suami istri mulai sekarang,silahkan pengantin pria mencium mempelainya. "


Axel tersenyum sumringah, ini yang paling dia tunggu, meski mereka pernah berciuman tapi untuk mendapatkannya kembali adalah sesuatu yang cukup sulit bagi Axel.


Axel mendekatkan wajahnya pada Angel lalu segera mencium bibir manis yang sudah ia rindukan itu.


Angel memukul dada Axel di saat ia mulai tak nyaman dengan ciuman yang Axel berikan,ya Tuhan ingatkan Axel di mana mereka sekarang.


"Maaf keterusan. " Lirih Axel sambil. mengaruk tengkuknya.


Banyu menggeleng melihat kelakuan menantunya itu. Ia menghela nafasnya, cukup khawatir bagaimana nanti nasib pernikahan putrinya itu. Hanya modal kepercayaan kepada sahabatnya Bram yang membuat Banyu memutuskan untuk menerima pernikahan Angel dan Axel.


Setelah acara pernikahan selesai,Banyu mendekati Axel dan Angel.


"Nak Axel."


Axel yang tengah sibuk memandang wajah Angel seketika menoleh pada pria paruh baya berstatus ayah mertuanya sekarang.


"Iya pa... "


Banyu mengambil tangan Angel lalu meletakkannya pada tangan Axel, "Mulai sekarang saya titipkan putri kesayangan saya padamu, jaga dia dan jangan sekalipun kamu menyakitinya."


"Pasti pa... " Ucap Axel yakin.


Banyu tersenyum tipis, "Dan jika kelak kamu sudah tak menyayanginya lagi maka tolong jangan sakiti dia, tapi kembalikan dia padaku. Karena rasa sayangku padanya tak akan pernah berubah meski seburuk apapun dia. "


Axel tak menyangka jika dia akan mendengar nasihat seperti ini. Apakah ini perasaan orang tua pada anaknya.Mata Axel mulai memanas, dia mendongakan kepalanya ke atas supaya Airmatanya tak jatuh.


"Dan jika kelak aku sudah tiada, aku berharap kamu mampu menjadi tempatnya bersandar."Imbuh Banyu


"Papa... papa jangan bicara seperti itu,papa akan berumur panjang sampai punya cucu dan cicit nanti. " Ujar Angel sendu.


Banyu tersenyum, "Papa berharap seperti itu, dan kamu sayang jadilah istri yang baik seperti mendiang mamamu, kendalikan egomu jika kalian kelak berbeda pendapat.Mengalah bukan berarti kalah, ingat rumah tangga bukanlah sebuah perlombaan di mana harus ada yang menang dan kalah,rumah tangga juga bukan pengadilan di mana ada keputusan siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi Rumah Tangga adalah sekolah kehidupan tahap baru untuk kalian. Dalam rumah tangga kalian akan di ajarkan cara memecahkan masalah secara bersama-sama dan menghadapi ujian secara bersama-sama.Tak ada diri kalian masing-masing, mulai saat ini kalian adalah satu. Ngel selama suamimu berada pada jalur yang benar maka kamu harus mengikutinya,dan jika suatu hari dia berada di jalur yang salah maka tugasmu adalah merangkulnya dan mengarahkan pada jalur yang benar.".Banyu berganti menatap Axel.


"Begitupun denganmu anak muda. Mulai sekarang Angel adalah tanggung jawabmu, dan itu bukan hanya perkara makan dan tempat tinggal,ingat mulai sekarang Angel adalah rumah tempatmu pulang, jangan sekali-kali kamu pulang ke rumah yang lain. " Ujar Banyu mengingat bagaimana kehidupan menantunya selama ini.


Axel mengerti apa yang di maksud oleh mertuanya, dia pun memaksakan senyumnya lalu melirik ke arah Angel, Axel pikir itu tak akan mungkin terjadi,dia tak akan mungkin lupa jalan pulang jika rumahnya seindah ini.


"Iya pa... akan Axel ingat nasihat papa. "


Banyu merasa lega setelah mengatakan semua isi pikirannya,"Semoga kalian bahagia."



**mau cerita ini cepat Update jangan lupa untuk VOTE ya... VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA 😁


🖤🖤


@myAmymy**