
Alex masih menahan lengan Naina,dia masih bingung kenapa tiba-tiba Naina marah padanya.
"Lepas. "
"Katakan dulu kenapa kamu tiba-tiba marah?"
"Jelas aku marah, aku di sini hampir mati berdiri menghadapi ayahmu tapi kamu rupanya malah sedang bersenang-senang kan? Pantas aku telpon berkali-kali tak ada respon. Dasar pria brengsek. "
"Bersenang-senang apa maksudmu? "
Naina melepas paksa tangan Alex lalu memegang kerah baju Alex dan membukanya.
"Ini... lihat, kamu habis bersenang-senangkan dengan pacarmu? Sementara aku di sini sendirian,ketakutan." Naina tak bisa lagi membendung perasaannya,air matanya tumpah. Dia takut salah bicara dan mengacaukan rencana kakak beradik itu. Andai dia tahu harus pergi kemana dia tak akan bertahan di sini, terjebak dengan permainan ini.
Alex mengerti sekarang, dia melirik ke arah dadanya dan ada bekas lipstik Raisa di sana.
'Sial. ' Batin Alex.
"Maaf sudah membuatmu ketakutan. " Alex tak tega melihat Naina menangis, dia langsung membawa Naina ke dalam pelukannya.
"Aku tak tahu kalau papa akan datang menemuimu secepat ini. " Alex membelai rambut Naina.
"Aku mau pergi, aku takut."
"Jangan bicara seperti itu, bersabarlah aku akan secepatnya mencari tahu tentangmu. " Bujuk Alex, dia tersadar jika dia mengabaikan kasus Naina.
Naina mengendus aroma tubuh Alex lalu mendorong paksa tubuh Alex, "Lepas. "
Alex mengerutkan keningnya lagi karena tiba-tiba Naina mendorong tubuhnya.
"Kenapa lagi? "
Naina menutup hidungnya, "Baumu menjijikan. "
Naina berbalik dan langsung pergi ke kamarnya.
Brakk...
Alex menatap pintu kamar Naina,"Bau...? " Alex mengendus tubuhnya sendiri, "Shit... " Umpat Alex menyadari dirinya belum membersihkan diri dan masih ada aroma jejak. kegiatan panasnya bersama Raisa.
"Sial... "
Alex langsung melangkahkan kakinya menuju kamar di mana Naina berada.
Ceklek...
Alex menghela nafasnya, rupanya Naina mengunci pintunya,"Kenapa aku jadi seperti suami yang ketahuan selingkuh." Gumamnya.
Alex mengetuk pintu kamarnya, "Na... buka pintunya."
Tok...tok...tok....
"Na... aku mau mandi."
Ceklek....
Alex bernafas lega karena Naina mau membuka pintu kamarnya.
Alex langsung masuk sambil menatap heran pada Naina namun ia abaikan untuk segera ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Selang 15 menit kemudian Alex selesai mandi dan keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.Ia mengeringkan rambutnya sambil melirik Naina yang tidur menyamping memunggunginya.
Setelah memakai celana boxernya Alex mendekat ke ranjang, "Sudah tidur Na?" Tanya Alex, tak ada jawaban.
Alex memberanikan diri naik ke ranjang dan mendekati Naina, di sentuhnya bahu Naina pelan,ia tahu wanita itu belum tertidur,meski tak ada suara tangis,Alex tahu betul jika wanita itu tengah menangis dari bahunya yang bergetar.
"Na.. " Lirih Alex sambil menarik bahu Naina agar menghadapnya.
Bisa Alex lihat pipi basah Naina, dengan lembut Alex menghapus airmata Naina lalu menarik Naina dalam pelukannya.
"Maaf. " Entah kenapa hanya kata maaf yang bisa keluar dari bibir Alex.
"Aku siapa? " Lirih Naina, "Kemana aku harus pulang? "
Alex memejamkan matanya mendengar kalimat yang keluar dari bibir Naina.
"Kenapa aku tak mengingat semuanya,kenapa sidik jariku bisa rusak, kenapa bisa seperti ini? "
"Sudah jangan menangis ada aku sekarang. " Alex berusaha menenangkan Naina sambil mengusap bahu Naina dalam pelukannya.
"Aku ingin pulang, Tapi kemana? Aku tak mau di sini, kalian memiliki kehidupan masing-masing, aku hanya orang asing, aku tak mau seperti ini. "
"Hei, jangan katakan itu,kamu bukan orang asing, sekarang kamu Naina istriku jangan bersedih ada aku. "
Naina menggeleng, "Aku bukan istrimu. Aku tidak mau pura-pura lagi aku tidak mau, kamu brengsek. "
Alex mengeratkan pelukannya, "Maaf soal tadi, aku hanya bermain-main,aku pria normal aku Punya kebutuhan,sementara tak ada tempatku untuk melapiaskannya jadi tak ada kekasih yang seperti kamu khawatirkan."
"Tetap saja kamu brengsek. "
Alex melepas pelukannya lalu menatap Naina.
Naina gelagapan, apa reaksinya berlebihan, kenapa dia harus cemburu mereka tak ada hubungan apapun.
"A.. aku, cemburu? Konyol tidak mungkin aku cemburu?Siapa aku? Aku bukan siapa-siapppphmmmpp... "
Naina tak bisa melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba Alex menciumnya di bibir dengan begitu lembut.
"Kenapa kamu menciumku? " Tanya Naina lirih sesaat setelah Alex melepaskan ciumannya.
Alex hanya menatap mata Naina dalam, ia juga tak tahu kenapa dia tiba-tiba ingin mencium bibir Naina, Kembali melirik bibir basah yang baru saja ia lepas, tak ada niat menjawab pertanyaan Naina, yang dia inginkan adalah kembali menyatukan bibir mereka.
Cup...
Alex kembali memagut mesra bibir Naina dengan lembut, hingga ia menarik tengkuk Naina saat di rasakan wanita itu membalas gerakan bibirnya.
................
Axel dan Angel baru saja tiba di apartemen milik Alex.
"Kita istirahat dulu,kata Alex apartemen ini tak jauh dari tempat papamu bekerja." Ujar Axel.
"Baiklah." Angel memindai ruangan apartemen milik Alex, apartemen ini lebih kecil dari milik Alex di Jakarta.
"Kenapa hanya ada satu ranjang? " Tanya Angel.
"Ini apartemen pria lajang jadi wajar jika hanya ada satu ranjang di sini."
"Berarti Kakak tidur di sofa. " Tunjuk Angel pada Sofa di ruangan itu.
Axel mendesah, "Baiklah tak masalah lagi pula kamu akan segera menjadi istriku."
Angel memilih mengabaikan ucapan Axel lalu membuka kopernya dan mengambil pakaian ganti,setelahnya ia menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Axel menggelengkan kepalanya melihat Angel,"Sabar Axel, sabar sedikit lagi. "
Axel mengambil ponselnya dan melihat ada beberapa pesan yang masuk ke ponselnya.
"Mereka ini, huh.. biarkan saja toh mereka tak akan bisa menghubungiku selama aku di sini. "
Axel menatap pintu kamar mandi, "Sekarang aku hanya perlu fokus pada Angel."
Axel memikirkan beberapa pacar kesayangannya, "Mmm... aku tidak rela memutuskan mereka. "
Axel berkacak pinggang sambil menggigit bibirnya berfikir apa yang harus ia lakukan karena mengingat pesan papanya jika ingin menikahi Angel, dia harus memutuskan semua pacarnya.
Axel duduk sambil melihat galeri fotonya.
"Ini siapa ya namanya? Dia sangat good looking, aku tidak rela putus darinya."
Menggeser layar ponselnya, "Yang ini sangat penurut, sayang juga jika harus di putus."
"Kalau yang ini, ah dia banyak menuntut tapi itunya mantap.. hais... sayang semuanya. "
"Apanya yang sayang. " Tanya Angel tiba-tiba membuat Axel kaget hingga menjatuhkan ponselnya.
Angel maju dan memungut ponsel Axel dan melihat ada beberapa foto wanita seksi di layar.
"Angel itu, mmm... "
Angel menghela nafasnya, "Angel ngerti kok. "
Angel menyerahkan ponsel milik Axel,"Kalau kakak mau kita bisa batalkan rencana pernikahan kita, Angel tidak mau membebani kak Axel. "
"Itu Ngel, tidak masalahnya, Aku tidak bukan ah aku bingung gimana ya? "
Angel menyadari kegugupan Axel, "Sudah kak, kita batalkan saja,aku tahu kak Axel berat untuk memenuhi permintaan Om Bram kan? "
"Kamu tahu syarat dari papa? "
Angel mengangguk,"Iya dan aku tidak mau memaksa kak Axel untuk berubah,makanya kita batalkan saja rencana pernikahan kita. "
"Lalu Lucas? " Tanya Axel.
Angel tersenyum tipis, "Lucas......"
.
.
Kira-kira Axel jadi tidak ya menikahi Angel?
.
.
🖤🖤
@myAmymy