
Pagi hari Naina sudah bangun,di lihatnya Alex masih terlelap di sofa. Tak ada niat untuk membangunkan Alex, karena yang Naina tahu pria itu akan hibernasi saat libur dan akan bangun tepat waktu sesuai alarm yang ia setting di ponselnya.
Naina menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum ia turun ke bawah.
Di kamar mandi Naina kembali memikirkan semuanya.Tentang perasaannya saat ini, juga soal identitasnya, ia sungguh bingung kenapa ia tak mengingat apapun sebelum 6tahun lalu,dia hanya ingat soal penyekapannya saja, bahkan dia tak ingat kenapa sidik jarinya bisa rusak.
"Sudahlah, lebih baik aku jalani hidup ini saja meski entah mau seperti apa. "
Naina melanjutkan niatnya untuk mandi sebelum ia turun ke bawah,ya mungkin dia bisa melakukan sesuatu nanti.
Beberapa menit kemudian Naina selesai melakukan ritual mandinya. Setelah rapi dia keluar dari kamar mandi.
"Kau sudah bangun. " Tanya Naina begitu keluar kamar mandi dan mendapati Alex sudah duduk di sofa.
"Ah ya.. "
Naina mengangguk,"Kalau begitu kamu mandi lah! Aku keluar dulu. "
"Tunggu." Ujar Alex seraya berdiri.
"Kenapa? " Tanya Naina bingung.
Alex melangkah mendekat ke arah Naina lalu tangannya menyingkirkan rambut Naina ke samping.
"Kenapa? Ada apa? " Tanya Naina bingung.
"Ah... apa yang kau lakukan?" Protes Naina karena tiba-tiba Alex menghisap lehernya.
Alex menyeringai,"Apa satu cukup? "
"Maksudnya? " Tanya Naina tak mengerti.
"Tanda.. apa kamu tak mengerti maksud papa semalam? "
Naina menggeleng bingung, "Tanda apa?"
"Di rumah ini ada banyak kamar tamu lalu kenapa papa meminta kita tidur sekamar dan meminta bukti pagi ini. "
"Bukti tanda? " Gumam Naina, seketika matanya membulat,Segera ia mencari cermin dan melihat sesuatu di Lehernya.
"Kamu membuat Kissmark?" Ujar Naina dengan nada protes.
"Iya lah tunggu sepertinya satu masih kurang." Segera Alex meraih tubuh Naina dan melakukan hal yang sama dengan yang tadi ia lakukan.
"Ah... " Naina segera membekap mulutnya saat tak sengaja ia mendesah.
"Cukup... " Protes Naina.
Alex melepas pelukannya matanya menatap Naina dengan tatapan yang sulit di artikan. Dalam hati Alex menyesali perbuatannya.
"Keluarlah. Argghhh... sial... " Alex segera berlalu ke kamar mandi. Dia menyesali tindakannya yang justru berbalik pada dirinya sendiri.
"Kenapa dia. " Naina melihat kembali dirinya di cermin, "Astaga... 1 2 3 4..Astaga banyak sekali ah ini sungguh memalukan."
Setelah merapikan penampilannya Naina segera turun ke bawah dan menyapa beberapa orang yang ia temui semalam.
"Pagi... " Sapa Naina pada beberapa pelayan yang sedang sibuk di dapur.
"Pagi juga nona..."
Naina mendekat dan langsung ikut menyentuh sayuran yang tengah di potong oleh salah satu pelayan, "Siapa namamu kamu terlihat masih muda? "
"Imah non." Ujarnya.
"Berapa usiamu? "
"21 tahun. "
"Wah muda sekali."
"Sedang apa kamu di situ? " Tanya suara berat dari belakang Naina.
"Eh om... Pagi om. " Sapa Naina pada Bram.
"Itu pekerjaan pelayan, kemari kamu calon menantuku. Kemari ikut aku. "
"I.. iya om. " Naina berdiri lalu mengikuti ke mana Bram pergi.
"Masuklah. " Ujar Bram mengajak masuk Naina ke dalam ruang kerjanya.
"Iya om. " Naina melangkah ragu masuk ke dalam. Di lihatnya ada rak buku cukup tinggi berisi berbagai macam buku.
"Duduklah. "
"Iya om. " Naina segera duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Sementara Bram terlihat menuju meja kerjanya.
"Aku senang mengenalmu, kamu terlihat wanita baik-baik. "
"Terimakasih om. "
Bram duduk di depan Naina lalu menyerahkan sebuah buku pada Naina,"Bukalah. "
Ragu-ragu Naina memberanikan diri untuk membuka buku itu yang rupanya adalah sebuah album foto seorang anak kecil.
"Itu Alex, itu adalah Album foto tahun pertamanya, setiap tahun istriku selalu mengirimkan satu album berisi tumbuh kembang putra-putraku hingga usianya 5 tahun. "
"Aku baru bisa bertemu putra pertamaku saat usia Alex 2 tahun. Dia tumbuh menjadi pribadi yang kuat bahkan dewasa sebelum waktunya.Maka aku harap kamu bersabar dengan sifat kakunya. "
"Tapi percayalah dia pria yang sangat peyayang, dia sangat menyayangi mendiang ibunya juga istrinya. Dia jika sudah menetapkan hatinya maka sangat sulit untuknya berpaling."
Bram memandang lurus ke depan, " Itulah mengapa beberapa tahun ini aku di buat resah dan menyesali keputusan yang sudah ku buat,Alex berubah menjadi pria yang lebih dingin dari sebelumnya.Setelah kepergian istrinya dia begitu menutup dirinya, tapi setelah aku mendengar tentangmu dari Axel harapanku kembali muncul. "
Bram kembali menatap Naina,"Aku sudah tua nak, Entah sampai kapan Tuhan memberiku hidup,tapi satu ketakutanku yaitu putra-putraku tak ada yang membimbing mereka, aku sangat tahu bagaimana mereka, apa jadinya jika tak ada wanita yang mampu mengendalikan mereka, maka aku sangat berharap kamu mau menjaganya kelak dan menjadi tempat untuknya pulang."
Naina bingung harus menjawab apa dia masih menatap pria paruh baya di depannya yang jelas ada harapan yang begitu besar terpancar di sana.
"Berjanjilah."
"I.. iya om... "
"Bagus....Ayo kita sarapan. " Ujar Bram tiba-tiba membuat Naina bingung dengan perubahan ekspresi dari Bram.
.
.
Bram dan Naina tiba di meja makan di mana sudah ada Alex di sana.
"Kalian dari mana? " Tanya Alex.
"Sudah tak usah banyak tanya cepat sarapan setelah sarapan kalian ikut papa. "
Alex menatap Naina seolah bertanya namun Naina hanya mengangkat bahunya acuh.
Beberapa saat kemudian setelah sarapan Bram nampak memberi kode kepada asistennya.
"Naima kamu ikut dengannya. " Perintah Bram pada Naina yang Bram kenal sebagai Naima.
Meski sedikit bingung Naina tak punya pilihan lain selain menurut.
"Ada apa sih pa? " Tanya Alex penasaran.
"Tak usah banyak tanya,Sekarang kamu ikut papa. "
Alex mengerutkan keningnya namun ia pun segera mengikuti langkah Bram.
"Kita mau kemana pa? " Tanya Alex lagi saat Bram memintanya masuk ke dalam mobil.
"Kamu cerewet sekali sekarang. "
"Bukan begitu pa, tapi Naina.. eh maksudku Naima." Protes Alex karena Naina masih di dalam rumah dan ia khawatir jika harus meninggalkannya.
"Kenapa, tak bisakah kalian berpisah sebentar saja? Cepat masuk. "
Alex akhirnya terpaksa menurut saja dan bertanya-tanya kemana mereka akan pergi.
Hingga setelah menempuh perjalanan sekitar 10 menit mobil Bram berhenti di sebuah gereja.
"Tumben papa ke gereja, Besok tidak natal kan pa? "
Bram tak menjawabnya dia terus melangkahkan kakinya ke dalam gereja.
Alex memindai ruangan gereja yang sudah di dekor dengan beberapa bunga di sana.
"Silahkan pakai ini tuan. " Ujar seseorang menyematkan bunga di saku atas jas Alex.Meski bingung Alex menurut saja. Lalu ia melangkah mendekati Bram yang tampak sedang berbicara dengan pendeta.
"Pa ini pernikahan siapa? " Tanya Alex penasaran namun Bram tak berniat menjawabnya, dia tetap fokus dengan pembicaraannya bersama pendeta.
Beberapa saat kemudian,"Kamu tunggu sini jangan duduk. "
Alex hanya menggangguk sambil melihat sekeliling dan di lihatnya ada beberapa saudaranya juga kenalan Bram.
"Ah itu dia pengantinnya. " Ujar seorang tamu undangan.
Alex yang pada dasarnya memang penasaran segera berbalik untuk melihat siapa yang akan menikah.
Dan seketika matanya menatap tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Di sana ada Bram berjalan beriringan dengan wanita bergaun pengantin yang tampak sangat cantik.
"Kenapa melamun? Apa dia sangat cantik?" Tanya Bram.
"Ya sangat cantik." Gumam Alex tanpa sadar,"Eh.. " Pekik Alex sesaat setelah ia menyadari apa yang terjadi.
"Papa apa-apaan? " Protes Alex segera menarik Naina ke sampingnya, " Dia pacar Alex kalau papa mau menikah lagi cari yang lain."
"Astaga... "Puk... Kesal Bram menjitak kepala Alex, "Bukan papa yang akan menikah tapi kalian. "
"APA... " Kaget Alex tak percaya dengan apa yang ia dengar.
.
.
Nah loh Alex terjebak,Kira-kira dia setuju apa menolak ya 🤔
.🖤🖤
@myAmymy