
Axel memasuki ruangan kerja Bram, kesal sekali dia tadi pagi Angel membangunkannya karena papa menelponnya dan memintanya untuk segera menemuinya,padahal dia baru saja tidur 2 jam setelah semalaman bertempur dengan istrinya di ranjang.
"Hoammm... ada apa si pa? Kenapa tidak nanti siang saja ketemunya. "
"Dia Hamil."
Axel mengerutkan keningnya, "Hamil? Siapa? Jangan bilang papa punya pacar terus Axel akan punya adik. "
Pletak ..
"Aws..." Rintih Axel memegang keningnya yang baru saja di lempar pulpen dengan tepat sasaran oleh papa Bram.
"Kamu kalau ngomong tak pernah di saring."
"Habisnya papa kalau ngomong irit banget, persis Alex bikin otak Axel travelling."
Bram menghela nafasnya ,"Ana hamil."
"Wah... berarti papa akan punya cucu lagi dong? "
"Kamu lupa dengan yang terjadi dengan Alex."
Axel nampak berfikir,"Bukankah kata papa obat yang di berikan oleh dokter kenalan papa kemungkinan bisa menyembuhkan Alex waktu itu? "
Bram mendesah, "Awalnya seperti itu, bahkan papa pernah mengira jika Ana hamil waktu itu, tapi... "
Axel duduk di depan meja kerja Bram lalu mengambil cangkir kopi milik Bram dan meminumnya, "Slurrrppp... "
"Lalu apa masalahnya,mungkin Alex benar sudah sembuh."
"Masalahnya kata Joan Alex ternyata tak pernah meminum obat yang ku berikan dengan alasan suplemen itu, kau tahu bagaimana kakakmu itu membenciku. "
"Jadi maksud papa, Ana juga selingkuh seperti Naina. "
"Ya... "
"Slurrrppp.... "
"Astaga Axel, kenapa minum kopi papa? "
"Ck... Axel ngantuk banget pa, semalam lembur bikin cucu buat papa. "
"Axel seriuslah. "
"Haisss.... ya... ya jadi maksud papa apa minta Axel datang pagi-pagi?"
"Itu data rekaman cctv apartemen Alex juga sekitarnya, cari tahu siapa tahu Ana menemui seseorang selama ini. "Tunjuk Bram pada Flashdisk di mejanya.
"Papa mau melakukan hal yang sama pada Ana seperti pada Naina? Pa kasusnya berbeda, jika Anda selingkuh itu bukan dengan Ibrahim atau aku jadi lebih baik papa tak ikut campur kali ini. "
"Kerjakan saja tugasmu jangan banyak protes."
Axel mendesah, papanya terlalu paranoid dengan temperamen Alex. Axel akui jika Alex sudah emosi pria itu memang tak segan untuk membunuh lawannya karena hal itu juga Alex bisa menjadi guardian utama di DGS.
...................
Ana menatap pria dengan seragam dokter di depannya, "Kau bukankah kau pria yang di taman kemarin?Jadi kau seorang dokter?"
Pria itu mendekat, "Jadi benar kamu hilang ingatan Quen?"
Ana menggeleng, "Siapa Quen... namaku Ana. "
Pria itu menyeringai, "Kau mau bermain denganku sayang."Ujarnya sambil meraih dagu Ana.
"Apa yang kau lakukan,lepas sakit. "
"Jadi kau benar-benar lupa ingatan? Coba kau lihat ini. "Tunjuknya pada sebuah kalung dengan liontin berbentuk plat dengan tulisan yang Ana kenali.
"Apa maksudmu? "Ujar Ana berusaha tenang, "Aku benar-benar tak mengenalimu. "Ujar Ana menepis tangan pria itu dari dagunya.
Pria itu tertawa, "Hahaha... kau rupanya memilih bermain-main denganku? Kau pikir setelah kabur dariku kau bisa memulai hidup barumu. "
"Cukup, aku tak tahu maksudmu, keluar atau aku teriak. "
"Wohooo... apa ini Quen? The Reaper number one meminta bantuan dengan berteriak?"
"Cukup aku tak tahu apa maksud ucapanmu keluar atau aku akan teriak."
"Oke... Oke... anggap ini adalah salam dariku setelah lama kita tak bertemu my Quen... and You must know that you will always be under my control baby, because I am the King and you are my queen." Ujar pria itu lalu berbalik keluar dari kamar inap Ana.
Ana mencengkeram sprei di sampingnya, ia mengetatkan rahangnya mengingat semua ucapan pria itu, lalu ia menyentuh perutnya, ia menggelengkan kepalanya, "Aku akan melindungimu. " Lirihnya.
Sementara Alex yang berniat untuk membeli sarapan teringat jika dompetnya tertinggal di kamar mandi, ia pun berbalik menuju kamar inap Ana.
Tepat saat pria berpakaian dokter yang baru saja keluar dari kamar Ana memakai kembali maskernya dan pergi dari sana.
Alex yang tiba-tiba khawatir pada Ana langsung mempercepat langkahnya dan masuk ke kamar inap istrinya.
Ceklek...
Ana berjengit kaget mendengar suara pintu di buka, ia langsung menoleh dan seketika ia merasa lega.
"Apa tadi dokter sudah memeriksamu? "Tanya Alex.
Ana menggelengkan kepalanya lalu mengangguk,"Ya... "
"Apa? Tentu saja. "Jawabnya tanpa menatap Alex.
Alex mendesah, "Baiklah kamu istirahatlah aku mau ambil dompetku yang tertinggal."Ujarnya sebelum ke kamar mandi untuk mengambil dompetnya.
"Ya... "
Alex menatap curiga pada istrinya, jelas sekali terlihat istrinya gugup dan memikirkan sesuatu.
Tepat saat Alex keluar kamar mandi, ada rombongan dokter dan suster yang baru saja masuk ke ruangannya membuat Alex mengerutkan keningnya, 'Bukankah Ana sudah di periksa dokter tadi?'Batinnya.
"Pagi nyonya, saya cek kondisinya ya. "
Ana menatap pada Alex sekilas, jelas ia bisa melihat jika Alex merasa heran.
"Kondisinya sudah cukup stabil, saran saya tetap bedrest ya,besok kita lakukan USG lagi."
Ana hanya mengangguk, lalu kembali melirik Alex.
"Kalau begitu saya permisi. Ayo sus. "
Alex menatap Ana sekilas lalu menyusul dokter tadi.
"Permisi dok."
"Ya..."
"Apa ada dokter lain yang menangani istri saya? "
Dokter itu menggeleng, "Tidak pak, hanya saya yang menangani istri anda. "
"Apa anda dokter spesialis kandungan?"
"Ya... "
"Bisakah saya melakukan pemeriksaan terhadap diri saya. "
Dokter itu nampak berfikir sesaat, "Tentu silahkan datang ke ruangan saya. "
"Baik dok terima kasih. "
Setelah dokter itu pergi, Alex kembali masuk ke kamar dan matanya langsung bertemu tatap dengan mata istrinya.
"Alex aku... "
"Pria tadi, bukan dokter kan?"
"Alex... "
"Katakan siapa dia? "
Ana menggeleng,"Aku tidak tahu."
"Ana..."Alex akhirnya memutuskan menceritakan apa yang baru saja ia tahu kemarin pada istrinya.
"Jadi maksudmu, aku juga selingkuh seperti Naina? "
"Tidak Ana,aku hanya..."
"Cukup Lex, aku pikir kamu tahu bagaimana aku selama ini,tapi kamu tetap meragukanku. "Ana menitikan air matanya.
Alex menggeleng, "Maaf sayang. "Ujarnya sambil menghapus airmata Ana,"Maaf aku hanya masih begitu syok dengan kenyataan yang baru aku dengar kemarin, aku takut kalau."
"Aku bukan Naina, aku Ana,Sandriana yang saat ini hanya memilikimu sebagai keluargaku bahkan hanya kamu yang ku kenal...hiks... "
Alex memejamkan matanya, ia menyesal telah menaruh curiga pada istrinya itu,ia lalu langsung memeluk istrinya itu, "Maafkan aku... aku salah telah meragukanmu. "
"Hiks... lepas aku ingin sendiri. "Ujar Ana melepas paksa pelukan suaminya.
Alex mendesah, "Baiklah tapi aku mohon kamu tetap tenang dan jangan macam-macam."
Ana menggeleng, "Apa yang kamu khawatirkan?Aku akan melukai diriku sendiri karena bipolarku? "
Alex menggeleng, "Tidak hanya aku tak mau kamu terlalu banyak pikiran, ingat bayimu,kandunganmu lemah. "
Ana mengangguk, "Kamu tenang saja, aku hanya ingin istirahat."Ujar Ana sambil merebahkan dirinya lagi.
"Baiklah aku pergi dulu, aku akan segera kembali."
Ana mengangguk lalu Alex pun keluar dari ruangan itu, ia menyesal telah meragukan istrinya itu,'Lebih baik aku memeriksakan tubuhku untuk membuktikan pada papa jika Ana tak bersalah.'Batin Alex lalu pergi ke ruangan dokter kandungan.
Sementara Ana di kamarnya bangkit dari ranjang, dan dengan susah payah ia melangkah keluar dari ruangan itu, ia harus kembali ke apartemen untuk mengambil tas yang ia bawa kemarin karena ada sesuatu benda penting untuk hidupnya ke depan.
..............myAmymy..............
Kira-kira Ana mau ngapain ya? Terus benda apa yang di maksud Ana?
Vote dan Komen jangan lupa ya Readers 😉
...🖤🖤...
...@myAmymy...