The Blackness Of Love

The Blackness Of Love
Part 61



From : 08123456xxxx


Kali ini, anak buahmu yang mati, selanjutnya tidak menutup kemungkinan anak dalam kandungan kekasihku yang aku habisi, itu sebagai balasan karena kau sudah menyentuh my Quen.


Alex mati-matian menahan emosinya, ia segera menghubungi nomor itu namun di luar jangkauan.


Tut.... Tut...


Lalu ia mencoba menelpon Axel, namun adiknya itu tak kunjung mengangkat panggilannya.


"Sial... "Kesal Alex karena Axel tak kunjung mengangkat panggilannya,Alex melihat jam di ponselnya menunjukkan pukul 2 malam.


Ia langsung melajukan mobilnya menuju apartemennya yang di tinggali Axel dan Angel.


Hingga sekitar 15 menit kemudian, Axel tiba di gedung apartemennya. Segera ia menuju unit apartemennya dan menekan pin nya.


Klik...


Ceklek...


Alex tak mau berbasa basi. Ia langsung mengetuk pintu kamar yang di tempati Axel dan istrinya.


Tok...Tok... Tok...


Tak peduli dengan apa yang sedang di lakukan Axel di dalam.


Sementara Axel dan Angel di kamarnya.


"Kak... ah.. udah dulu..h... itu ada yang ketuk pin..tu.. "


"Tanggung Angel... sebentar lagi ah.. Sam... pai.. Hah.. "


"AXEL BUKA ATAU AKU DOBRAK PINTU INI. "


Axel,membulatkan matanya saat ia mendengar suara Alex di luar kamarnya, segera ia melepas penyatuannya dengan sang istri, "Pakai selimutmu, aku lihat dulu si Tiger."


Angel mengangguk lalu langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Sementara Axel buru-buru turun dari ranjang dan mencari boxernya dan berlari ke pintu.


Ceklek...


"Hoam....apa sih kak... ganggu orang tidur aja. "Ujar Axel pura-pura.


Alex memindai penampilan adiknya, "Baru bangun tidur heh?Apa perlu aku patahkan batangmu yang masih tegak itu. "


Dengan cepat Axel menutup selangkangannya dengan tangannya, "Jangan dong. "


Alex menekan giginya, "Ini ponselku kamu lacak nomor yang ada di pesan terakhir, dan susul aku dalam waktu 1 jam ke CLUB. "


"Jangan ke CLUB ya, Angel tak membolehkanku ke sana. "


"Kamu ke CLUB dan periksa data cctv di sana, ada pembunuhan di sana, Daren mati. "


"APA... Daren, Ah sial bocah itu punya hutang padaku. "


"Cepat kerjakan dan susul aku, ingat waktunya 1 jam."


Axel menggeleng, "2 jam. "


"Itu aku sudah baik hati memberimu 1 jam, gunakan 10 menit untuk menyelesaikan urusan juniormu.aku pergi."


Axel menatap Alex yang baru saja keluar apartemen, "Sial. "Axel segera berbalik masuk ke kamar dan melepas celananya.


"Ayo kita lanjutkan."Ujarnya pada istrinya.


"Tapi kata om Alex 1 jam lagi. "


"Ck... cuma melacak nomor 10 menit juga bisa. "


...................


Seorang pria baru saja masuk ke sebuah apartemen,dia langsung melepas jaket, topi dan juga kacamatanya.


Menatap pada wanita yang masih terbaring tenang di ranjangnya sesaat sebelum ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan noda darah di tubuhnya.


Meletakan pistol yang ia pakai untuk melenyapkan seseorang tadi, pria itu tersenyum menyeringai.


"Cari saja jejakku jika kau bisa. "Gumamnya tersenyum menyeringai menatap dirinya di cermin.


Selanjutnya pria itu melepas semua pakaiannya dan menuju shower untuk membersihkan dirinya.


10 menit pria itu telah menyelesaikan mandinya, ia segera melilitkan handuk di pinggangnya dan keluar kamar mandi.


Sambil melihat pada Ana, pria itu menuju kulkas dan mengambil sekaleng soda dan meminumnya.


Melangkah menuju ranjang dan duduk di kursi menghadap pada Ana,ia menatap lekat wanita yang ia cintai itu.


Glek....


Setelah menenggak soda hingga tandas, pria itu bangkit, mengambil celana dalamnya dan memakainya.


Pria itu lalu menaiki ranjang dan langsung memeluk Ana,tangan kanannya ia selipkan di bawah kepala Ana, sementara tangan kirinya perlahan turun ke perut Ana yang sedikit membuncit,'Apa yang harus aku lakukan padanya? Apa kita lenyapkan saja dia? 'Batinnya.


Cup...


Pria itu mengecup kening Ana sedikit lama, "Atau? Kita besarkan dia menjadi anak kita saja? "Gumamnya.


Pria itu mengetatkan rahangnya mengingat keadaan dirinya,lalu ia mengeratkan pelukannya pada Ana.


Menghirup aroma rambut Ana dalam untuk menenangkan dirinya,"Aku mencintaimu Quen... jangan tinggalkan aku. "Gumamnya sebelum ia memejamkan matanya.


Sementara Alex baru saja tiba di CLUB malam miliknya,ia langsung di sambut Roger dan lainnya.


"Bos... "


Roger mengangguk, "Di ruang Bintang. "


Tanpa menunggu Alex langsung menuju ruangan yang di maksud.


"Buka. "Perintah Alex agar anak buahnya membuka jenazah Daren di hadapannya.


Alex semakin menahan emosinya melihat ada ukiran Ther Reapers di dada Daren.


"Apa tak ada yang bisa melacak orang itu?"


"Maaf bos."


"Ck... apa tak ada petunjuk?"


"Maaf bos, bahkan jejak sarung tangan tak di temukan, tapi juga tak di temukan sidik jari. "


Alex nampak berfikir, tidak sembarangan orang bisa masuk ke CLUB miliknya, artinya jika orang itu masuk sebagai pengunjung harusnya ada data membernya, "Periksa semua member baru di CLUB ini. "


Alex berfikir lagi, "Tidak ada perekrutan pelayan baru kan? "


"Tidak ada bos. "


"Cek data cctv nanti Axel datang dan biarkan dia memeriksanya. "


Alex berdiri dan keluar ruangan itu menuju ruangan miliknya.Mendudukan dirinya di kursi kerjanya Alex memikirkan kembali isi pesan yang tadi di terimanya.


"Ana di tangan R02, ini menguatkan dugaanku jika Ana adalah R01. "Gumam Alex memainkan pena di tangannya.


Tok... tok...


Roger masuk ke ruangan itu, "Bos. "


"Ya... "


Roger masuk ke ruangan milik Alex, "Maaf bos, Jery mengatakan jika Ibrahim datang ke apartemen bos. "


Alex memejamkan matanya sesat, "Biarkan saja. "Jawabnya.


Alex tahu jika Ibrahim datang bukan untuk menemuinya, tapi Naina,"Tunggu Roger."


"Ya bos. "


"Telepon nomor Ibrahim."


Roger mengangguk lalu segera menghubungi Ibrahim, beberapa saat menunggu Ibrahim menyerahkan ponselnya pada Alex.


Alex segera mendekatkan ponsel itu ke telinganya.


"Hallo.... Roger..."


"Ini aku... "


"Owh... ya Lex... "


"Aku tak peduli dengan apa yang kalian lakukan, tapi ingat satu hal, jangan di apartemenku. "


Ibrahim terdengar terkekeh di seberang telepon sana,"Kau tenang saja, aku hanya sedang menumpang makan di sini, apa perlu video call dan memperlihatkan Naina yang sedang memasak?"


Alex tak peduli, ia langsung menutup teleponnya dan langsung melemparnya hingga hancur membuat Roger memejamkan matanya.


"Keluar. "Ucap Alex tegas yang langsung di turuti Roger.


'Ponsel baruku. 'Batin Roger menyesal kenapa tadi dia memakai ponsel pribadinya.


..................


Pukul 7 pagi Alex kembali ke apartemennya, ia harus membersihkan dirinya dan berganti pakaian, meski hasil penyelidikan Axel belum menemukan di mana Ana, paling tidak ia mendapat hasil jika Ana masih berada di ibukota.


Ceklek...


Memasuki apartemennya ia langsung di suguhkan pemandangan Naina yang tengah membersihkan apartemennya.


"Alex, kau pulang."


Alex duduk di Sofa dan melepaskan sepatunya tanpa mempedulikan Naina.


"Apa kamu mau sarapan?"


Alex menghela nafasnya dan berdiri ,"Aku kira kau sudah pergi dan ikut kekasihmu itu."



Naina menelan paksa salivanya, "Tidak Alex. "


Alex langsung masuk ke kamarnya di ikuti Naina, "Kau mau mandi?Biar aku siapkan pakaianmu. "Ujar Naina namun lagi-lagi Alex tak menjawabnya dan pria itu langsung masuk ke kamar mandi meninggalkan Naina yang menatap pintu kamar mandi dengan sendu.


Sementara di tempat lain, Ana mengerjapkan matanya kala sinar mentari menggoda matanya, ia berniat merentangkan kedua tangannya namun ia urungkan saat ada tangan lain yang memeluknya dengan satu tangan menggemggam tangannya.


Ana langsung menoleh dan mendapati wajah tampan seorang pria yang masih memejamkan matanya.


"Good morning Quen... "Ucap pria itu setelah membuka matanya.


Ana menatap lekat wajah pria itu sesaat sebelum wanita itu menyunggingkan senyum cantiknya.


...........myAmymy...........


...Aduh .....?...


...🖤🖤...


...@myAmymy...