
Malam perlahan bergelayut dengan cahaya bulan menerangi gelapnya malam. Duduk di kamarnya, Qing Shandian dengan tenang berkonsentrasi mempelajari Buku Teknik 'Thousand Swords Split the Sky'. Dia membacanya dengan perlahan, menelaah setiap panduan yang tertulis. Dia membalik satu demi satu lembaran buku teknik itu.
Tidak terasa, malam berlalu begitu saja. Ketika Qing Shandian mendengar suara ketukan pintu dan panggilan ibunya, seketika dia tersadar dari mode pemahamannya. Menoleh ke samping hanya untuk mendapati sinar pagi yang menerobos masuk kedalam kamarnya. Dia tertegun untuk sesaat sebelum berkata, "Iya, bu. Aku datang, tunggu sebentar."
Dengan cepat dia bangkit, kemudian mencuci wajahnya. Setelah selesai mengeringkan wajahnya, dia berjalan keluar dari kamarnya. Sesampainya di ruang makan, Qing Shandian mendapati orangtuanya kembali menatapnya dengan aneh.
"Ehemm... Ayah, ibu, sekarang ada apa lagi? Kenapa melihatku seperti itu?" Ucap Qing Shandian dengan sedikit bingung.
"Kamu bocah... Apa yang sudah kamu lakukan sepanjang malam?" Kata Qing Yuan menyelidik.
"Ahaha... Itu.. Ayah.. Ehem.. Sebenarnya, aku belum tidur, hehe... Aku larut dalam pemahaman teknik semalam. Jika bukan karena panggilan ibu, mungkin aku masih tenggelam dalam pemahaman." Menghadapi pertanyaan ayahnya yang menyelidik, Qing Shandian menjawab dengan agak kikuk dengan bibir sedikit berkedut. Dia lupa bahwa dia belum tidur, sehingga memunculkan tanda mata panda dikedua kelopak mata bagian bawahnya.
"Dasar kamu bocah.. Bukankah ayah sudah mengatakan untuk mempelajarinya secara perlahan?" Ucap Qing Yuan dengan nada menegur.
"An'er, pada usiamu saat ini, sebenarnya kamu tidak perlu terburu-buru. Akan ada banyak waktu untuk kamu tumbuh dan berkembang. Ayah dan ibu bukan memarahimu, hanya saja, kamu memang masih kecil, jadi sudah sewajarnya kami bersikap seperti ini jika kamu berlebihan terhadap dirimu sendiri." Sahut Lin Lianhua menyambung ucapan suaminya.
"Maaf ayah, ibu. An'er tidak bermaksud seperti itu. Itu diluar kemauan An'er. Setiap An'er mempelajari sesuatu, An'er akan selalu seperti ini, seolah itu adalah sesuatu yang sangat melekat dalam diri An'er. Apapun yang An'er pelajari, baik itu pengetahuan ataupun teknik, An'er akan srcara langsung tenggelam dalam pemahaman." Qing Shandian merasa bersalah. Dengan wajah menunduk, dia menjelaskan tentang keadaannya.
Qing Yuan dan Lin Lianhua yang mendengar penuturan putranya pun tertegun. Mereka tidak pernah tahu akan hal ini. Sebuah kasus yang sangat langka, yang satu dari sepuluh orang belum tentu mengalaminya. Apa itu langsung tenggelam dalam pemahaman setiap kali mempelajari apapun.
Dengan menghela nafas, Lin Lianhua berkata dengan lembut, "Hahh... Maafkan kami yang tidak pernah tahu. Jika kamu mengatakannya lebih awal, kami mungkin akan bisa memahami kesulitanmu.. Ayah dan ibu tidak akan menyalahkanmu. Lagipula, mau bagaimanapun, kamu tetaplah putra kami, jadi sangat wajar jika kami mengkhawatirkanmu."
Dengan memberanikan diri, Qing Shandian mengangkat kepalanya, menatap lekat pada sorot mata ibunya yang penuh kasih sayang dan kelembutan. Menghela nafas panjang, dia mulai menjelaskan, "Huuhhhh... Ayah, ibu, begitulah yang sebenarnya terjadi padaku. Hal ini dimulai sejak aku berusia 6 tahun, apapun yang aku pelajari, entah itu pengetahuan tentang benua ini, tentang kultivasi, teknik, analogi tubuh manusia, pengobatan, alkimia, aku akan selalu langsung tenggelam dalam pemahaman. Setiap tingkat kesulitan, akan berbeda berapa lama waktunya bagiku tenggelam dalam pemahaman itu. Sampai hari ini, kasus terlama yang pernah aku alami adalah ketika aku mempelajari salinan Teknik Kultivasi Klan kita, 'Teknik Sembilan Putaran Naga Petir'. Selanjutnya, Teknik 'Thousand Swords Split the Sky' ini adalah kasus terlama kedua. Jadi, ayah dan ibu jangan lagi mengatakan bahwa An'er berlebihan. Karena tenggelam dalam pemahaman itu bukan kemauan An'er."
Mendengar penjelasan panjang putranya akan kondisinya, Qing Yuan dan Lin Lianhua hanya bisa terdiam. Setelah cukup lama suasana hening, Lin Lianhua memandang Qing Yuan untuk sesaat, lalu berkata dengan lembut sambil tersenyum, "Baiklah, ayah dan ibu sekarang sudah mengerti kondisimu. Kami akan selalu mendukungmu selama itu baik."
"Hmm... Mungkin itu kelebihanmu bocah kecil. Maafkan ayah dan ibumu, karena ketidaktahuan kami selama ini." Sahut Qing Yuan dengan nada hangat.
"Ah.. Ayah dan ibu tidak perlu meminta maaf, justru, An'er senang, An'er bangga memiliki ayah dan ibu yang sayang dan peduli terhadap An'er." Qing Shandian berkata sambil melambaikan tangannya. Jeda sejenak, dia melanjutkan dengan penuh semangat. "Hari ini, An'er akan mempraktikkan Teknik Thousand Swords Split the Sky yang ayah berikan. An'er sudah faham sepenuhnya. Yang tertinggal hanya mempraktekkan gerakan dan bagaimana menyalurkan Qi pada sebuah teknik. Ini akan menjadi yang pertama kalinya bagi An'er menggunakan teknik bertarung. Ayah dan ibu tidak keberatan bukan, menemani An'er berlatih?"
Qing Yuan dan Lin Lianhua saling pandang, lalu mereka mengangguk.
"Emm... Kami akan mengawasi dan mengevaluasi latihanmu nanti. Ayah akan membawamu ke suatu tempat, tapi sebelum itu, kita makan dulu."
"Baik, terimakasih ayah, ibu." Ucap Qing Shandian dengan senang disertai matanya yang berbinar.
...-------------------------...
Di puncak bukit, tidak jauh dari Kota Teratai Salju. Saat ini berdiri dengan tenang dua orang yang sedang mengamati seorang bocah kecil memainkan pedangnya. Pada awalnya, gerakannya terlihat kaku. Namun, seiring berlalunya waktu, dan semakin banyak gerakan yang dimainkannya, gerakan bocah kecil itu dalam memainkan pedang menjadi semakin halus. Dia menari-nari dengan pedangnya yang semakin lama, gerakannya juga semakin cepat, semakin lincah.
Ya, bocah itu adalah Qing Shandian yang sedang mempraktekkan Teknik 'Thousand Swords Split the Sky'. Setiap ayunan pedangnya terlihat lembut, namun membawa keganasan. Dalam teknik ini, ada tujuh langkah yang harus dikuasai jika ingin mencapai kesempurnaan. Diantaranya:
Langkah Pertama - Tusukan Pedang
Langkah Kedua - Tebasan Pedang
Langkah Ketiga - Hujan Pedang
Langkah Keempat - Tornado Pedang
Langkah Keenam - Pedang Penghancur
Langkah Ketujuh - Seribu Pedang Pemusnah
Tepat pada saat ini, Qing Shandian beteriak pelan,
"Thousand Swords Split the Sky, Langkah Pertama - Tusukan Pedang"
Qing Yuan menyalurkan Qi nya pada langkah ini. Dia mengarahkan pedangnya ke batu besar yang tidak jauh darinya. Sinar cahaya putih disertai petir hitam transparan melesat hingga menghantam batu besar itu dengan ganas. Petir ini bukan bagian dari Teknik, tetapi terbentuk dari Qi bawaan dari Klan Qing, Petir hitam transparan.
"Blarrr..."
Batu itu hancur berkeping-keping dengan derak petir yang nampak terlihat jelas. Qing Shandian terus memainkan pedangnya, tak lama, dia berteriak lagi,
"Langkah kedua - Tebasan Pedang!" Mengikuti suaranya, sinar cahaya putih disertai petir hitam transparan kembali melesat. Namun kali ini, itu berbentuk seperti bulan sabit. Tebasan itu seolah membelah angin, memperlihatnya riak Qi yang sangat jelas.
"Blarrr..." Pohon rindang yang kokoh meledak. Serpihan serbuk kayu bertebaran kemana-mana.
Qing Shandian terus mengayunkan pedangnya tanpa lelah, dengan mengarahkan pedangnya ke langit, Qing Shandian kembali berteriak,
"Langkah Ketiga - Hujan Pedang!" Mengikuti suaranya, banyak pedang yang terbentuk dari kondensasi Qi diatas kepalanya. Lalu, Qing Shandian mengayunkan pedangnya mengarah ke bebatuan yang sedikit lebih jauh darinya.
"Blarr.. Blarr.. Blarrr.. Blarrr.. " Suara ledakan bersahutan cukup lama, hingga akhirnya mereda. Disusul oleh teriakan Qing Shandian selanjutnya, "Langkah Keempat - Tornado Pedang!"
Banyak pedang yang terkondensasi dari Qi kembali muncul dan berputar cepat layaknya tornado. Dengan mengayunkan pedangnya, tornado pedang mengarah kembali ke area bebatuan. Suara ledakan kembali bersahutan, hingga nampak area bebatuan itu rata, seolah tidak pernah ada area bebatuan disana. Baru setelah melakukan Langkah Keempat - Tornado Pedang, Teknik 'Thousand Swords Split the Sky', Qing Shandian menghentikan aksinya.
Butir-butir keringat nampak mengucur deras di dahinya. Jubahnya juga nampak sedikit basah. Namun, dari sorot matanya yang tajam, ada kepuasan yang dia rasakan. Kelebihannya, telah membawanya pada keberhasilan latihannya. Menatap pedang ditangannya sejenak, Qing Shandian kemudian menoleh kearah dimana orangtuanya sedang menyaksikan dia berlatih. Dengan langkah gontai karena kelelahan, Qing Shandian perlahan menghampiri mereka.
Namun, sebelum Qing Shandian sampai di depan orangtuanya, pandangan Qing Shandian mendadak terasa kabur. Semua berubah menjadi gelap, dan tubuhnya perlahan jatuh. Tepat sebelum dia jatuh, ayahnya sudah menangkapnya lebih dulu.
Qing Yuan dan Lin Lianhua memandangi putranya yang tengah pingsan karena kelelahan dan kehabisan Qi.
Dengan ******* panjang, Qing Yuan berkata, "Haahhhhh.... Sungguh bocah yang keras kepala. Memaksakan diri bahkan sampai tidak menyadari bahwa Qi nya terkuras."
"Haahhh... Dia memang keras kepala, sama sepertimu, ayahnya..." Sahut Lin Lianhua menyindir dengan nada bercanda Qing Shandian.
"Ehh.. Kenapa aku? Oh.. Emm.. Ya ya, memang aku keras kepala. " Qing Yuan berkata dengan agak kikuk. Lalu dia menambahkan dengan suara serius, "Sungguh tidak terduga, bahwa bocah kecil ini benar-benar mampu memahami teknik bertarung yang cukup sulit dengan sangat cepat. Dari penampilannya tadi, aku bisa mengatakan bahwa itu luarbiasa. Tidak hanya gerakannya yang sempurna, bahkan penggunaan Qi yang dia salurkan pada setiap Langkah Teknik sangat sempurna. Pada tingkatannya saat ini, bahkan jika dia menghadapi kultivator Bintang 6 Qi Refining biasa, dia akan mudah mengalahkannya."
"Aku fikir juga begitu. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Hahhh... Kita para orangtua telah melakukan upaya bertahun-tahun dengan sia-sia jika dibandingkan dengan An'er." Sahut Lin Lianhua sambil membandingkan diri dengan putranya disertai helaan nafas panjang.
"Kamu benar Hua'er... Rasanya usaha kita bertahun-tahun telah sia-sia jika dibandingkan dengan An'er... Baiklah, mari kita pulang. Biarkan An'er beristirahat dengan nyaman. Dia perlu memulihkan diri sebelum keberangkatan kita. Sepertinya, An'er sudah sangat tidak sabar ingin memulai petualangan pertamanya.. Hehe.." Ucap Qing Yuan sambil memandangi putranya yang tertidur pulas.
Mendengar itu, Lin Lianhua mengangguk. Kemudian mereka bangkit dan menghilang dari atas bukit. Seolah-olah mereka bertiga tidak pernah ada disana...
...………...
**Bersambung …