System Break the Limit - Qing Shandian' Journey

System Break the Limit - Qing Shandian' Journey
Ch.48 - Tiba di Kota Matahari Terbit dan Awal Masalah



Diatas langit, Qing Shandian dengan ekspresi tenangnya terus melesat bersama Mu Lingyun menggunakan 'Sayap Emas Petir Angin'. Setelah enam jam perjalanan yang melelahkan, Qing Shandian dan Mu Lingyun perlahan turun dan mendarat di sebuah bukit untuk memulihkan Qi Spiritual yang terkuras.


Tanpa penundaan, Qing Shandian segera menurunkan Mu Lingyun yang sedang tertidur, dan menyandarkannya di sebuah pohon besar dengan hati-hati. Setelah itu, dia segera mengeluarkan 'Pil Pemulih Qi Spiritual' dan langsung menelannya. Setelah beberapa saat proses penyerapan, Qing Shandian perlahan membuka matanya, dan mulai memeriksa area disekitarnya dengan persepsi spiritualnya.


Merasa bahwa semuanya aman, Qing Shandian segera duduk di samping Mu Lingyun lalu mengeluarkan kantong air dan satu botol kecil 'Madu Lebah Awan Emas' dari dalam cincin penyimpanan. Qing Shandian dengan tenang menuangkan 'Madu Lebah Awan Emas' kedalam kantong air dan mengocoknya dengan ringan sebelum kemudian mereguknya. Dia merasakan sensasi rasa manis yang menggelegak dalam mulutnya, diikuti oleh rasa nyaman yang menyegarkan di seluruh tubuhnya dan rasa lelah yang dia rasakan juga seakan lenyap.


Ketika Qing Shandian masih menikmati sensasi yang menyegarkan itu, Mu Lingyun yang awalnya tertidur mulai perlahan membuka matanya. Dia mengerjap beberapa kali sebelum menyapukan pandangan ke area sekitarnya. Di memiringkan kepalanya ke arah Qing Shandian dan berkata, "An gege, apakah kita masih jauh dari kota Matahari Terbit?"


Mendengar ada suara yang memanggilnya, Qing Shandian segera membuka matanya. Dia memiringkan kepalanya ke arah Mu Lingyun sebelum berkata. "Aku tidak tahu pastinya. Namun, dari perkiraanku, sore hari nanti kita akan sampai di kota Matahari Terbit." Pungkasnya sebelum kemudian mereguk minuman ditangannya sekali lagi.


Mu Lingyun yang memperhatikan ekspresi puas diwajah Qing Shandian pun merasa penasaran. Dengan nada lembut dia berkata, "Apa yang An gege minum? Apa Lingyun boleh mencobanya?"


"Cobalah..." Sahut Qing Shandian singkat sambil memberikan kantong air ditangannya.


Mu Lingyun menerima kantong air itu dan membuka mulutnya sedikit, dia secara perlahan mulai menuangkan isinya. Begitu itu memasuki mulutnya, seolah dia tidak mau berhenti dan terus mereguknya. Ketika dia merasa puas, dia memandang Qing Shandian dan dengan perasaan ingin tahu, dia bertanya, "An gege, minuman apa ini? Kenapa itu membuat tubuhku terasa segar dan juga.. Badanku terasa lebih ringan."


"Hehe.. Tentu saja. Itu karena aku menambahkan 'Madu Lebah Awan Emas' dalam air itu. Bagaimana? Apa kamu menyukainya?" Qing Shandian terkekeh ringan sebelum berbicara.


Mu Lingyun yang mendengar ucapan Qing Shandian pun membelalakkan matanya dengan mulut ternganga.


Qing Shandian yang melihat reaksi itu pun segera menyambung ucapannya. "Lingyun, jika kamu tidak segera munutup mulutmu, aku tidak akan ragu mencium bibir kecilmu."


Mendengar ucapan Qing Shandian, Mu Lingyun segera tersadar dari keterkejutannya. Menyipitkan mata, dengan dingin Mu Lingyun berkata, "Apakah An gege benar-benar berani menciumku?"


"Ohh? Apakah kamu ingin mencobanya? Aku penasaran bagaimana rasanya." Sahut Qing Shandian dengan senyum lebar. Namun, sebelum dia bereaksi, Mu Lingyun sudah menerkam lengannya dengan cubitan keras.


"Aahhhh... Lingyun, itu sakit, kau tahu? Oke, oke.. Aku tidak akan menggodamu." Ucapnya sambil mengusap-usap lengannya yang terasa panas.


"Hmph.. Dasar An gege mesum..." Mu Lingyun mendengus ringan sebelum berbicara.


"Sudahlah. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan. Lagipula, Qi Spiritualku juga sudah pulih." Ucap Qing Shandian sambil perlahan berdiri, dan diikuti oleh Mu Lingyun.


"Mendekatlah, aku akan membopongmu lagi. Kita harus melakukan perjalanan dengan cara yang sama seperti sebelumnya." Ucap Qing Shandian menambahkan sebelum dia menerima kantong air dari Mu Lingyun, lalu menyimpannya lagi. Setelah itu, mereka kembali terbang melintasi awan, melesat cepat ke arah kota Matahari terbit.


...…………………………...


Waktu berlalu dengan cepat. Ketika matahari mulai menyingsing ke peraduannya, dari atas langit, Qing Shandian akhirnya melihat sebuah kota yang terlihat begitu kecil. Dengan perasaan bersemangat, Qing Shandian meningkatkan kecepatannya ke tingkat maksimal.


Setelah beberapa saat, Qing Shandian segera turun dan mendarat di lokasi hutan yang tidak jauh dari kota Matahari Terbit. Menurun Mu Lingyun dengan hati-hati, Qing Shandian lalu mengeluarkan jubah hitam dari cincin penyimpanannya, dan memakaikannya ke Mu Lingyun. Setelah itu, dia mengeluarkan topeng giok naga yang sama seperti yang dia kenakan, sambil berkata dengan nada serius. "Lingyun, kamu harus memakai topeng ini. Kita tidak tahu seperti apa situasi kota Matahari Terbit saat ini. Jadi, jangan mengungkapkan identitasmu lebih dulu. Sampai kita benar-benar tahu situasi tentang Klan Mu, kamu akan dipanggil dengan nama Yun Ling. Apa kamu mengerti?"


Melihat betapa seriusnya Qing Shandian, Mu Lingyun segera memakai topeng itu lalu menjawab, "Baik, aku mengerti."


"Bagus. Sekarang, mari kita memasuki kota dan mengumpulkan sedikit informasi." Sahut Qing Shandian, lalu mereka berjalan beriringan menuju gerbang kota Matahari Terbit.


...…………………………...


Lima belas menit mereka berjalan, akhirnya mereka tiba didepan gerbang kota yang dijaga oleh dua orang penjaga yang mengenakan baju pelindung besi. Hanya ada beberapa orang yang mengantri untuk memasuki kota.


Setelah beberapa saat menunggu, giliran mereka untuk melakukan pemeriksaan. Namun, ketika Qing Shandian dan Mu Lingyun hendak menerima pemeriksaan, suara berderak keras terdengar dari arah belakangnya yang diikuti oleh suara teriakan.


"Minggir! Semua minggir! Atau kalian akan mati tertabrak!"


Suara teriakan itu membuat orang-orang yang ada dalam lingkup jalan segera berhampuran ke tepian. Qing Shandian mengabaikan teriakan itu, dan tetap berdiri dengan tenang. Ketika kereta itu tidak menunjukkan tanda-tanda melambat, dia dengan ringan mengangkat jari telunjuknya tanpa ada yang menyadari dan diikuti oleh baut petir kecil yang melesat dengan cepat ke arah Binatang Spiritual yang menarik kereta.


"Braakk...braakk..braakkk..."


Ketika baut petir itu menghantam kaki Binatang Spiritual yang menarik kereta, Binatang Spiritual itu meraung keras diikuti oleh tubuhnya yang langsung tersungkur, dan menyebabkan kereta dibelakangnya terpelanting beberapa kali sebelum akhirnya berhenti.


Melihat hal itu, Qing Shandian hanya menatap dengan dingin sebelum mendekati dua penjaga yang masih dalam keadaan terkejut. Dia berkata, "Penjaga, kami berdua adalah kultivator independen. Plakat identitas kami terjatuh saat berburu di hutan. Apakah kami perlu membuat identitas sementara atau hanya membayar biaya masuk?"


Penjaga yang mendengar ucapan Qing Shandian segera tersadar dan berkata, "Tuan muda, jika kalian tidak memiliki plakat identitas, kalian perlu mendaftarkan diri dulu untuk mendapatkan plakat identitas sementara. 100 Batu Spiritual Tingkat Rendah untuk satu orang."


"Baik, kami akan mendaftar." Sahut Qing Shandian singkat sambil mengeluarkan 200 Batu Spiritual Tingkat Rendah dan menyerahkannya pada penjaga itu.


Penjaga itu pun segera menerimanya dan berkata, "Sebutkan nama dan kota asal kalian."


"Shandian, dari kota Bambu Kuning. Sedangkan dia, Yun Ling, dari kota yang sama." Ucap Qing Shandian dengan nada tenang.


Setelah beberapa saat menunggu, penjaga itu menyerahkan plakat perunggu yang diatasnya tertulis nama Qing Shandian dan Mu Lingyun.


"Ini plakat identitas sementara kalian. Plakat ini hanya berlaku selama tujuh hari. Setelah melewati batas waktu, kalian harus mendaftarkan diri lagi di kantor kota, atau bisa kembali kesini." Ucap penjaga itu menjelaskan.


"Baik, kami mengerti." Ucap Qing Shandian sambil mengangguk sebelum berbalik untuk memasuki kota.


Namun, ketika kakinya akan memasuki kota, suara teriakan nyaring kembali terdengar memasuki telinganya.


"Hei kau! Berhenti disana!"


Banyak orang yang mengalihkan pandangan mereka ke arah seorang pemuda yang baru saja berteriak. Begitu mereka tahu siapa itu, mereka dengan cepat segera membubarkan diri. Sedangkan penjaga gerbang hanya berdiri mematung dengan tubuh bergetar lembut.


Bersamaan dengan teriakan itu juga, Qing Shandian dan Mu Lingyun pun berhenti. Qing Shandian menghela nafas panjang sebelum membalikkan badannya. Dia menatap ke arah seorang pemuda berpakaian mewah yang berjalan mendekat ke arahnya sambil menggenggam erat pedang panjang.


Sesaat kemudian, pemuda itu sampai didepan Qing Shandian dan Mu Lingyun. Dengan suara yang agak serak dia berkata, "Katakan! Apa kau yang sudah melukai Binatang Spiritualku? Jika tidak, aku tidak akan ragu menghabisimu. Apakah kau tahu siapa aku? Aku Tuan muda dari Klan Wen, Wen Hongchu. Klan terkuat di kota ini. Apa kau dengar? Apa kau takut sekarang?"


"Aku tidak tahu apa maksudmu. Aku juga tidak tahu siapa dan darimana kamu berasal karena ini pertama kalinya aku mendengarnya. Jadi, jangan menunda langkahku. Aku sangat lelah sekarang." Sahut Qing Shandian dengan tenang.


"Kurang ajar! Apa kau benar-benar mempermainkanku?! Kau mencari kematian!" Ucap seorang pemuda yang menyebut dirinya Wen Hongchu dengan berteriak sebelum tiba-tiba meluncurkan serangan ganas ke arah Qing Shandian.


"An gege, hati-hati." Ucap Mu Lingyun spontan begitu melihat Wen Hongchu meluncurkan serangan dadakan.


Sementara itu, Qing Shandian yang melihat serangan itu dengan cepat mengarah padanya, dia sedikitpun tidak bergerak. Dia hanya mengangkat jari telunjuknya, dan sebuah baut petir sebesar dua jari melesat cepat menyambut serangan dari Wen Hongchu.


"Triinggg..."


"Aaahhhh.."


Ketika hantaman baut petir itu bertemu dengan pedang Wen Hongchu, pedang itu langsung hancur berkeping-keping, diikuti oleh teriakan Wen Hongchu yang sangat nyaring. Sementara tangan yang dia gunakan untuk menggenggam pedang pun terlihat robek dan melepuh dengan kulit yang terlihat gosong.


Qing Shandian hanya memberikan tatapan datar, dan dengan suara dingin dia berkata. "Jangan pernah muncul dihadapanku dan menggangguku lagi. Ini adalah kesempatan pertama dan terakhirmu. Jika kamu sekali lagi mengangguku, aku tidak akan ragu membuatmu menjadi seperti pedangmu yang hancur berkeping-keping. Jika kamu tidak percaya, kamu bisa mencobanya lagi." Pungkasnya sebelum kemudian berbalik dan memasuki kota bersama Mu Lingyun.


Wen Hongchu hanya bisa menyaksikan kepergian mereka sambil menahan rasa sakit ditangannya. Ketika bayangan Qing Shandian dan Mu Lingyun tidak lagi terlihat, sorot mata Wen Hongchu dipenuhi dengan niat membunuh. Dia pun bergumam lirih. "Tunggu saja! Penghinaan ini, aku akan membalasnya! Kamu akan menyesal karena telah berurusan dengan orang yang salah."


...…………………………...


** Bersambung …