System Break the Limit - Qing Shandian' Journey

System Break the Limit - Qing Shandian' Journey
Ch.108 - Keluar dan Pembalasan



Di dalam ruang yang terisolasi, dimana Qing Shandian berada, Qi Spiritual tampak berputar dengan cepat mengelilingnya dan memasuki tubuhnya. Pusaran Qi Spiritual itu berlangsung selama sepuluh menit sebelum akhirnya menghilang. Bersamaan dengan itu, terdengar suara teredam dalam tubuh Qing Shandian, disusul dengan hembusan angin yang cukup kencang menyapu sekelilingnya.


"Boomm..."


"Wuusshh..."


Qing Shandian membuka matanya perlahan. Dia menghembuskan nafas keruh dan bergumam pelan. "Huuhh...Akhirnya aku menerobos juga."


Sorot matanya tampak tajam. Tanpa menunda waktu, dia segera berdiri dan mengeluarkan 'Pedang Petir Bulan Bintang', lalu melepaskan persepsi spiritualnya. Dia terlihat sangat fokus sambil memejamkan matanya. Setelah beberapa saat, dia merasakan fluktuasi ruang yang tidak normal. Itu tidak lain adalah saat pertemuan simpul ruang sebelumnya. Dengan sigap Qing Shandian berbalik ke arah kiri, lalu mengayunkan pedangnya dengan segenap kekuatannya.


"Wuusshh.. Sriingggg..."


"Krraakkkk..."


"Wuusshh.. Sriingggg..."


"Krraakkkk..."


Hanya dengan jeda yang sangat singkat, Qing Shandian meluncurkan dua kali tebasan yang sangat kuat, sehingga mengoyak tiga simpul lapisan ruang. Ketika pemandangan dunia luar memasuki pandangannya, Qing Shandian tanpa fikir panjang langsung melompat. Sayangnya....


"Aaaahhhhh...."


"Wuushh... Brukk..."


Karena rasa tidak sabar untuk segera meninggalkan ruang itu, dia melupakan akan kecepatan pemulihan lapisan ruang itu. Kaki kanannya terkoyak parah ketika terkena himpitan lapisan ruang yang memulihkan diri. Beruntungnya Qing Shandian mampu bereaksi cepat sehingga dia berhasil lolos meskipun harus kembali terkurung dalam ruang yang teriaolasi itu.


"Aahhhh... Sialan! Kenapa aku melupakannya begitu saja.. Uuhhh..." Ucap Qing Shandian di sela-sela rintihannya menahan rasa sakit karena luka menganga di sepanjang kaki kanannya yang tidak terlindung oleh 'Rompi Hitam Bulan Bintang'.


Tanpa mempedulikan darah yang mengucur dari luka itu, Qing Shandian segera mengeluarkan dan menelan 'Pil Pemulih Vitalitas dan Durabilitas', lalu menyerapnya. Setelah setengah jam berlalu, dia membuka matanya, lalu menatap celananya yang robek. Dia mengeluarkan celana baru dari cincin penyimpanannya dan segera menggantinya.


"Huuhhh... Aku fikir, teleportasi seharusnya bisa digunakan jika tiga simpul itu terkoyak. Ya.. Lebih baik mencobanya dulu..." Gumam Qing Shandian membuat kesimpulan.


Setelah itu, Qing Shandian kembali mengeluarkan 'Pedang Petir Bulan Bintang', lalu melepaskan persepsi spiritualnya. Setelah beberapa saat pengamatan, dia merasakan fluktuasi ruang yang sudah tidak asing baginya berada tepat di hadapannya. Qing Shandian mengayunkan pedangnya dengan segenap kekuatannya.


"Wuusshh.. Sriingggg..."


"Krraakkkk..."


"Wuusshh.. Sriingggg..."


"Krraakkkk..."


Ruang itu pun kembali terkoyak lebar, dan pemandangan dunia luar kembali terlihat oleh matanya. Tanpa keraguan sedikitpun, Qing Shandian menggunakan teknik teleportasinya.


"Zheepppp.."


...…………………………...


"Wuusshh.."


Qing Shandian muncul di langit, tidak jauh dari area yang terasa tidak asing baginya, namun itu terkurung oleh perisai penghalang tiga warna yang tampak samar. Ketika pandangannya menjadi jelas, dia dapat melihat manusia ular yang berlalu lalang. Seketika itu, seringai lebar menghias wajah tampannya. Dia tertawa lantang sambil lalu berseru dengan suara yang menggelegar. "Hahahahaha... Ratu manusia ular sialan!! Aku, Qing Shandian, telah kembali!! Saatnya bagimu menerima pembalasanku!! "


Gelegar tawa dan suara Qing Shandian yang melingkupi seluruh wilayah kerajaan manusia ular terdengar sangat menakutkan. Seketika itu juga, suasana dalam wilayah itu menjadi kacau dengan keributan besar yang terjadi dimana-mana.


Bersamaan dengan itu, dalam ruangan istana, Ratu manusia ular dan dua puluh manusia ular lainnya langsung berdiri dari tempat duduknya, lalu melesat cepat meninggalkan istana.


Ketika kelompok Ratu manusia ular tiba di luar istana, mereka menatap Qing Shandian lekat-lekat. Setelah beberapa saat, Ratu manusia ular terkejut dan berseru. "Itu Kamu! Mustahil!! Itu tidak mungkin! Aku tidak percaya ini! Bagaimana kamu bisa keluar dari ruang itu?!"


Qing Shandian dengan ekspresi datarnya manyahuti dengan suara yang dalam. "Sudah cukup lama tidak bertemu. Ternyata kamu masih mengingatku, Ratu manusia ular. Bagaimana aku dapat keluar, itu tidak lagi penting bagiku."


Ekspresi Ratu manusia ular seketika itu menjadi dingin. Sambil menggertakkan gigi, dia berkata, "Tidak aku sangka bahwa kamu dapat keluar dari ruang itu dalam waktu secepat ini. Kamu memang memiliki kemampuan. Tapi itu bukan berarti bahwa aku tidak bisa mengurungmu untuk kedua kalinya."


Qing Shandian menyeringai ketika mendengar ucapan itu. Dia dengan sinis berkata, "Kamu boleh berbangga diri dengan kemampuan khususmu. Tapi jangan harap, dengan cara yang sama kamu dapat mengelabuhiku untuk kedua kalinya. Untuk kali ini, bukan giliranmu untuk melayang tinggi ke langit. Akan aku pastikan bahwa kamu dan seluruh anggotamu menikmati perasaan bahagia diantara keputusasaan, namun kalian tidak bisa menyerah. Sekaligus, menikmati perasaan bahagia ketika kalian berharap untuk mati, namun kalian tidak mampu mati. Sebelum itu, perhatikan dengan baik bagaimana aku menghancurkan perisai yang mengurung kalian selama ini."


Ketika ucapan Qing Shandian jatuh, entah kenapa itu terdengar seperti nyanyian kematian bagi para manusia ular. Tubuh mereka bergetar hebat tanpa sadar, dan membuat mereka hanya berdiri mematung. Ratu manusia ular dengan suara bergetar berkata, "Kamu... Apa yang akan kamu lakukan?!"


Qing Shandian acuh tak acuh dengan reaksi mereka dan hanya membalas dengan seringai ketika mendengar ucapan itu. Auranya meletus diiringi munculnya simbol bulan bintang di dahinya. Dia membentuk segel tangan dengan sangat cepat, lalu berseru, "Amarah Petir Semesta!! Menembus Ruang!!"


"Gludugg..Gludugg..Gludugg.."


"Jederr..Jederr..Jederr..Jederr..Jederr.."


Di atas wilayah lautan timur, bersamaan dengekhirnya seruan Qing Shandian, suara gemuruh terdengar menggelegar diiringi terbentuknya pusaran awan hitam berbalut baut petir tiga warna yang dengan liar dan ganas menyambar-nyambar. Pusaran awan hitam itu nampak berkerlap - kerlip untuk beberapa saat, lalu sebuah baut petir emas transparan selebar satu meter menghujam ke lautan dengan sangat cepat, namun menghilang ke udara tipis.


Kembali ke kedalaman laut dimana wilayah Kerajaan manusia ular berada.


"Krraakkkk..." Ruang diatas wilayah itu terbuka lebar secara tiba-tiba.


"Jeddeerrrrrr..." Baut petir emas transparan keluar dari koyakan ruang, dan dengan ganas langsung menghantam perisai tiga warna yang mengurung wilayah kerajaan manusia ular.


"Kraakkk...Kraakkk...Kraakkk...Kraakkk..."


"Pyaarrrrr..."


Ketika petir itu menghantam perisai penghalang, itu dengan cepat langsung menghancurkannya. Namun itu tidak berhenti hanya sampai disitu saja.


"Tidaakkk..." Teriak Ratu manusia ular yang sangat ketakutan ketika merasakan dahsyat nya sisa kekuatan penghancur yang masih berlanjut.


Sayangnya, sebelum dia menyelesaikan ucapannya, sisa kekuatan penghancur dari petir itu meledak menjadi baut petir halus hingga melingkupi seluruh wilayah kerajaan manusia ular.


"Booommmm..."


"Aaahhhhhhh..."


Selama pelatihan instensnya di ruang yang terisolasi, Qing Shandian memperkirakan bahwa petir itu memiliki kekuatan penghancur yang lebih dahsyat daripada 'Kemarahan Naga Petir Semesta'-nya. Meski begitu, untuk meluncurkan teknik itu, dia harus mengeluarkan 95% Qi Spiritualnya.


Seperti saat ini, Qing Shandian terlihat pucat dan terengah-engah. Dia acuh tak acuh dengan situasi kacau yang sedang terjadi di hadapannya. Dengan sigap, dia memulihkan Qi Spiritualnya yang terkuras.


Setengah jam berlalu cepat. Qing Shandian membuka matanya dan menghembuskan nafas panjang. Dia menatap ke arah kekacauan dengan tatapan datar, meskipun dia mengetahui bahwa cukup banyak dari kelompok manusia ular yang tewas akibat ledakan sebelumnya. Sementara yang lain, mereka terkapar dalam kondisi lemah di ujung kematian.


Qing Shandian melesat turun. Ketika dia berada tidak terlalu tinggi dari wilayah kerajaan manusia ular yang telah menjadi puing-puing, dia menggores telapak tangannya, lalu membentuk segel tangan. Setelah itu, dia merentangkannya ke depan. Simbol bulan bintang muncul dari udara tipis dan melingkupi seluruh area, sebelum kemudian itu jatuh menimpa semua manusia ular tanpa terkecuali.


Ketika proses penanaman segel kontrak berakhir, Qing Shandian memasukkan 'Pil Pemulih Vitalitas dan Durabilitas Binatang Spiritual' ke dalam mulut mereka secara kasar tanpa membantu proses penyerapannya.


Setelah semua selesai, Qing Shandian menyelimuti mereka dengan kekuatan spiritualnya, lalu menghilang bersama, meninggalkan sisa-sisa kekacauan di wilayah itu.


...…………………………...


"Wuusshh..."


Muncul di area yang tidak jauh dari tempat tinggal pribadinya di Dunia Jiwa, Qing Shandian segera membuat perisai penghalang untuk kelompok manusia ular. Ketika selesai dengan urusannya, dia langsung melesat cepat ke arah kediaman Klan Qing.


Sesaat kemudian, Qing Shandian sampai di depan rumah orangtuanya. Tanpa mempedulikan tatapan orang lain, dia melangkah maju dan membuka pintu sambil berkata, "Ayah, ibu, An'er pulang."


Kedatangan Qing Shandian yang secara tiba-tiba sontak membuat beberapa orang dalam ruangan itu terkejut hingga tidak bisa merespon. Qing Wenrou yang tersadar lebih dulu segera menghambur ke pelukan Qing Shandian yang bahkan belum melangkah masuk. Dia menangis sesunggukan sambil memukul-mukul dada Qing Shandian pelan. Sesaat setelah itu, Mu Lingyun, Xie Feng Xue dan Xue Shui Jing juga menghambur kepelukannya dan menangis tersedu-sedu.


Qing Shandian tidak bisa berkata-kata ketika menerima reaksi seperti itu dari mereka. Namun sesaat setelah itu, dia tersadar dan menyapukan pandangannya ke ruangan itu. Hanya satu orang yang tidak berkumpul, dan itu adalah ibunya. Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Dengan suara berat dan nada penasaran, dia berkata, "Ayah, dimana ibu? Kenapa dia tidak ada disini? Apa terjadi sesuatu dengan ibu? Cepat katakan...." Pungkasnya dengan suara bergetar.


Ketika ucapan Qing Shandian jatuh, tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab. Qing Shandian menunduk dan berkata, "Kalian... Katakan padaku.. Dimana ibu? Cepat.. Bawa aku padanya..."


Mereka berempat juga tidak menjawab. Tanpa sepatah kata pun, Qing Wwnrou menggenggam tangan Qing Shandian dan menariknya menuju kamar Lin Lianhua, sambil lalu diikuti oleh semua orang dalam ruangan itu.


Sesampainya di dalam kamar Lin Lianhua, Qing Shandian sangat terkejut dan segera bergegas menghampiri ibunya yang terbaring sangat lemah. Wajahnya tampak kuyu, kulitnya mengeriput dan rambutnya bahkan memutih. Penampilannya tidak lagi terlihat cantik seperti sebelumnya. Sambil menggenggam tangan ibunya, dia mendekatkan bibirnya, lalu dengan suara yang bergetar dia berkata, "Ibu, An'er pulang, Bu... An'er pulang... Ibu bangun... An'er pulang, Bu.. An'er pulang..." Pungkasnya diiringi airmatanya yang tanpa sadar menetes ke wajah Lin Lianhua.


Berakhirnya ucapan Qing Shandian, membuat suasana kamar menjadi sangat hening. Lin Lianhua yang semula terpejam, bulu matanya sedikit bergetar, ketika mendengar ucapan Qing Shandian. Dia secara perlahan membuka matanya. Ketika pandangannya menjadi jelas, dia berbicara dengan suara lemah dan terbata-bata diiringi airmatanya yang berderai. "An'er.. Kamu.. Pulang... Putraku.. Kembali..."


Qing Shandian mengangkat kepalanya ketika mendengar ucapan ibunya, lalu dengan sigap memeluknya dengan lembut.


Lin Lianhua mencoba untuk mengangkat tangannya. Dia ingin mengusap kepala Qing Shandian. Namun, karena dia tidak memiliki tenaga, tangannya hanya bergerak ringan di tempatnya.


Qing Shandian yang merasakan gerakan tangan ibunya segera melepaskan pelukannya, lalu berkata, "Ibu diam, jangan bergerak dulu. Biarkan An'er memeriksa ibu terlebih dahulu." Pungkasnya sambil lalu menyentuh pergelangan tangan Lin Lianhua untuk memeriksa denyut nandinya.


Lin Lianhua hanya membalas dengan anggukan lemah. Setelah beberapa saat pemeriksaan cermat, Qing Shandian tidak menemukan gejala penyakit apapun. Dia hanya menemukan sejumlah besar khasiat obat yang menumpuk dan belum terserap sempurna. Dengan sigap, dia mengulurkan tangan, dan menelusupkannya di leher belakang Lin Lianhua sambil berkata, "Ibu duduk dulu.. An'er akan membantu ibu memulihkan diri."


Setelah itu, Qing Shandian dengan tenang membantu Lin Lianhua untuk menyerap semua khasiat obat yang menumpuk dalam tubuhnya.


Seiring berjalannya waktu, Qing Yuan dan yang lain menghela nafas lega ketika melihat kondisi Lin Lianhua yang semakin membaik. Hanya saja, dia masih terlihat berkeriput seperti sebelumnya.


Setelah satu jam berlalu, Qing Shandian menyudahi kegiatannya. Dia perlahan beranjak dari duduknya sambil berkata, "Ibu tetap diam dulu. Sekarang, telan dan serap pil ini dulu." Pungkasnya sambil lalu menyuapkan pil warna-warni sambil tersenyum manis.


Lin Lianhua menatap Qing Shandian dengan lekat sambil membuka sedikit mulutnya dan menerima suapannya. Dia masih merasa bahwa itu adalah mimpi. Ketika pil itu memasuki mulutnya, itu segera meleleh dan dia segera menelannya, lalu memulai proses penyerapannya.


Qing Yuan dan yang lain terlihat penasaran dengan pil yang diberikan oleh Qing Shandian. Namun berbeda halnya dengan Xie Feng Xue. Dia akhirnya ingat akan 'Pil Roh Peremajaan' yang dengan susah payah berulang kali dia murnikan, namun selalu menemui kegagalan. Dia berseru dengan suara pelan, "Itu dia! Pil Roh Peremajaan! Bagaimana bisa aku melupakannya.."


Qing Yuan yang mendengar itu pun dengan cepat menyahuti. "Pil Roh Peremajaan? Pil macam apa itu, Xue'er?"


Semua orang menatapnya dengan tatapan penasaran. Xie Feng Xue membalas tatapan Qing Yuan. Dia menghela nafas ringan, lalu berkata, "Huuhh.. Ayah Yuan, perhatikan perubahan ibu baik-baik. Nanti ayah Yuan akan mendapat jawabannya." Pungkasnya sambil lalu mengalihkan pandangannya ke arah Lin Lianhua, yang diikuti oleh yang lain.


Seiring berjalannya waktu, penampilan Lin Lianhua mengalami metamorfosis layaknya kepompong yang menjelma menjadi kupu-kupu yang cantik. Semua kulitnya kembali mengencang, bahkan terlihat lebih mulus layaknya seorang gadis. Rambut panjangnya juga dengan cepat kembali menghitam.


Qing Yuan dan yang lain sangat terkejut. Mereka ternganga dan terbelalak ketika menyaksikan perubahan ekstrim dari penampilan Lin Lianhua, hingga tidak bisa berkomentar apapun.


Beberapa saat kemudian, Lin Lianhua membuka matanya secara perlahan. Dia juga terkejut ketika pandangan menjadi sangat jernih. Dia mengulurkan tangannya dan menjadi lebih terkejut ketika melihat kulitnya terlihat layaknya masih seorang gadis. Dia kemudian menyentuh pipinya, lalu menatap Qing Shandian yang sedang tersenyum lebar padanya.


"Ck.ck.ck... Wahhh... Ibuku terlihat semakin cantik sekarang. Tidak kalah dengan Wenrou, Lingyun, Feng Xue, maupun Shui Jing. Dengan kecantikan ini... Bagaimana jika itu membuat An'er jatuh cinta? Apa ibu akan menerima cinta An'er? Hmm, Hmm?" Ucap Qing Shandian sambil menaik - turunkan alisnya dan tersenyum manis.


Lin Lianhua terkikik merdu seperti lonceng kaki yang bergemerincing sambil menutup bibirnya, lalu berkata, "Hihihihi... An'er, ibu baru saja pulih dan kamu sudah menggoda ibumu... Bagaimana jika ibu tidak menerima cinta An'er?"


Qing Shandian menggelengkan kepalanya dengan ringan. Dia menghela nafas panjang, lalu berkata, "Haahhhhh... Sayang sekali, sayang sekali... Sebegini tampan dan gagahnya An'er yang sekarang, tapi cinta harus ditolak oleh seorang wanita cantik... Benar-benar sangat disayangkan... Kalau begitu, cinta An'er biarlah hanya untuk keempat peri cantik saja." Pungkas Qing Shandian sambil lalu mencoba beranjak dari tempat tidur, bermaksud menghampiri Qing Wenrou dan yang lain.


Lin Lianhua yang melihatnya beranjak pergi, dengan sigap dia segera menghamburkan diri ke dalam pelukannya disusul dengan tangisnya yang pecah. Dalam tangisnya, Lin Lianhua berkata, "Jangan pergi.. Jangan tinggalkan ibu lagi, An'er. Ibu akan selalu menerima cinta An'er. Selalu...hiks..hiks.." Pungkasnya dengan sesunggukan.


Qing Shandian membalas pelukan ibunya, dan membiarkannya untuk meluapkan semua kerinduan yang ditanggungnya. Setelah cukup lama, Qing Shandian memegang bahu ibunya dengan lembut, lalu mendorongnya dengan lembut agar melepas pelukannya. Dia mengusap airmata yang mengalir di pipi ibunya dan berkata dengan suara lembut, "An'er tidak pergi kemanapun. Ibu jangan bersedih lagi, jangan menangis lagi, oke? An'er hanya bercanda. Maafkan An'er yang sudah membuat ibu khawatir dan menderita selama ini."


"Hiks..hiks.. Tidak apa-apa. Ibu hanya terlalu merindukan An'er. Sayangnya, sekarang An'er sudah tumbuh dewasa, dan itu membuat ibu menyesal karena tidak bisa melihat tumbuh kembang An'er." Ucap Lin Lianhua sambil sesunggukan dan menatap Qing Shandian, sebelum kemudian dia memeluknya lagi dengan sangat erat.


"Uhukk..uhukk.. Bu, An'er kesulitan bernafas jika Ibu memeluk An'er seerat ini. Lihat.. Wenrou dan yang lain menjadi cemberut." Qing Shandian terbatuk-batuk ketika berbicara, sambil lalu menepuk-nepuk pelan punggung Lin Lianhua.


Lin Lianhua segera melepaskan pelukannya dan menjadi panik ketika melihat Qing Shandian yang bernafas tersengal-sengal. Dengan tangan gemetar dia berkata, "Maafkan ibu.. Ibu hanya tidak ingin An'er pergi lagi. An'er, apa kamu baik-baik saja?"


Qing Shandian yang sibuk mengatur nafas tidak segera menjawab. Wajahnya tampak merah padam karena kesulitan bernafas sebelumnya. Dia melambaikan tangannya dan berkata, "Hah..hah..hah.. Tidak apa-apa. An'er baik-baik saja, Bu."


"Hua'er, apa kamu tidak merindukanku juga? Apa hanya An'er saja yang mendapatkan pelukan? Lalu bagaimana denganku?" Sahut Qing Yuan yang sedari awal diabaikan sambil merentangkan kedua tangannya.


Mendengar pertanyaan itu, Lin Lianhua menyipitkan matanya dan memberi Qing Yuan tatapan dingin yang menakutkan, lalu berkata, "Aku hanya merindukan An'er kecilku. Sedangkan kamu, lebih baik diam. Lagipula kita sering bertemu. Jadi, jangan menggangguku. Atau.... Hmm?" Pungkasnya sambil menunjukkan kepalan tangannya ke arah Qing Yuan.


Qing Yuan bergidik ngeri. Dia merasakan hawa dingin merayapi punggungnya sambil lalu menelan ludah dengan kasar. Dengan tergagap dia berkata, "Ba..baba..baik..baik.. Aku.. Aku tidak akan mengganggumu..."


Seketika itu semua orang tertawa terbahak - bahak ketika melihat ekspresi Qing Yuan. Tanpa sadar mereka melupakan kesedihan yang sebelumnya mereka rasa, dan merubah suasana dalam ruangan itu menjadi lebih bersemarak.


...…………………………...


** Bersambung …