
Diantara lautan pepohonan yang rimbun, terdapat sebuah jurang yang sangat dalam. Di jurang itu ada sebuah gua batu besar yang diterangi oleh batu cahaya.
Qing Shandian dan Qing Wenrou berjalan berdampingan dengan Serigala Perak, Yin Xing Yue yang memimpin jalan.
Sesampainya mereka di dalam gua, Yin Xing Yue berbalik, menatap Qing Shandian, lalu berkata, "Tuan muda, silakan memasuki ruangan lain dalam gua ini. Sedangkan untuk Nona muda, harus menunggu disini."
Menyelesaikan ucapannya, Yin Xing Yue segera menekan kan cakarnya pada salah satu sisi dinding gua.
"Grekk..grekk.. Dhumm.."
Dinding batu itupun terbuka, memperlihatkan ruangan luas didalamnya. Melihat itu, Yin Xing Yue berkata lagi, "Silakan masuk Tuan muda... Nona muda tidak perlu khawatir akan keselamatan Tuan muda. Apa yang aku lakukan, hanyalah menjalankan perintah dan pesan penguasa terdahulu.." Pungkasnya menjelaskan.
Qing Shandian tidak segera menjawab. Dia menoleh ke arah Qing Wenrou, lalu berkata, "Wenrou, kamu tunggu disini. Tidak perlu mencemaskanku. Aku akan baik-baik saja."
"Baik... Jika sesuatu terjadi, segera beritahu Wenrou." Ucap Qing Wenrou menyahuti.
Setelah itu, Qing Shandian berjalan memasuki ruangan luas di balik pintu bantu. Begitu Qing Shandian masuk, pintu batu kembali tertutup dengan sendirinya.
"Dhumm.."
Suara dentuman kembali terdengar begitu pintu batu itu tertutup.
...…………………………...
Disisi Qing Shandian, dia tetap terlihat sangat tenang, dan terus melangkahkan kakinya menuju sebuah platform batu setinggi satu meter yang tertangkap dalam pandangannya.
Sesaat kemudian, dia tiba tepat di depan platform batu itu. Dengan sedikit mengernyit, Qing Shandian mengamati objek yang berbentuk Bulan Bintang dengan tiga warna, yang tertancap di platform batu itu. Karena merasa penasaran, dia mengulurkan tangannya untuk mengambil objek Bulan Bintang itu. Namun, begitu tangannya menyentuh objek itu, dia merasakan kepalanya berdenyut-denyut, lalu pandangannya terasa kabur dan gelap.
Membuka mata secara perlahan, Qing Shandian mengerjapkan matanya. Dalam pandangannya saat ini, dia melihat pertarungan dahsyat antara dua orang. Setiap kali dua orang itu beradu serangan, pegunungan yang menjulang tinggi dan panjang seolah dipangkas oleh sesuatu yang sangat tajam. Pertarungan diantara mereka berlangsung cukup lama. Sebelum kemudian salah satu orang yang memakai jubah hitam terkena serangan menyelinao dan dia terlempar keras, melesat ke arahnya dengan sangat cepat. Qing Shandian ingin melarikan diri, namun dia tidak bisa. Tubuhnya seolah terpaku. Qing Shandian memejamkan matanya erat-erat. Dia seolah merasakan kematian sedang mendekat. Namun, dia tidak merasakan apapun, dan justru mendengar suara ledakan keras.
"Boommmm...."
Qing Shandian membuka matanya, lalu mencoba mencari tahu, darimana suara ledakan itu. Menggerakkan jari-jarinya, dia bisa. Menggerakkan kakinya, dia pun bisa melakukannya. Lalu dengan segera dia berbalik. Mulutnya ternganga dengan mata terbuka lebar-lebar. Dia melihat pemandangan yang mengerikan. Pegunungan yang memanjang benar-benar rata, memperlihatkan tanah yang tandus dan gersang, dengan debu mengepul. Ketika dia memperhatikan sosok berjubah hitam dengan lebih teliti, dia merasakan perasaan akrab dan tidak asing. Namun, sebelum dia memastikan siapa itu, tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat ketika mendengar suara teriakan.
"Qing Shandian!!... Serahkan Kunci Bulan Bintang padaku dan aku tidak akan membunuhmu!"
Sebelum Qing Shandian menjawab, seorang berjubah hitam yang sebelumnya terlempar ke arahnya berkata sambil berusaha berdiri,
"Xiao Wukuang... Bahkan jika aku mati, kunci itu tidak akan pernah aku berikan padamu. Kau terlalu sombong. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Bahkan hanya karena kunci itu, kau juga menyerangku tanpa alasan." Ucap orang berjubah hitam itu.
Sementara itu, Qing Shandian dengan tubuh bergetar mendengarkan ucapan itu. Dia merasa kebingunan. Untuk apa dia diperlihatkan sesuatu yang bahkan tidak dia mengerti. Namun segera, lamunannya dibuyarkan oleh ucapan seseorang yang memakai jubah merah.
"Qing Shandian... Kau tentu tahu betapa pentingnya Kunci Bulan Bintang itu bukan? Cepat serahkan kunci itu padaku, dan aku akan menyelamatkan hidup ayahmu Qing Yuan dan Ibumu Lin Lianhua... Dan tentang Wenrou kekasihmu.... Hehe... Aku akan menikmatinya tubuhnya sampai aku puas.. Hahahaha..."
Qing Shandian yang mendengar ucapan itu pun tubuhnya semakin bergetar hebat. Amarah yang meledak-ledak terkumpul di dadanya dan dia dengan erat mengepalkan tangannya. Dengan serius, dia mengamati sosok berjubah merah itu. Namun, sebelum dia memikirkan apapun, pandangannya berubah kabur, dan dia muncul di tempat yang gelap dengan sedikit remang - remang cahaya.
Qing Shandian mengerutkan dahinya kebingungan dengan semua yang terjadi. Beberapa saat setelah kemunculannya, dia mendengar sebuah suara.
"Bocah kecil... Apakah kamu merasa bingung dengan apa yang terjadi?"
Qing Shandian pun tidak segera menjawab. Dia mencari arah darimana datangnya suara itu. Begitu menemukannya, dia mengernyitkan dahinya lagi. Karena yang berbicara padanya adalah sosok yang tampak ilusi dengan tubuh transparan. Qing Shandian pun menghirup udara dalam-dalam, sambil lalu berkata, "Siapa kamu? Apakah kamu yang memperlihatkanku adegan sebelumnya dan membawaku kemari?"
Sosok itu memandang Qing Shandian, lalu berkata, "Kau bisa memanggilku Pak tua Fengying. Memang benar, akulah yang memperlihatkannya dan membawamu kemari."
Mendengar itu, Qing Shandian segera menimpali, "Lalu apa tujuanmu memperlihatkan hal itu padaku? Aku bahkan tidak tahu apapun."
"Apakah kamu benar-benar tidak memperhatikan siapa yang telah kamu lihat, bocah kecil?.. Ataukah kamu punya penyakit rabun jauh dan telingamu tuli? Bukankah sudah jelas bahwa itu adalah tentang kamu sendiri, Qing Shandian?" Balas sosok ilusi yang dipanggil Pak Tua Fengying.
Qing Shandian yang mendengar itupun akhirnya menyadari sesuatu yang telah membuatnya kebingungan. Tubuhnya bergetar. Dia merenung sejenak, lalu berkata, "Apakah maksudmu itu adalah masa depanku?"
"Seperti yang kamu fikirkan. Itu adalah masa depan yang akan menimpamu jika kamu menjadi seorang yang naif. Kelemahan terbesarmu adalah kau mudah mempercayai orang lain tanpa tahu tentang bagaimana mereka sebenarnya. Setelah melihat kejadian itu, seharusnya kau menjadi lebih pintar bukan? Kecuali jika kau memang benar-benar bodoh." Pungkas Pak Tua Fengying dengan nada sarkastik.
Qing Shandian memandang Pak Tua Fengying lama, sebelum kemudian dia berkata, "Aku mengerti... Setelah melihat kejadian itu, aku bisa menyimpulkan, bahwa di masa depan, aku terlalu mudah percaya dengan seseorang, dan aku mudah membeberkan rahasiaku. Hingga akhirnya, aku akan mendapati penghianatan... Haahh.. " Pungkasnya diiringi hembusan nafas ringan, lalu dia melanjutkan, "Lalu, apa tujuanmu Pak Tua? Aku yakin tidak hanya sebatas itu, bukan?"
"Tujuanku hanyalah menyerahkan apa yang seharusnya menjadi milikmu. Mungkin kamu tidak mengetahuinya sekarang. Tapi, itu akan segera..." Ucap Pak Tua Fengying. Dia berhenti sejenak, lalu berkata lagi, "Tidak perlu bicara omong kosong... Apakah kamu siap menerima warisanku, bocah kecil?"
Qing Shandian yang mendengar penuturan itu segera terhenyak, lalu segera berkata dengan penasaran, "Warisan? Warisan apa? Kenapa kau ingin menyerahkan warisanmu untuk seseorang yang tidak kamu kenali?"
"Aku mempunyai alasan sendiri untuk itu. Dan untukmu, cepat atau lambat kamu akan mengetahui apa yang aku maksud." Sahut Pak Tua Fengying.
Qing Shandian merasa sedikit ragu untuk menyetujui. Namun, dalam jiwanya yang terdalam berkata lain. Menghirup udara dalam-dalam, dia berkata, "Baik... Selama itu hal baik, aku akan menerimanya. Namun jika itu sebaliknya, lebih baik kamu mencari yang lain."
Mendengar penuturan Pak Tua Fengying, Qing Shandian tidak berkata apapun. Dia segera duduk bersila, dan memasuki mode pelatihan.
Pak Tua Fengying yang melihat itu segera melambaikan tangannya, dan cahaya 3 warna, putih, hitam dan emas, melesat dan masuk diantara alis Qing Shandian. Setelah melepaskan cahaya 3 warna itu, perlahan tubuhnya yang sudah ilusi menghilang ke udara tipis. Dia memandang Qing Shandian untuk terakhir kali sambil berkata, "Bocah kecil, jadilah kuat.. Bangkitkan kembali Istana Bulan Bintang... Waktuku sudah berakhir. Sekarang giliranmu untuk melanjutkan.." Begitu ucapannya selesai, dia pun benar-benar menghilang.
...…………………………...
Sementara itu, dalam ruangan dibalik pintu batu, Qing Shandian yang duduk di depan platform batu mengalami rasa sakit yang berdenyut-denyut di kepalanya. Banyak informasi yang mengalir membanjiri fikirannya. Sedangkan tubuhnya, terasa seperti sedang di belah menjadi ribuan keping, hingga membuatnya berguling-guling. Tubuhnya memancarkan cahaya putih yang sangat terang, diikuti munculnya simbol bulan bintang tiga warna di dahinya.
"Aahhhhh..... Aahhhhhh... Aaahhhhh..."
...…………………………...
Di dalam gua, Qing Wenrou dan Yin Xing Yue juga mendengar teriakan Qing Shandian. Terlihat guratan rasa cemas di wajah Qing Wenrou.
Yin Xing Yue yang melihat perubahan ekspresi Qing Wenrou segera berkata, "Nona muda, jangan khawatir. Kita harus percaya pada Tuan muda. Ini juga untuk masa depannya. Kita tidak bisa ikut campur."
Qing Wenrou yang mendengar itu segera menatap tajam ke arah Yin Xing Yue, dan berkata dengan nada dingin, "Jika sesuatu yang buruk terjadi pada An gege, aku akan merobekmu menjadi ribuan keping! Aku tidak peduli meskipun kamu adalah binatang kontraknya sekarang!"
Melihat tatapan Qing Wenrou yang tidak main-main, dia merasakan hawa dingin di punggungnya, dan membuat semua bulu ekornya berdiri. Dia pun segera menyahuti, "Nona muda, tolong tenang. Lebih baik kita menunggu dengan sabar."
...…………………………...
Kembali ke sisi Qing Shandian. Dia saat ini terlihat sangat kesakitan. Banyak darah merembes keluar dari pori-porinya, seolah-olah dia sedang diperas. Qing Shandian terus berteriak hingga suaranya serak sebelum akhirnya berhenti. Dia pun mendengar suara pemberitahuan dalam fikirannya.
[Ding... Selamat, An gege menerobos Tingkat Sovereign ★7..]
[Ding... Selamat, An gege menerobos Tingkat Sovereign ★8..]
[Ding...] [Ding...] [Ding...] [Ding...] [Ding...] [Ding...]
[Ding... Selamat, An gege menerobos Tingkat Nirvana ★6..]
"Boomm..Boomm..Boomm..Boommm.. Boomm..Boomm..Boomm..Boomm.. Boommm..."
"Wuusshhhh."
[Ding... Akumulasi terobosan selanjutnya 8,1655 Triliun/120 Triliun PP]
[Ding... Selamat, An gege telah mencapai tingkat Nirvana, mendapatkan hadiah Teknik 'Skyfire Blast' Kelas Surga Tingkat Tinggi,, Mendapatkan 10 Tetes Dew of Life]
[Ding... Selamat, An gege berhasil membangkitkan Garis Keturunan 'Heaven Swallowing Star Moon Wolf'... Mendapatkan Gelar 'Heaven Swallowing Star Moon Wolf Emperor']
Selama berlangsungnya suara pemberitahuan hingga berakhir, Qing Shandian juga merasakan perasaan nyaman dan hangat yang mengalir di seluruh bagian tubuhnya. Dia juga merasakan, bahwa aura ganas yang pernah dia keluarkan saat pertempuran menjadi semakin ganas. Setelah mendapatkan banyak informasi baru dari Pak Tua Fengying, akhirnya dia mengerti, kenapa dia dipanggil 'Kaisar' oleh Yin Xing Yue. Di dalam tubuhnya, mengalir darah 'Heaven Swallowing Star Moon Wolf' yang tidak dia ketahui. Dan ini juga termasuk Qing Yuan dan Lin Lianhua yang juga tidak tahu.
Menggerakkan tubuhnya, perlahan Qing Shandian bangun, lalu berdiri. Dia memandangi tubuhnya yang di warnai merah oleh darah yang telah mengering. Segera setelah itu, dia kembali mendekati platform batu, lalu mengambil Objek Bulan Bintang. Dia bergumam lirih, "Pak Tua Fengying, terimakasih... Suatu hari nanti, aku pasti akan membangkitkan Istana Bulan Bintang lagi... Bereinkarnasilah dengan damai.."
Begitu menyelesaikan ucapannya, dia menyimpan Objek Bulan Bintang di Inventory system, karena objek itu adalah sesuatu yang bisa mendatangkan bencana besar. Setelah itu, dia segera berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu.
...…………………………...
"Grekk..grekk..dhumm"
Pintu batu terbuka, dan Qing Shandian pun keluar dengan langkah tenang. Namun, sebelum dia mengatakan apapun, Qing Wenrou segera berlari ke arahnya dan berkata, "An gege, selamat telah naik tingkat..."
"Hehe... Terimakasih Wenrou. Aku perlu membersihkan diri sekarang. Tubuhku sangat amis..." Ucap Qing Shandian dengan sedikit kekehannya. Berhenti sejenak, dia melanjutkan. "Setelah ini, kita akan melakukan perjalanan ke Kota Bulan Jingga untuk mencari paman dan bibi."
"Baik... Lebih baik An gege segera membersihkan diri. Wenrou akan menunggu disini." Sahut Wenrou dengan nada tenang sambil tersenyum.
"Ohh? Menunggu disini? Kenapa Wenrou tidak ikut? Pasti akan meriah suasana mandinya." Celetuk Qing Shandian menggoda Qing Wenrou.
Mendengar itu, wajah Qing Wenrou menjadi semerah tomat. Dia menginjak kaki Qing Shandian, lalu melarikan diri sambil berteriak, "An gege bodoh... Dasar mesum...."
"Aahhh... Wenrou,, kakiku rasanya patah.." Celetuk Qing Shandian lagi..
"Rasakan!!... Dasar bodoh.. An gege mesum.." Sahut Qing Wenrou yang sudah berlari jauh melalui teriakannya.
...…………………………...
** Bersambung …