System Break the Limit - Qing Shandian' Journey

System Break the Limit - Qing Shandian' Journey
Ch.107 - Perjuangan dan Kerinduan



"Ahhh... Kenapa kepalaku terasa sakit?" Ucap Qing Shandian dengan rintihannya.


"Wuusshh"


Dia dengan segera mengeluarkan nyala apinya untuk menerangi ruang gelap tempatnya berada saat ini, sambil lalu perlahan duduk di kehampaan. Dia menghela nafas panjang dan bergumam. "Haahhhh... Untung saja ruang ini terkunci. Jika ini benar-benar kehampaan, mungkin aku sudah mati sejak awal. Sungguh tidak terduga bahwa ratu manusia ular memiliki teknik yang merepotkan. Aku harus meningkatkan pemahamanku tentang pengendalian ruang... Mungkin, aku perlu menembus Saint King untuk benar-benar terbebas dari kurungan ini... Haahh.. Entah berapa lama aku akan berada disini... Sialan! Awas saja nanti! Aku akan memberimu pelajaran yang bagus!" Pungkasnya dengan gerutuan sambil mengepalkan tangannya.


Qing Shandian mencoba mengakses system, namun tidak bisa. Dia menghela nafas lagi, lalu memeriksa cincin penyimpanannya. Setelah beberapa saat mencari, dia menemukan beberapa batu cahaya, lalu mengeluarkannya, dan menyusunnya di sekelilingnya.


"Aku harus cepat... Jika tidak, akan semakin lama bagiku untuk keluar. Wenrou, Lingyun, Feng Xue, Shui Jing, ayah, ibu, semuanya, tunggu aku..." Gumam Qing Shandian sebelum kemudian dia mengeluarkan puluhan botol giok biru gelap yang berisi 'Pil Pusaran Pengompres Qi Spiritual'. Dia menuangkan satu botol giok pertama ke dalam mulutnya, lalu memasuki mode pelatihan.


Satu tahun berlalu. Qing Shandian perlahan membuka matanya dan menghembuskan nafas keruh. Dia bergumam pelan dengan nada tidak berdaya. "Apakah hanya sebanyak ini yang mampu aku dapat dari semua pil itu? Haahhh... Benar-benar sangat sulit untuk menerobos dengan dantian ganda ini. Qi Spiritual disini sungguh sangat tipis. Benar-benar tidak mendukung. Berapa lama lagi aku harus berkultivasi untuk menerobos tingkat?" Pungkasnya sambil lalu mengeluarkan puluhan botol giok yang sama. Selanjutnya, dia kembali tenggelam dalam kultivasinya.


Waktu berlalu cepat. Tanpa dirasa, lima tahun telah terlewat sejak hari pertama Qing Shandian terkurung dalam ruang kosong yang terisolasi. Dia terus tenggelam dalam kultivasinya. Ratusan botol giok 'Pil Pengompres Qi Spiritual' juga telah dia habiskan. Meskipun begitu, tidak mudah baginya untuk menerobos tingkat Saint King. Terlebih lagi, dia hanya bisa mengandalkan bantuan pil-pil itu tanpa adanya penunjang lain. Di sela-sela kebosanannya, dia mengisi waktu dengan bermeditasi untuk memahami kemampuan pengendalian ruang tingkat lanjut. Selain itu, dia juga mencoba hal-hal baru seperti mengasah dan meningkatkan tekniknya. Tidak pernah ada hari santai baginya. Ketika dia merasa frustasi, dia kembali menenggelamkan dirinya dalam kultivasi.


...…………………………...


Di Dunia Jiwa. Di tepi teras rumah lantai dua, terlihat seorang gadis cantik yang mengenakan gaun hijau tengah termenung sambil menatap langit malam. Benar, dia tidak lain adalah Qing Wenrou. Tatapannya tampak sendu ketika pandangannya menerawang jauh. Dia menghela nafas panjang, lalu bergumam, "Haahhhh.. Sudah lima tahun berlalu. Bagaimana keadaanmu sekarang, An gege? Berapa lama lagi kami harus menunggu sampai kamu kembali? Ayah dan ibu terus bertanya tentangmu. Aku... Aku sangat merindukanmu, An gege.." Pungkasnya diiringi dengan airmatanya yang menetes. Suaranya terdengar berat.


Bersamaan dengan itu, Mu Lingyun, Xie Feng Xue dan Xue Shui Jing secara tidak sengaja juga mendengar gumaman itu ketika mereka baru saja tiba. Mereka saling tukar pandang, lalu bergegas menghampiri Qing Wenrou. Mu Lingyun dengan sigap memeluknya dari belakang. Dengan suara sedikit bergetar, Mu Lingyun berkata, "Kakak Wenrou jangan bersedih. An gege pasti baik-baik saja. Dia juga pasti sedang merindukan kita. Dia.. Dia pasti kembali."


Xie Feng Xue dan Xue Shui Jing juga memberikan pelukan hangat untuk menenangkan Qing Wenrou. Xie Feng Xue dengan tenang berkata, "Jangan bersedih. Tidak hanya kamu yang merindukannya. Kami pun merasakan hal yang sama. Lebih baik berharap yang terbaik dan percaya padanya. Dia... Dia pasti kembali."


"Emm... Dia pasti kembali, dan kita akan dapat berkumpul bersama lagi. Kita hanya bisa percaya padanya, dan dengan sabar menunggu." Sahut Xue Shui Jing dengan nada tenang, meskipun kenyataannya, dia juga merasakan sesak di dadanya.


Qing Wenrou menangis dalam diam. Dia hanya dapat menganggukkan kepalanya dengan kaku. Setelah beberapa saat, dia menghirup udara dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu dengan suara pelan berkata, "Terimakasih. Aku sudah cukup tenang sekarang. Bisakah kalian melepaskanku?"


Seketika itu juga, Mu Lingyun, Xie Feng Xue dan Xue Shui Jing melepaskan pelukan mereka, lalu ikut berdiri di tepian teras sejajar dengan Qing Wenrou sambil lalu menatap langit malam.


Xie Feng Xue sedikit bernostalgia ketika mengingat pertemuannya dengan Qing Shandian. Dia berkata, "Saat itu, aku bertemu An gege secara kebetulan disaat dia mengikuti ujian alkemis. Di usianya yang begitu muda, dia menunjukkan bakat yang belum pernah aku temui sepanjang perjalananku dalam dunia alkimia. Entah kenapa, aku merasakan perasaan yang tidak asing ketika pertama kali melihatnya. Itu sangat nyaman dan membuatku tidak ingin jauh darinya."


Xie Feng Xue berhenti. Dia menghirup nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, lalu kembali berbicara. "Dia memang hanya seorang bocah kecil secara fisik. Namun perasaanku berkata lain, seolah itu memberitahuku bahwa yang bersemayam dalam dirinya adalah sebuah jiwa lama yang masih tertidur. Ketika dia menggodaku, aku benar-benar sangat malu. Namun, entah kenapa, untuk pertama kalinya aku tidak bisa marah dan justru itu justru membuatku bahagia. Seolah-olah, aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat. Hanya saja, aku tidak bisa mengingatnya. Aku juga tidak mengerti, kenapa aku bisa merasakan hal itu. Seperti saat ini, aku juga teramat rindu. Rindu yang tidak mungkin bisa diuraikan dengan kata-kata. Tapi apa yang bisa aku lakukan?"


Xie Feng Xue menggelengkan kepalanya dengan ringan dan melanjutkan ucapannya. "Aku sadar, tidak ada yang bisa aku lakukan sedikitpun untuknya. Karena itu, aku hanya diam dan dengan sabar menunggunya. Aku percaya bahwa dia akan kembali, dan pasti kembali. Bukankah dunia ini sebagai bukti bahwa dia masih bertahan?"


Mu Lingyun dan Xue Shui Jing mendengarkan itu dengan tenang, sebelum kemudian mereka juga terdiam, larut dalam kenangan mereka masing-masing.


Sementara itu, Qing Wenrou sedikit terkejut ketika mendengar penuturan Xie Feng Xue. Dia mengalihkan pandangannya, lalu menatap Xie Feng Xue lekat-lekat. Ketika dia mendapati ekspresi tenang di wajahnya, dia tenggelam dalam fikirannya. Banyak pertanyaan berkecamuk dalam hatinya. Namun setelah itu, dia tersadar. Dia kembali menatap langit malam dan berkata, "Kalian benar. An gege pasti kembali untuk kita suatu hari nanti. Ya, dia pasti kembali."


Setelah itu, suasana diantara mereka menjadi tenang dan hening tanpa ada lagi pembicaraan lainnya.


...…………………………...


Lima tahun kembali berlalu seolah hanya sekelip mata baru terlewat. Di ruang gelap yang hanya di terangi oleh batu cahaya, Qing Shandian terlihat tenggelam dalam meditasinya. Penampilannya saat ini terlihat berbeda. Dia menjadi semakin tampan. Rambutnya memanjang, dan tubuhnya juga bertambah tinggi. Itu terlihat dari pakaiannya yang menjadi lebih ketat, dan lengan bajunya sedikit tersingsing ke atas pergelangan tangannya. Sesaat kemudian, dia perlahan membuka matanya, lalu menghembuskan nafas panjang.


"Sepertinya, aku perlu merombak pakaianku setelah keluar dari sini. Ini sungguh membuatku merasa tidak nyaman." Gumamnya dengan pelan, samnil lalu perlahan berdiri, lalu mengeluarkan 'Pedang Petir Bulan Bintang' dan melepaskan persepsi spiritualnya. Dia memusatkan konsentrasinya untuk mengamati fluktuasi ruang di sekelilingnya. Setelah beberapa saat, dia merasakan fluktuasi ruang yang tidak normal tepat di sebelah kanannya. Dengan sigap, dia mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh ke arah itu.


"Wusshh..Sriinggg..."


"Kraakkk..."


Ruang itu terkoyak lebar. Namun, masih tidak nampak jalan keluarnya. Qing Shandian tidak membuang waktu. Dia dengan sigap kembali mengayunkan pedangnya sekali lagi.


"Wusshh..Sriinggg..."


"Kraakkk..."


"Wusshh..Sriinggg..."


"Kraakkk..."


Ketika tebasannya mengenai lapisan ruang ketiga, itu sedikit memperlihatkan dunia luar. Sayangnya, ketika ketiga lapisan ruang itu terkoyak, waktu tunggu seolah habis, lalu ketiga lapisan ruang itu bergeser saling berlawanan arah. Seiring waktu, koyakan ruang juga menutup dengan cepat.


"Hah..hah..hah.. Sialan! Waktu! Waktu! Aku memerlukan waktu! Hah..hah..hah.. Itu jelas berhasil. Tapi waktunya terlalu singkat..." Seru Qing Shandian diiringi nafasnya yang terengah-engah, lalu dia duduk bersila dan segera memulihkan diri.


Setelah lima belas menit pemulihan, Qing Shandian merenung sambil memegang dagunya. Dia bergumam pelan. "Sampai percobaan saat ini, setidaknya aku sudah mendapat cukup banyak kemajuan, dan wawasanku tentang ruang juga meningkat. Simpul ruang disini selalu berubah-ubah berganti tempat. Jeda waktu sebelum posisinya bergeser hanya dua nafas waktu. Selain itu, ada tiga rangkap simpul ruang sebagai kuncinya. Jika aku tidak bisa merobeknya dalam sekali atau dua kali jalan ketika simpul itu saling bertemu, bisa di pastikan aku akan terus terjebak di ruang sialan ini. Huuhhh... Sepertinya memang harus menerobos tingkat terlebih dahulu. Semoga saja stok pil yang tersisa mampu membuatku menerobos. Tunggu saja.. Ketika aku keluar dari ruang ini, aku akan memberimu pelajaran yang bagus dan paling berkesan.. Ratu manusia ular sialan!" Pungkasnya dengan menggerutu sambil menggertakkan giginya.


Qing Shandian menghirup udara dalam-dalam, lalu mengeluarkan lima botol giok biru gelap. Dia menghela nafas panjang dan bergumam, "Haahhh... Hanya inikah yang tersisa? Aku harap ini mampu membantuku menerobos. Jika tahu akan seperti ini, aku akan menyimpan 'Pil Penerobos Saint King' untuk diriku sendiri. Shandian,, Shandian... Kamu benar-benar lalai.. Huuhhhh... Sekarang bukan saatnya untuk menyesal. Lain kali, aku akan lengkapi stok pil-ku dalam cincin penyimpanan untuk berjaga-jaga."


Sorot mata Qing Shandian penuh harapan ketika melihat botol giok di hadapannya. Tanpa membuang waktu lagi, dia langsung menenggak semua pil dalam ke-lima botol giok itu ke dalam mulutnya, sebelum kemudian memasuki mode pelatihannya.


...…………………………...


Di Dunia Jiwa. Suasana rumah Qing Yuan dan Lin Lianhua tidak tampak bersemarak seperti biasanya. Di dalam kamar yang cukup luas, Qing Yuan, Qing Tian, Qing Yu, Qing Xue, Qing Wenrou, Mu Lingyun, Xie Feng Xue, dan Xue Shui Jing terlihat sedih. Sementara itu, Lin Lianhua tengah terbaring lemah di tempat tidur dengan wajah yang tampak kuyu. Kulitnya mengeriput dan rambutnya bahkan memutih.


"Rou'er, apa yang harus kita lakukan? Apa kamu tidak memiliki cara lain untuk membangunkannya?" Ucap Qing Yuan dengan suara berat.


"Semua upaya terbaik sudah Wenrou lakukan selama ini. Namun Ibu Lin tidak menunjukkan reaksi apapun. Ayah Yuan pun juga tahu sendiri, bahkan 'Pil Pemulih Vitalitas dan Durabilitas' sama sekali tidak berpengaruh. Tidak ada cara lain kecuali tetap menunggu An gege kembali." Sahut Qing Wenrou pelan dengan nada tidak berdaya sambil menatap Lin Lianhua dengan tatapan sendu. Matanya tampak berkaca - kaca, dan dadanya terasa sesak hingga bernafas pun terasa berat.


Sorot mata Qing Yuan terlihat semakin redup setelah mendengar jawaban Qing Wenrou. Memang benar, semua upaya terbaik telah dilakukan untuk membangunkan Lin Lianhua. Sayangnya, semua itu tidak menunjukkan hasil apapun.


"An'er.. An'er.. Cepat kembali, nak.. Monster kecil ibu... Kapan kamu pulang, nak? Ibu sangat merindukanmu.. Pulanglah, nak.." Ucap Lin Lianhua dengan suara pelan dan serak diiringi airmatanya yang berderai.


Qing Wenrou yang duduk disampingnya ikut menangis dalam diam. Dia dengan lembut mengusap airmata Lin Lianhua, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Lin Lianhua dan berbisik, "Ibu Lin.. Ibu Lin harus sabar. Jangan menangis.. An gege pasti akan segera kembali. Kami semua juga merindukannya. An gege... Dia pasti kembali..."


Qing Xue yang berada tidak jauh dari mereka berdua pun melangkah maju. Dengan membungkuk, dia memegang bahu Qing Wenrou, dan berkata dengan suara berat, namun terdengar lembut. "Kamu juga jangan sedih, Rou'er. Tenangkan dirimu. Biarkan Bibi Xue yang menggantikanmu menjaga kakak Hua. Pergi dan bersihkan dirimu." Pungkasnya sebelum kemudian dia menatap Mu Lingyun, Xie Feng Xue dan Xue Shui Jing yang terlihat menangis juga, lalu berkata, "Kalian juga pergilah. Temani Rou'er, dan bersihkan diri kalian."


"Baik, Bibi Xue." Sahut mereka serempak, lalu beranjak dari tempat tidur dan perjalan pelan meninggalkan kamar bersama Qing Wenrou juga.


Setelah kepergian mereka, Qing Xue menatap Qing Yuan, Qing Tian dan Qing Yu lalu berkata, "Kakak, biarkan aku yang menjaga kakak Hua. Kalian kembalilah. Aku yakin, An'er akan segera kembali."


Qing Yuan menghela nafas berat dan berkata, "Haahhh... Baiklah... Tolong jaga Hua'er. Aku akan menunggu di ruang depan. Jika keadaannya memburuk, segera beritahu aku."


"Aku akan memberitahu kakak Yuan jika kondisi kakak Hua menurun." Sahut Qing Xue sambil lalu dia duduk di tepian ranjang dan mengusap airmata Lin Lianhua yang masih mengalir.


Qing Tian dan Qing Yu meninggalkan kamar lebih dulu. Sementara Qing Yuan, dia merasa sakit hati ketika melihat kondisi istrinya yang terus mengalami penurunan sejak jatuh koma selama satu tahun terakhir. Dia pun akhirnya dengan enggan meninggalkan kamar dan menutup pintunya.


...…………………………...


** Bersambung …