System Break the Limit - Qing Shandian' Journey

System Break the Limit - Qing Shandian' Journey
Ch.50 - Pertarungan Malam Hari



Setelah keluar dari 'Rumah Dagang Langit Senja', Qing Shandian dan Mu Lingyun berjalan dengan langkah tenang mencari sebuah penginapan. Namun, Qing Shandian tiba-tiba mengernyitkan dahinya ketika dia merasakan pergerakan beberapa orang yang terus mengikutinya. Tetap dengan tempo langkah yang sama, Qing Shandian memiringkan kepalanya ke arah Mu Lingyun dan berkata dengan suara serius. "Yun Ling, malam ini kita akan beristirahat di kamar yang sama ketika menemukan penginapan. Apa kamu mengerti?"


Mu Lingyun yang mendengar nada serius itu pun sedikit bingung. Namun, dia tiba-tiba menyadari pergerakan beberapa orang yang mengikuti mereka. Dia tidak membantah dan mengangguk ringan, lalu berkata, "Baik. Aku mengerti."


Ketika hari sudah menunjukkan tanda-tanda gelap, secara kebetulan Qing Shandian dan Mu Lingyun menemukan sebuah penginapan besar tiga lantai. Mereka segera berjalan lebih cepat menuju penginapan itu.


"Selamat datang di 'Penginapan Seribu Bintang', Tuan muda, Nona muda. Apakah Tuan muda ingin menyewa satu kamar atau dua kamar?" Ucap resepsionis wanita dengan pakaian kuning dengan ramah begitu melihat Qing Shandian dan Mu Lingyun memasuki penginapan.


"Berikan kami satu kamar terbaik yang kalian miliki untuk satu malam." Sahut Qing Shandian dengan nada ringan.


"Baik. Ini kuncinya, Tuan muda. Kamar Tuan muda berada di lantai tiga dan nomor kamar sesuai yang tertera pada kunci. Biaya penginapannya 5.000 Batu Spiritual tingkat rendah." Ucap resepsionis wanita itu sambil menyerahkan kunci kamar.


Qing Shandian mengangguk ringan, menerima kunci itu dan menyerahkan sejumlah Batu Spiritual yang disebutkan, lalu dia berkata, "Baik. Terimakasih."


Setelah mendapatkan kunci kamar, Qing Shandian dan Mu Lingyun segera berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka.


Setelah beberapa saat, Qing Shandian dan Mu Lingyun akhirnya tiba di depan kamar yang sesuai dengan nomor kunci, dan segera membuka pintunya. Mereka berdua pun segera memasuki kamar dan mengunci pintunya lagi.


Kamar yang mereka tempati cukup luas dengan tempat tidur yang muat untuk tiga orang dan dilengkapi dengan kamar mandi. Qing Shandian dengan malas melemparkan dirinya ke tempat tidur yang terlihat nyaman. Setelah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan, tidur akan menjadi pilihan terbaik. Sambil memejamkan matanya, Qing Shandian berkata. "Lingyun, bersihkan dirimu. Setelah itu istirahatlah. Biarkan aku yang menangani para pengganggu yang datang malam ini. Sepertinya, aku terlalu bersikap mudah sebelumnya. Haahhh... Benar-benar menyebalkan." Pungkasnya sambil menghela nafas panjang.


"Baik, aku akan membersihkan diri. Jangan berani mengintipku, atau aku akan menghajarmu." Sahut Mu Lingyun sebelum berjalan ke arah kamar mandi.


"Lingyun, apakah jika aku melihat secara langsung itu berarti tidak masalah?" Celetuk Qing Shandian menimpali ucapan Mu Lingyun.


"An gege bodoh.. Bodoh mesum... Awas saja jika berani melihat dan mengintipku!" Sahut Mu Lingyun dengan sedikit berteriak.


"Hahhh.. Sayang sekali. Sesuatu yang indah ada didepan mata, tapi tidak bisa dilihat dan dinikmati" Celetuk Qing Shandian lagi sebelum kemudian bangkit dari tempat tidur dan mulai menyiapkan array pelindung untuk melindungi penginapan tempat mereka beristirahat.


Beberapa menit kemudian, Qing Shandian akhirnya selesai dengan pemasangan array pelindung. Bersamaan dengan itu, Mu Lingyun juga selesai membersihkan diri. Terlihat rambutnya yang tergerai dan sedikit basah, dengan gaun tidur berwarna putih bersih. Qing Shandian yang melihat keindahan didepannya secara tidak sadar berkata dengan tatapan tanpa berkedip, "Sangat cantik.."


Mu Lingyun yang mendengar ucapan Qing Shandian memerah malu, lalu dia berkata, "An gege, apa yang kamu lihat? Matamu hampir melompat dari rongganya."


Mendengar suara Mu Lingyun, Qing Shandian segera tersadar. Terkekeh ringan, dia berkata, "Hehe.. Bukan apa-apa. Hanya keindahan menggoda yang ada didepan mata yang aku lihat. Sangat cantik." Pungkasnya dengan senyum lebar.


Mu Lingyun segera mengalihkan pandangannya karena malu, lalu menuju tempat tidur dan berbaring miring membelakangi Qing Shandian. Dia berkata dengan lirih. "An gege bodoh..."


Qing Shandian yang mendengar ucapan Mu Lingyun pun menyeringai licik sebelum bergegas mendekatinya. Mendekatkan bibirnya di telinga Mu Lingyun, Qing Shandian dengan lirih berkata, "Lingyun, apa kamu mengatakan sesuatu? Aku tidak bisa mendengarnya jika kamu berbicara terlalu pelan."


Mu Lingyun yang merasakan hembusan nafas dan mendengar suara Qing Shandian tepat di telinganya pun merasa geli. Dia hanya mengulurkan tangannya ke arah belakang dan memberikan cubitan keras.


"Aahh.. Lingyun, oke, oke.. Aku tidak menggodamu.. Ahhh... Cepat lepaskan, atau aku akan memelukmu semalaman." Sahut Qing Shandian disela teriakannya karena merasakan sakit diperutnya.


Setelah mendengar ancaman Qing Shandian, Mu Lingyun merasakan jantungnya berdegup kencang lalu segera melepaskan cubitannya dan setelah itu, suasana menjadi sunyi.


"Lingyun, istirahatlah. Aku akan berjaga sambil bermeditasi." Ucap Qing Shandian yang sudah turun dari tempat tidur, sebelum kemudian mengambil sikap meditasi.


Ketika Mu Lingyun tidak lagi mendengar suara Qing Shandian, dia segera membalikkan badannya, dan menatap Qing Shandian yang terlihat tenang dalam meditasinya. Secara tidak terduga, dia tersenyum lebar sebelum memejamkan matanya.


...…………………………...


Tengah malam, saat suasana kota telah menjadi sunyi, puluhan orang berjubah hitam dengan tudung di kepala melompati atap-atap bangunan tanpa menimbulkan suara apapun. Di pinggang mereka, terselip beberapa senjata seperti pisau kecil, pedang panjang, dan ada juga beberapa kantong hitam yang menggantung. Mereka bergerak dengan cepat dan gesit.


Sementara itu, Qing Shandian yang sedang dalam meditasinya, secara tiba - tiba membuka matanya ketika persepsi spiritualnya mendeteksi pergerakan puluhan orang yang bergerak dengan cepat menuju ke arah penginapannya. Dia memandang ke arah Mu Lingyun yang tertidur pulas. Dia tersenyum ringan, perlahan berdiri dan menghilang dari dalam ruangan.


Muncul diatas atap penginapan, dengan tangan berada dipunggungnya, dia menunggu dengan tenang kedatangan orang-orang yang bergerak ke arahnya.


Hanya sesaat setelah kemunculannya diatas atap, puluhan orang berjubah hitam dengan tudung di kepalanya tiba satu demi satu. Salah satu dari mereka dengan suara serak berkata, "Anak muda, apakah kau sudah tahu kesalahan yang sudah kau lakukan?"


Qing Shandian tidak menjawab dan hanya menatap mereka dengan tatapan dingin, lalu berkata dengan ringan. "20 tingkat Sovereign, 15 tingkat Nirvana, dan 5 tingkat Saint. Sepertinya Tuan mudamu benar-benar menganggapku tinggi. Apakah Wen Hongchu yang menyuruh kalian untuk menghabisiku?"


Begitu suara Qing Shandian jatuh, tatapan puluhan orang berjubah hitam itu pun menjadi serius dan mereka langsung waspada. Seorang pemuda yang terlihat tidak memiliki aura apapun, bahkan mampu menyebutkan tingkat kultivasi lawannya yang berada di tingkat Saint? Omong kosong apa itu. Kecuali kultivasi seseorang berada diatas lawan mereka, maka dia akan bisa menyebutkannya.


"Haha.. Anak muda, sepertinya kau memiliki beberapa kemampuan. Tidak salah jika Tuan muda Wen menilai tinggi dirimu." Sahut salah satu orang berjubah hitam dengan tawa keringnya.


Dia segera memberikan tanda kepada rekannya yang lain dengan mengangkat tangannya. Sementara itu, ketika yang lain melihat tanda itu, mereka segera membentuk formasi mengelilingi Qing Shandian.


Qing Shandian tetap bersikap tenang. Namun, setelah ketenangan itu. 'Pedang Terbang Petir Angin' segera muncul dalam genggamannya. Lalu, dengan pelan dia bergumam. "Pengganda Bayangan."


Begitu suara Qing Shandian jatuh, Qing Shandian seperti terbelah, dan menjadi 40 sosok identik yang sama-sama menggenggam pedang. Dia dengan dingin berkata, "Sekarang, kita memiliki jumlah yang sama. Jika kalian tidak memulai, biarkan aku yang memulai lebih dulu."


"Slapp..slapp..slapp..slapp..slapp.."


"Crasshh..crasshh..crasshh.."


"Aahh.. Aaahhh.. Aahhhh.."


Satu demi satu sosok Qing Shandian muncul dan menghilang sambil menebaskan pedangnya. Suara tebasan, teriakan dan dentingan pedang bersahutan. Oang-orang berjubah hitam yang tidak siap dengan serangan Qing Shandian ada yang langsung mati dengan kepala terpenggal, ada yang kehilangan lengan karena mencoba menangkis, dan ada yang mendapat luka tebasan memanjang di dada maupun punggung. Sementara itu, orang-orang dengan tingkat Nirvana dan Saint cukup cepat merespon serangan Qing Shandian.


Salah satu orang berjubah hitam yang sebelumnya berbicara dengan Qing Shandian merasakan kemarahan yang meledak-ledak ketika melihat rekan-rekannya banyak yang mati. Dia dengan suara dalam dan serak berkata, "Anak muda, aku telah salah dalam perhitungan. Karena itu masalahnya, aku tidak akan menahan diri." Pungkasnya diikuti oleh auranya yang meletus kuat dari dalam tubuhnya.


"Tebasan pembunuh!"


"Wuusshh.."


"Pedang Penghancur!"


"Booommmmm..."


Ledakan itu membuat lingkungan sekitarnya segera menjadi gaduh. Banyak orang segera keluar dan menjauh dari area yang menjadi medan pertempuran.


Sementara itu, Qing Shandian dengan mudah membalas serangan itu tanpa kesulitan yang berarti. Lalu dia tertawa dan berkata, "Hahahaha... Jika hanya itu teknik yang kamu miliki, maka itu akan menjadi mudah untukku."


"Pengganda Bayangan! Pedang Terbang Bayangan!"


"Wuusshh..wuusshh...wuusshh.."


Puluhan bayangan pedang terbang segera melesat cepat dan menari-nari dengan ganas.


"Tiinngg..Tiinngg..Tiinngg.. Tiinngg..."


"Boomm.. Boomm.. Boomm.. Boomm..."


"Kalian cepat berkumpul! Satukan kekuatan!" Teriak orang berjubah hitam yang sepertinya adalah pemimpinnya, karena selalu memberikan komando.


Ketika suara itu jatuh, semuanya dengan cepat berkumpul dan membentuk segel tangan, lalu mengalirkan Qi Spiritual mereka ke pemimpin mereka di barisan paling depan. Ledakan Qi Spiritual pun terjadi. Dan setelah itu, sebuah teriakan terdengar.


"Pedang Pembunuh! Ratapan Kematian!"


Begitu orang berjubah hitam menyelesaikan ucapannya, sebuah pedang Qi hitam besar secara perlahan terbentuk. Dan itu membawa perasaan yang menakutkan dengan diiringi suara jeritan dan tangisan jiwa-jiwa penasaran.


"Haahhh... Semuanya menjadi rumit sekarang.." Qing Shandian menghela nafas panjang sebelum berucap.


"Karena kalian benar-benar menginginkan kematian, aku tidak keberatan mengabulkannya." Ucap Qing Shandian sebelum kemudian aura yang sangat ganas meletus dari tubuhnya.


"Boommm..."


"Petir Semesta! Pedang Petir Pemusnah!"


Mengikuti ucapan itu pedang petir Qi raksasa dengan cepat terbentuk di atas kepala Qing Shandian. Pedang petir Qi itu bergetar hebat lalu berputar cepat searah jarum jam seperti mata bor dengan baut petir yang berderak dan menyambar - nyambar.


"Hancurkan!"


"Wuusshhhh..."


"Haaaaa!"


"Wuusshhhh..."


Pedang petir Qi yang berputar melesat cepat dan tebasan pedang hitam yang menakutkan menebas dengan kuat membawa deru angin.


"Zheeppp.."


Sementara itu, sesaat sebelum terjadinya ledakan, Qing Shandian telah bergerak cepat menggunakan 'Sayap Emas Petir Angin' untuk membantunya melayang, dan menggunakan teknik 'Teleportasi' dan langsung menghilang dari satu tempat ke tempat yang lain, menghabisi orang-orang berjubah hitam satu demi satu.


"Sriingg.. Sriinngg.. Sriinngg.. Sriinngg..."


"Booommmmm......"


"Duaarrr.. Duaarrr.. Duaarrr.. Duaarrr..."


Begitu pertemuan kedua serangan terjadi, itu meledak dengan keras dan menyebabkan badai energi ganas yang menghancurkan segala sesuatu yang disentuhnya.


Bersamaan dengan terjadinya ledakan itu, banyak tokoh kuat yang berdatangan satu demi satu menyaksikan banyaknya bangunan yang hancur karena sapuan badai energi itu.


Sementara Qing Shandian sendiri, dengan teknik teleportasinya dia bisa bergerak cepat, bahkan telah memindahkan mayat orang-orang berjubah hitam ke dunia jiwa dan menghilang dari medan pertempuran, kembali ke dalam penginapan. Beruntung, dia telah memasang array pelindung di penginapan. Jika tidak, mungkin itu akan ikut hancur oleh sapuan badai energi.


...…………………………...


** Bersambung …