
" Apa yang mau kau lakukan, Damien? " Tanya Shen saat Damien memeluk tubuhnya dari belakang, juga mendaratkan banyak kecupan di tengkuknya, bahkan juga tak membiarkan pundaknya terlewatkan.
" Melakukan apa yang tertunda semalam. " Jawab Damien lalu melanjutkan lagi aksinya.
" Damien tunggu! kamar kan masih berantakan. " Ujar Shen mencegah karena semua baju di dalam lemarinya dia tumpuk sembarangan di atas tempat tidur.
" Sayang, jangan memikirkan tempat berantakan dulu ya? "
" Tapi, em! " Sebenarnya Shen bukan merasa keberatan, dia hanya masih merasa malu membayangkan jika itu terjadi nanti. Memang sih bukan hal pertama melakukan hubungan badan, tapi tetap saja dia merasa malu dan canggung meski tak menunjukkan secara langsung melalui wajahnya.
" Sayang... " Panggil Damien seraya menjalankan tangannya ke arah gundukan kembar lalu memijatnya dengan lembut. Masih merasa kurang puas, Damien menelusup kan satu tangannya ke dalam baju Shen agar bebas menyentuh tanpa ada penutup meski tak bisa melihat secara langsung.
" Da mien! " Panggil Shen tersengal karena sulit menahan suara yang timbul karena ulah Damien.
" Aku disini, sayang. " Damien menyudahi kegiatan tangannya sebentar memutar tubuh Shen agar berhadapan dengannya, sungguh memang sangat cantik, ditambah lagi rona merah di pipinya karena malu, rasanya seperti pewarna pipi yang natural dan indah. Damien mendekatkan wajahnya, bibir Shen tentu itu tujuannya, menikmati perlahan karena Damien benar-benar ingin Shen merasakan yang sama dengannya. Lama, dan semakin lama ciuman itu berubah menjadi sangat ganas dan terasa panas.
Sudah, Damien kini sudah menggila karena tak mampu lagi menahan keinginan itu, dengan cepat dia menaikkan baju Shen sampai ke atas dada, membuka kait penutupnya tanpa melepas, lalu bergerak bebas menyentuh bagian dada yang bahkan tidak pernah terlintas di benaknya kalau akan bisa menyentuhnya secara langsung, bahkan bisa di bilang itu miliknya sekarang.
Merasa cukup puas, Damien membiarkan tangan kirinya tinggal disana, sementara tangan kanannya mulai turun menyusup masuk ke dalam celana piama tidur yang Shen gunakan, melewati dua lapis kain penutup, dan mengusapnya lembut bagian bawah milik Shen.
" Em! " Keluh Shen karena benar-benar tidak bisa menahan, tapi dia juga tidak bisa mengeluarkan suara karena takut akan ada yang mendengar.
" Damien.... " Shen mencengkram kuat lengan Damien karena merasakan sensasi tidak biasa, juga tidak bisa ia jelaskan melalui kata-kata saat bagian bawahnya mendapatkan serangan jari-jari Damien yang menari-nari disana, memberikan berbagai macam sentuhan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.
" Sayang, panggil aku sayang, jangan Damien. "
" Ah, sa sayang... "
Damien tersenyum, lalu kembali menyambar bibir kenyal dan hangat yang membuatnya gila karena terus terbayang-bayang selama ini.
" Sayang, bantu aku melepaskan celana ya? " Pinta Damien dan Shen tak menolaknya. Tapi, baru saja akan meraih pengaitnya, sesuatu yang menyebalkan bagi Damien terjadi.
" Shen makan siang su- "
" Astaga! " Ibu Lean menutup matanya rapat-rapat.
" I Ibu? "
Sepasang manusia yang tengah berantakan itu sontak menjauhkan tubuh mereka, dan Shen juga segera membenahi penampilannya.
Sialan! Anuku sudah sesak sekali, kenapa sih Ibu mertua harus datang?!!
" Ma maaf, I Ibu lupa kalau Shen sudah menikah. Maaf ya? " Ibu Lean segera berbalik badan, dan keluar dari kamar Shen.
" Ya ampun, kenapa baju-baju sampai berantakan semua? Apa anak muda jaman sekarang begitu bersemangat? " Gumam Ibu Lean sembari memegangi dadanya, lalu berjalan turun untuk menuju dapur.
Shen menolah ke arah Damien yang kini terlihat sangat sedih dan kacau.
" Mau pergi makan? " Tanya Shen yang sebenarnya hanya ingin memastikan bagaimana perasaan Damien saat ini.
" Makan? Iya, aku mau makan. "
" Ya sudah, kita turun saja dulu ya? "
Shen menelan salivanya sendiri, padahal beberapa saat lalu dia masa bodoh karena tidak tahan dengan apa yang dia rasakan, tapi kalau sudah normal begini kenapa malah sangat mudah malu?
" Tapi- " Belum sempat Shen menyelesaikan kalimatnya, Damien sudah lebih dulu membungkam dengan bibirnya.
" Aku sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi, sayang. " Damien kembali mencium Shen dengan brutal, lalu mengarahkannya ke tempat tidur yang penuh dengan baju, dan mulai menindihnya.
" Damien, nanti Ibuku bisa berpikir macam-macam, dan lagi, memang kau tidak ingin melakukannya di tempat yang romantis dan berkesan? " Ucap Shen yang masih bisa menguasai diri, maklum saja, setelah Ibunya melihat tadi tentu saja dia sangat malu, dan kalau mereka tidak turun, pasti Ibu Lean akan berpikir macam-macam.
" Biarkan saja, sayang. Tolong saja pikirkan suamimu ini yang sudah hampir gila menahan sesaknya bagian bawah. "
" Da- Em.... " Shen kini tak bisa lagi berkata-kata karena Damien sudah mendaratkan bibirnya di bagian beda kembar miliknya, bahkan juga memainkannya hingga membuat Shen kembali terpancing.
" Sayang, tolong bekerja sama dengan baik ya? Karena aku tidak mau bersabar lagi, aku juga tidak ingin melewatkan sedikitpun kesempatan ini. " Sembari kembali mencium bibir Shen, damien menjalankan satu tangannya untuk kembali memberikan sentuhan di bagian bawah Shen.
Cukup lama kegiatan itu berlangsung hingga keduanya sudah semakin tak bisa menahan lagi.
" Sayang..... " Hanya suara keluh dan panggilan itu lah yang keluar dari bibir keduanya.
" Aku mulai, sayang. " Ucap Damien setelah memainkan miliknya di bagian Shen.
Setelah itu suara menggebu keluar dari bibir keduanya. Masa bodoh dengan baju-baju yang mereka tindih di atas tempat tidur, masa bodoh dengan apa yang akan Ibunya pikirkan, pokoknya apapun itu sudah tak lagi mereka pikirkan.
" Ibuku, dia pasti sudah menebak apa yang kita lakukan sekarang. " Ujar Shen setelah mereka berdua selesai dengan urusannya.
Damien tersenyum, lalu mengecup singkat kening Shen.
" Kita kan bukan pasangan berselingkuh, jadi kenapa kita harus malu dan memikirkan yang lain? "
Shen menghindari tatapan Damien karena masih merasa malu, yah walau bagaimanapun dulu dia dan Arnold kan tidak sampai sejauh ini saat pemanasan.
" Kenapa tidak mau melihatku? " Tanya Damien yang kini terlihat sedih.
" Sayang, apa aku kurang memuaskan? Atau mungkin, kau menyesal melakukan ini? "
Shen terperangah tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Aduh, masa iya harus dia ceritakan kalau dia malu dan belum terbiasa se-frontal ini.
" Sayang, aku tahu aku banyak kekurangan, tapi sudah terlambat juga kalau kau menyesal sekarang, kita kan sudah menikah. "
Shen menghela nafas sebalnya.
" Aku tidak merasa seperti itu, jadi jangan berpikir sembarangan! " Shen mendengus sebal, lalu membalikkan tubuhnya memunggungi Damien.
" Jadi, kau merasa yang bagaimana? " Damien menempelkan tubuh mereka yang hanya tertutup kain sprei. Iya, untungnya tadi ada beberapa sprei yang Shen keluarkan sembari mengeluarkan baju dari lemari.
Shen menelan salivanya sendiri, sialan! Ini apa harus juga dijawab.
" Damien, apa-apaan lagi?! " Kaget Shen saat merasakan bagian bawah Damien menempel di bagian belakang dengan posisi yang sudah tegang.
" Bukan salahku, ini kan dia yang mau, sayang. "
Bersambung...