Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 14



Di sudut ruangan yang tenang, Arnold terpaku memandangi kamar Shen yang sudah delapan bulan lebih kosong. Matanya yang dulu selalu menatap malas saat berada di kamar itu, kini malah berubah menjadi tatapan yang seolah merindukan banyak hal di kamat itu.


Sebentar dia menghela nafas, lalu kembali mengedarkan pandangan memperhatikan setiap sudut dari kamar itu. Dan pada akhirnya dia memilih untuk keluar dari sana.


Lesu, itulah yang begitu nyata di wajah pria tiga puluh tahun yang selama ini memperlakukan istrinya dengan dingin. Sejatinya dia adalah pria yang penyayang, tapi karena keterpaksaan untuk menikahi Shen, dia memberontak dengan caranya sendiri, dan menjadikan pernikahan itu bak neraka baginya, begitu juga dengan Shen yang selalu menganggap semua itu indah dan melupakan betapa menderitanya pernikahan yang mereka jalani.


" Sayang, kau dari mana saja? Aku sudah mencari-mu sedari tadi loh. " Ujar Mona seraya berjalan cepat menghampiri Arnold yang kini terdiam di depan pintu kamar Shen.


Tak menjawab, Arnold justru menghela nafas dan menjauhkan tangan Mona yang tengah memeluk lengannya. Tentu perlakuan Arnold ini membuat Mona sebal, dia merengut seolah dia tengah menunjukkan kalau dia kecewa dengan Arnold yang menjauhkan tangannya.


" Sayang, ada apa? Kenapa semakin hari kau malah semakin menjaga jarak denganku? "


" Tidak ada. " Jawab Arnold yang ingin melangkahkan kaki tapi cepat Mona mencegahnya dengan kembali menahan lengannya.


" Sayang, kau jelas sedang menjauhiku. Aku tidak ingin hubungan kita seperti ini. " Mona memeluk tubuh Arnold sebentar, lalu mengurai dekapannya, dan menatap kedua bola mata Arnold yang tak menunjukkan ekspresi apapun. Merasa tidak beres dan takut kehilangan Arnold, Mona menjijitkan kedua kakinya mencoba untuk menyatukan bibir mereka.


" Sayang, i need you! " Kecupan itu berhasil, merasa sudah amat yakin, Mona mencium bibir Arnold dengan lebih dalam, membiarkan lidahnya menari di dalam sana, tangannya mulai menjalar ke bagian tubuh sensitif Arnold, dan berhenti di bagian bawahnya.


" Hentikan! " Arnold mendorong jauh tubuh Mona hingga tubuh Mona mundur beberapa langkah dari Arnold.


" Kenapa? " Mona menatap Arnold dengan tatapan sedih dan kecewa. Padahal mereka sudah lama sekali tidak melakukan itu, kalau di ingat kembali, sebelum Shen pergi ke luar negeri untuk berobat, mereka juga sudah tidak pernah melakukanya lagi.


Arnold mengusap wajahnya kasar. Jujur, saat Mona menciumnya tadi dia justru memikirkan Shen. Bagaimana hari itu Shen datang ke kamarnya dengan pakaian terbuka berwarna hijau stabilo, berbaring di sebelahnya yang saat itu tengah tertidur, lalu menciuminya. Sejenak Arnold merindukan sentuhan itu hingga membiarkan dia merasakan lebih jauh. Tapi saat tangan Mona menyentuh bagian bawahnya, dia mulai tersadar bahwa itu bukanlah Shen.


" Sayang, aku sangat merindukan mu. " Mona mencoba mendekati Arnold lagi.


" Sayang? " Mona mengalungkan lengannya ke tengkuk Arnold dan memandangi dengan tatapan penuh hasrat. Sebentar dia menurunkan satu tangannya meraih handle pintu kamar Shen, dan mencoba membawa Arnold kesana.


" Sayang, ayo kita lakukan disini! Aku sudah sangat menginginkan mu. "


Pintu itu sudah sedikit terbuka, tapi Arnold justru menyingkirkan satu tangan Mona dari lehernya, menepis satu tangan Mona yang masih memegangi handle pintu, lalu menutupnya rapat-rapat.


" Hentikan niat gila mu! " Setelah menutup pintu kamar Shen, Arnold mencoba melangkahkan kaki berniat menuju ke kamarnya, tapi lagi-lagi Mona menahannya dengan memeluk pinggangnya erat.


" Maaf, kalau begitu kita lakukan di kamar mu saja, bagaimana? "


Arnold menghela nafas panjangnya.


" Aku tidak ingin melakukan itu. "


" Bohong! Aku sudah menyentuhnya tadi, dan aku tahu kau ingin juga kan? Kenapa harus menahannya? Ada aku, apa aku sudah membuat kesalahan, dan membuatmu tidak ingin menyentuhku lagi? "


Arnold meraih kedua tangan Mona, lalu menjauhkan dari sana.


" Tidak, aku sungguh tidak ingin melakukannya. "


" Tidak! "


Aku tidak pantas lagi untuknya.


" Tidak? Tapi semenjak Shen pergi, kau selalu saja menjauhiku, dan juga diam-diam berada di dalam kamarnya. Kau juga dari kamar Shen kan? Kenapa? kau sudah jatuh cinta dengan wanita aneh itu? "


Arnold diam karena kesal dengan kata-kata Mona yang begitu lancar mengatai Shen di hadapannya.


" Apakah keharusan untuk menjawab pertanyaanmu? "


Mona menyeka air matanya.


" Di bagian mana aku tidak pantas menggantikan posisi dia? "


Arnold mengeryit bingung dengan pertanyaan Mona.


" Menggantikan? Apakah niatmu sudah berubah? Sejak kapan aku memberimu kesempatan untuk memikirkan hal itu? "


Mona terdiam sesaat.


" Memang kenapa? Hubungan kita ini sudah bertahan selama dua tahun. Memang kemana lagi kita akan melangkah kalau bukan ke arah sana? Asha juga sudah mulai dekat denganku, kenapa dan apa lagi yang kau tunggu? "


" Mungkin, kau bisa menggantikan posisi Shen sebagai istri, tapi kau tidak akan pernah bisa menggantikan Shen sebagai Ibu dari anakku yang aku cintai. "


" Semua itu belum tentu, karena bisa saja Asha lebih dekat denganku dibanding dengan Ibu kandungnya. Aku akan berusaha mendekatkan diri lagi. "


Arnold menggeleng malas. Baginya tentu Shen adalah Ibu yang paling baik, dan tidak akan mungkin ada yang bisa menggantikan posisi itu.


" Berpikirlah sesukamu, aku lelah, aku harus tidur lebih cepat karena tidak ingin terlambat di hari ulang tahun putriku besok. " Arnold berbalik dan meninggalkan Mona yang masih berdiri dengan tatapan kecewa. Bukanya sengaja mempermainkan perasaan wanita itu, hanya saja Arnold tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri.


Setelah sampai di dalam kamarnya, Arnold mendesah sebal karena bagian bawahnya masih saja tegak berdiri. Sudah cukup lama juga dia tidak melakukan hubungan badan, mungkin ini alasannya dia kesulitan menahan diri. Segera dia masuk ke dalam kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya.


Masih saja tak berpengaruh, Arnold terpaksa memakai jemari seperti yang sering ia lakukan belakangan ini, dan tanpa sadar dia mulai mengingat saat dia dan Shen melakukan hubungan badan agar bisa membuat kegiatannya lebih cepat selesai.


" Ah... Shen! " Tanpa sadar nama itu keluar dari mulutnya saat dia mencapai puncaknya. Apakah hatinya sungguh jatuh cinta hingga ia merasakan rindu yang begitu besar? Ataukah karena memang dia sudah lama tidak melakukannya dengan Shen, ditambah tidak melihat Shen secara langsung belakangan ini? Entahlah!


Di ruangan lain. Mona menatap kesal potret Shen dan juga Asha yang terpajang di lorong tiga kamar yaitu, kamar Asha, Shen dan Arnold yang berjejeran disana. Kesal, dan juga cemburu. Shen hanyalah wanita gendut yang selama ini berdandan seperti badut, tapi bagaimana bisa membuat Arnold tertarik? Iya! Dari cara Arnold menghindar dan terus mendatangi kamar Shen dan Asha setiap malam, jelas sekali Arnold sangat merindukan mereka.


" Kalian berdua benar-benar duri yang harus dicabut dan dibuang sejauh mungkin. Apalagi Asha yang menyebalkan itu, setiap kali melihat wajahnya aku selalu saja kesal. Andai saja Arnold tidak punya Asha, dia pasti sudah menceraikan Shen dari dulu dan menikahiku. Awas saja kau Asha, aku tidak akan membiarkan mu bahagia di hari ulang tahunmu besok. "


Bersambung...