
Anya berjalan cepat agar bisa keluar dari kamar rumah sakit yang semalaman ia tinggali tanpa sadar.
" Anya, tinggallah sebentar lagi, sampai keadaanmu benar-benar membaik, baru kau bisa pergi. " Max mencegah kaki Anya lebih jauh melangkah agar menuruti sarannya.
" Max, berhentilah bersikap sok baik. Entah apa tujuanmu datang, tapi aku sarankan untuk jangan muncul di hadapanku lagi. Sekarang kau memang terhindar dari melihat kematian ku, tapi aku tidak akan bisa menjamin lain kali. " Anya menepis kasar tangan Max, lalu pergi meninggalkan pria itu.
" Anya, aku tahu kau sangat membenciku, tapi aku tidak bisa hanya diam menerimanya, aku tahu aku tidak bisa mengobati semua luka yang kau rasakan, tali bisakah izinkan aku meringankan sedikit rasa sakitnya? " Max menatap punggung Anya yah semakin jauh meninggalkannya. Tidak apa sekarang Anya menolak kehadirannya, tapi tekadnya juga tidak akan mudah untuk dikalahkan. Pelan-pelan saja, karena tidak mungkin memaksa dengan kondisi mental Anya yang mengalami trauma berat atas masa lalu saat bersamanya.
Tak mau lagi berurusan dengan Max, di dalam perjalanan Anya segera membuang kartu simnya karena takut Max akan melacaknya, dan setelah sampai di apartemen, Anya bergegas mengemas seluruh pakaiannya. Tidak tahu mau pindah kemana lagi, tapi yang paling penting adalah jauh dari Max, jika bisa jangan biarkan takdir menemukan mereka lagi.
***
" Bagaimana kabarmu, babe? " Pria itu tersenyum ramah, tak lupa dia juga menyangga wajahnya menikmati indahnya wajah cantik yang ada dihadapannya. Iya, wanita yang tengah ia pasangan adalah Shen, dan pria itu adalah Damien. Sudah satu bulan lebih, pria itu akhirnya bisa kembali setelah mendengar kabar tentang gugatan cerai Shen yang sedang dalam proses pengadilan.
" Damien, kau ini benar-benar seperti jelangkung ya? " Gumam Shen, lalu mendesah sebal. Padahal hari ini dia ingin sekali banyak curhat dengan Zera, tapi belum juga memulai bicara, Damien tiba-tiba saja muncul dan duduk dengan senyum yang selalu saja nampak menyebalkan bagi Shen. Tapi, ada lagi perasaan tersembunyi yang masih enggan untuk Shen akui meski di dalam batinnya saja.
" Jelangkung itu apa? " Damien masih bertanya dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan. Satu bulan sudah dia menahan dirinya dengan segala pemikiran dan pertimbangan akan perasaan yang masih tak menentu beberapa saat lalu.
" Tidak tahu! " Ujar Shen membuang wajah.
Zera lagi-lagi hanya bisa berperan sebagai batu seolah tak bisa mendengar, juga tidak mau bereaksi. Sudah, sedot saja minuman di gelasnya sampai habis, lalu kabur saja dari pada melihat Shen dan Damien bertengkar layaknya pasangan kekasih yang sedang bertengkar.
" Shen, kau merindukankanku tidak? "
Shen menghela tanpa ingin menjawab. Merindukan? Bahkan dia sama sekali tidak memikirkan Damien selama beberapa waktu setelah dia tak terlihat, tapi tidak bohong juga kalau dia merasa bahagia melihat Damien meski tak mungkin mengekspresikan rasa itu.
" Kalau diam berarti iya dong? " Damien tersenyum, bahkan dia juga tak segan cekikian sendiri karena merasa bahagia. Bukan bahagia mengiyakan tuduhannya, tapi dia bahagia melihat bagaimana wajah merengut Shen seperti sekarang ini. Satu bulan memikirkan apa yang sebenarnya dia rasakan terhadap Shen, kini dia yakin dengan apa yang dia rasakan. Jatuh cinta, dia sungguh jatuh cinta semakin sering wanita itu menolak. Dia bahkan tak sehari pun memikirkan Shen, dan pada akhirnya dia menerima photo-photo Shen saat dia gemuk dulu, hingga photo terbarunya. Tidak merasa ada yang salah, Damien malah membayangkan kalau dia bisa melihat Shen gemuk seperti dulu, mungkin pipi yang sekarang tirus itu akan lebih mudah untuk dia cubit saat merasa gemas.
" Kenapa kau tertawa seperti orang bodoh. " Shen mengeryit dengan tatapan menghina.
Damien menurunkan kedua tangannya, melipat di atas meja, lalu menatap wajah Shen dengan intens.
" Bukannya kau tahu, jatuh cinta bisa membuat seseorang bodoh. "
" Ngomong-ngomong, aku ke toilet dulu ya? " Izin Zera yang benar-benar tidak tahan lagi dengan kedua orang di dekatnya itu. Siapapun yang mendengar perdebatan mereka, pasti tidak akan percaya jika mereka bilang bukan pasangan kekasih.
" Ok, jangan lama-lama. " Shen tersenyum kepada Zera.
" Hati-hati, kembali kesini lima jam lagi ya? " Zera memaksakan diri untuk nyengir meski ingin sekali menjitak kepala Damien.
" Apa yang ingin kau lakukan dengan lima jam mengusirku? " Goda Zera.
" Membuat dua anak cukup kok. "
" Damien, kau tahu rasanya kue sepatu high heels? " Shen memaksakan senyumnya, dengan tangan yang sudah mulai geregetan ingin membungkam mulut sialan itu.
Zera bergegas pergi meninggalkan mereka karena terus saja merinding ngeri.
" Semenjak mencium bibirmu, semua makanan manis bagiku. Mau itu sepatu, tanah, kotoran, bahkan air comberan aku pastikan akan terasa manis. " Lagi-lagi Damien tersenyum manis. Aduh, sialan! Gila sih, senyum sialan yang Shen paling sebal. Iya dia sebal karena sering terpukau dengan wajah manis Damien saat tersenyum seperti itu, dan dia enggan sekali mengakuinya.
" Ngomong-ngomong, selama kau hidup, berapa ratus wanita kau cicipi? " Tanya Shen yang sebenarnya ingin membuat Damien sadar bahwa dia adalah seorang pria bajingan di mata Shen.
" Tidak banyak kok, selain mantan pacarku, ada satu yang mirip denganmu. Tapi aku tidak menyentuh siapapun lagi semenjak aku bertekad untuk mendekatimu. "
Shen menelan salivanya sendiri. Sebenarnya dia merasa heran dengan Damien yang langsung saja menjawab jujur pertanyaan Shen yang dia sendiri menyangka tidak akan mungkin di jawab. Kenapa? Karena yang dia tahu, laki-laki akan menyembunyikan boroknya saat mendekati wanita.
" Damien, sebenarnya apa kau tidak ada kerjaan? Kenapa kau terus membuang waktumu untuk datang kesini? "
" Apakah masih belum jelas? Tentu saja karena kau. Tapi tidak masalah jika Mash ingin menolak ku, Shen. Aku tahu kau pernah mengalami hubungan yang kurang mengenakkan, dan sekarang ada laki-laki bajingan yang mencoba mendekatimu. Sebenarnya aku merasa malu dengan masa laluku sebelum mendekatimu, tapi setidaknya aku sudah cukup bermain-main dengan wanita, aku tidak ingin lagi bermain-main, maka aku memantapkan diriku untuk kembali dan akan sebaik mungkin merubah diriku semakin baik agar pantas untukmu. "
Shen mencengkram erat ujung dress nya dengan perasaan gugup tak menentu. Padahal Arnold juga sering mengatakan hal-hal manis juga sebelum bercerai kan? Tapi kenapa rasanya sangat berbeda, apakah karena Damien sudah banyak pengalaman dengan wanita jadi tahu bagaimana membuat jantung wanita berdegup kencang?
Bersambung...