
Anya memundurkan langkahnya saat kedua bola matanya tak sengaja mendapati sosok pria yang kini coba ia lupakan sekuat tenaga. Iya, dia adalah Max. Pria yang telah menyuguhkan segala keindahan seolah cinta dihatinya sungguh nyata, tapi pria itu pulalah yang telah mematahkan hatinya, dan dengan tegas menjelaskan apa arti dirinya di mata pria itu. Sekujur tubuh Anya bergetar, keringat dingin juga mulai muncul dari pori-pori kulitnya. Takut? Bukan itu, hanya saja dia belum siap untuk kembali bernostalgia dengan kenangan menyakitkan yang diberikan lelaki itu.
Sebentar dia mencoba untuk memejamkan mata, kepalanya menggeleng seolah berharap apa yang dia lihat tidaklah nyata, oh! Ada! Pria itu sungguh nyata. Dia berdiri dengan tubuh tegapnya, matanya fokus menatap Anya entah apa maksud tatapan itu, tapi yang ada di pikiran Anya hanyalah ada sakit, sakit, sakit sekali, hingga melihat pria itu saja dadanya berdenyut nyeri dan sesak.
" Anya? "
Anya menegakkan pandangan menatap kedua bola mata pria itu. Seperti tatapan rindu, tapi itu sama sekali tak terbaca oleh Anya. Bajingan, brengsek, dan kata umpatan kasar lah yang Anya pikir mampu menggambarkan sosok pria di hadapannya itu.
" Kau, kenapa kau disini?! Pergi! Menjauh lah dariku! " Teriak Anya dengan suara yang bergetar seiring dengan seluruh tubuhnya, kakinya masih terus mencoba mengambil langkah mundur, tapi Max juga memajukan langkahnya untuk semakin dekat dengan Anya.
" Anya, kita bicara sebentar ya? " Pinta Max seraya meraih pergelangan tangan Anya.
" Lepas! " Pekik Anya sekuat tenaga dia memberontak keras. Tangan itu, tangan itu adalah tangan yang dengan mudahnya ia izinkan untuk menyentuh tubuhnya, tangan itu juga lah yang sudah menghancurkan hidupnya hingga ia rasa hidupnya tidak lagi memiliki warna.
" Anya, aku tahu kau sangat marah. Biarkan aku menebus kesalahan itu untukmu. " Max menarik tubuh Anya, lalu erat-erat memeluk wanita itu. Benar, pada awalnya hatinya tak merasakan rasa, tapi begitu Anya pergi meninggalkannya dengan segala kejadian yang mengharuskan mereka kehilangan calon anak mereka, Max tidak bisa berhenti memikirkan Anya. Iba? Atau merasa bersalah? Atau mungkin itu adalah rasa perduli yang menjurus ke rasa cinta? Tidak tahu, tapi yang Max rasakan hanya ingin memperbaiki kesalahannya, dan memperlakukan Anya dengan lembut, dia juga berjanji tidak akan lagi bermain dengan wanita manapun juga.
" Pe pergi, jangan menyentuhku lagi dengan tangan kotor mu! " Anya mendorong kuat tubuh Max dengan tubuh yang masih bergetar.
" Tanganmu, tanganmu sudah menghancurkan hidupku! Tanganmu juga sudah membunuh anakku! Enyah, dan jangan muncul lagi di hadapanku! Atau aku akan membunuh mu! " Ancam Anya hingga ia tidak tahan lagi untuk menahan air matanya yang sedari tadi sudah membendung di pelupuk matanya.
Max sebentar menunduk dengan perasaan sedih. Seandainya antar manusia bisa saling merasakan bagaimana hati, mungkinkah Anya akan mengatakan itu? Tapi Max juga tahu kalau memang ini adalah salahnya, maka dia tidak ada pilihan selain mengiyakan semua tuduhan Anya padanya.
" Anya, tentang anak kita, aku juga sedih. Tapi bisakah jangan terlalu memikirkannya? Kita bisa menikah, lalu punya anak lagi kan? " Max menatap Anya dengan tatapan yang begitu tulus, bahkan dia sama sekali belum pernah melakukan ini kepada wanita lainnya.
" Menikah? " Anya kini semakin tak bisa membendung tetesan air matanya yang semakin menjadi-jadi berjatuhan tak terhitung jumlahnya.
" Kau pikir setelah semua yang terjadi aku masih memiliki niat untuk menikah? Tidak! Apalagi denganmu! Aku tidak mau menikah seumur hidupku, aku juga tidak mau memiliki hubungan apapun dengan pria! "
Max mengepalkan tangannya kuat, marah? Iya! Dia marah dengan dirinya sendiri karena sudah begitu dalam merusak mental seorang gadis. Awalnya dia pikir Anya hanya akan menganggap semua yang terjadi sebagai masa lalu saja, tapi pada kenyataannya, mental gadis itu benar-benar sudah benar-benar rusak karena ulahnya. Bahkan saat dia memeluk tubuh Anya tadi, dia merasakan tubuh Anya yang dingin juga gemetar hebat. Tentu dia bisa merasakan ketakutan akan bayang-bayang masa lalu itu melekat lagi di benaknya. Jujur, Max sempat bergumam di dalam hati, apakah seharusnya dia tidak usah datang saja?
" Anya, ikutlah denganku ya? Kita temui psikiater, kau bisa menceritakan segalanya dan mendapatkan solusi juga nantinya. "
" Diam! Kau pikir aku gila?! Iya! Aku gila! Jadi pergilah, dan jangan muncul di hadapanku, kalau tidak, orang gila ini akan menunjukkan seberapa gilanya dia. " Ancam Anya dengan mata yang terbuka lebar mengancam dengan kata-katanya.
" Anya, menemui psikiater bukan berarti gila, ikutlah agar keadaanmu baik-baik nantinya. "
Anya menatap kesal karena Max tidak mau mendengarkan kata-katanya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sesuatu agar bisa membuat Max pergi dan membiarkan dia lewat.
" Pergi! " Ancam Anya seraya menodongkan pecahan batu tajam dan lumayan agar panjang dan tajam.
" Anya, jika kau memang ingin melakukan itu, tidak apa-apa. Lakukan saja, aku tidak akan membalasnya. "
Anya tersenyum miring.
" Anya! "
Max dengan cepat mendekati Anya, mengambil batu itu, lalu membuangnya jauh.
" Lepas! "
Max tak lagi mau mendengarkan ucapan Anya, dia mengunci tubuh Anya dengan dekapan kuatnya, lalu membawanya masuk ke dalam mobil tanpa mau mendengarkan kata-kata memberontak dari Anya lagi.
***
Marisa terduduk lemas setelah merapihkan kamarnya. Entah mengapa dia merasa sangat lemas, bahkan keringatnya juga sudah membasahi baju yang ia kenakan. Sebentar dia berpikir, apakah terlalu lelah? tapi dia baru saja bangun tidur, dan hanya merapihkan tempat tidur saja, lalu kenapa bisa seperti ini?
Marisa mencoba sekuat mungkin untuk bangun dari posisinya, karena dia tahu kalau Ibu mertuanya pasti sudah mulai menyiapkan sarapan pagi. hari ini dia bangun terlambat, jadi tidak boleh buang-buang waktu lagi di dalam kamar, ujar Marisa di dalam hati.
Marisa berjalan pelan menuju tangga rumahnya, tapi karena pusing, sebentar Marisa berhenti untuk menarik nafas dalam-dalam agar tubuhnya mendapatkan kekuatan.
" Nona Marisa? Ada apa? " Tanya pelayan yang tengah keluar dari kamar Teo setelah membersihkannya, dan tak sengaja melihat Marisa nampak lemas di depan tangga.
" Tidak apa, hanya saja agak pusing, jadi aku takut jatuh. "
" Bagaimana kalau sarapan paginya saya saja yang bawa ke kamar Nona? "
Marisa menggeleng lemas.
" Tidak apa-apa, tapi bisa bantu aku turun tangga? "
" Iya, baik Nona. "
" Marisa, ada apa? " Tanya Ibu Lean yang khawatir melihat Marisa yang lemas dan pucat.
" Tidak ada, Ibu. Hanya sedikit pusing saja. "
Ibu Lean menghela nafas dengan tatapan jengkel.
" Digo!! " Panggil Ibu Lean kencang hingga suaranya menggema ke suruh rumah.
" Ada apa, Bu? " Tanya Digo yang baru saja tiba dengan terburu-buru.
" Lihat! Istrimu sangat pucat, dia lemas dan kau malah turun sendirian? Kan sudah Ibu bilang, pundak ke kamar bawah! "
Bersambung.....