
Satu minggu setelah kepergian Anya, satu minggu juga rumah itu terasa sepi. Tidak banyak yang berubah, kecuali wajah Ibu Resa yang selalu menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap Shen. Kenapa? Karena dia beranggapan bahwa Shen lah yang sudah mempengaruhi putrinya, hingga putrinya memilih untuk keluar negeri.
Bukan tanpa alasan dugaannya, semua karena kedekatan Anya dan Shen yang tidak seperti biasanya.
Sebuah tempat dimana saat keluarga yang hanya tinggal tiga orang tengah menikmati sarapan pagi mereka. Seperti hari sebelumnya, Ibu Resa terus saja terlihat enggan menanggapi adanya Shen disana. Dia sama sekali tidak menjawab setiap pertanyaan Shen meski Arnold telah menegurnya beberapa kali.
" Nenek, kenapa tidak menjawab pertanyaan Ibuku? " Protes Asha yang bisa dengan jelas melihat bagaimana Ibunya mendesah sebal karena neneknya masih saja diam setelah ditanyai beberapa kali.
" Nenek sedang sebal dengan Ibumu. "
Shen dan Arnold kompak mendelik kaget dengan ucapan Ibu Resa. Iya, mereka berdua adalah orang tua yang selalu menjaga Asha, dan juga menjauhkan Asha dari hal tidak baik seperti itu.
" Ibu, tolong jangan dilanjutkan lagi! " Arnold memperingati Ibunya sebelum Ibunya mengucapkan hal yang lebih tidak masuk akal lagi.
Ibu Resa mendesah sebal, dia tahu sih kalau dia tidak boleh memberikan contoh yang tidak baik kepada cucunya. Tapi lagi-lagi, kekesalan dari dugaannya yang ia yakini membuatnya tak bisa menahan emosi.
" Arnold, Anya pergi keluar negeri pasti karena hasutan dari Shen. Selama ini dia begitu betah dan menolak untuk sekolah di luar negeri, bagaimana bisa tiba-tiba jadi begini? Anya itu adalah anak yang manja dan tidak bisa jauh dari Ibu. Apa kau tidak memikirkan bagaimana dia akan hidup disana? Apakah kau pikir dia bahagia? "
Shen menghela nafas, lalu dia tersenyum menatap Asha, lalu memintanya untuk kembali ke kamar terlebih dulu.
Shen menatap datar Ibu mertuanya yang malah semakin terlihat kesal. Padahal dia ingin sekali menyembunyikan kebenaran tentang Anya, tapi kalau keadaannya begini, mana mungkin dia akan berkorban dan membiarkan dirinya disalahkan? Baik sih baik, tapi kalau mengorbankan diri begitu bukannya rugi dan bodoh?
" Ibu mertua, pada awalnya aku sama sekali tidak ingin memberitahumu sebuah kebenaran. Tapi karena perilaku Ibu mertua yang mendesak ku, maka mau tidak mau aku harus membersihkan namaku dengan memberitahumu. Sebenarnya, Anya pergi karena ingin melupakan pria yang sudah merenggut kesuciannya, menghamilinya, juga membuatnya kehilangan calon anaknya. "
Arnold dan Ibu Resa kompak membulatkan mata terkejut, bahkan tanpa sadar Ibu Resa mulai gemetar dengan tubuh yang terasa dingin dan mati rasa.
" Kau, berani-beraninya memfitnah anakku! Anakku adalah gadis baik-baik, tidak ada keturunanku yang seperti itu! "
Shen menahan tawanya dengan menutup mulutnya rapat-rapat. Tidak ada yang seperti itu? Bukanya malah semua anaknya begitu? Aduh,.. Sayang sekali karena dia hanya bisa bergerundel di dalam hati.
" Shen, apa yang kau bicarakan ini? "
" Aku tidak bohong, Anya juga menunjukkan catatan medisnya padaku waktu itu. "
" Bohong! Anya tidak pernah masuk rumah sakit! Kau hanya iri padanya kan? "
" Iri? Mana mungkin Ibu mertua. " Shen kini mulai berakting sedih.
" Ibu, Anya bilang saat dia mengabari Ibu untuk berlibur, sebenarnya dia baru saja memergoki Max yang sedang berselingkuh dengan temannya, karena Anya kesal, dia menjambak rambut temannya itu, tapi siapa sangka kalau temannya akan mendorong Anya hingga terjadilah hal mengerikan itu. " Shen mencubit kuat pahanya agar dia kesakitan dan mengeluarkan air mata. Iya, maklum saja lah. Apa yang terjadi di masa lalu kan lebih menyedihkan, jadi kalau hanya seperti ini mana mungkin bisa membuatnya menangis tanpa paksaan?
" Tidak, itu tidak mungkin! "
" Ibu! " Pekik Arnold saat sang Ibu mulai tak kuasa menahan dirinya, lalu pingsan.
" Aku, aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau akan seperti ini. "
" Nanti saja! Sekarang katakan kepada sopir untuk menyiapkan mobil, kita harus segera membawa Ibu kerumah sakit. "
Beberapa saat setelah sampai dirumah sakit. Selama Ibu Resa mendapatkan perawatan, Arnold menunggunya dengan gelisah. Sementara Shen, dia sibuk memberikan banyak pesan kepada pelayan rumah untuk menjaga putrinya dengan baik.
" Shen, mereka pasti akan menjaga Asha dengan baik, saat ini bukanya kesehatan Ibuku yang harus dikhawatirkan? "
Shen memutuskan sambungan teleponnya, menunduk seolah dia merasa bersalah dan tengah menyesali perbuatannya. Iya, meskipun dia juga sembari menyembunyikan senyum tipisnya.
" Maaf, aku juga tidak bisa melupakan tugasku begitu saja. Aku tida akan mengulanginya lagi. "
Arnold mengusap wajahnya setelah melihat bagiamana Shen terlihat sedih. Dia mendesah menghilangkan kepanikan tentang apa yang terjadi dengan Ibunya sebentar, lalu berjalan mendekati Shen dan merangkulnya.
" Maaf, aku panik jadi tidak bisa mengontrol kata-kataku. "
" Tidak apa-apa, aku memang bersalah. "
" Jangan begitu, ini bukan salahmu. "
Memang iya bukan salahku! Salahkan saja orang yang pantas kau salahkan!
Setelah beberapa saat, Dokter memberitahukan kepada Arnold dan Shen mengenai Ibu Resa yang hanya syok saja, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan karena Ibu Resa tidak memiliki penyakit berbahaya sejauh ini.
" Shen, aku ke luar sebentar ya? "
" Iya. " Shen tersenyum kepada Arnold yang meminta izin darinya.
" Tolong jaga Ibu baik-baik ya? Aku akan segera kembali. " Shen mengangguk.
Semenjak sadar, Ibu Resa sama sekali tak mau bicara, bahkan menatap sedetik pun ke arah Shen dia juga enggan. Tapi ya sudahlah, itu juga dianggap menguntungkan bagi Shen. Kenapa? Karena Ibu mertuanya itu tidak akan mungkin mengganggunya dengan meminta tolong saat dia duduk bersantai disana kan?
" Andre, tolong cari tahu tentang Max, photonya akan ku kirim setelah ini. Jangan lupa, telusuri siapa saja orang yang dia temui tiga bulan terakhir. Dan yang paling penting, cari tahu dimana Max tinggal. " Arnold menatap datar dirinya dari pantulan cermin. Rasanya dia merasakan ada yang tidak beres dengan peristiwa menyakitkan yang menimpa adiknya. Setelah memikirkannya kembali, semua itu seperti sengaja disetel agar Anya mengalami semua itu. Tapi apa tujuannya? Dan apakah dugaannya salah? Entah lah! Tapi yang pasti, dia harus mencari Max, dan membuat perhitungan padanya.
***
Mona kini tengah menangis di sudut ruangan hingga airmatanya bercucuran tak terhitung. Tujuh puluh enam kilogram sudah bobot tubuhnya saat ini, dengan lipatan perut yang menonjol, dagu berlapis saat dia menunduk, padahal niat awalnya kan tidak mau sampai begini?
Bersambung....
Halo kesayangan Author? Apa kabar? Semoga sehat dan bahagia selalu ya?
Sedikit menjawab nih, kenapa alurnya berbelit?
" Jadi begini, setiap peristiwa pada akhirnya kan akan mencapai puncak kesimpulan, nah! Kalau Author tidak menjabarkan secara detail, dan membuat cerita sesingkat mungkin, itu namanya bukan novel, tapi ringkasan aja 😠mohon bersabar ya kesayangan,... Sebisa mungkin aku akan membuat jalan cerita sebaik sesuai porsi aku ya. "
Thanks, jangan lupa komen dan like nya ya? Sampai jumpa! Sehat selalu, dan bahagia juga!