Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 41



Arnold terdiam menatap Max dengan tatapan tak suka. Sadar jika Max terus mencuri pandang ke arah istrinya, sebisa mungkin Arnold menunjukkan betapa mereka saling mencintai, dan tidak akan mungkin ada laki-laki lain yang bisa masuk kedalam kehidupan rumah tangganya.


Seperti biasanya, Shen melayani suaminya saat akan makan, begitu juga dengan Arnold yang sengaja menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Shen. Dia bahkan tidak merasa malu untuk menyuapi Shen, meski Ibu dan juga adik perempuannya merasa heran dengan sikap Arnold yang seperti sangat cintai Shen. Padahal, dia juga tidak pernah melihat hal ini terjadi saat Arnold dan Mona bersama, batin mereka berdua.


" Asha belum pulang juga? " Tanya Arnold setelah menjauhkan piringnya.


" Belum, oh mungkin juga akan menginap di rumah Ayah dan Ibuku. " Jawab Shen yang memang sudah selesai dari tadi karena porsi makan Shen sangat sedikit.


Arnold tersenyum, lalu mengusap kepala Shen pelan. Pemandangan itu tentu menjadi hal yang mengejutkan bagi semua yang melihatnya. Bagaimana bisa Arnold begitu lembut kepada Shen? Apa hal yang membuatnya menjadi seperti itu? Dan bagaimana Mona selanjutnya?


" Sepertinya, hubungan anda dan Nona Shen sangat baik ya? " Max bertanya lalu tersenyum seraya menjauhkan piring bekas makannya. Rasanya kesal juga melihat wanita cantik yang tidak bisa ia miliki.


Arnold tersenyum, dia meraih tangan Shen, lalu menggenggamnya erat-erat.


" Hubungan kami membaik akhir-akhir ini. Meski kami mengalami banyak hal dalam rumah tangga, untungnya aku memiliki istri hebat, dan selalu mencintaiku. "


Ibu Resa dan Anya ternganga tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, juga mereka dengar. Sementara Shen, dia tersenyum tipis, dan itu hanya Max yang bisa melihatnya.


" Oh, begitu ya? " Max memaksakan senyumnya, Sekarang dia tahu benar apa yang membuat Shen memilih untuk bertahan disana. Meski dia jatuh hati dengan Shen, tapi dia juga cukup sadar bahwa dia tidak akan mungkin bisa menjangkau wanita cantik itu meskipun dia mengerahkan seluruh tenaga, dan juga sumber dayanya.


Wanita yang hebat, beruntung sekali laki-laki yang memiliki cinta darinya.


Setelah kepergian Max, kini Shen membantu pelayan dapur untuk membereskan makanan yang tersisa di meja.


" Kau sengaja tebar pesona? "


Shen yang saat itu tengah mengangkat dua piring berusia sayur dan ikan bakar, akhirnya menaruh kembali dua piring itu dan tersenyum miring ke arah Anya yang sedari tadi menatapnya sinis.


" Tindakan sebelah mana yang kau artikan tebar pesona? " Shen menatap dengan berani, dia bahkan melipat kedua lengannya dan meletakkan di dadanya. Mungkin, dia bisa menebak dengan benar maksud Max mendekati Anya hanyalah untuk bermain. Tapi sebagai insan yang pernah disakiti oleh Anya, tentu saja insting untuk membalas dendam mulai merajai otaknya.


" Semuanya! "


Shen terkekeh seraya menggeleng pelan. Dia mengubah posisi tangannya, lalu berjalan mendekati Anya yang masih saja menatapnya dengan marah. Shen menghela nafas seraya menatap kedua bola mata yang rasanya ingin sekali dia congkel keluar itu. Tapi tahan, itu tindakan kriminal yang akan membuatnya terjerat dengan hukum kan?


" Anya, jika kau percaya laki-laki itu mencintaimu dengan sangat, maka kau tidak boleh meragukannya, apalagi menuduhnya terpesona olehku. Lagi pula, apa kau begitu tidak percaya dengan dirimu sendiri? Ataukah kau merasa bahwa pesonaku jauh di atas mu? "


Anya mengepalkan tangannya erat masih dengan menatap marah.


" Max itu mencintaiku, dan aku juga sangat mencintainya! "


" Oh? " Shen tersenyum, menepuk beberapa kali pundak Anya, lalu berlalu meninggalkannya yang masih saja ingin berdebat.


Bodoh! Tapi setidaknya aku bersyukur karena kau bodoh, jadi nikmati saja kebodohanmu yang sangat mendarah daging itu.


" Kau, kenapa kau ada disini? " Tanya Shen saat membuka pintu kamarnya, dan mendapati Arnold tengah duduk di tempat tidur sembari membaca sebuah buku yang lumayan tebal.


" Kenapa? Apa aku tidak boleh tidur denganmu? " Arnold bangkit dari posisinya, mendekati Shen yang masih berdiri disana, lalu tersenyum saat mereka sudah dalam posisi dekat dan berhadapan.


Shen tersenyum senatural mungkin meski rasanya dia enggan sekali tersenyum. Dia melingkarkan kedua lengannya memeluk tubuh Arnold, dan membenamkan wajah di dada pria itu.


" Aku, hanya merasa bahagia saja. Dulu aku selalu berharap bisa tidur di satu ranjang denganmu, siapa sangka kalau itu akan sungguh terjadi. "


Arnold memeluk erat tubuh wanita yang dulu selalu mendapatkan penolakan darinya. Iya, dia paham sekali kalau itu menyakitkan untuk istrinya. Tapi jika waktu bisa diputar lagi, dia ingin mengubah segalanya, lalu melakukan yang terbaik agar wanita yang ia peluk saat ini akan terus bersamanya dan saling mencintai hingga maut memisahkan mereka.


" Shen, maafkan aku karena sibuk memberontak dan menyakitimu selama ini. Aku janji akan melakukan yang terbaik agar kita terus bersama, jika bisa aku ingin memiliki satu anak lagi darimu, dengan begitu hubungan kita akan semakin membaik kan? "


" Iya. " Shen menatap dengan tatapan datar ujaran pria yang adalah suaminya.


" Shen, menurutmu bagaimana dengan yang namanya Max tadi? "


" Aku tidak tahu, aku kan sama sekali tidak memperhatikannya. Lagi pula, kalau Anya bahagia berarti itu memang pilihannya. "


Arnold menghela nafasnya, lalu memberikan kecupan di pucuk kepala Shen.


" Iya, tapi dia selalu melihat ke arahmu. "


" Maka biarkan saja, toh aku kan istrimu, mana mungkin dia memiliki niat yang tidak baik dengan calon kakak iparnya. "


Arnold tersipu malu, segera dia mengeratkan pekukannya agar Shen tak bisa melihat rona merah di pipinya. Iya, benar! Shen adalah istrinya, dan Shen akan selalu mencintainya, jadi tidak perlu terlalu memikirkan apa yang terjadi tadi.


" Baiklah, istriku. Tentang tadi aku akan melupakannya, tapi bagaimana kalau kita memikirkan soap anak kedua? "


" Bisakah jangan malam ini? Aku sangat lelah karena membantu memasak dan beres-beres. "


" Baiklah, aku akan menundanya sampai malam besok. "


Shen tersenyum, lalu menundukkan wajahnya dan sontak senyum itu menghilang seketika.


Aku harus ke apotik besok pagi.


Max kembali ke apartemennya dengan perasaan yang tak biasa. Iya, sungguh dia terus memikirkan Shen yang begitu cantik, tapi juga tidak akan mungkin bisa ia miliki.


" Ck! Teo ini apa tidak salah? Kakaknya setangguh itu, tentu saja bisa menyelesaikan semua rintangan yang menghadangnya. " Max meletakkan gelas wine yang baru saja ia tenggak isinya. Max mengeluarkan ponselnya, lalu segera menghubungi Teo.


Iya kak?


" Rencana malam ini berhasil. "


Bagus, jadi kapan yang selanjutnya akan dimulai?


" Lusa sudah bisa, bagaimana menurutmu? "


Apa kakak sudah puas?


" Lebih tepatnya bosan! "


Teo terkekeh.


Apa yang harus aku lakukan, kak?


" Tidak ada, hanya kau lihat saja, lalu bertepuk tangan saat adegan seru datang. "


Haha Baik! Aku menunggu, kak.


" Iya, ngomong-ngomong, kenapa kau tidak bilang kalau kakakmu secantik itu?! "


He,... aku takut dia akan termakan rayuan gombal monster buaya sepertimu.


" Sialan! "


Bersambung....