
Prang......!
Arnold yang tengah berang kini membuang, juga membanting semua barang-barang yang ada di meja ruang baca pribadinya. Kenapa? Itu semua karena semua bukti yang diberikan Andre mengenai Max malah menjurus ke Teo, adik bungsu dari istrinya sendiri.
Awalnya Arnold masih tidak ingin mempercayainya begitu saja, tapi lagi-lagi Andre mengirim rekaman kamera pengawas dari sebuah restauran yang ternyata adalah Max dan juga Teo tengah berbincang dengan akrab. Ditambah lagi perhiasan model baru yang ditemukan di kamar Anya ternyata bukan Max yang membelinya, melainkan Teo. Iya, semua itu bukan hanya dugaan, karena Andre sendirilah yang sudah memastikannya melalui beberapa rekan yang ia kenal bekerja disana.
Tak bisa mencari tahu dimana Max tinggal, maka satu-satunya yang bisa Arnold temui hanyalah Teo, dan melampiaskan padanya.
" Arnold? Mau kemana? Aku mengantarkan kopi untukmu. "
Arnold menatap Shen dengan tatapan marah, dia bahkan sampai mengeraskan rahang karena menahan diri agar tidak kehilangan kontrol dan memukul Shen nantinya.
Tak Ingin menjawab, Arnold mencoba mengabaikan saja, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
" Arnold, ada apa? " Shen yang bingung melihat Arnold yang terlihat marah dia mencoba bertanya sembari menahan lengan pria itu.
" Lepas! " Arnold menghempaskan tangannya, dan membuat secangkir kopi panas itu tumpah mengenai kakinya.
" Ah! " Pekik Shen saat merasai kakinya yang tersiram kopi panas itu.
" Kau masih memiliki waktu untuk membuat kopi? Kenapa tidak menyisihkan waktu untuk mengurus adikmu yang brengsek itu?! "
Shen mengepalkan tangannya kuat. Rasanya sungguh ingin menampar pipi Arnold dan menyuruhnya berkaca terlebih dulu. Tapi tahan, dia harus menahannya karena pasti ada sesuatu yang terjadi diluar kendalinya.
" Arnold, apa maksudmu? "
Arnold masih menatap marah, sebentar dia membuang wajah sembari mendesah marah, lalu menatap Shen dengan tatapan tajam.
" Adikmu itu, dia lah yang meminta Max merayu adikku, menghamilinya, dan juga membunuh calon anaknya! "
Shen mengeryit mendengar tiap kata yang keluar dari mulut Arnold tentang adiknya.
" Kau gila ya? "
" Iya! Aku gila! Gila karena keluargamu! Gila karena tekanan dari kakakmu, ditambah lagi perbuatan adikmu itu! Shen, aku benar-benar tidak akan melepaskan mu kalau sampai kau terlibat. " Arnold mengakhiri ucapannya dan berjalan cepat meninggalkan Shen yang masih diam mematung kebingungan.
" Sial! Sebenarnya apa sih yang terjadi? Memang adikku yang lugu itu bisa melakukan hal sekeren itu? Cih! Kalau begini, rencana ku bisa berantakan. " Gumam Shen sebal. Tak mau membuang banyak waktu untuk berpikir yang bukan-bukan, segera Shen masuk ke kamarnya, meraih ponsel untuk menghubungi Teo. Tak ada jawaban, maka Shen mencoba untuk menghubungi Digo, tapi juga tak mendapatkan jawaban. Sebentar dia menghela nafas, apakah harus menghubungi Ayah dan Ibunya? Tapi bagaimana kalau mereka malah menjadi banyak pikiran? Pada Akhirnya Shen menenangkan diri terlebih dulu untuk menyusun rencana baru seandainya tidak bisa membalikkan keadaan seperti rencana awal.
Satu jam kemudian.
" Teo! Teo! " Panggil Arnold dengan lantang begitu dia masuk ke dalam rumah.
" Kenapa kau berteriak seperti itu? " Ibu Lean berjalan menghampiri Arnold karena merasa heran dan kaget karena tidak biasanya Arnold seperti itu.
" Dimana Teo? " Tanya Arnold dengan tatapan marahnya yang masih membara seolah tak bisa diredakan.
Ibu Lean sebenarnya sangat tidak ingin menjawab karena sebal dengan cara Arnold yang tidak sopan saat bertanya. Padahal, meski Arnold bukan suami yang baik untuknya, selama ini Arnold selalu sopan, dan baik sebagai menantunya.
" Teo ada di dekat kolam renang bersama kakaknya. "
Tak ada lagi apapun yang bisa membuatnya bertahan disana, akhirnya Arnold kembali melangkahkan kaki tanpa perduli tatapan sebal dari Ibu mertuanya.
Begitu nampak Teo dan Digo yang tengah berbincang bahagia, amarah yang dirasakan Arnold semakin memuncak. Dia dengan cepat berjalan ke arah Teo, menarik baju bagian dadanya dengan kasar, lalu melayangkan pukulan yang amat kuat di wajahnya.
Bug!
" Apa yang kau lakukan, brengsek! " Digo melayangkan pukulannya untuk membalas perlakuan Arnold, dan pada akhirnya mereka beradu tinju karena emosi yang meledak-ledak. Segera Teo bangkit dari posisi jatuhnya, lalu mencoba memisahkan mereka.
" Kak, berhenti! " Tak mempan, karena Arnold justru memakinya dengan sangat membabi-buta. Mulai dari brengsek, bajingan, kep*rat, sialan, anjing, bahkan banyak sebutan atau umpatan kotor yang diberikan Arnold kepada Teo dan Digo.
" Berhenti! " Ayah melotot marah melihat tiga orang itu bergelut dengan brutal. Segera dua satpam yang mendengar keributan memisahkan mereka semua.
" Apa-apaan ini?! " Ibu Lean terperangah ngeri melihat kedua putranya memiliki luka di wajah.
" Apa yang kau lakukan kepada putraku?! " Kesal Ibu Lean. Sebenarnya bukan tidak tahu kalau Arnold juga berdarah, hanya saja semenjak dia mengetahui perlakuan jahatnya kepada Shen, Ibu Lean menjadi hilang perduli dengan menantunya itu.
" Aku, aku hanya memberikan pelajaran kepada orang yang sudah menyakiti adikku! " Arnold berucap dengan nafas yang memburu hingga kata-katanya tersengal.
" Bajingan! Jangan bicara sembarangan! " Maki Digo yang tak terima adiknya yang lugu itu menyandang gelar buruk dari seorang bajingan sejati seperti Arnold.
" Sembarangan? Kenapa kau tidak bertanya langsung dengan adikmu saja huh?! " Kesal Arnold.
Ibu dan Ayah mereka kini menatap Teo dengan tatapan penuh tanya.
" Nak, apa yang di maksud Arnold? " Tanya Ayah.
Teo menunduk, sebenarnya tidak masalah jika ini terbongkar pada akhirnya. Hanya saja tiba-tiba dia memikirkan Shen, iya! Dia takut kakak perempuannya itu menjadi benci padanya.
" Teo? " Ibu Lean mendekat, lalu menegakkan wajah Teo yang menunduk.
" Katakan, nak! "
Teo mengepalkan tangannya kuat, sudahlah! Tidak perlu memikirkan apapun lagi, karena pada akhirnya Shen juga akan mengetahuinya.
" Aku, menyuruh orang untuk mempermainkan Anya, sama seperti Arnold mempermainkan kakakku. "
Ibu Lean menutup mulutnya dengan mata memerah karena menahan tangis.
" Kenapa kau melakukan itu? " Ayah menatap datar kepada sang anak.
" Kenapa? Tentu saja membalas perbuatan menjijikkan laki-laki itu! " Teo menatap marah Arnold yang masih tak perduli salah atau benarnya dia.
" Kakakku menutupi kesakitan nya selama bertahun-tahun, dia khianati, tapi bukan hanya suaminya saja. Bahkan, adik ipar, juga Ibu mertua yang dia layani dengan baik juga mengkhianatinya. Mengolok-olok kakakku seolah-olah dia memalukan hanya karena dia gemuk! Aku malah menyesal tidak membuat adikmu tertabrak mobil juga. "
" Bajingan! Tutup mulutmu! " Kesal Arnold, tapi untunglah kedua satpam rumah memegangi tubuhnya dengan erat.
Digo terkekeh sembari menyeka darah yang keluar dari sisi bibirnya.
" Bagaimana rasanya? Enak? Haha.... Begitulah rasanya menjadi aku, dan keluargaku saat kau menyakiti Shen yang kami cintai selama ini. "
Arnold mengerang kesal, tapi kemarahan seolah telah menguasai dirinya.
" Begitu ya? Kalau begitu, aku akan memperlihatkan padamu bagaimana caranya menyakiti yang sesungguhnya." Arnold melepaskan paksa kedua tangannya, lalu meraih ponselnya.
" Mona, kau ada dimana? Baik, Ayo kita menikah secepatnya. "
Bersambung....