
Shen tersenyum menatap langit malam yang menyuguhkan indahnya hamparan bintang-bintang berkelip indah di langit. Dulu sekali, dia sangat suka melihat langit malam yang indah seperti ini, tapi sejak dia masuk kedalam keluarga suaminya, dia terlalu sibuk dengan segala upayanya sebagai seorang istri hingga tak lagi sempat menatap bintang di langit yang mampu membuat suasana hati menjadi sangat tenang.
Sudah cukup lama, tapi rasanya masih belum puas juga. Indah, bahkan karena sangat indah dia sampai tidak tahu harus menyebutnya dengan apa. Sebentar Shen menoleh ke arah suara langkah kaki yang terdengar, dan dia adalah Ayahnya.
" Masih ingin disini? " Tanya Ayah sembari berjalan mendekat. Dia mengusap kepala Shen yang mendongak di sandaran kursi untuk menatap langit malam.
" Kau nampak pendiam beberapa waktu ini, apakah masih menyakitkan? "
Shen membenahi posisi duduknya, dia tersenyum seraya meraih tangan sang ayah, memindahkannya dari kepalanya lalu sedikit menarik agar sang Ayah duduk disebelahnya.
" Ayah, bukan perpisahan antara aku dan Arnold yang membuatku menjadi sedikit pendiam seperti yang Ayah duga. " Shen tersenyum, dia memeluk lengan Ayah, lalu menyender disana dengan nyaman.
" Apa ada yang membuatmu tidak tenang? "
" Ayah, aku hanya sedang berpikir, selama ini aku sudah melewatkan hal sederhana yang justru bisa membuatku bahagia. Aku hanya merasa sedikit menyesal karena tidak memperdulikan diriku sendiri, dan pada akhirnya semakin membuatku terpuruk dengan keadaan itu. "
" Semuanya sudah baik-baik saja, sekarang kau bisa mulai mengerti, juga mencari tahu apa yang kau inginkan, apa yang juga kau butuhkan agar bahagia. "
" Aku tahu, Ayah. "
***
" Asha, dongeng apa lagi yang ingin kau dengar? " Tanya Arnold setelah selesai membacakan dua judul dongeng, tapi Asha masih saja belum terlihat ngantuk. Ini adalah hari dimana dia bisa menghabiskan hari sampai tiga hari ke depan bersama putrinya. Memnag ada yang berbeda, tapi apapun itu dia sebagai seorang Ayah hanyalah ingin agar anaknya tidak merasakan kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
" Tidak perlu, Ayah. Aku tetap saja tidak mengantuk. " Jawab Asha yang sedari tadi hanya diam dan mengedipkan matanya karena rasa kantuk itu masih juga belum datang.
" Apa kau mau minum susu terlebih dulu? " Asha menggeleng pelan karena dia juga sudah meminum satu gelas susu hangat sebelum Ayahnya memulai membacakan dongeng.
Arnold menarik bibirnya agar terbentuk senyuman, dia berbaring disamping Asha, lalu memeluknya setelah memiringkan tubuhnya menghadap ke arahnya.
" Asha, Ayah tahu kau biasa tidur dengan Ibu. Maaf kalau cara Ayah menidurkan mu masih tidak bisa menyaingi Ibumu. Ayah janji, Ayah akan berusaha yang terbaik untuk Asha. " Ucap Arnold seraya mengusap pelan punggung Asha, dia juga terus menyanyikan lagu pengantar tidur dengan lirih. Sukses, Asha kini sudah tertidur pulas di dalam pelukannya. Arnold tersenyum memandangi wajah cantik itu, jemarinya tergerak untuk mengusap pelan pipi mungil nan lembut milik Asha.
Asha, Ayah benar-benar menyayangimu. Ayah akan berusaha meluluhkan hati Ibumu agar kita bersama lagi ya?
***
Digo tersenyum miring menatap bola mata Marisa yang menatap kesal padanya.
" Bagaimana? Apa kau ingin lagi, sayang? " Digo bertanya degan menekan kata sayang seolah dia ingin memamerkan kekuatannya di tempat tidur sebesar apa.
Sialan! Marisa ingin sekali rasanya memukul kepala Digo, lalu merobek mulut kurang ajarnya. Padahal sudah di beritahu agar tidak kasar, tapi tetap saja pria itu malah seperti hewan buas yang sudah satu bulan menahan lapar.
" Kenapa diam? " Goda Digo yang tahu benar jika Marisa pasti kelelahan saat ini.
Memang sih kalau diam saja semua tidak akan menjadi panjang, tapi masalahnya adalah, mulut Marisa juga gatal kalau tidak menyahut ucapan Digo.
" Oh, sudah selesai ya? Aku kira kita baru pemanasan saja. "
Digo tersentak hingga niatnya untuk menguap hilang seketika. Gila! Perempuan gila itu kenapa menghinanya dengan begitu parah?! Tenang, Digo menarik nafas dalam-dalam, lalu menghempaskan pelan membuang segala emosi yang seolah tak tertahankan itu.
" Marisa, jangan sok kuat. Lihatlah keringat ditubuh mu yang bercucuran, kau pikir kau bisa membohonginya? "
" Eh, ini keringat karena lelah menunggumu melanjutkan yang tadi. Tapi tidak tahunya malah sudah selesai. "
" Jadi, ini tidak merasakan ada yang memasuki tadi? " Tanya Digo seraya menelusup kan tangannya menyentuh bagian bawah Marisa yang tidak memakai apapun disana. Marisa melotot kaget, tapi dia masih mencoba untuk menahannya meski dia malu sekali.
" Tadi aku hanya merasa digelitik saja. Tapi tidak tahunya itu milikmu ya? " Marisa nyengir dengan maksud meledek. Tapi ya sudahlah, Digo itu sudah mulai paham bagaimana Marisa. Mulut dan hati sama sekali tidak bisa sinkron, toh yang paling penting dia juga cukup puas melihat Marisa mengeryit menikmati apa yang mereka lakukan tadi.
" Apa harus melakukan sekali lagi agar kau yakin itu digelitik atau di tancap? "
Marisa sontak menjauhkan tubuhnya dari Digo, membelakanginya, lalu bangkit segera.
" Tidak mau! Aku lebih baik ke kamar mandi saja dari pada bersama denganmu main gelitik-gelitik tidak jelas itu. " Ujar Marisa yang jelas sekali tidak mau mengulang lagi, tadi berakhir hampir satu jam, kakinya bahkan sudah gemetar, mana mungkin dia akan mau lagi?
" Apa kau akan menggunakan gagang shower karena kurang luas dengan milikku? " Ledek Digo.
" Digo! " Marisa melotot kesal, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
" Pft...."
Segera setelah Marisa sibuk di dalam kamar mandi, Digo meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Halo, orang sibuk?
Digo mendesah sebal. Kawan lamanya itu masih saja mengeluhkan kesibukan dirinya seperti biasanya.
" Bantu aku melakukan sesuatu, bisa? "
Bisa, tapi sekarang ini aku butuh minum bersamamu, bagaimana?
" Kita akan minum nanti saat aku longgar, tapi bantu aku melakukan sesuatu dulu. "
Tenang saja, apa yang harus aku bantu?
" Buat seseorang jatuh miskin secara natural. "
Siapa?
" Mona. "
Pft...! Kau ini gila ya? Memang dia kaya? Dia juga masih miskin, Digo. Wanita itu mengandalkan teman prianya, eh maksudku adik ipar mu untuk membantu perekonomian keluarganya.
Digo menghela nafasnya.
" Cari tahu apakah dia masih menerima uang dari Arnold, dan berikan aku salinan mengenai jumlah hartanya saat ini. "
Heh! Ok, ok! Jangan lupa uang jajan untukku kalau sudah selesai pekerjaannya.
" Aku tahu. " Digo menjauhkan ponselnya begitu panggilan dia akhiri. Masa bodoh dengan hubungan antar ipar, toh yang bisa ia terima hanyalah Marisa beserta bayi mereka.
Mona, mari kita lihat seberapa besar usahamu untuk mencetak uang nanti setelah kau kesulitan. Tapi tenang lah, aku juga tidak begitu jahat kok, karena aku sudah memilih beberapa pria berperut besar dan kepala botak untuk bisa kau jadikan mesin uang.
Bersambung...