Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 35



Arnold menatap sebuah surat undangan berwarna gold yang dikirim dari salah satu kenalan bisnisnya. Sejenak dia berpikir, bagaimana kalau membawa Shen kesana? Tapi kalau ada yang menanyakan tentang Mona bagaimana? Selama ini kan Mona yang selalu ikut untuk menghadiri pesta semacam ini bersama Arnold.


Arnold menghela nafasnya. Kalau dia datang sendiri bukannya aneh? Kalau membawa Shen takut Shen tidak senang saat ada yang membahas tentang Mona, kan juga tidak mungkin membawa Mona di situasi yang sedang genting ini?


Tok Tok


Suara pintu diketuk, dan Andre lah orang yang masuk kedalam sembari menyapa hormat Arnold.


" Selamat pagi, Presdir? Saya mengingatkan anda untuk bersiap menghadiri rapat tiga puluh menit lagi. "


" Iya aku tahu. "


" Baik, kalau begitu saya akan kembali tiga puluh menit lagi. " Andre menunduk dan siap berbalik untuk keluar dari ruangan Arnold.


" Tunggu! "


" Iya, Presdir? "


Arnold nampak berpikir sebentar karena ragu juga malu ingin bertanya kepada Andre, tapi kalau tidak bertanya dia juga merasa bingung sendiri.


" Menurutmu, apakah tidak masalah datang seorang diri ke undangan ini? "


Andre mengeryit sejenak karena tidak paham, tapi saat dia teringat kembali hubungan Presdirnya dengan istri, rasanya dia sedikit paham sekarang.


" Presdir, saya mendengar kabar kalau Nona Mona juga di undang di acara itu karena mereka juga mengenal baik Nona Mona. "


Arnold mengangguk paham, dia memaksakan senyumnya, lalu menggerakkan tangannya untuk memberitahu bahwa Andre sudah boleh pergi dari ruangannya.


Setelah lagi berpikir, Arnold akhirnya memutuskan untuk mengajak Shen saja. Dia mengirim pesan singkat kepada Shen, lalu segera mendapatkan balasan setuju darinya.


Lusa, tepatnya malam dimana pesta itu di gelar.


Shen tersenyum melihat penampilan dirinya dari pantulan cermin. Dress panjang dengan lengan dan dada yang sedikit terbuka, heels berwarna maroon senada dengan pakaian yang ia gunakan, rambut panjangnya terurai dengan sedikit curly di bagian bawah rambutnya, sapuan make up natural tapi begitu jelas memancarkan wajah cantiknya. Senyumnya yang mengembang hingga menampilkan barisan giginya yang rapih dan putih seolah menambah kecantikan itu. Aroma parfum yang melekat di tubuhnya juga begitu harum dan tak membosankan.


Shen meraih ponselnya, lalu menghubungi sopir untuk segera bersiap. Tak perlu lagi menghawatirkan Asha, karena tentu saja Asha sudah dijemput oleh orang tuanya. Meski wajah Ibu Resa terlihat tidak enak saat itu, tapi rasanya Shen lebih merasa yakin jika Asha dititipkan kepada orang tuanya sendiri.


Tak, Tak, Tak...


Suara heels begitu nyaring terdengar saat Shen menuruni anak tangga mengundang dua orang yang tengah mengobrol menatapnya dengan tatapan kagum meski mereka enggan mengakuinya.


" Kak Shen mau kemana? " Tanya Anya dengan tatapan aneh.


" Suamiku sudah menunggu di hotel bintang lima, atau hotel X. Ada acara dari rekan, jadi aku menyusul sesuai dengan permintaan nya. "


Anya tersenyum miring.


" Aneh sekali, seharunya kakak menjemputmu dulu kalau memang ingin mengajakmu pergi, kenapa harus ada acara menyusul segala? "


Shen tersenyum tak menunjukkan ekspresi apapun. Dia memang sengaja ingin memberikan waktu untuk Mona mencoba menggoda Arnold, membiarkan dia terbang terlebih dulu, baru saat dia datang nanti, dia lah yang akan menjatuhkan Mona ke dasar paling menyakitkan.


" Suamiku berangkat terlebih dahulu karena aku yang memintanya, lagi pula aku merasa kasihan kalau dia harus menungguku bersiap. "


Aya tak lagi bicara karena dia tahu akan membuatnya kesal jika ucapannya dilanjutkan.


***


" Seru sekali? Aku boleh bergabung tidak nih? " Mona tersenyum begitu semua orang menoleh padanya.


" Hei, Mona? Apa kabar? Kau semakin cantik saja ya? " Sapa salah satu rekan Arnold, yang juga mendapatkan senyuman hangat dari yang lainya. Sementara Arnold, pria itu terus menoleh ke pintu masuk menunggu kedatangan Shen.


" Aku baik, bagaimana kabar kalian semua? " Mona menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinganya dengan senyum yang menggoda.


" Baik, seperti yang kau lihat. "


" Mona, Arnold benar-benar beruntung memiliki kekasih sepertimu. Kau cantik, juga terkenal dengan kepintaran mu dalam beberapa aspek. Aku rasa, banyak sekali wanita yang iri dengan keberuntungan mu. "


Mona tertawa kecil, dia menutup mulutnya bagai seorang putri kerajaan yang beretika bagus.


" Arnold, apa yang kau cari? " Tanya rekan Arnold yang mendapati Arnold terus menatap ke arah pintu masuk.


" Hah? Aku sedang- "


" Mona sudah ada disini, apalagi yang kau cari? Apa kau mencari istri gendut mu itu? " Ledek rekannya lalu tertawa kecil bersamaan.


Sebenarnya Arnold sama sekali tidak konsentrasi mendengarkan ocehan para rekannya, karena dia terlalu cemas menunggu kedatangan Shen.


" Kalian jangan bicara begitu, semua wanita tentu saja cantik, apapun kondisinya. "


" Mona, hatimu sangat baik ya? "


" Ah, biasa saja. Aku kan seorang wanita, tentu saja tahu benar rasanya kalau ada yang mencelaku seperti itu. "


" Mana ada yang akan mencela mu? Semua yang ada pada dirimu sangatlah sempurna, jadi kau tenang saja. "


Mona tersenyum malu-malu, sementara para istri rekan yang tengah mengobrol melirik kesal.


" Cih! Mana ada manusia sempurna semacam itu? Cara dia berperilaku memang seperti putri kerajaan yang bersekolah etiket. Tapi dia tetaplah wanita jal*ng yang mengganggu rumah tangga orang lain kan? " Bisik para istri pembisnis yang ada disana.


Sebenarnya Mona selain memiliki penggemar pria, dia juga banyak digemari oleh para wanita. Hanya saja sebagian yang sudah tahu mengenai percintaan Mona dan Arnold yang gosipnya sudah memiliki istri, tentu Mona juga memiliki pembenci meski mereka hanya bisa bergumam di dalam hati.


Tak... Tak...


Suara heels seorang wanita cantik kini mencuri perhatian seluruh tamu undangan. Dia tersenyum dengan lembut, tatapan seorang wanita yang memancarkan kecerdasan, kekuatan, dan kelugasan. Iya, dia adalah Shenina. Wanita yang selama ini hanya menjadi bahan gosip karena tubuh tambun dan penampilannya yang persis seperti badut jalanan meski mereka sama sekali belum pernah melihatnya secara langsung. Namun pada nyatanya, nama Shenina menjadi bahan candaan karena Mona membocorkan ciri-ciri Shen kepada teman-teman Arnold meski tidak secara langsung. Seperti, Arnold dia lebih menyukai istri yang gemuk. Arnold, dia lebih menyukai wanita yang berdandan seperti badut. Arnold, bla bla bla....


" Siapa wanita cantik itu? Kok aku belum pernah melihatnya? "


Mona melotot kaget, juga marah. Tangannya mengepal kuat hingga bergetar tanpa dia sadari.


" Aku tidak kenal, kenapa bisa datang ke pestaku? Apa bidadari ini nyasar? " Ujar rekan Arnold yang si pemilik acara.


Shen tersenyum begitu mendapati Arnold menatapnya dengan penuh kekaguman, jakunnya naik turun melihat bagiamana penampilan Shen malam ini. Hingga dia tetap dia dengan kekaguman sampai Shen berada dihadapannya dengan senyum yang begitu indah.


" Suamiku, maaf aku terlambat. " Shen meraih lengan Arnold dan kembali tersenyum manis.


" Ka kau? Kau, kau, kau? Kau adalah Shenina yang katanya istrinya Arnold? "


Bersambung.....