
Shen menghempaskan tubuhnya di tempat tidur dengan senyum yang mengembang indah. Beberapa saat sebelum menyusul Mona ke ruang baca Arnold, dia sempat merasakan ada sesuatu yang hangat keluar dari intinya. Tidak perlu memastikan, karena dia ingat bahwa tamu bulanannya memang seharusnya datang satu hari sebelumnya, jadi dia tidak perlu was-was karena ini juga bisa menjadi bagian permainan yang luar biasa natural.
Sejujurnya Shen memang tidak bersungguh-sungguh ingin memberikan tubuhnya kepada Arnold, entahlah! Rasanya dia masih belum rela ketika Mona masih ada di dalam kehidupan mereka. Tapi tidak masalah, toh wanita itu juga perlu di berikan pelajaran agar tidak semena-mena terhadap dirinya, terutama putrinya.
" Mona, seberapa lama kau akan kuat? Aku sungguh menantikan hari-hari dimana kau terus merasa sakit, tapi kematian seolah menjauhi mu. Menangis, dan lebih bekerja keraslah untuk merebut Arnold, karena kalau kau berhenti, itu akan menjadi tidak asik lagi. " Shen kembali tersenyum, dia bangkit lalu berjalan menuju jendela kaca yang ada di sudut ruangan, dibukanya lebar-lebar tirai yang menutupi, lalu membuka jendela dan membiarkan angin malam masuk ke dalam kamarnya.
" Lihatlah, bagaimana monster yang kalian ciptakan ini menjadi sangat buas. " Shen menutup matanya, menikmati semilir angin malam yang menerpa wajahnya.
***
Setelah meminta sopir untuk mengantarkan ponsel milik Mona, Marisa bergegas membuka ponsel itu, dan untunglah Mona menggunakan tanggal lahirnya sebagai kunci layar ponselnya. Dengan cepat dia membuka kontak person, lalu mencari nama Arnold disana. Tak lama dia akhirnya mendapatkan kontak yang diberi nama My Arnold. Segera dia menghubungi kontak itu, tapi sudah sampai berkali-kali tidak mendapatkan jawaban. Jadilah Marisa mengirim pesan singkat untuk memberitahukan keadaan Mona saat ini.
" Kak, sebenarnya laki-laki bernama Arnold ini seberapa pentingnya untukmu? Kenapa sampai melakukan hal gila yang melukai dirimu? Jika memang dia tidak mencintaimu, untuk apa dipaksakan? Dunia ini luas kak, miliaran pria yang hidup, kenapa membutakan mata untuk melihat kenyataan itu? " Marisa menghela nafasnya, sebenarnya dia juga tidak terlalu paham dengan urusan cinta karena dia belum pernah merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Tapi, dia juga setidaknya paham kalau cinta yang membuat orang kesakitan, bukankah itu cinta yang tidak sehat? Bukankah seharusnya cinta itu indah dan bahagia?
" Arnold.... "
Marisa memejamkan mata karena kesal sendiri degan kakaknya yang terus saja mengigau nama Arnold. Rasanya ingin sekali dia menemui pria itu, lalu memberikan tamparan keras kepadanya karena sudah membuat kakaknya menderita seperti ini.
" Arnold.... "
" Diamlah, kak! Kenapa kau begitu menggilai pria sampai seperti ini? " Kesal Marisa tapi tak berani menggunakan suara lantang dan hanya pelan dia berucap.
Pagi Harinya.
Arnold yang melupakan ponselnya di ruang baca kini sudah mendapatkannya lagi. Dia membuka kunci layar ponselnya, lalu membaca satu persatu pesan yang masuk. Setelah membaca pesan dari nomor Mona, dia bergegas keluar dari ruang bacanya, lalu berjalan cepat melewati semua anggota keluarga yang sudah berkumpul untuk sarapan pagi.
" Arnold, Tunggu! "
Arnold berhenti, lalu membalikkan tubuh menatap sang pemilik suara yang tak lain adalah Shen.
" Kau mau kemana? "
Arnold terdiam sesaat. Apakah dia harus menjawab? Kalau tidak menjawab, bukankah akan menjadi tidak terkendali semua kesalahpahaman di antara mereka?
" Kenapa diam? Kau tidak mungkin datang ke kantor sepagi ini kan? " Tanya lagi Shen yang sepertinya dia tahu kemana Arnold akan pergi.
" Mona, dia masuk rumah sakit. "
Shen tersenyum kelu, benar dugaannya. Memang sulit sekali membuat pria yang menjadi suaminya ini memiliki keteguhan, tapi tidak apa, bukankah permainan baru di mulai?
" Kalau begitu, pergilah! "
Arnold mengeryit bingung, bukankah biasanya Shen akan melarangnya pergi? Tapi kenapa dia bisa mengizinkan dengan bibir yang tersenyum seolah tidak masalah?
" Apa kau ingin ikut? "
Shen memggeleng, ikut? Bagaimana permainan akan berlangsung kalau dia ikut? Meskipun dia sangat cemburu dan ingin sekali menarik Arnold agar tidak pergi, tapi bukankah tindakan itu akan merugikan dirinya sendiri?
" Kau yakin? " Tanya lagi Arnold, sebenarnya dia merasa tidak enak dengan Shen, tapi walau bagaimanapun Mona juga orang yang dekat dengannya, jadi dia berpikir penting untuk menjenguk Mona dan mengetahui kondisinya secara langsung.
" Ya, aku kan harus mengantar Asha ke sekolah, dan aku juga ada hal yang jauh lebih penting ketimbang menjenguk Mona. " Shen lagi-lagi tersenyum.
Arnold terdiam karena merasa tersentil dengan ucapan Shen yang seolah menjelaskan bahwa dia terlalu mengutamakan Mona ketimbang putrinya sendiri.
" Aku akan pergi setelah mengantar Asha ke sekolah. "
Shen tersenyum, dia tahu benar cara untuk menggunakan nama Asha agar Arnold paham dengan tindakannya.
" Asha masih belum sarapan, kau yakin? "
" Iya, aku juga akan sarapan terlebih dulu. " Arnold berjalan kembali untuk menuju meja makan bersama Asha dan yang lainya.
Tunggulah lebih lama, Mona. Suamiku harus mengutamakan keluarganya dari pada orang asing sepertimu.
Tak nampak khawatir, Arnold mulai menikmati sarapannya bersama Asha, Ibu dan juga adiknya. Mungkin perlahan menjauhkan Mona dan Arnold membutuhkan kesabaran ekstra, tapi apapun caranya, Shen tidak akan mau mengalah seperti dulu walaupun sekali saja.
Setelah sarapan selesai, Shen ikut bersama dengan Arnold untuk mengantarkan Asha ke sekolah.
" Aku antar kau pulang dulu. " Ucap Arnold setelah menurunkan Asha di depan pintu gerbang sekolah, dan sudah memastikan Asha masuk ke kelas dengan aman.
" Tidak perlu, aku ingin menemui Zera sembari menunggu Asha pulang sekolah. "
" Baiklah, aku pergi dulu. "
" Tunggu! " Shen menahan lengan Arnold, lalu mengecup singkat pipinya.
" Hati-hati dia jalan. " Shen tersenyum.
" Iya. " Arnold masuk kedalam mobil, lalu bergegas melajukan mobilnya. Setelah cukup jauh dari Shen, dia mengingat kembali Shen yang baru saja memberikan ciuman di pipinya. Dia tersenyum tipis seraya memegang pipinya dengan rona merah yang menghiasi wajahnya.
Temui dia, dan biarkan Mona melihat bagaimana keadaanmu.
***
Mona gelisah sendiri karena Arnold tidak kunjung datang menemuinya. Sudah empat jam semenjak dia bangun, dan harapan terbesarnya adalah Arnold yang akan datang menemuinya dengan wajah khawatir, lalu menanyakan apa yang terjadi kepadanya. Tapi mana? sudah selama ini dia menunggu, kenapa Arnold belum juga muncul?
" Arnold, apakah kau tidak akan menemui ku? Aku sudah berundak sejauh ini hanya untukmu, seharusnya kau perduli padaku, dan menyadari jika cinta yang aku miliki jauh lebih besar dari pada cinta yang Shen miliki. " Gumam Mona sembari menangis tetisak-isak.
Marisa menghela nafas sebalnya. Lagi-lagi Arnold, batinnya menggerutu kesal.
Klek..
Suara pintu terbuka, dan membuat Mona cepat melihat ke arah sana. Dengan cepat dia menyeka air matanya, dan mulai tersenyum bahagia.
" Arnold, kau sudah datang? "
" Iya, bagaimana keadaanmu? " Tanya Arnold seraya berjalan mendekat dan meletakan sekeranjang buah di meja yang ada disamping brankar.
" Aku ba- " Mona terkejut melihat banyaknya tanda merah dileher Arnold, juga bekas lipstik di pipinya. Mona kembali menahan tangis dengan wajah yang mulai kesal.
Shen! Kenapa kau harus kembali?! Kenapa tidak mati saja waktu itu?!
Bersambung......