Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 87



Shen terdiam memandangi Damien yang tertidur pulas. Benar-benar aneh, batin Shen menggerutu. Bagaimana tidak? Baru sebentar dia menceritakan hal sedih, lalu menyender dipundaknya, dan tiba-tiba dia mendengkur halus. Merasa tak tega untuk membangunkan, Shen perlahan memindahkan posisi kepala Damien, dan kini sudah berada di pangkuannya. Shen tanpa sadar tersenyum melihat wajah polos itu, mengelus rambutnya dengan lembut dan hati-hati, juga terus mengamati komposisi wajah tampan itu. Garis rahangnya yang tegas, alis tebal, hidung, juga bibirnya yang sangat sempurna, bahkan Shen juga terpana melihat bulu mata Damien yang lentik juga tebal.


Tidak tahu sejak kapan hatinya mulai terarah kepada laki-laki yang awalnya dia anggap brengsek, tapi jika dipikirkan lagi, bukankah tidak ada satu manusia yang sempurna di dunia ini? Damien boleh bajingan kalau untuk masalah perempuan, tapi dia juga anak yang baik. Jika ada yang bertanya, mengapa jatuh cinta dengan seorang bajingan seperti Damien? Maka Shen hanya akan bisa mengangkat bahu, dan mengatakan 'tidak tahu'. Iya, sampai detik ini, dia sama sekali tidak tahu apa yang membuatnya jatuh cinta dengan pria itu, Seringkali dia menebak-nebak, apakah karena Damien selalu muncul terus menerus, lalu membuat hatinya terbiasa dan membuatnya merasakan kehilangan saat Damien pergi? Tidak, bahkan Shen tidak sanggup mengiyakan tebakannya sendiri.


" Da- " Alice melotot kaget melihat Shen yang tengah memangku kepala Damien. Oh, sebenarnya dia lebih kaget lagi karena melihat ada wanita yang berada di kamar Damien. Jangankan di kamar, di bawa sampai ke teras rumah juga belum pernah ada. Sementara Shen, dia juga kaget, tapi hatinya malah sibuk menebak-nebak, siapa wanita cantik itu?


" Ups... Enjoy, bye..... " Alice perlahan menutup pintu kamar Damien, membuatkan adik laki-lakinya itu tertidur. Bukan tanpa alasan, selama sebulan ini dia terus melihat bagaimana Damien saat tidur, gelisah, berkeringat dingin, bahkan sering histeris. Tadi itu dia sangat nyenyak dan nyaman berada di pangkuan seorang wanita, jadi dia bisa menebak bahwa wanita itu pasti memiliki arti yang sangat luar biasa di hati Damien.


" Eh? " Shen mengerutkan dahi karena bingung, tapi hatinya juga merasa tenang karena jelas wanita itu bukan kekasih atau teman mesranya Damien. Karena kalau iya, wanita itu pasti sudah akan marah, atau merengut cemburu.


Satu jam empat puluh menit Damien tertidur pulas di pangkuan Shen, dan si pemilik paha itu sudah bergerundel kesal karena sakit, dan juga pegal. Ah, menyesal sekali menaruh kepala pria itu disana, kalau tahu akan selama itu, dan akan terasa sakit, lebih baik biarkan saja tadi kepalanya di ujung Sofa.


" Damien! " Shen menepuk pelan wajah pria itu karena benar-benar tidak tahan lagi, ditambah kakinya sudah kesemutan beberapa kali.


" Em? " Damien membuka matanya pelan, dia sedikit kaget melihat wajah Shen berada di atasnya, dan tentu dia menyadari jika dia berada dipangkuan Shen. Segera dia bangkit dengan mata memerah khas bangun tidur.


" Maaf, Shen. Aku tidak sengaja ketiduran. " Pinta Damien seraya mengusap matanya.


" Ketiduran mu hebat sekali, kakiku, ah! "


" Ada apa? "


" Kakiku pegal, kesemutan juga. "


Damien segera mengangkat kaki Shen perlahan-lahan, lalu memijatnya dengan lembut.


" Bagaimana? "


Shen tertegun, sebenarnya ini adalah kali pertama dia diperlakukan seperti itu. Rasanya memang tidak biasa, tapi ini cukup terasa manis, dan mengharukan.


" Shen, apakah sakit sampai kau tidak bisa bicara? " Damien menatap khawatir, tentulah dia tidak tahu kalau apa yang dirasakan Shen, selain dia juga tidak memikirkan kalau tindakannya ini terbilang romantis, Shen juga sama sekali tidak terlihat terharu seperti yang hatinya rasakan.


Shen berdehen untuk mengusir sejenak pikirannya yang sempat tertegun oleh tingkah manis Damien.


" Sudah, ini sudah lebih baik kok. "


" Sungguh? " Shen tersenyum dan mengangguk.


Damien bangkit dari posisinya, melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


" Ya ampun! Berapa lama aku tertidur di pangkuanmu tadi? " Tanya Damien yang merasa kaget mendapati malam hari sudah mulai tiba.


" Satu jam, empat puluh menit. " Ucap Shen sedikit menunjukkan rasa sebalnya.


Damien terdiam sesaat, dia sungguh tidak tahu kalau dia akan tertidur dengan begitu nyenyak dengan adanya Shen di dekatnya, oh apakah ini karena pangkuan Shen yang begitu nyaman?


" Maafkan aku, Shen. Aku benar-benar tidak sengaja, tidak tahu juga kenapa aku bisa se-nyenyak tadi. "


" Tunggu, Shen! Kenapa harus ke hotel? Kau bisa tidur disini kok. "


Shen menghela nafas sebal, dia mencubit pelan pipi pipi Damien.


" Jangan sembarangan Damien, kau dan aku bukan suami istri, jadi tidak boleh tidur di ranjang yang sama. "


" Tapi di negaraku banyak kok yang hidup bersama tanpa menikah. "


Shen memaksakan senyumnya.


" Bagaimana kalau kau segera menikah saja dengan orang dari negaramu? "


" Kan maunya menikah denganmu. "


" Kalau begitu, ikuti saja aturan negaraku. "


Damien tersenyum lebar.


" Jadi kau sudah setuju menikah denganku? "


" Eh? " Shen menelan salivanya, aduh! kelepasan batinnya.


" Shen, " Damien meraih tubuh Shen, mendekatkan wajahnya, lalu membenamkan bibirnya di bibir Shen. Tak bisa menolak, Shen mengikuti saja bagaimana hatinya inginkan, juga bagaimana cara Damien menciumnya. Masih tak cukup, Damien membawa tubuh shen kedalam gendongannya, menuntun kedua kaki Shen untuk melingkar di pinggangnya, membawa tubuh itu mendekati dinding agar bisa lebih kuat menahannya. Merasa bahwa Damien mulai kehilangan kendali, Shen segera menghentikan Damien, apalagi tangan Damien sudah akan menelusup masuk ke bajunya.


" Damien, bukanya kita harus berhenti? "


Damien sontak menghentikan laju tangannya, dia juga berhenti mengecup leher Shen. Iya, dia benar-benar terbawa suasana, dan untung saja Shen menghentikannya sebelum dia semakin kesulitan menahan diri.


" Maaf. " Ucap Damien.


" Tunggu aku sebentar, biar aku yang mengantarmu. "


" Aku bisa sendiri. "


" Tidak boleh. " Damien menurunkan Shen hati-hati, lalu berjalan mendekati pintu kamar, menguncinya, lalu membawa masuk kunci itu kedalam kamar mandi.


" Tunggu aku sebentar, ok sayang? " Damien tersenyum karena ucapannya hanya mendapat helaan nafas sebal dari Shen.


Shen mendudukkan dirinya seraya menyentuh wajahnya yang terasa panas. Untung saja, dia masih bisa mengontrol diri tadi. Kalau tidak, hah! Benar-benar tidak tahu lagi apa yang akan terjadi.


Sementara di dalam kamar mandi, Damien yang sudah terlanjur tegangan tinggi terpaksa menggunakan tangannya lagi seperti sebelumnya. Tidak apa-apalah, nanti juga datang waktunya menjadi tugas Shen meninabobokan bagian bawahnya.


Shen, aku benar-benar bisa gila kalau seperti ini terus. Lebih baik cepat menikah saja kan? Huh! Setelah ini harus segera menemui orang tua Shen, oh! Satu lagi, aku maunya saat menikah tidak ada drama datang bulan seperti kebanyakan novel romansa yang pernah aku baca.


Bersambung....