Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 95



Mona mengusap perutnya dengan lembut karena merasa bahagia dengan kehamilan yang terbilang mudah. Jika banyak Ibu hamil yang terus muntah, atau bahkan sama sekali tidak bisa makan, maka lain bagi kehamilan Mona. Selera makannya seolah tak berubah, dia masih saja bugar, juga tidak merasakan mual yang berlebihan.


Hari ini kehamilannya sudah memasuki usia dua bulan, Mona masih tetap merasakan bahagia meski sadar benar kehamilannya ini terjadi diluar hubungan pernikahan? Malu? Tidak, dia sama sekali tidak lagi merasakan malu. Mungkin ini karena perutnya belum membesar, jadi tidak ada orang yang akan bergunjing, atau mungkin juga Mona sudah tidak akan lagi memperdulikan itu.


Sudah tidak tahu lagi bagaimana kabar Bastian, karena Mona benar-benar memutuskan hubungannya dengan Bastian. Kalaupun dia ingin menanyakan perihal bayinya, Mona akan mengirim email, atau melalui ponsel milik orang yang kini tinggal bersamanya karena perintah dari Bastian yang ingin bayi di dalam kandungan Mona tetap sehat, dan memastikan dengan sangat teliti. Mulai dari makanan, minuman, kebersihan, bahkan orang yang dipekerjakan Bastian juga mencatat kegiatan apa saja yang dilakukan Mona seharian.


" Nyonya, apa anda sudah meminum vitamin anda? " Tanya pelayan setelah membuka pintu kamar Mona.


" Sudah, tidak usah khawatir. Aku selalu memasang pengingat di ponselku, jadi tidak perlu khawatir mengenai itu. " Mona menatap sebentar, lalu kembali mengubah arah pandang untuk memandangi jendela kaca yang menyuguhkan pemandangan kota di malam hari.


Seperti inilah hari-hari yang dilalui Mona, nampak seperti burung yang terkurung di sangkar indah, tapi kehamilan membuatnya merasakan bahagia hingga lupa bagaimana rasanya sedih. Bosan memang kadang-kadang ia rasakan, tapi jika hal itu tiba, Mona akan mengajak bicara bayi yang ada di dalam perutnya untuk berbicara, dan menceritakan banyak hal-hal lucu yang kadang juga membuat Mona tertawa sendiri.


Dibelahan bumi yang lain, Anya berjalan menuju tempat tinggalnya yang tak jauh dari tempat ia bekerja sebagai penjaga toko roti, hanya butuh sepuluh menit untuk berjalan kaki. Hari ini memang dia terlambat pulang karena harus menyelesaikan pesanan roti untuk acara ulang tahun langganannya. Jujur agak takut juga dia berjalan di tengah malam seperti ini, tapi mau bagaiman lagi? Tidak mungkin kan dia menginap di toko roti?


" Halo, nona manis? "


Anya sontak menghentikan langkahnya, matanya bulat karena terkejut dengan dua pria tunggi besar tiba-tiba datang, lalu berdiri tepat dihadapannya. Meskipun malam hati agak kurang penerangan, dari cara bicara kedua pria itu sudah jelas kalau mereka memiliki maksud yang kurang baik, atau bisa dikatakan buruk.


" Maaf, bisakah biarkan aku lewat? " anya mencoba menggunakan kata-kata sopan nya karena dia tahu benar jika dia tidak akan mungkin bisa melawan dua pria tinggi besar itu. Kalaupun ingin berteriak, siapa yang akan menolong di tempat gelap dan sepi seperti ini?


" Lewat? Kenapa terburu-buru? Bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu? " Kedua pria itu memajukan langkahnya, dan Anya memundurkan langkahnya karena merasa takut.


" Tolong, aku benar-benar harus pulang, kalau kalian ingin uang, aku akan memberikan semua yang aku punya. " Ujar Anya seraya menyodorkan tasnya.


" Hehe, kami memang akan mengambil uangmu, tali kami tidak ingin mengambil dengan gratis, maka biarkan kami melayani sampai puas, baru kami akan mengambil bayarannya. "


Anya melotot kaget, sepertinya apapun yang dia tawarkan akan sulit untuk membuatnya bebas, maka segera Anya berbalik dan bersiap untuk lari. Baru saja tiga atau empat langkah, Anya kini sudah tak bisa lagi bergerak setelah dua pria itu mampu dengan cepat menyusul dan menahannya.


" Kau pikir kau bisa lari degan kaki pendek mu? " Salah satu dari pria itu mencengkram wajah Anya, lalu memperhatikan dengan seksama.


" Heh! Lumayan juga. "


" Jangan! Tolong! Tolong! " Teriak Anya yang merasa kalau sudah tidak memiliki pilihan lain lagi.


" Diam! " Ucap Pria itu seraya menampar pipi Anya.


Bug!


Seorang pria tiba-tiba datang, lalu menendang tangan pria itu dan membuat wajah Anya terlepas bebas.


" Mau cari mati ya?! " Kedua pria itu mulai maju untuk menyerang, tinjuan, tendangan, sudah entah berapa kali, tapi nyatanya pria penolong, alias Max masih tak mendapati luka. Dengan bermodalkan sebuah batu, Max memukul wajah salah satu pria itu hingga ambruk, dan satu lagi mengeluarkan pisau lipat yang tersimpan di jaketnya.


Gerakan-gerakan yang diarahkan kepada Max dengan tujuan untuk menikam Max, Mash bisa Max hindari dengan selamat. Tapi saat satu pria yang tadi terjatuh itu terbangun, Max yang saat itu sedang berkonsentrasi dengan satu pria yang sedari tadi menghajarnya, dia tidak memiliki kesempatan untuk menghindar.


" Awas! " Teriak Anya.


" Ah! " Pekik Max saat pisau itu menancap di punggungnya. Karena merasa takut karena suara mobil polisi yang datang mendekat, mereka berdua segera berlari.


" Kau baik-baik saja? Ada mobil patroli di depan, ayo aku antar ke rumah sakit. "


Max menunduk tak berani menatap Anya, dia malah semakin memperbaiki topinya agar Anya tidak bisa mengenalinya. Sakit, sungguh sangat sakit punggung yang tertusuk pisau, tapi kalau sampai dia keluar dari area gelap itu, lalu Anya melihat wajahnya, maka dia akan lebih sakit lagi melihat Anya ketakutan saat tahu bawa itu dirinya.


" Aku baik-baik saja. " Max memberatkan suaranya agar Anya tidak mengenalinya, lalu perlahan bangkit, dan dengan cepat berlari ke mobilnya, lalu melesat dengan capat.


" Selamat malam Nona? Beberapa menit lalu seorang pria menghubungi kalau di sini ada dua pria yang hendak melakukan kekerasan, anda kah? "


Anya menolah ke polisi patroli setelah beberapa detik terus menatap memperhatikan punggung pria yang menolongnya seolah dia mengenalinya.


" Mereka sudah pergi, dan pria tadi itu yang menolongku. Dia terluka, punggungnya tertusuk pisau. "


" Baiklah, anda ikut teman saya untuk memberikan keterangan, sementara saya akan menyusul pemuda itu dan memastikan keadaannya.


" Terimakasih, mohon bantuannya. " Ucap Anya.


Kenapa, suara memekik saat tertusuk pisau itu mirip dengan Max? Atau ini hanya halusinasi ku saja karena akhir-akhir ini pikiranku sedang kacau?


***


Arnold meneteskan air mata saat melihat kembang api dengan dua kalimat yang sangat menusuk hatinya. Hari ini adalah hari ulang tahun Shen, dia sengaja datang untuk menemui Shen lalu mengucapkan selamat ulang tahun, tapi baru saja sampai di luar gerbang, dia melibat kembang api yang pasti itu dari Damien.


" Shen, selama tujuh tahun ini aku sama sekali tidak memberikan kesan indah saat kau ulang tahun, hari ini pun aku tidak memiliki kesempatan.


Will You Marry Me, Shen? kalimat yang tertulis dari kembang api itu benar-benar membuatnya merasa terguncang sekali. Tapi mau bagaimana lagi? Semua yang terjadi juga karena kebodohan dirinya.


" Shen, akankah kau menerima Damien? " Tak lama terdengar suara bertepuk tangan yang ramai, dan ini semakin menyakiti hati Arnold, karena itu berarti Shen menerima lamaran dari Damien.


Bersambung...