Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 37



" Ah! " Mona memukul-mukul setir mobil dengan perasaan marah yang membuncah. Nafasnya yang tersengal karena tekanan di dada membuat dadanya naik turun seraya tarikan dan hembusan nafas berjalan.


Pesta yang biasanya akan membuat namnya semakin dikenal, dikagumi, mendapatkan banyak rasa iri dari wanita yang menyadari kelebihannya, bahkan biasanya dia akan pulang, lalu menceritakan banyak hal kepada Ibunya dengan perasaan bahagia.


Apa yang terjadi sekarang? Hancur! Semua image baik yang selama ini dia bangun, sungguh itu sangat tidak mudah, karena tetap memiliki citra baik meskipun kebanyakan orang sudah tahu hubungannya dengan Arnold. Hanya gara-gara kemunculan Shen, semua itu hancur dan tidak mungkin bisa lagi di perbaiki.


" Brengsek! Kau pikir kau siapa, huh?! Kau dulunya memang jelek, macam badut! Kenapa aku yang disalahkan?! Shen....! Aku benar-benar membencimu! "


Mona menangis sesegukan, tangannya terus saja memukul kemudi mobil dengan perasaan yang amat marah. Sungguh, dia tidak tahu kalau akan jadi seperti ini, padahal mimpinya tentang Arnold sudah tersusun rapih dan indah. Tentu tidak mudah menerima kenyataan ini, hingga dia sendiri tidak sanggup dan tidak rela kalau harus mengalah begitu saja.


Mona menyeka air matanya, sejenak dia menata dengan tatapan yang tidak biasa. Dia menstarter mobilnya, lalu menjalankan dengan kecepatan yang semakin tinggi.


" Shen, bahkan aku rela mengorbankan nyawaku demi untuk menang darimu. " Mona memejamkan matanya, mengurangi kecepatan laju mobilnya, dan....


Brak......


***


Shen tersenyum tipis melihat bagaimana Arnold memperlakukannya malam ini. Mulai dari memberikan jas untuk menutupi bagian atas dadanya yah menyembul, mengambilkan anggur, juga mengambilkan makanan yang tersedia di pesta itu. Arnold juga tak segan memperkenalkan Shen kepada teman-temannya, bahkan dia terus menggenggam jemari Shen.


" Sudah maju selangkah. " Shen menghempaskan Dress panjang yang tadi ia kenakan di pesta. Kini dia berdiri dengan tubuh polos di hadapan cermin yang memantulkan seluruh gambaran dirinya. Kepalanya tergerak seraya mata yang mengamati tubuh polosnya dengan tatapan dingin.


" Jadi tubuh seperti ini yang pria idamkan? Jadi kesempurnaan bagi kebanyakan pria adalah tubuh dan wajah yang seperti ini? Betapa tidak tahu malunya pria yang seperti itu! " Shen mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan dingin. Sesungguhnya Shen selalu berpikir keras selama ini, bagaimana bisa wanita yang memiliki tubuh bagus, dan wajah menarik selalu dia anggap cantik? Kenapa tidak ada yang perduli kalau ingin memiliki semua itu juga sakit dan tidak mudah? Kenapa saat dia gemuk tidak ada yang melihatnya seperti sekarang? Kenapa wanita harus menjadi cantik? Kenapa tidak ada yang mencintai wanita dan membiarkan dia nyaman dengan apa yang dia inginkan?


Sudahlah, untuk apa juga selalu memikirkan hal ini? Toh semua sudah terjadi, dia hanya perlu menjalani dan sebisa mungkin tetap pada tujuannya.


Shen berjalan menuju lemari pakaiannya, meraih baju tidurnya untuk ia kenakan.


" Shen, ponselmu- " Arnold terdiam karena melihat tubuh Shen yang masih belum berbusana. Arnold semakin menelan salivanya saat Shen menatapnya degan senyum yang indah. Sungguh sulit sekali menahan sesuatu yang mulai menguasai dirinya, Shen juga hanya memegangi baju tidur itu seolah membiarkan Arnold melihatnya.


" Ada apa? " Tanya Shen lagi-lagi tersenyum. Tapi sekarang dia malah meletakkan bajunya ke tempat tidur, dan ia mulai berbalik untuk mengambil sepasang penutup bagian dalamnya.


" Kenapa diam? " Shen menoleh karena Arnold tak kunjung menjawab.


" Po ponselmu, tadi tertinggal. "


Shen tersenyum tipis. Dia dengan sengaja membalikkan tubuhnya, dan memakai penutup bagian dadanya agar Arnold melihatnya.


" Taruh saja, terimakasih sudah mengantarnya kemari. " Shen menatap Arnold dengan tatapan menggoda, dan tangannya kini mulai tergerak untuk memakai penutup bagian intinya.


Arnold sesungguhnya tengah kesulitan menahan diri, karena sedari tadi dia dengan jelas melihat seluruh lekukan indah tubuh Shen. Mulai dari ujung kaki, hingga ujung kepala. Apalagi saat Shen tersenyum menggoda tadi, rasanya keinginan itu langsung membludak tak bisa ia tahan.


Arnold berjalan cepat, meletakkan ponsel Shen di atas tempat tidur. Tak hanya itu, karena setelahnya, Arnold berjalan mendekati Shen, meraih tengkuknya, lalu segera menyergap bibir indah yang membuat tak karuan sedari tadi.


Shen melirik ponselnya saat Arnold mulai menciumi lehernya dengan buas. Sebuah notifikasi dari Ibunya Mona yang memberi kabar bahwa Mona mengalami kecelakaan, dan dia mengatakan jika Arnold tidak mengangkat telepon darinya.


Shen tersenyum miring, jujur kebencian di dalam hatinya membuatnya tak memiliki perasaan iba lagi.


Mona, kau benar-benar nekat sekali ya? Tapi lihatlah pria yang sedang kau perjuangkan, dia justru mulai mengejarku, bahkan sedang mencoba untuk meniduriku.


Shen kembali tersenyum, dia meraih tengkuk Arnold, membuat mereka kembali berciuman dengan ganas. Arnold sepertinya memang sudah kehilangan kesabarannya karena tangannya terus bergerak memijat bagian dada Shen.


" Arnold, apa kau tidak ingin mengetahui kabar Mona sekarang? " Tanya Shen saat Arnold mulai menurunkan ciumannya sembari membuka pengait braa yang ia gunakan.


" Tidak! " Jawab Arnold lalu melanjutkan kegiatannya.


Shen tersenyum, baiklah! Biarkan saja laki-laki itu mendapatkan apa yang dia inginkan, dan Shen juga akan mendapatkan apa yang dia inginkan.


" Em! " Keluh Shen saat Arnold memainkan ujung dadanya dengan lidahnya, dan mengecupnya lembut.


Shen memejamkan matanya, menikmati apa yang tengah ia rasakan.


" Arnold, aku harus mengangkat telepon! " Ucap Shen yang menyadari ada panggilan masuk di ponselnya.


" Angkat saja! " Ucap Arnold sebentar lalu melanjutkan aksinya.


Shen meraih ponselnya, lalu mengeryit sebentar melihat kontak nama yang menghubunginya. Sementara Arnold, pria itu mulai melucuti seluruh pakaiannya dengan cepat karena Shen juga sudah tidak menggunakan apapun lagi, jadi tidak perlu dia membuang waktu.


" Iya? " Ucap Shen saat panggilan telepon itu terhubung.


No Nona Shen, bisakah saya berbicara dengan Arnold sebentar?


" Ah....! " Pekik Shen saat Arnold mulai memasukkan bagian bawahnya.


" Tapi, itu, tunggu sebentar! " Ucap Shen tersengal-sengal karena Arnold mulai menggerakkan pinggulnya.


" Arnold, Ibunya Mona ingin bicara. "


Arnold tak menggubris karena tidak mau kegiatan panasnya terganggu. Arnold menjauhkan ponselnya, lalu merengkuh tubuh Shen dan menyergap bibirnya penuh hassrat.


" Biarkan saja, kita sedang melakukan ini, jangan memikirkan yang lain. "


Tak ada lagi yang terdengar selain suara lenguhan keduanya. Jika Arnold lupa untuk mematikan ponselnya, maka Shen sengaja membiarkan saja. Kenapa? Karena dia tahu kalau Ibunya Mona menghubungi atas perintah Mona sendiri.


Bersambung.......