
Lelah, itulah yang dirasakan Digo setelah seharian bekerja dengan perasaan sebal. Sebal karena Ibunya tidak mengizinkan untuk dia ikut berbelanja bersama Marisa, juga seharian tida mendapatkan kabar apapun dari wanita itu. Cih! Padahal dia sudah menurunkan gengsi dengan mengirim pesan, tapi tetap saja tidak mendapatkan balasan.
" Cih! Mau apa lagi sih?! Tidak tahu ya kalau aku ini sedang kesal. " Gumam Digo karena melihat mobil Arnold terparkir tak jauh dari gerbang rumahnya. Untung saja dia bisa lewat, kalau tidak, Digo benar-benar akan menabrak mobil Arnold.
" Selamat malam, Tuan Digo. " Sapa satpam penjaga rumahnya dengan senyum yang mengembang seperti biasanya. Memang sudah hal biasa dia menyambut majikannya dengan senyum ramah seperti itu, hanya saja ucapan Ibu Lean pagi tadi seolah terngiang-ngiang di kepalanya.
" Ja, jangan tersenyum seperti itu! "
" Eh, baik. " Satpam itu hanya bisa mengeryit bingung sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Digo, tunggu! " Setelah melihat mobil Digo masuk, Arnold bergegas keluar dari mobil untuk menanyakan perihal Shen dan Asha. Satpam yang sudah akan menutup gerbang itu juga terpaksa menghentikannya karena Arnold menerobos masuk.
" Aduh, aku sedang terburu-buru. " Ucap Digo seraya melangkahkan kaki setelah keluar dari mobilnya.
" Sebentar saja, aku akan langsung pergi saat kau memberitahu dimana Shen dan Asha pergi. "
Digo mendesah sebal, dia berhenti lalu memutar tubuhnya menatap Arnold yang nampak kusut seperti orang yang kekurangan tidur. Iba? Oh, ya tentu saja tidak! Malah dia merasa belum cukup terhibur dengan ini saja.
" Jangan merepotkan diri mencari mereka, bukankah hidupmu sendiri juga sudah cukup merepotkan? Lebih baik kau bantu saja istri keduamu untuk mengecilkan badan, takutnya dia juga akan menjadi Shen kedua yang diselingkuhi olehmu. "
" Aku tidak ada ikatan apapun dengannya, jadi jangan mengalihkan kepada dia. Aku hanya ingin istri dan anakku kembali, tidak ingin yang lain. "
Digo menatap kedua bola mata Arnold yang nampak bersungguh-sungguh. Sebenarnya aneh memang, tapi dia merasa tersentuh juga dengan tatapan itu. Tapi tunggu dulu, Arnold adalah laki-laki yang lemah pendirian kalau soal hati, maka biarkan saja dulu dia menunjukkan seberapa besar, dan seberapa tulus niat dia memenuhi keyakinannya untuk mendapatkan kembali Asha dan Shen.
" Aku tidak bisa mengatakan mereka ada dimana, bukan aku tidak mau, tapi memang aku, dan kami tidak tahu. Satu hal yang ingin aku sarankan padamu, jangan terlalu berharap mereka akan kembali padamu, karena luka yang kau berikan kepada anak dan istrimu itu sudah tidak mungkin bisa mereka lupakan seumur hidup. "
Arnold mengangguk pilu.
" Tentu saja aku tahu. Tapi aku juga tidak bisa menyerah begitu saja, benar, mungkin Shen sudah tidak mencintaiku sebanyak dulu, Asha juga pasti marah padaku, tapi aku yakin dia akan tetap mencintaiku sebagai Ayahnya. Hanya saja, biarkan aku membuat Shen jatuh cinta lagi denganku, dengan semua usahaku sendiri. "
Digo menghela nafasnya. Sialan! Dia biasanya akan memaki kalau bertemu Arnold, tapi kalau dia melas seperti ini dia jadi tidak bersemangat juga untuk memaki.
" Terserah kau saja, tapi ingat, kaca yang pecah bisa saja kau satukan lagi, tapi tidak akan memantulkan gambar dengan jelas. Jika Shen memberimu maaf, yang harus kau ingat adalah, dia akan tetap mengingat luka itu sampai dia mati. " Digo membalikkan badan, lalu meninggalkan Arnold yang terdiam tanpa ingin lagi bicara. Dia kini memilih kembali ke mobil degan wajah yang sangat sedih. Tidak tahu bagaimana caranya menemukan Istri dan anaknya, tapi dia juga tidak akan menyerah. Entah itu harus menghabiskan seluruh sumberdaya keluarganya, tentu saja tidak akan mnejadi masalah.
Arnold meraih ponselnya, lalu menghubungi Andre. Tentu tujuannya adalah untuk kembali mencari keberadaan Shen dan Asha secara detail dan jangan lewatkan petunjuk sekecil apapun.
***
Pukul satu siang di bagian dunia yang lain. Shen tersenyum memandangi wajah Asha yang terlelap karena ini adalah jam tidur siangnya. Merasa tak mengantuk, Shen bangkit dari posisinya, berjalan pelan keluar dari kamar Asha, lalu menuju ruang tengah dan duduk di sebelah jendela kaca yang tertutup karena menghindari masuknya salju yang berjatuhan dari langit.
Shen menghela nafasnya, tangannya tergerak memainkan cincin pernikahan dengan gerakan memutari jari manisnya yang sudah tujuh tahun melingkar di jarinya. Tatapannya nampak sedih, tapi dia juga sudah lelah kalau harus menangis. Meski merindukan pria yang gak kunjung berhenti menyakitinya itu, nyatanya rasa itu seperti sulit menghilang dari hatinya.
" Kau merindukan suamimu? " Tanya Zera seraya berjalan mendekat, dia memberikan secangkir teh susu panas untuk Shen, lalu duduk di dekatnya sembari memandangi salju yang masih saja berjatuhan.
" Merindukan seseorang bukan masalah pantas atau tidak, hanya saja kau terlihat murung akhir-akhir ini. Apa yang membuatmu sedih selain merindukan suamimu? "
" Aku hanya belum terbiasa, pernikahanku dengannya sudah tujuh tahun berjalan, meski aku sering sekali merasakan sakit, nyatanya karena dia juga aku memiliki Asha yang selalu membuatku bahagia. Aku tidak munafik dengan mengatakan rasa cintaku sudah hilang sepenuhnya, hanya saja aku juga takut mendapatkan yang sama jika terus mencintai Arnold. "
Zera menghela nafasnya.
" Apa kau berniat bercerai dan mencari suami baru? Siapa tahu kau akan bertemu dengan pria yang seperti kau inginkan. "
***
" kenapa kau tidak membalas pesanku? " Tanya Digo seraya melepas handuknya untuk berganti dengan baju tidur yang sudah disiapkan oleh Marisa.
Marisa menghela nafasnya, sejenak dia menghentikan kegiatannya yang tegah membersihkan tempat tidur agar nyaman saat mereka tidur, yah meskipun memang sudah bersih.
" Jari-jariku sedang sibuk. " Ucap Marisa lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Digo menatap Marisa jengkel, mulutnya bergerak memaki tanpa suara.
" Kau tidak tahu ya?! Aku ini sibuk sekali, mengirim pesan padamu sampai aku harus buru-buru dan mencuri waktu! Apa tidak bisa membalasnya walaupun satu huruf saja? "
Marisa kini menatap Digo yang baru saja memakai celana pendeknya.
" Kau bilang kau adalah orang yang sangat sibukkan? Kenapa harus begitu menyempatkan diri mengirim pesan padaku, aku malah jadi mengira kalau aku sangat penting loh. "
Digo menelan salivanya sendiri. Apalagi saat Marisa tersenyum tipis padanya, Ah! Jantungnya seperti ingin copot saja.
" A aku hanya takut kau mencelakai Ibuku! Kau kan bisa saja membalas dendam padanya! "
Marisa menggigit bibir bawahnya dengan tatapan kesal, sudah, dia menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan.
" Kalau aku ingin membalas dendam, aku kan bisa melakukanya saat kau tidur? " Marisa tersenyum miring sembari menatap mengancam bagian bawah Digo.
Ngeri! Digo sontak menutupi bagian bawahnya karena benar-benar ngilu membayangkan jika bagian itunya diserang, oh maksudnya dipenggal habis.
" Tenang saja, aku tidak akan memotong punyamu yang hanya sepanjang sumbu lilin. "
Digo melotot kesal.
Bersambung.....