
Mendengar ucapan Arnold yang jelas sekali adalah sebuah peringatan juga ancaman, Damien sama sekali enggan terpancing. Dia lebih memilih untuk memeriahkan Shen masuk dulu karena dia tahu Asha juga lumayan melelahkan kalau Shen yang menggendongnya.
" Shen, apa perlu aku yang menggendongnya hingga ke dalam? "
" Dia putriku, biar aku yang melakukanya. " Sela Arnold tak terima jika Damien menggendong anaknya.
Shen mendesah sebal.
" Aku bisa sendiri, kalian lebih baik pulang saja. " Shen bergegas meninggalkan dua orang yang selalu saja ribut saat bertemu.
" Kau, jangan berani-beraninya mempengaruhi putriku! " Ancam Arnold dengan matanya yang mendelik marah. Sebenarnya bukan hanya tidak senang jika putrinya dekat degan pria lain, dia juga tidak senang kalau sampai Shen merasa Damien bisa mengambil hati putrinya, maka Damien juga bisa menjadi Ayah tiri anaknya juga.
Damien mendesah sebal.
" Hei, bung! Bicaralah seperlunya saja, Apa kau tidak bosan dengan maksud perkataan mu yang menjurus untuk mengancam agar aku tidak mengganggumu mendekati Shen lagi? Aku sama sekali tidak bermaksud memengaruhi putrimu, lalu menjadikan putrimu senjata untuk menekan Ibunya secara halus untuk memilihku. Kau, dan aku berbeda, jadi jangan menyamakan tindakan mu dengan tindakan ku. "
" Enyahlah! Aku hanya ingin putriku hidup bahagia dengan kedua orang tua kandungnya, jadi jangan mengganggu jalanku lagi. "
Damien menggaruk alis matanya yang terasa gatal mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Arnold. Banyak bicara, bosa basi yang sangat menyebalkan, kalau saja tidak ada hukum, ingin sekali menendang mulut yang banyak bicara itu, batin Damien menahan kesal.
" Aku sungguh tidak habis pikir, jalan siapa? Mengganggu yang bagaimana? " Damien menatap Arnold dengan tatapan dingin.
" Kau tahu kenapa Shen memutuskan untuk bercerai denganmu? Itu semua karena satu-satunya jalan yang ia siapkan untukmu, kau sendirilah yang sudah mengabaikannya. Kau berputar-putar di area yang sama, mengabaikan jalan mulus yang di bangun oleh Shen dengan cinta juga kesabaran, dan disaat dia tidak lagi menyambungkan jalan itu menuju hatinya, kau malah sibuk ingin menerobos masuk. Kau, tidak memiliki jalan lagi, tuan Arnold, Jalan itu sudah tertutup untukmu. "
Arnold mengepalkan tangannya kuat menahan segala emosi yang mulai memuncak, seolah membuat kepalanya mendidih panas.
" Jangan sok tahu, kita lihat saja siapa yang akan dipilih oleh Shen. "
Damien terkekeh.
" Kau ini sedang menegaskan bahwa kita sedang berlomba? "
Arnold menatap sinis.
" Bukankah kau berpikir seperti itu? "
Damien menggeleng dengan senyum mengejeknya.
" Aku mencintai Shen, itu adalah sebab utama aku memperjuangkannya. Tapi apapun keputusan Shen yang bisa membuat bahagia, maka aku juga tidak berhak melarangnya. Aku, tidak memposisikan diriku sebagai pilihan untuk Shen, kau tahu kenapa? Karena yang Shen pikirkan bukan melulu soal pasangan agar bahagia. Bahkan, tidak menikah lagi juga bukan masalah bagi Shen. "
Arnold terdiam, iya dia terlalu terobsesi untuk mendekati Shen, hingga dia lupa kalau Shen juga butuh bahagia dengan apa yang dia inginkan. Memiliki pasangan atau tidak, bukankah itu tidak akan menjadi landasan kegagalan dalam sebuah kebahagiaan? Toh, bahagia juga masih banyak dengan cara yang lainnnya.
Damien menepuk pundak Arnold.
" Kau boleh saja terobsesi, tapi ingatlah untuk membiarkan Shen memilih sendiri dengan cara apa, dan dengan siapa dia ingin melanjutkan hidup. " Ucap Damien lalu bergegas meninggalkan Arnold dan masuk ke dalam mobilnya.
" Cih! Aku juga tidak mungkin berhenti! Sialan! Sok bijak seperti tadi benar-benar melelahkan. Aduh, kalau jalan menuju hati Shen tidak ada, bukannya tinggal membangun jalan sendiri? Cih! Kenapa juga Arnold malah tidak menjawab begitu? Hah! Bisa-bisanya juga aku bukan pilihan? Tentu saja aku pilihan terbaik! " Ucap Digo setelah mobilnya lumayan jauh meninggalkan Arnold disana.
***
Berat badan sudah mulai turun, dan semua itu berkat pola makan, olah raga, juga obat diet yang lumayan mahal, tapi juga ampuh sekali. Mona memijat pelipisnya karena merasa pusing dengan keadaan, sudah satu minggu ini dia meminjam uang kesana kemari, juga uangnya sudah habis untuk konsumsi keluarganya, juga untuk terus mendukung program dietnya.
Mona mendesah penat menatap jendela kaca kamarnya. Benar-benar semua yang terjadi di luar dugaan nya. Dia sungguh menyesali tindakan sembrono nya yang keluar dari tepat kerja hanya karena hatinya merasa yakin akan segera dinikahi Arnold. Sekarang harus bagaimana? Uang semakin habis, pendapatan juga berhenti bak tersumbat sial. Beberapa toko kosmetik yang ia punya juga tidak banyak menghasilkan yang lagi. Padahal, dulu selalu saja bisa mendapatkan jutaan rupiah setiap hari. Sekarang ini hanya untuk seratus ribu saja sulit.
" Aduh, mana sebentar lagi gajian SPG toko kosmetik lagi. " Mona mengigit Ibu jarinya sembari berpikir keras. Hanya nama Arnold yang terlintas terus menerus, tapi sang pemilik nama seolah menghilang entah kemana. Nomornya tidak bisa dihubungi, bahkan dia juga sudah jarang bertemu teman-temannya lagi semenjak bercerai.
" Ke siapa lagi aku meminjam uang? " Mona menggaruk kepalanya karena merasa pusing sendiri. Baru saja akan menjauhkan ponselnya, tiba-tiba suara dering ponsel terdengar nyaring. Sontak Mona menggeser tombol untuk menyambungkan teleponnya.
Selamat malam, Mona?
" Selamat malam juga, ini siapa? " Tanya Mona karena memang tidak ada nama kontak di ponselnya.
Kau sudah lupa ya? Aku adalah Bastian. Dulu aku pernah mengundangmu di acara lelang amal.
Mona mengeryit mencari tahu siapa Bastian, setelah mengingatnya baru Mona melanjutkan pembicaraannya.
" Oh iya saya ingat, anda Tuan Bastian pemilik gedung MR yang sering digunakan untuk acara pelelangan kan? "
Iya, benar sekali.
" Senang bisa berbicara dengan anda, Tuan. Apa ada hal yang bisa saya bantu? "
Rencananya aku akan mengadakan acara lelang amal lagi, jadi aku sedang mempertimbangkan mu untuk menjadi tamu undangan.
Mona nampak semangat dengan ucapan yang dia dengar dari seberang telepon.
" Benarkah? Lalu kapan acaranya akan digelar? "
Satu pekan dari sekarang.
Mona nampak berpikir keras sekarang ini. Memang hanya menjadi tamu undangan, tapi saat itu dia mendapatkan hadiah terimakasih berbentuk uang yang jumlahnya lumayan banyak. Iya, tentu saja dia harus berusaha agar berhasil menjadi tamu undangan untuk mendapatkan uang.
" Tuan Bastian, bagaimana caranya agar saya bisa hadir disana? "
Bagaimana kalau kita bertemu saja dulu? Kita bahas saat bertemu nanti.
Mona menelan salivanya sendiri. Dia tentu tahu bagaimana bobroknya sifat Bastian yang sangat suka bermain dengan gadis muda.
Bagaimana? Kalau memang tidak bisa, tidak apa-apa juga.
" Itu, baik, saya akan menemui anda. "
Bagus, lokasi dan jamnya akan aku infokan lewat pesan singkat.
" Baik, Tuan Bastian. "
Setelah sambungan teleponnya berakhir, Mona kembali menelan salivanya. Sungguh demi uang dan kelangsungan hidupnya, dia tidak berdaya untuk menolak ajakan bertemu pria paruh baya yang terkenal brengsek itu.
Bersambung....