Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 88



Damien tersenyum bahagia setelah perjuangannya untuk menghabiskan malam bersama Shen berhasil.


Beberapa saat yang lalu setelah Damien mengantarkan Shen ke hotel, dia masih saja gelisah dan tak rela harus jauh dari wanita tercintanya. Al hasil, Damien datang lagi ke hotel, dan merengek melalui sambungan telepon agar di izinkan masuk. Lagi, alasan tidak masuk akal mulai Damien gunakan untuk bertahan disana. Mulai dari tidak betah karena ada Ayahnya dirumah, tidak bisa tidur karena saat malam di kamarnya akan ada suara-suara aneh, belum lagi dia beralasan perutnya sangat sakit, juga kram sehingga tidak mampu mengendarai mobil menuju rumahnya.


Masih merasa kurang puas meski sudah tidur di dekat Shen, Damien yang terganggu dengan adanya Zera masih berusaha untuk menyingkirkannya. Perlahan Damien menggerakkan kakinya, melewati Shen yang tidur di tengah, lalu mendorong bokong Zera hingga ia terjatuh.


" Aw! " Pekik Zera yang tahu benar kalau ini pasti ulah Damien. Dia sendiri tahu kalau dia adalah pengganggu meskipun sebenarnya Damien itu pengganggu sejati, tapi sudahlah, sabar dan balas saja pada kesempatan lain.


" Sialan! " Pekik Zera pelan karena tak mau mengganggu Shen yang tertidur pulas.


Damien meletakkan jari telunjuk di bibirnya, lalu menggerakkan jemari untuk menunjukkan angka sebagai ganti ruginya.


" Lima ratus dolar? Sungguh? " Tanya Zera semangat tapi tak membuat suaranya terdengar keras. Damien mengangguk mengiyakan ucapan Zera.


" Eh, bagaimana dengan seribu? " Zera tersenyum seraya menaik turunkan alisnya.


Damien mengumpat tanpa suara, tapi dari pada gagal berduaan dengan Shen meski sebenarnya hanya tidur tanpa melakukan apapun, tapi itu jauh lebih untung dari pada seribu dolar, batin Damien.


" Ok! " Damien membentuk tangannya untuk menyetujui syarat itu. Zera tersenyum bahagia, dia memberikan kedua jempolnya, dan dengan segera berjalan menuju sofa untuk tidur disana.


Seribu dolar hanya untuk tidur di sofa? Bahkan tidur di lantai aku juga bersedia kok, hihi....


Damien dengan perasaan bahagia kembali membenahi posisi tidurnya, memeluk tubuh Shen dengan hati-hati karena takut Shen akan bangun, lalu mulai memejamkan mata saat posisinya sudah ia rasa nyaman.


***


Setelah Marisa setuju memberikan satu bulan lagi watu untuk Digo, Kini mereka memutuskan untuk pindah ke apartemen yang Digo sewa untuk mereka tinggali.


Marisa menghela nafasnya karena tidak tahu apa yang sebenarnya di lakukan, bukankah percuma saja membuang waktu, terlebih itu lumayan lama? Sebenarnya juga Marisa sama sekali tak berharap untuk terus bersama Digo, tapi melihat Digo memohon dengan begitu tulus, entah mengapa ia merasa tidak tega sehingga mengiyakan meski dia sebenarnya sangat enggan.


" Sayang, aku sudah merapihkan kamar kita, bagaimana menurutmu? "


Sayang? Ya Tuhan Marisa benar-benar sakit perut mendengar Digo terus memanggilnya sayang setelah kata iya itu keluar dari mulutnya.


Digo meraih pundak Marisa, lalu menuntunnya untuk masuk ke kamar yamg sudah ia rapihkan.


" Bagaimana? Apa sudah terlihat bagus? "


Marisa sebenarnya tidak tahu harus mengatakan apa, semenjak mereka masuk, kamarnya memang sudah dirapihkan, juga sudah bersih begitu juga dengan perabotan yang ada disana. Oh, mungkin Digo ingin menunjukkan satu bingkai photo pernikahan mereka yang berukuran besar tergantung di kamar itu, karena maksud dari merapikan kamar versi Digo adalah menggantung photo itu, mungkin.


" Kau suka? "


" Lumayan. " Ujar Marisa malas sekali untuk menjawab.


Bak rumah tangga yang harmonis, setelah beberapa saat mereka memutuskan untuk membeli beberapa bahan makanan, juga keperluan mereka selama satu bulan terlebih dulu. Setelah itu mereka kembali, dan merapikan belanjaan mereka bersama, bahkan Digo juga membantu Marisa memasak meski Marisa sudah melarangnya.


Marisa terus saja menatap ikan goreng itu karena ragu akan rasanya. Maklum saja, dia melihat dengan jelas proses ikan itu di goreng, sampai matang, bahkan sangat matang karena mulai menghitam.


" Bagaimana rasanya? " Tanya Digo yang menebak saat Maria mengunyah ikan itu tanpa ekspresi.


" Tidak enak! "


Digo menggaruk tengkuknya, lalu mencicipi sendiri ikan itu karena merasa penasaran dengan masakannya sendiri setelah Marisa bilang tidak enak.


" Huek! " Digo memuntahkan ikan yang sempat ia kunyah, lalu meminum segelas penuh air mineral.


" Kenapa ikannya sangat manis? "


" Kan sudah kubilang, yang kau ambil tadi gula, tapi kau kekeh kalau itu garam. Orang bodoh juga pasti tahu bedanya gula dan garam. " Gerutu Marisa yang bisa Digo dengar dengan jelas.


" Jadi, bagaimana kita makan sekarang? "


" Makam saja sayur ini, tidak usah pakai lauk. "


Digo menunduk malu, tapi juga dia malas makan kalau tidak pakai lauk, nanti kalau dia komplain lalu Marisa marah dia juga lebih tidak mau. Ah, ya sudahlah! makan ya makan saja, tidak usah banyak tingkah!


***


Mona tertunduk lesu dengan tatapan pilu setelah melihat hasil uji kehamilan yang kini tengah ia genggam. Hamil? iya! Jadi harus bagaimana? Digugurkan dia takut juga tidak tega, karena walau bagaimanapun anak itu juga anaknya sendiri. Tapi kalau dia pertahankan, bagaimana nanti nasib anaknya? Terlebih, bagaimana dia menghadapi pandangan masyarakat yang sudah kadung buruk tentangnya? Tidak tahu, tapi sepertinya dia juga harus memberi tahu pria paruh baya yang tak lain adalah partner ranjangnya.


Ada apa? Bukankah sudah kubilang jangan menghubungiku di malam hari? Kau mau istriku tahu tentang kita?


Mona mengepalkan tangannya kuat, saat ini dia sudah tidak punya pilihan, terlebih pandangan Arnold terakhir kali saat tak sengaja melihatnya seperti sangat jijik dengannya, maka jatuhlah saja lebih dalam, tidak usah memikirkan cinta, dan menderita saja seumur hidup, batin Mona.


" Aku hamil, dan aku harus bagaimana? "


Apa?! Kau menipuku ya?


" Datang saja untuk memeriksa besok jika kau tidak percaya. "


Apa kau yakin dia anakku? Jangan coba-coba menipuku, kau juga bukan hanya pernah bersamaku saja kan?


" Jangan berpura-pura bodoh, Bastian! Kau mengintai ku terus menerus, kau juga tahu benar kalau aku tidak tidur dengan siapapun selain denganmu dua bulan terakhir kan? Aku baru telat satu minggu bulan ini, jadi dengan siapa lagi aku hamil? "


Baiklah, kalau benar itu anakku, aku akan bertanggung jawab, tapi kau juga harus lebih berhati-hati jangan sampai kita ketahuan. Besok aku akan datang untuk menemani periksa, sekarang tutup saja teleponnya sebelum istriku curiga karena aku keluar kamar cukup lama.


Mona memutuskan sambungan teleponnya. Tentu saja Bastian tidak akan mungkin membiarkan anak yang dia kandung digugurkan, Bastian sudah berumur lima puluh dua tahun, tapi dia tidak memiliki satu pun anak kandung setelah istrinya mengadopsi anak dari panti asuhan karena Istrinya mengidap suatu penyakit yang akan membahayakan nyawanya kalau sampai dia mengandung.


Bersambung.....