
Anya tersenyum memandangi suasana pagi hari yang yang amat menyenangkan. Sungguh dia merasa amat beruntung pindah ke tempat baru yang sekarang. Disana banyak sekali anak-anak yang berlarian, bercanda ria di halaman panti. Iya, di sanalah Anya tinggal, sebuah rumah sewa yang berhadapan langsung dengan sebuah panti asuhan.
Masih jauh dari kata mewah, tapi hal itu juga tak mengurangi rasa bahagia, juga ketenangan yang Anya dapatkan. Tiga bulan sudah, dan untunglah suasana hatinya membaik berkat suara riuhnya anak-anak yang selalu dia dengar.
Sekarang ini, Anya juga telah memiliki pekerjaan baru, yaitu sebagai pelayan di sebuah toko pizza yang lumayan terkenal di kota yang ia tinggali. Seperti kebanyakan orang, Anya juga sudah memiliki teman, juga seorang pria yang mulai mengejarnya satu bulan ini. Tapi lagi-lagi karena luka masa lalu, Anya terus saja menarik diri, memproteksi dirinya sendiri agar tak merasakan hal yang pernah ia lalui. Jadilah Anya hanya bisa terus menolak, juga sebisa mungkin tidak berteman dengan lawan jenisnya.
Sementara Max, pria itu masih saja tak berdaya. Dia memilih untuk hanya memperhatikan Anya tanpa berani mendekat. Bayangan, juga ekspresi Anya beberapa bulan lalu sungguh masih ia ingat dengan jelas, dam semua itu cukup untuk membuatnya terus menahan diri, tapi tidak untuk terus mengetahui kabar terbaru Anya. Tapi satu hal yang dia syukuri kali ini adalah, senyum Anya kembali terlihat saat dia berbincang dengan anak-anak panti asuhan, juga Anya tak ragu-ragu terbahak saat salah satu anak panti asuhan membuat hal konyol.
Tidak ada yang tahu kapan akan berakhir sepasang manusia ini akan main kucing-kucingan, tapi yakinlah bahwa takdir memiliki jalannya sendiri.
***
" Bagaimana rasanya? "
Marisa memakan potongan kue yang disodorkan Digo padanya, mengunyahnya tanpa ekspresi, lalu meraih tisu untuk menyeka bibirnya.
" Enak tidak? " Digo tersenyum menantikan komentar manis, atau bahkan pujian untuknya. Maklum saja, sedari selesai sarapan dia bergegas membuat kue yang ia tahu sebagai kue kesukaan Marisa, dan tentunya si embah google lah yang dia jadikan panutan.
Marisa menghela nafasnya, pusing sekali dengan tingkah Digo akhir-akhir ini yang selalu saja membuat kue, atau masakan yang tidak karuan rasanya. Ingin sekali rasanya dia berteriak marah, lalu melarangnya membuat apapun, tapi bisa apa dia kalau Digo sudah begitu percaya diri sebelum mengerjakannya?
" Digo, lebih baik kau berikan saja kue ini kepada orang yang kekurangan gula di tubuhnya. "
" Eh? " Karena penasaran, dia memiting kecil kue yang ia buat, lalu mencicipi nya.
" Emh! " Digo memegangi kedua pipinya karena merasakan manis yang luar biasa berlebihan. Adu duh, dia sangat heran bagaimana bisa Marisa memakan kue semanis yang manisnya saja melebihi biang gula dengan ekspresi biasa-biasa saja?
Marisa kembali menghela nafasnya.
" Saranku, besok jangan lagi membuat apapun karena itu akan percuma. " Digo menggaruk tengkuknya.
" Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan saja? "
Huhu! Mau mengatakan tidak juga ujungnya Digo akan memaksa, ya mau tidak mau saja deh.
Beberapa jam kemudian, Digo dan Marisa sampailah di sebuah danau yang dikelilingi pepohonan tunggi, juga bunga-bunga yang sebagian tengah bermekaran.
" Sayang, apa kau mau seperti mereka? Duduk di atas karpet dan makan buah? Kalau mau aku beli karpet disana, dan beli buah juga sebentar ya? "
Marisa menelan salivanya karena lagi-lagi tidak biasa dengan panggilan sayang dari Digo, apalagi saat memanggil dengan kata sayang, Digo nampak seperti begitu penuh perhatian.
" Bagaimana sayang? "
Aduh! Batin Marisa lagi.
" Digo, bisa tidak panggil namaku saja? Perutku seperti diremas-remas saat kau terus memanggil sayang-sayang seperti itu. "
Digo tersenyum, dia memeluk pundak Marisa, lalu memberikan kecupan di kepalanya.
" Tidak bisa, jadi kau juga harus membiasakan diri. "
Marisa menghela nafas sebalnya. Baru saja Digo akan bertanya lagi mengenai buah, tiba-tiba dering ponsel Marisa membuatnya tak lagi bicara.
" Halo, Kak? " Mona terdiam mendengarkan kakaknya bicara, lalu menutup mulutnya seperti orang yang kaget.
" Kakakku, dia sedang tidak baik-baik saja. Aku temui dia dulu, nanti akan kembali setelah dia tenang. "
" Aku ikut! " Digo menahan lengan Marisa.
" Digo, ini adalah kakakku, Mona. Jika kau ikut, bukankah itu tidak nyaman bagimu, juga kakakku? "
Digo terdiam sesaat, matanya menatap kedua bola mata Marisa yang seperti menegaskan penolakan. Tapi, jika tidak maju saat Marisa mundur, bagaimana mungkin hubungannya akan membaik?
" Aku tahu, tapi biarkan aku ikut, siapa tahu aku bisa membantu. "
Membantu? Bukankah biasanya lebih suka membuat Mona menderita? Tapi kalau terus berdebat dengan Digo juga tidak akan ada ujungnya.
Sesampainya mereka di apartemen Mona.
" Kenapa kau membawa dia kesini? " Tanya Mona dengan tatapan tajam meski matanya memerah dan sembab karena banyak menangis.
" Maaf, kakak. " Ucap Marisa yang merasa tak enak. Sementara Digo, pria itu hanya memilih untuk diam tanpa bicara karena harus menahan diri agar tidak terpancing emosinya.
Setelah mereka masuk, Mona segera membawa Marisa ke dalam kamar dan menceritakan semuanya.
" Apa Ayah dan Ibu sudah tahu mengenai hal ini? " Tanya Marisa seraya mengusap punggung kakaknya yang tak henti-hentinya menangis saat bercerita tentang apa yang menimpanya.
" Aku tidak berani. "
Marisa menyeka air matanya yang juga ikut terjatuh mendengar cerita sang kakak.
" Kak, berhentilah menangis. Mulai sekarang sibukkan dirimu dengan hal-hal yang membuatmu senang. Aku tidak berniat menyumpahi, hanya saja anakku meninggal karena aku terlalu stres saat hamil. Jadi carilah hal yang membuatmu senang kak, tapi jangan sampai juga merugikan orang lain. "
Mona menyeka air matanya dan mencoba untuk tenang.
" Kak, saranku lebih baik kakak beri tahu Ayah dan Ibu, dia pasti akan merawatmu dengan baik meskipun awalnya dia kecewa juga marah padamu. "
Mona mengangguk setuju, mungkin memang sudah jalan takdirnya dia tetap tidak bisa lepas dari peran perusak hubungan rumah tangga orang lain, tapi kali ini dia tidak ingin menjadi seorang Ibu egois yang akan membahayakan anaknya.
" Kak, jika kakak takut Tuan Bastian akan merebut bayinya, bagaimana kalau meminta bantuan Digo saja? " Usul Marisa.
" Jangan gila Marisa! Orang itu tentu saja tidak akan sudi membantuku. "
" Dia mau kak, aku akan membicarakan ini dengannya nanti. "
" Sudahlah, jangan melibatkan dia dalam masalah ini. Dia mau datang kesini meskipun dia sangat membenciku, setidaknya aku tahu kalau dia benar-benar mencintaimu tanpa memperdulikanku. Aku akan mengatasi dengan caraku sendiri. "
Bersambung....
Halo kesayangan? Othor mau promo novel baru nih 😂 jangan lupa di masukin daftar favorit ya...
Inget, jangan lupa tekan tombol ❤️ dan baca juga ya 😂