Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 83



Shen terdiam karena tak tahu harus mengatakan apa kepada pria yang kini duduk diseberang mejanya. Sudah dua puluh menit mereka bersama, membicarakan tentang Asha, juga membicarakan banyak hal yang tak terlalu Shen dengarkan. Iya, pria itu adalah arnold. Dengan alasan membicarakan masalah Asha, dia mengambil kesempatan ini juga untuk menghabiskan waktu berdua saja dengan Shen. Tentu dia juga memiliki rencananya sendiri yang sudah ia siapkan dari beberapa waktu yang lalu.


" Shen, bagaimana kalau kita berlibur bersama dengan Asha bulan depan? "


Shen terdiam sebentar, lalu melanjutkan mengunyah makanan yang belum terasa haus untuk ia telan. Sejenak dia menghela nafas, lalu mulai meletakkan sendok dan garpunya. Mungkin inilah watu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Arnold, dan mulai sekarang dia juga tidak perlu lagi berpura-pura dengan semuanya.


" Arnold, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu. "


Arnold menelan salivanya, menatap Shen dengan degub jantung yang kuat. Seakan memiliki sensitivitas, Arnold bisa merasakan hal yang akan didengar dari bibir Shen tak lain adalah kata-kata yang sesungguhnya tidak ingin dia dengar.


" Arnold, aku ingin kita tetap kompak sebagai orang tua Asha, tapi aku tidak bisa melakukan yang lebih. Hatiku, sudah tidak ingin bersamamu lagi, Arnold. "


Arnold menjauhkan sendok beserta garpu yang ia pegang erat-erat. Dia menatap ke bawah untuk menenangkan diri, setidaknya dia juga ingin mendengarkan alasan dari Shen terlebih dulu sebelum menunjukkan ekspresinya.


" Kenapa? Bisakah memberitahu alasannya? "


" Aku jatuh cinta dengan pria lain, Arnold. Maafkan aku, tapi semua ini juga bukan niatku. "


" Apa pria itu? "


" Iya. "


Arnold tak bisa lagi berkata-kata, rasanya sakit sekali karena pada akhirnya cinta Shen untuknya luruh akibat rasa sakit selama menjadi istrinya. Marah? Tidak, tapi dia merasa kecewa. Kecewa dengan dirinya sendiri yang sudah membuat cinta Shen perlahan-lahan luntur, kecewa karena tidak mampu menyadari secepat mungkin betapa Shen adalah istri dan Ibu dari anaknya yang tidak akan mungkin tergantikan dengan yang lain.


" Shen, apakah ini sungguh-sungguh? "


Shen mengangguk, dia meraih tangan Arnold, lalu menggenggamnya erat.


" Maafkan aku, Arnold. "


Arnold mengangguk dengan tatapan kecewa. Sebenarnya dia ingin sekali memukul sesuatu, tapi dia juga tidak boleh egois dengan perasaan Shen. Tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hatinya ketika melihat Shen dengan pria lain nantinya, tapi dia juga ingin Shen bahagia.


Setelah bertemu dengan Shen, Arnold yang tengah kacau itu memutuskan untuk datang ke Club malam, dan meminum banyak alkohol agar bisa menghilangkan pikirannya yang tengah diselimuti duka. Sementara Shen, dia memilih kembali ke rumah, dan membaringkan tubuhnya disamping Asha yang kini terlelap tidur.


" Sayang, maaf karena keputusan yang Ibu ambil ini mungkin akan mengubah banyak hal. Tapi Ibu sungguh ingin keluar dari masa lalu, dan bayang-bayang menyakitkan itu. Maaf sekali lagi, sayang. " Shen mengecup pucuk kepala Asha, memeluknya hingga ia ikut terlelap bersama Asha.


Ke esokkan harinya.


Shen menghela nafas sebal karena lagi-lagi tak ada kabar tentang Damien. Sudah, sudah cukup dia hanya bisa menunggu-nunggu saja, membuang waktu untuk pria menyebalkan yang biasanya akan muncul di manapun dia berada. Shen meraih ponselnya, lalu segera menghubungi Damien.


" Damien? " Panggil Shen ketika sambungan teleponnya telah terhubung.


Kau siapa?


Shen mengeryitkan dahi, menatap kembali layar ponsel untuk mengecek benar atau tidak nama kontak Damien yang ia hubungi.


" Aku Shenina, bisa bicara dengan Damien? "


Tidak, dia sedang mandi.


Mandi? Kenapa mandi?! Mereka habis melakukan apa?! Batin Shen berseru dengan marah.


" Lalu, kau siapa? "


Calon istrinya.


Segera Shen memutuskan sambungan teleponnya dengan raut wajah yang amat kesal.


" Calon istri? benar-benar pria bajingan! Ah, aku ingin mencekik mu sampai mati! Sialan! "


" Kenapa tidak pastikan saja sendiri? "


Shen menolah kebelakang, dan ternyata itu adalah Ibunya.


" Ibu? "


" Pergi dan pastikan saja, nak. Kalau kau melihat dengan mata kepalamu sendiri, maka kau tidak akan menduga-duga dan marah tidak jelas begini. "


Shen menelan salivanya sendri.


" Aku pergi? Menemui Damien? " Shen menunjuk dirinya sendiri seolah bahwa itu tidak mungkin.


" Kenapa tidak? Dari pada hanya sibuk menduga-duga saja. Lagi pula, di dunia ini banyak hal yang kadang tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Lihatlah dengan cermat apapun mulai dari sekarang Shen. "


Shen terdiam sesaat, lalu mengangguk setelahnya.


" Aku akan meminta izin terlebih dulu dengan Asha. " Ucap Shen lalu meninggalkan Ibunya untuk mencari Asha.


" Ibu memang tida tahu seperti apa pria yang kau cintai itu, tapi Ibu merasa bahagia karena ini adalah pria pertama yang kau cintai tanpa unsur paksaan keluarga. Shen, bahagialah nak. Ibu merasa letih melihat anak-anak Ibu mengalami banyak kesedihan. Ibu ingin terus tersenyum, tertawa di masa tua Ibu karena kalian anak-anakku bahagia selalu. ''


Setelah mengantongi izin dari Asha, tekat Shen kini semakin membulat. Entah bagaimana, dan apa yang akan dia katakan saat bertemu Damien nanti, yang pasti dia harus memastikan terlebih dulu. Apakah Damien sungguh brengsek, atau tidak.


Tak banyak membuang waktu, Shen bersama Zera kini telah bersiap menuju ke bandara. Jika ada yang penasaran kenapa Zera selalu ikut pergi Shen keluar negeri, maka jawabannya adalah, dia adalah seorang pengangguran sejati. Pergi keluar negeri tanpa biaya kan juga termasuk hal yang luar biasa, hehe.


" Zera, nanti kalau ternyata Damien sudah akan menikah, apa alasan kita datang mencarinya? " Shen menggaruk kepalanya yang terasa gatal setiap kali memikirkannya.


" Bilang saja mencari kucing yang hilang. "


" Sialan! Mana ada kucing hilang sampai keluar negeri? "


" Ya sudah, bilang saja mau mengirim undangan pernikahanku. "


Shen melotot kaget.


" Menikah?! Siapa?! Dengan siapa?! Kau bohongan ya? "


" Cih! Aku memang tidak secantik dan kaya sepertimu, tapi aku juga laku loh. " Zera melengos sebal.


" Serius? Dengan siapa? "


" Dengan orang lah. Nanti akan aku kenalkan padamu setelah urusanmu selesai. "


" Ya ampun, kau punya pasangan kok aku tidak tahu. "


" Dulu, kau sibuk memikirkan Arnold, sekarang memikirkan Damien. Aku yang selalu ada untukmu tidak kau perdulikan, uh! Benar-benar menyakiti hati. "


" Eh? " Shen memeluk Zera, mengecup pipinya beberapa kali sembari memohon maaf kepadanya.


" Hentikan , Shen! Lebih baik kita tidur saja deh. "


" Ok, ok! "


Berganti hari, akhirnya Zera dan Shen kini telah sampai, mereka juga sudah berada di hotel yang tak jauh dari tempat Damien tinggal.


" Zera, kau tahu banyak tentang Damien ya? "


" Tentu saja. " Zera tersenyum lucu.


Shen mengeryit menelisik Zera melalui tatapannya.


" Apa kau pernah menjalin hubungan dengannya? "


" Pft.... Hahahaha.... Kau sudah gila ya, Shen?! "


" Kalau sampai iya, aku benar-benar tidak mau melanjutkan misi ini. "


Tentu saja aku tahu, aku berperan besar dengan ini loh. Tapi Shen, percayalah kau akan bahagia.


Bersambung....