
Sudah seharian penuh Digo menuruti semua apa yang diinginkan Marisa. Bukan tanpa alasan, pasalnya sang Ibu terus mondar-mandir ke kamarnya untuk memastikan Marisa diperlakukan dengan baik olehnya. Entah benar atau tidak dugaannya, tapi Digo merasa bahwa Ibu dan juga istrinya seperti memiliki chemistry yang luar biasa. Yang satu memerintah tidak bisa dibantah, yang satu banyak maunya dengan alasan titah Ibu mertuanya.
Digo, kakiku pegal. Digo, punggungnya nyeri. Digo, aku haus. Digo, aku mau buah. Digo, aku mau makan kudapan bisa? Digo, aku mau jus mangga buatan mu. Digo, bisa belikan aku kacang kedelai yang sudah di kukus? Digo, bagaimana kalau aku makan sereal siang nanti? Digo, nanti tolong bereskan tempat tidur ya? Bla bla bla entah jutaan apa lagi kemauan Marisa yang dengan kesal harus dia ikuti.
" Digo, apa kau kesal? " Sindir Marisa karena bisa dengan jelas melihat mata Kesal, juga rahang Digo yang mengeras seperti kebiasannya saat menahan marah.
" Oh, tidak kok. Ngomong-ngomong ada lagi tidak yang harus aku lakukan, sayang? " Digo melotot kan matanya saat memanggil sayang seolah mengancam Marisa, jangan banyak maunya! Aku lelah!
Marisa tersenyum manis, sejujurnya dia menikmati ini semua. Bagaimana Digo melayaninya dengan lembut meski wajahnya terkesan tidak rela. Dengan jelas dia merasakan sentuhan lembut saat Digo memijat kaki, juga mengelus lembut punggungnya tadi. Masih butuh waktu memang untuk lebih mengerti bagaimana aslinya Digo. Tapi ada satu hal yang Marisa tahu sekarang, Digo adalah laki-laki yang tidak mudah tergoda oleh wanita, juga dia yakin akan kesetiaan Digo mesti pria itu memiliki tampang yang rupawan, ditambah juga uang yang lumayan banyak.
" Digo, bagaimana kalau gantian aku yang memijat mu? " Marisa kembali tersenyum saat Digo menoleh kepadanya dengan dahi mengeryit penuh tanya.
" Rencana busuk apa yang sedang kau rencanakan? " Digo menatap mencari tahu, benarkah dugaannya kalau Marisa akan melakukan sesuatu padanya?
" Kalau tidak mau ya tidak apa-apa, aku hanya merasa kasihan saja. Hari ini kau kan terlihat sangat lelah, jadi aku pikir bisa sedikit membantu dengan memijatmu. "
" Cih! Tahu diri juga rupanya. " Digo bangkit dari posisi duduknya, lalu berjalan mendekati Marisa yang kini duduk di pinggiran tempat tidur, lalu menepuk punggungnya seolah menunjuk bagian yang terasa pegal.
" Ayo, cepat lakukan. "
Marisa tersenyum, tak membuang waktu, segera dia menggerakkan jemari lentiknya dengan gerakan memijat dengan lembut dan sedikit menekan agar Digo merasakan nyaman dengan sentuhan tangannya. Seperti yang dia rencanakan, setelah Digo menikmati pijatan tangannya, Marisa mulai menggerakkan tangannya dengan lembut, juga seperti menggoda.
" Kau, kenapa cara memijatmu malah jadi seperti ini? " Digo sempat tersengal di awal kalimat, tapi pada akhirnya dia mulai bisa mengontrol diri, tapi juga enggan kalau meminta Marisa untuk berhenti.
" Memang harusnya bagaimana? " Bisik Marisa ditelinga Digo.
Dug!
Aduh! Jantung Digo benar-benar seperti ingin copot rasanya. Sudah gerakan Marisa membuat sesuatu di bawah sana bereaksi, ditambah bisikan Marisa yang meninggalkan hembusan nafas yang hangat seolah semakin menambah sesak yang sudah bereaksi itu.
" Marisa, lebih baik jangan memancing-mancing. " Ucap Digo memperingati sebelum dia tidak bisa mengontrol diri nantinya.
" Aku memang melakukan apa? " Tanya Marisa, belum juga Digo menjawab, Marisa sudah lebih dulu memberikan kecupan di tengkuk Digo, membuat si pemilik semakin menderu menahan diri.
" Apa aku tadi melakukan ini? " Marisa menjalankan tangannya ke bagian dada Digo, turun, dan semakin turun lalu berhenti saat menyentuh sesuatu dari balik celana yang sepertinya mulai terasa sesak disana.
" Oh, ternyata ukurannya lumayan juga ya? Tapi sayang, tekniknya kurang lihai. " Marisa sontak menjauhkan tangannya, juga tubuhnya setelah itu.
" Kau, kau jangan asal bicara! Berani-beraninya mengatakan teknik ranjang ku kurang lihai, dari mana kau tahu kalau hanya aku satu-satunya pria yang meniduri mu? " Digo tersenyum miring.
Sialan! Termakan ucapannya sendiri. Marisa sebentar menggigit bibir bawahnya, lalu tersenyum saat dia tahu harus menjawab apa.
" Aku kan sudah melihalat banyak video anu, jadi aku tentu tahu dong. "
Digo kembali tersenyum miring.
" Jangan lupa, saat kita melakukanya, aku lah yang selalu berkontribusi. Kau, " Digo kembali tersenyum mengejek.
" Kau hanya bisa dia memejam dan membuka mata menikmati saja, lalu apa bedanya aku dengan meniduri orang mati? Oh, apa aku sebenarnya meniduri manekin? Atau batang pisang? "
Marisa terperangah kesal dengan ucapan Digi yang sangat membuatnya malu juga marah. Tapi sudahlah, memang Digo tidak akan mungkin mau mengalah.
" Aduh, itu mu masih berdiri kan? Kalau begitu, bolehkah aku membandingkannya dengan pisang mini ini? " Marisa mengambil pisang dari piring buahnya.
Digo lagi-lagi tersenyum meski ingin sekali merobek mulut sialan istrinya yang selalu saja menuduh miliknya mungil. Tak mau lama-lama menhan kesal dengan menutupinya melalui Senyum, Digo mulai bangkit dari duduknya, membuka celananya, lalu menunjukkan tubuh polosnya dengan bangga.
Ya ampun! Ingin sekali Marisa menutup matanya sekarang juga, atau bahkan kalau bisa kabur dia ingin sekali kabur saja. Tapi kenapa juga? Toh dia juga pernah melihatnya meski tidak sejelas sekarang.
" Hanya segitu saja? " Marisa memaksakan senyumnya seolah masih tidak ingin mengakui kekalahannya dalam perdebatan ini.
Lagi, Digo melangkahkan kakinya, melempar pisang yang dipegang Marisa, lalu memaksa tangan itu untuk memegang miliknya.
" Apa-apaan sih?! " Kesal Marisa tapi juga tidak bisa mengambil alih tangannya karena Digo menahannya dengan kuat.
" Kau jangan berpura-pura seolah pernah melihat banyak milik pria, melihat milikku yang sering masuk ke dalam mu saka kau merona seperti itu. "
" Omong kosong! " Ucap Marisa masih mencoba menyingkirkan tangannya walau masih juga tidak bisa.
" Kau yang membuatnya bangun, maka kau juga yang harus menidurkannya. " Digo menyeringai.
" Ti tidak mau! Dokter bilang hindari melakukan hubungan badan sebelum lewat trisemster pertama. " Jelas Marisa sembari membuang wajah dengan rona merah yang masih tertinggal.
" Oh, aku juga ingat. Tapi tanganmu tidak sedang hamil kan? "
Marisa terperangah heran.
" Tanganku pegal, aku kan baru saja memijat mu! "
" Oh, mulutmu tidak hamil, bisa kan? "
" Mulut ku pegal karena cekcok denganmu setiap hari. "
Digo mendesah sebal.
" Oh, bagaimana dengan bagian belakang? "
Lagi-lagi Marisa terperangah kaget.
" Kau gila ya?! "
" Mau bantu aku dengan tangan, atau lewat belakang? "
Marisa menggigit bibir bawahnya menahan perasaan malu juga kesal.
" Ok, baik! Bagaimana degan lubang telinga? "
" Jangan gila, Marisa! Berhenti menyamakan punya ku dengan sumbu lilin! "
***
Anya membuka matanya perlahan-lahan, sejenak dia mengerjap dengan dahi mengeryit karena merasakan silau nya cahaya yang menerpa wajahnya.
" Dimana aku? " Gumam Anya mendapati dirinya di tempat yang asing untuknya.
" Kau sudah bangun? " Tanya pria yang ternyata sedari tadi berbaring disebelah Anya.
" Max?! "
Bersambung....