Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 24



" Berhentilah mempermainkan hati kakak ku! " Ucap Marisa memperingati.


Arnold menghentikan langkahnya dengan tatapan dingin, rasanya dia sudah cukup mengalah untuk menyenangkan hati semua orang. Tapi pada akhirnya dia sendirilah yang akan terus disalahkan, dan mau tidak mau orang selalu menganggap hipotesanya adalah sebuah kebenaran.


Sudah cukup! Arnold mengeraskan rahangnya, meski dia amat kesal, tapi sedikitpun dia tidak ingin menoleh dan menatap wajah gadis cantik yang mengaku adiknya Mona itu.


" Kau bisa menuduhku apapun, tapi aku keberatan saat kau menuduhku mempermainkan perasaan kakak mu. "


Tak mau lagi mendengarkan ocehan gadis itu, Arnold memilih untuk melangkahkan kaki menjauh dari Marisa, dan ruangan Mona dirawat. Dia datang hanya untuk menunjukkan keperduliannya, bukan untuk dihakimi, apalagi harus menerima tuduhan yang tidak jelas.


Marisa mematung dengan tatapan marah.


" Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab! Kakakku bukanlah mainan yang bisa kau kau gunakan, lalu kau campakkan begitu saja saat kau merasa bosan! "


Marisa tak mau membuang banyak waktu lagi untuk marah karena sang kakak sudah sangat histeris di dalam sana. Bergegas dia berjalan menuju pintu ruang perawatan untuk menenangkan kakaknya, barulah dia mulai mencari tahu apapun tentang Arnold.


Tak butuh waktu lama, karena salah satu sahabat Mona memberitahu apapun yang dia ketahui, hanya saja Mona bercerita kepada teman-temannya bahwa Arnold adalah kekasihnya, tapi dia memiliki penggemar wanita yang dengan gila-gilaan mengejar kekasihnya yang bernama Arnold itu.


Marisa menghela nafasnya karena masih tidak paham tentang cinta macam apa yang dijalani kakaknya itu. Anehnya, meski teman Mona memberitahu cerita percintaan kakaknya, tapi tidak ada dari mereka yang bertemu langsung dengan Arnold. Tentu di menjadi ragu-ragu tentang kebenaran cerita itu.


" Ah! Aku pusing sekali, lebih baik aku cari yang namanya Shenina itu saja. " Ujar Marisa lalu meminta bantuan sopir rumahnya untuk membantunya mencari tahu tentang wanita yang bernama Shenina, wanita yang memiliki hubungan dengan Arnold.


Malam mulai tiba, dan akhirnya Marisa mendapatkan informasi tentang Shenina. Tak mau membuang waktu karena dia juga tidak tahan dengan kakaknya yang kacau, maka Marisa bergegas untuk mendatangi alamat rumah Shenina.


Satu jam setengah waktu tempuh untuk menuju kediaman Shenina. Sesampainya disana Marisa malah ternganga kagum melihat besar, dan mewahnya rumah Shenina. Bukan hanya itu yang membuat kagum, bahkan bisa dibilang rumah Shenina itu adalah yang paling megah di antara rumah mewah yang ada disekitarnya.


" Ya Tuhan! Sudahlah, lebih baik aku fokus saja dulu degan urusanku. " Gumam Marisa, lalu berjalan mendekati pagar tinggi yang menjadi penghalang.


" Permisi? Selamat malam? " Belum mendapatkan jawaban, sebuah mobil mewah berhenti tepat dibelakangnya, lalu membunyikan klakson mobilnya. Sontak Marisa menepikan dirinya agar mobil mewah itu leluasa untuk masuk kedalam, karena pasti si pemilik mobil mewah itu adalah yang tinggal disana atau tamu juga bisa jadi.


Setelah pagar tinggi itu terbuka, mobil itu segera masuk kedalam. Tapi tak lama keluarlah seorang pemuda gagah yamg di dukung oleh wajah, dan tubuhnya yang tinggi besar. Sejenak dia melihat ke arah Marisa, lalu berjalan mendekati Marisa.


" Kau siapa? " Tanya pria itu yang tak lain adalah Digo, dia melepas kaca mata hitamnya agar bisa lebih jelas melihat siapa gadis yang sedari tadi berdiri di gerbang.


" A aku, Marisa. Apakah ini benar rumahnya Shenina? " Tanya Marisa gugup, Iya, sungguh dia gugup melihat pria yang super tampan berdiri gagah di hadapannya.


" Marisa? Seingatku, adikku tidak memiliki teman yang namanya Marisa. Kau siapanya adikku? " Digo menatap dengan tatapan dingin, mencari tahu apa maksud kedatangan gadis itu.


" Tentang apa? "


Lagi-lagi Marisa gugup hingga mau tak mau dia menelan ludahnya agar kerongkongan yang kering itu sedikit tertolong.


" Aku, sebenarnya aku adalah adik dari Mona, saat ini kakak ku sedang sakit, dan ada hal yang perlu aku bicarakan tentang satu hal penting. "


Mona? Digo tersenyum miring, entah gadis itu bodoh, atau apa. Tapi sepertinya Digo memiliki niat tersendiri setelah bertemu dengan adiknya Mona itu.


" Adikku tidak tinggal disini, kau bisa bicara denganku. Aku tahu apapun, tentang adikku. Ingat, aku tahu apapun, jadi aku tahu apa yang harus aku katakan. " Marisa terdiam sebentar, dari tatapan Digo rasanya memang benar dia tahu segalanya sampai harus menekan kata-katanya dengan tatapan mengintimidasi, maka sudahlah! Yang penting masalah Mona segera selesai saja, batin Marisa.


Disebuah ruang tamu yang nampak begitu megah, disana juga banyak sekali sovenir yang sepertinya berasal dari luar negeri. Sejenak dia terpaku, tapi lagi-lagi dia tidak bisa terlalu lama membuang waktu karena harus kembali menjaga Mona di rumah sakit.


" Jadi, apa yang ingin kau bicarakan? "


Marisa cukup tersentak melihat bagaimana Digo menjadi terlihat ramah secara tiba-tiba. Padahal beberapa saat lalu dia nampak sangat dingin dan terlihat arogan, bagaimana bisa berubah dengan begitu cepat? Tapi lagi-lagi dia juga harus segera kembali ke rumah sakit, jadi segera dia bicara agar semua selesai dengan cepat.


" Begini, kakakku kemarin melakukan tindakan percobaan bunuh diri, sekarang ini dia masih dirawat di rumah sakit. Selama dia berada disana, dia terus saja menyebut nama Arnold dan juga Shenina. Tadi pagi Arnold sempat datang, sebentar juga kakak ku tenang, tapi entah apa yang mereka bicarakan, kakakku kembali berteriak histeris seolah tidak akan rela kalau sampai Arnold meninggalkannya. Lalu, apakah hubungan Shenina dengan Arnold adalah hubungan dibelakang kakak ku? "


Digo menahan tawanya yang sulit untuk dia sembunyikan. Setelah itu dia berdehem untuk menetralkan dirinya. Sebenarnya Marisa agak bingung kenapa Digo bereaksi seperti itu, tapi kalau tidak menunggu jawaban dari Digo, dia juga tidak akan tahu kan?


" Shenina, adalah adik perempuanku yang sangat baik, dan juga rendah hati. Bagaimana mungkin adikku seperti yang kau tanyakan? "


" Jadi maksudnya? " Marisa mengeryit bingung karena dia takut dengan dugaannya kalau sampai itu benar.


" Arnold, dia adalah suami adikku, Shenina. Arnold, dia adalah Ayah dari keponakanku Asha. " Digo kembali tersenyum tapi tak menunjukkan maksud apapun.


Marisa menutup mulutnya yang terperangah kaget. Ternyata benar dugaannya, itu jelas berarti kakaknya adalah orang ketiga dalam hubungan pernikahan Arnold dan Shenina. Rasanya dia sungguh tidak ingin percaya, tapi tidak mungkin juga kalau pria dihadapannya berbohong kan? Belum lagi Shenina adalah anak dari keluarga kaya yang tentu bisa saja menikah dengan siapapun yang dia mau.


Malu! Sungguh dia merasa sangat malu sekarang ini. Andai saja dia tidak bersikap sok pahlawan, andai saja dia mencari tahu lebih detail, tidak mungkin dia akan datang dan mempermalukan dirinya sendiri dengan menanyakan pertanyaan gila itu.


Kakak, betapa gilanya tindakan mu ini! Kalau sampai Ayah dan Ibu tahu, mereka pasti akan sangat kecewa padamu.


Bersambung.......