
Digo melangkahkan kakinya santai menuju sebuah restauran. Matanya menatap kepada seorang hadis cantik yang kini telah menunggunya, entah sejak kapan, tapi sepertinya dia juga sudah terlihat bosan.
" Selamat malam? " Sapa Digo dengan wajah dingin seraya menarik kursi agar lebih mudah untuk duduk berseberangan dengan wanita cantik yang dikenalkan oleh orang tua mereka.
" Se selamat malam juga. " Gadis itu sebentar ternganga kagum karena ternyata pria yang akan dijodohkan dengannya sangat tampan, dan juga memiliki aura kehebatan yang kuat.
Digo menghela nafasnya setelah duduk berhadapan dengan wanita itu. Entah harus bagaimana mengatakan kepada orang tuanya jika dia sama sekali tidak ingin terikat dengan pernikahan dulu. Tapi karena dia merasa jika harus melanjutkan rencananya, mau tidak mau dia terima saja wanita yang akan dijodohkan dengan dirinya.
" Perkenalkan, namaku Arelia. Kau bisa memanggilku Eli seperti keluarga ku. " Gadis itu menyodorkan telapak tangannya meminta agar Digo juga menyambutnya dengan hangat.
" Digo. " Ucap Digo singkat seraya menerima jabatan tangan itu dengan senyum yang dipaksakan.
Kegiatan makan malam itu berlangsung sebagai mana pertemuan dua insan yang dijodohkan lainya. Hanya saja, Eli lah yang lebih aktif bertanya kepada Digo agar bisa membuat mereka semakin dekat, batin Eli.
Di apartemen.
Marisa menghela nafas sebalnya karena merasa bosan terus berada di sana. Padahal dia sudah mengirim pesan kepada Digo untuk menemaninya, tapi mau bagaimana lagi? Dia juga sadar benar kalau Digo adalah pria yang gila kerja. Jadi dia hanya bisa memaklumi saja meski dia tetap merasakan kesepian karena tinggal seorang diri disana.
" Ini sudah pukul sembilan malam, apakah Digo masih belum selesai bekerja? Apa aku akan mengganggunya kalau aku menghubunginya? " Sejenak Marisa menimbang-nimbang pilihannya, lalu memutuskan untuk menghubungi Digo.
Halo?
Marisa terdiam tak mampu menjawab saat suara yang menyahut adalah suara wanita. Sebentar dia menggeleng, lalu kembali melihat layar ponsel untuk memastikan lagi siapa yang tengah ia hubungi. Iya! Benar saja itu adalah nomor Digo, tapi bagaimana bisa suara wanita?
" Digo ada dimana? "
Sedang di kamar mandi, kenapa? Kau siapa?
Marisa menelan ludahnya sendiri, kamar mandi? Siapa?
" Bukankah ada nama kontak di telepon Digo, kenapa masih bertanya? "
Cih! Tidak ada namanya!
Marisa segera menutup teleponnya karena dia takut untuk mendengar kata-kata dari mulut wanita itu yang akan membuat hatinya sakit. Dia mengatur nafasnya agar dirinya merasa tenang meski matanya memerah ingin menangis.
***
" Eh, kau sudah kembali? " Eli tersenyum dan agak kaget karena dia tahu benar kalau Digo melihatnya menaruh ponselnya tadi.
" Apa yang kau lakukan dengan ponselku? " Tanya Digo masih dengan tatapan dingin.
" Oh, tadi ada yang menghubungimu, jadi aku mengangkatnya karena aku takut itu penting. Maaf ya? Soalnya aku melihatmu saat makan dan selaku saja ada yang menghubungimu untuk urusan pekerjaan, jadi aku takut itu penting. "
Digo meraih ponselnya seraya kembali duduk, dia melihat panggilan terakhir untuk melihat siapa yang menghubunginya.
" Maaf, aku tidak menyangka kalau itu kekasihmu. " Ucap Eli memaksakan senyumnya.
" Tidak masalah untuk kali ini, tapi aku tidak akan memiliki kesabaran dengan orang yang melakukan kesalahan dua kali, apalagi kesalahan itu adalah menyentuh barang pribadiku. " Digo meletakkan kembali ponselnya, lalu menatap tegas Eli yang masih saja memaksakan senyumnya seolah dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Digo, kau ini benar-benar tidak mudah di dekati ya? Orang tuamu bilang kau sama sekali tidak pernah terlibat hubungan dekat dengan wanita, tadinya aku pikir bahwa kau menyukai sesama jenis, tapi karena aku sudah tahu jika itu tidak benar, maka kau harus menjadi milikku.
***
Marisa menghela nafasnya. Sebenarnya dia ini dianggap apa selama ini? Hanya terus dikurung di dalam apartemen yang sepi. Pernah memang terpikirkan bahwa tidak mungkin Digo jatuh cinta dengan adik dari wanita yang telah membuat rumah tangga adik kandungnya menderita. Tapi mau bagaimana lagi? Cinta yang tumbuh dihatinya seolah menampik pikiran itu.
Dua jam telah berlalu, Marisa masih saja memandangi ramainya ibukota dari balkon apartemen yang ia tinggali.
" Apa yang sedang kau lakukan? "
Marisa membalikkan tubuhnya karena suara Digo terdengar di telinganya.
" Kenapa menggunakan pakaian seperti ini? Kau tidak takut masuk angin? "
Marisa masih terdiam menatap Digo yang kini semakin mendekat padanya, meraih pinggangnya, lalu membuat tubuh mereka saking menempel tanpa jarak.
" Kau merindukanku? "
Marisa terdiam menahan diri agar tidak menangis. Kenapa? Karena ada bekas lipstik yang menempel di pipi Digo.
" Kenapa kau diam saja? " Digo meraih tengkuk Marisa, lalu mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Marisa.
" Tunggu! " Marisa menjauhkan tubuh mereka, lalu melepaskan diri dari Digo untuk mengambil beberapa lembar tisu untuk menghapus bekas lipstik itu.
" Ini. " Marisa menyerahkan tisu itu kepada Digo.
" Kita belum melakukannya, tentu saja belum membutuhkan tisu. " Digo tersenyum tipis, lalu kembali mencoba meraih tengkuk Marisa.
" Bukan, bukan itu! Di pipimu ada bekas lipstik. "
Digo mengeryit, tapi dia tersenyum tipis setelahnya.
" Kalau begitu, tolong hapuskan untukku! "
Marisa menggigit bibir bawahnya, iya dia cemburu, tapi juga tida berani menunjukkannya. Marisa menghela nafas sejenak, lalu mulai membersihkan lipstik yang tertinggal di pipi Digo.
" Wanita itu pasti orang yang berani ya? Warna lipstik nya merah sekali. " Ujar Marisa tapi sebisa mungkin tak menunjukkan kalau dia tengah kesal.
" Iya begitulah. "
Marisa tak mau lagi bicara karena jawaban Digo malah membuatnya semakin sedih, jadi apapun itu biarkan saja. Lebih baik tidak usah bertanya jika saat tahu rasanya malah menyakitkan, batin Marisa.
***
" Kiriman lagi? " Tanya Shen heran. Ini sudah dua minggu, dan lagi-lagi Mona selalu saja mengirim makanan untuk Arnold. Mulai dari masakan yang katanya ia buat sendiri, kue basah, bahkan dia juga mengirim kue kering seperti hari ini.
" Mona itu hebat ya? Selain cantik dan cerdas, dia juga sangat pintar memasak. Ibu benar-benar baru tahu kalau dia bisa membuat masakan, dan kue se-enak ini. "
Shen terdiam seraya menatap Ibunya datar meski otaknya tengah memaki dengan kejam. Semenatara Arnold, pria itu malah ikut saja mencicipi kue kering buatan Mona.
" Ibu, lain kali ditolak saja jika kak Mona mengirimnya. Ibu kan tahu untuk apa kak Mona melakukan itu semua. " Ujar Anya tanpa ekspresi.
" Tidak apa-apa, kalau Ibu dan Arnold suka, kalian saja yang makan, kebetulan aku dan Asha tidak terlalu menyukai makanan yang selalu saja terasa manis. Misalnya seperti sup ayam kemarin yang ada rasa manis, itu sungguh mengganggu. Syukurlah, karena Ibu mertua dan Arnold satu selera dengan Mona, jadi aku tidak perlu memasak mulai besok. " Shen mengakhiri kata-katanya dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat. Dan kata-kata itu sontak membuat Arnold menjauhkan kue kering dari tangannya, begitu juga dengan Ibu Resa yang terdiam menahan kesal.
Bersambung.....