Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 44



Hari sudah berlalu, hari baru selalu datang dan memberikan pengalaman baru untuk setiap insan yang hidup. Tak terkecuali Anya. Iya, gadis itu nampak murung belakangan ini, bukan hanya karena kekasih yang ia begitu cintai menghilang tanpa kabar, tapi sebuah kebenaran baru akan dirinya yang tengah mengandung seperti menjadi beban besar dan berat hingga ia tidak bisa berkata-kata, atau juga membaginya melalui curahan hati, alias curhat kepada orang lain.


Sebagai seorang wanita yang begitu mencintai prianya, Anya masih saja berpikir positif. Iya,mungkin Max sedang sibuk di luar negeri, mungkin Max sedang berada di sebuah daerah yang tidak memiliki signal, atau apapun itu sebisa mungkin dia menampik pikiran negatif yang akan menggoyahkan hatinya.


Bukan hanya Ibu Resa saja yang merasa aneh dengan sikap Anya, Arnold juga merasakan hal yang sama, bahkan mereka juga sudah bertanya, tapi jawaban Anya selalu saja kurang enak badan.


Setelah makan malam selesai, Shen mengantar Asha terlebih dulu ke kamar untuk menidurkannya, barulah setelah itu dia akan kembali ke kamarnya. Sayup-sayup dia mendengar suara Anya tengah muntah, kemudian sejenak Shen mengentikan langkahnya untuk bisa lebih jelas mendengar apakah benar yang ia dengar barusan. Pelan-pelan Shen menuruni anak tangga menuju kamar Anya yang tepat berada di bawah kamar Asha. Shen menempelkan telinganya di pintu untuk bisa lebih jelas mendengar suara Anya. Benar, itu adalah suara Anya yang tengah memuntahkan makanannya.


Ini kebetulan, atau bagaimana?


Shen mulai menjauhkan langkahnya, kembali menaiki anak tangga pelan menuju kamarnya.


***


" Ah...... " Pekik Mona yang kini tengah menatap kaget melihat timbangan badan.


" Ada apa, nak? " Tanya Ibunya Mona panik. Padahal dia sedang memasak sup untuk Mona, tapi karena teriakan putrinya itu, mau tidak mau dia meninggalkan saja dapur dan berlari untuk melihat bagaimana keadaan Mona.


" Ibu, berat badanku naik empat kilogram hanya dalam waktu satu minggu! Bagiamana bisa begitu drastis? Tidak! Aku tidak boleh meminum obat penambah nafsu makan itu lagi! " Mona menjauhkan tubuhnya dari timbangan badan, lalu menuju laci dimana ia menyimpan obat itu. Setelah berhasil menemukannya, segera ia membuangnya ke toilet agar tidak lagi tubuhnya menyentuh obat itu.


" Nak, kau memang bilang ingin sedikit gemuk kan? "


Mona mengusap wajahnya yang panik dengan kasar.


" Iya, tapi kalau satu minggu naik empat kilogram, apa yang akan terjadi dalam satu bulan? Sudah cukup, sekarang aku harus berilah raga agar bentuk tubuhku kembali bagus. "


Ibu menghela nafasnya karena bingung bagaimana harus menghadapi Mona yamg sekarang ink sangat aneh.


" Aduh! " Mona memekik sembari memegangi perutnya.


" Ada apa, nak? " Tanya Ibunya Mona seraya berjalan cepat menghampiri sang putri dengan mimik panik.


" Ibu, apa ada makanan yang bisa dimakan? "


" Eh? "


" Aku lapar, Ibu. Lapar sekali. " Keluh Mona dengan wajah melasnya.


" Tapi kau kan baru makan satu jam yang lalu, dan juga kau tidak ingin bertambah gemuk kan? "


Mona mendesah sebal.


" Ibu, makan sedikit lagi tidak akan membuatku gemuk kan? Lagi pula aku bukannya bilang tidak ingin menambah berat badan lagi, hanya saja karena obat itu berat badanku jadi melesat naik dengan cepat. Sekarang kan sudah tidak minum obat, jadi tidak akan seperti kemarin. "


" Ya sudah, Ibu sedang membuat sup untukmu, Ibu akan ambilkan setelah matang. "


Mona tersenyum, lalu mengangguk setuju.


Apakah Mona sungguhan bisa berhenti banyak makan? Tidak! Kenapa? Itu karena pelayan disana sudah Shen bayar mahal untuk rutin memberikan ramuan penambah nafsu makan secara diam-diam, tak terkecuali sup yang sempat di tinggalkan ibunya Mona tadi.


Ibunya Mona melotot heran karena melihat Mona yang seperti kerasukan setan saat memakan sup yang ia buat tadi. Padahal hari ini tidak makan obat yang tadi Mona buang, kenapa porsi makannya masih saja menggunung?


" Nak, pelan-pelan saja. Tidak akan ada yang berebut denganmu kok. Lagi pula kau sudah tidak ingin banyak menambah berat badan kan? Kontrol sedikit, takutnya nanti kau menjadi gemuk. "


Mona menatap Ibunya sesaat, lalu kembali memakan makanan yang entah mengapa akhir-akhir ini terasa begitu enak dan membuat ketagihan.


" Ibu, bagaimana bisa aku menahan perutku yang lapar sekali ini? Kalau aku menahannya, bisa-bisa aku terkena sakit lambung. Jadi biarkan saja aku memakan sampai aku kenyang. " Mona melanjutkan lagi kegiatan makannya.


Mona tersenyum melihat wajahnya dari sebuah cermin yang dengan jelas memantulkan gambaran dirinya. Ia meraih sebuah lipstik baru yang berwarna merah, lalu mengoleskan dengan rata ke bibir indahnya.


" Sudah berlalu hampir dua minggu, kau pasti merindukanku kan? " Mona kembali tersenyum setelah lipstik warna merah itu rata menghiasi bibirnya. Sebenarnya dia agak tidak percaya diri, tapi kalau tidak dicoba untuk menggoda Arnaold, mana mungkin dia tahu hasilnya.


Segera dia meraih minibag nya, memakai heels yang lumayan tinggi, lalu berjalan menuju parkiran mobilnya. Lagi, dia meminjam nama Anya sebagai alasan kedatangannya. Segera sampai di rumah Arnold, dia bergegas berjalan masuk untuk menemui Anya terlebih dulu karena Anya tidak membalas pesan yang ia kirimkan tadi.


" Selamat pagi, Bibi, dan Arnold? " Sapa Mona lalu tersenyum manis sembari menyelipkan rambut ke belakang telinganya. Jujur, Shen ingin sekali tertawa melihat Mona, tapi dia terpaksa harus menahannya demi kelangsungan rencananya.


" Selamat pagi, Mona? " Ibu Resa sempat sebentar bengong karena tidak biasa melihat bagiamana penampilan Mona yang tidak seperti biasanya. Bahkan dia juga merasa heran dengan tubuh Mona yang kini lebih berisi dari sebelumya.


" Apa kabar Bibi? "


" Oh, ah, baik. Baik sekali, bagaimana denganmu? "


" Aku juga baik, Bibi. " Mona kini menatap ke arah Arnold yang juga menatapnya tak henti. Terpesona? Tidak! Arnold hanya heran kenapa Mona berpenampilan tidak seperti biasanya?


" Oh iya, Bibi. Anya ada dimana? "


Ibu Resa menghela nafas, kalau membicarakan tentang Anya, sebenarnya dia cukup sedih karena sang putri seperti tengah menyembunyikan sesuatu, apakah dia sedang putus cinta? Batin Ibu Resa.


" Dia ada dikamar, beberapa hari ini dia tidak enak badan, jadi dia memilih banyak istirahat. "


" Begitu ya? Ya sudah, aku ke kamar Anya dulu ya Bibi? "


Ibu Reda mengangguk ramah.


" Asha, Ibu lupa mengambil kotak bekalmu di tas sekolahmu, Ibu ke kamarmu dulu untuk ambil, lalu menyiapkan bekal untukmu ya? " Asha mengangguk.


Shen berjalan cepat, dia menuju ke arah Mona yang hampir meraih handle pintu kamar Anya.


" Mona! " Panggil Shen seraya berjalan mendekat.


Mona memutar bola matanya jengah, lalu membalikkan badannya untuk menatap Shen.


" Apa? "


Shen yang tadi sempat mengambil dua lembar tisu kini tergerak berniat untuk menghapus bibir Mona dengan wajah marah.


" Apa yang ingin kau lakukan?! " Mona menahan tangan Shen sebelum bisa menyentuh bibirnya.


" Aku memberimu saran agar kau tidak menggoda suamiku! Hapus warna lipstik mu! "


Mona tersenyum, lalu menghempaskan dengan kasar tangan Shen.


" Kenapa? kau takut tidak bisa melawanku lagi? Tadi aku sempat melihat bagiamana Arnold terus menatap ke arahku, Shen, kebodohanmu itu ternyata belum hilang ya? Tapi terimakasih karena memberiku saran yang brilian, aku pastikan Arnold akan kembali padaku. "


Mona beranjak pergi meninggalkan Shen yang berwajah marah. Iya, dia amat bahagia bisa melihat kemarahan dan kecemburuan shen itu.


Sementara Shen, dia mulai tersenyum saat Anya sudah masuk kedalam kamar Anya.


Berpikirlah seperti itu terus Mona, anggap saja aku sebodoh itu. Lalu kita lihat di akhir, kau atau aku yang akan berdiri dengan kemenangan.


Bersambung......