
Sudah satu bulan, dan ini saatnya Shen, Asha, dan Zera kembali dengan suasana hati yang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Memang sih, satu bulan bukan waktu yang bisa menghukum Arnold atas tindakannya, tapi bukankah semua juga tidak akan berujung kalau dia tidak kembali?
" Kau sudah siap? " Tanya Shen setelah membuka pintu kamar Asha.
" Sudah, Ibu. " Asha menepuk koper kecil berwarna merah muda miliknya dengan senyum yang mengembang sempurna. Iya, Shen juga tahu jika Asha merindukan Ayahnya, karena setelah dia memberitahu Asha bahwa mereka akan kembali, Asha jadi semakin lebih ceria lagi.
" Baiklah, ayo kita jalan. " Ajak Shen, dia mengangkat koper milik putrinya, lalu menggandeng tangannya.
Dua puluh empat jam waktu yang dihabiskan mereka bertiga untuk menempuh waktu perjalanan agar bisa kembali ke negaranya.
" Asha, kita pulang kerumah nenek Lean untuk istirahat ya? "
" Kenapa? Jadi kita tidak langsung bertemu Ayah? "
Shen tersenyum, lalu mengudap kepala Asha dengan lembut.
" Kita akan bertemu dengan Ayah, tapi tidak hari ini. Kau pasti lelah kan? Dan juga ada yang harus Ibu kerjakan, setelah selesai baru kita bertemu Ayah besok pagi, bagaimana? " Asha mengangguk setuju meski wajahnya jelas menunjukkan bahwa dia merasa keberatan dengan usulan Ibunya.
Sesampainya di rumah Ibu Lean, Asha, Shen, dan Zera disambut hangat oleh Ibu Lean dan yang lainya. Maklum saka, Shen pergi tidak memberitahu kemana, juga tidak memberi kabar selama disana. Jadilah mereka hanya bisa menunggu saja sampai Shen dan Asha kembali.
" Ya ampun, cucu nenek yang cantik ini akhirnya pulang juga. " Ibu Lean mendekap erat tubuh mungil Asha, juga memberikan kecupan sayangnya.
" Kemarilah, gadis kakek. " Semua orang bergantian memeluk Asha, juga memeluk Shen karena merindukan mereka berdua.
" Dia, siapa? " Tanya Shen saat melihat Marisa diam saja dengan tatapan yang menurut Shen terasa aneh.
" Oh iya, Ibu sampai lupa. " Ibu Lean berjalan mendekati Marisa, lalu membawa Marisa mendekat kepada Shen.
" Namanya Marisa, dia ini adalah istrinya kakakmu. Jangan salahkan Ibu yang tidak mengabari mu, salahkan saja kau yang tidak mau dihubungi. "
Shen terperangah kaget, dia menatap Digo yang tiba-tiba mengalihkan pandangan.
" Kakak sudah menikah? Kapan mereka menjalin hubungan? Bukanya kakak tidak suka perempuan? Apa kalian melakukan ONS terlebih dulu, lalu terjadi kecelakaan, dan kalian menikah by accident? "
" Shen?! " Ibu Lean melotot kesal dengan ucapan Shen. Entah benar atau tidak, tapi sepertinya dia juga mengharapkan ucapan Shen tadi mendapatkan jawaban dari Digo, ataupun Marisa. Iya, maksudnya dia juga penasaran.
" Oh, iya maaf. " Shen terkekeh sendiri.
" Hai, kakak ipar? Namaku Shenina, panggil saja aku Shen. Kalau dilihat dari wajahmu, sepertinya kau masih lebih muda dariku ya? "
Marisa menerima jabatan tangan Shen. Hangat, juga seperti menyentuh tangan Ibu Lean saat pertama kali mereka bertemu. Entah karena perasaan bersalah, atau karena perasaan yang timbul dari kehangatan tangan Shen, tiba-tiba air mata Marisa terjatuh begitu saja.
" Eh? Kakak ipar kenapa menangis? " Shen mengeryit bingung.
" Ah, maaf. Aku tidak tahu kenapa. Namaku Marisa, tahun ini aku berusia dua puluh empat tahun. " Ucap Marisa setelah selesai menyeka air matanya.
" Oh iya Shen, Marisa ini sedang hamil, jadi kau juga bantu merawatnya ya? " Pinta Ibu Lean.
Shen lagi-lagi ternganga dengan tatapan bahagia.
" Hamil?! Kakak bisa menghamili perempuan? "
" Shen, bagaimana kalau kau pergi berlibur lagi saja? " Usul Digo dengan tatapan mengancam.
" Oh? Hahaha..... Aduh! Perutku sakit. " Ujar Shen sembari memegangi perutnya.
" Shen, hentikan atau aku akan menghajar mu! " Ancam Digo.
" Iya, maaf lagi deh. "
Setelah obrolan remeh antar keluarga itu, kini Asha dan Shen beranjak pergi untuk istirahat. Tak banyak waktu yang digunakan Shen untuk istirahat, hanya butuh satu jam tiga puluh menit, dan dia harus segera pergi untuk mengurus sesuatu sebelum bertemu dengan Arnold besok.
" Shen, mau kemana? " Tanya Ibu Lean yang saat ini tengah menonton TV bersama Marisa.
" Apa perlu Ibu menemani? "
" Tidak usah, aku titip Asha saja. "
Ibu Lean mengangguk setuju dengan senyum di bibirnya, tapi matanya seolah menunjukkan kekhawatiran kepada putri tunggalnya itu. Marisa juga sama, dia seolah tak berani menatap Shen. Sebenarnya memang bukan salahnya, tapi entah mengapa dia merasa malu sendiri dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya, terlebih dia juga takut kalau Shen tidak akan menyukainya kalau tahu dia adik dari wanita yang sudah menghancurkan kehidupan rumah tangganya.
" Marisa, aku tahu apa yang sedari tadi kau pikirkan. Tapi, aku mendidik anak-anak ku dengan cinta, juga kasih sayang, serta saling perduli kepada keluarga, juga kepada orang lain. Shen tidak akan menyalahkan mu, karena aku tahu bagaimana sifat putriku itu. Dia gadis yang manja, tapi dia sangat pengertian dan baik hati. "
Marisa memaksakan senyumnya, lalu mengangguk mengiyakan ucapan Ibu Lean.
Pagi hari.
Shen duduk terdiam memandangi cincin pernikahan yang sudah hampir tujuh tahun melekat di jari manisnya. Sejenak menarik nafas, lalu tersenyum seolah semua akan baik-baik saja.
" Ibu, aku sudah siap! Kita akan. bertemu Ayah pagi ini kan? " Asha tampak bahagia dengan bola mata yang berbinar. Tentu ini adalah hal yang selalu dinginkan oleh Shen, melihat binar bahagia itu terus menerus, dan menjadi kekuatannya untuk menghadapi segala hal yang menyakitkan di masa depan.
" Tentu saja. " Shen mengulurkan tangan untuk menggandeng tangan Asha.
Rupanya Asha benar-benar bahagia, dia bahkan tak berhenti bernyanyi selama perjalanan ke rumah Arnold.
" Asha? "
" Iya? "
Shen terdiam sejenak.
" Asha, apapun situasinya, Ayah dan juga Ibu akan tetap mencintaimu. Ibu akan menjadi Ibumu selamanya, dan Ayahmu juga akan menjadi Ayahmu selamanya. "
" Em! Aku tahu! Ayah dan Ibu adalah orang tua terbaik di dunia. "
Shen mengeratkan cengkraman tangannya yang tengah memegang setir kemudi.
Sesampainya dirumah Arnold.
" Ayah! Ayah! "
Arnold yang sedari semalam terduduk di lantai kamar Asha dengan mata terpejam kini tiba-tiba terbuka. Sejenak dia terdiam, apakah ini mimpi? Kenapa dia seperti mendengar suara Asha?
" Ayah! "
" Asha?! " Ibu Resa berjalan cepat, dia menghampiri Adha dan memeluk tubuhnya erat.
" Nenek rindu sekali, sayang. "
" Aku juga, nenek. " Ujar Asha.
" Arnold! Asha sudah pulang! "
mendengar suara Ibunya berteriak, Arnold bergegas keluar dari kamar Asha, lalu dengan cepat menuruni anak tangga.
" Asha? Shen? " Arnold tersenyum bahagia hingga matanya memerah karena haru. Bergegas dia melanjutkan langkahnya, lalu memeluk Asha.
" Ayah merindukanmu, Ayah sangat merindukan mu. " Ucap Arnold setelah mengangkat tubuh Asha dan membawanya kedalam gendongannya. Dia mencium pipi, kening, mata, hidup, juga bibir mungil Asha, dan kembali memeluknya erat-erat. Setelah lumayan puas memeluk Asha, kini tatapan Arnold tertuju kepada Shen.
" Shen, aku merindukanmu. " Arnold memeluk Shen dengan erat, di biarkannya air mata itu jatuh dari pelupuk matanya.
Ibu Resa meneteskan air mata harunya karena merasa senang atas kembalinya Asha dan Shen. Tapi saat matanya melihat bagaimana Shen berekspresi saat Arnold memeluknya, Ibu Resa menjadi tidak bisa lagi merasakan haru.
Bersambung....