Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 79



" Uangnya akan aku kirim setelah ini, besok jangan sampai terlambat lagi, dan jangan sampai membuatku kecewa, atau aku tidak akan lagi menjadikanmu simpanan ku lagi. " Pria paruh baya itu berucap sembari mengancingkan kemejanya setelah melakukan pergumulan panas bersama Mona. Sudah satu bulan lebih, Mona bergantung dengan pria-pria paruh baya yang dulunya memuja dirinya.


" Aku akan kirim uang lebih, kau pergilah ke dokter untuk merawat dengan baik bagian inti mu karena rasanya sudah mulai longgar. " Pria itu melenggang meninggalkan Mona yang tertunduk menahan marah juga sakit di hatinya.


" Kenapa jadi seperti ini? " Mona mencengkram kuat selimut tebal yang tengah ia gunakan untuk menutup tubuh polosnya yang kini penuh dengan tanda merah bekas pria paruh baya yang ia layani. Awalanya dia pikir hanya akan melayani pria-pria itu sampai dia keluar dari kesulitan ekonomi, tapi siapa sangka kalau perekonomiannya tak kunjung membaik, dan membuatnya seolah tak memiliki pilihan lain selain melakukan itu semua. Toko kosmetiknya yang sudah hampir bangkrut, belum juga kebutuhan pribadinya yang serba mahal, tapi untunglah Ayahnya sudah mulai membuka usaha kecil-kecilan, jadi ia tak terlalu merasa bersalah karena memberikan uang hasil menjual tubuhnya kepada mereka.


Mona menoleh ke samping dimana ponselnya berada. Dia menghela nafas seraya menahan denyutan nyeri di dadanya. Pria yang tadi ia layani rupanya cukup banyak mengirimkan uang, tapi pesan terpentingnya adalah untuk merawat bagian intinya yang dirasakan mulai longgar. Terhina? Iya, dia merasa terhina meski tak bisa membantah hinaan itu.


" Andai saja Shen tidak kembali setelah kecelakaan itu, aku pasti tidak akan jadi begini, aku pasti sudah duduk dengan tenang menikmati hari-hariku sebagai Nyonya Arnold. Aku benar-benar membencimu, Shen! " Mona membuang ponselnya, lalu menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan seraya menangis tersedu-sedu.


Bruk!


Mona menjatuhkan dirinya dengan posisi duduk di atas tempat tidurnya begitu ia sampai di rumah. Tatapannya sebentar terasa kosong, tapi tak lama mulai terlihat pilu. Ia berjalan pelan menuju kamar mandi, lalu menanggalkan seluruh pakaiannya untuk membersihkan diri karena tadi tidak sempat saat di hotel. Dia terdiam memandangi tubuhnya yang banyak sekali tertinggal noda merah.


" Pria tua bajingan! " Mona mengepal kuat karena kekesalan yang tak mampu menemukan pelampiasan. Begitu menyedihkan rasanya melihat tubuhnya yang sudah disentuh oleh beberapa pria paruh baya demi kelangsungan hidupnya. Tubuh yang duku dikagumi banyak orang, wajah yang membuat banyak orang iri, sekarang mengapa seperti tak berharga sama sekali? Bukanya duku setiap kali selesai melakukannya dengan Arnold dia akan merasa bahagia melihat bekas merah ditubuhnya? Apakah karena pria itu tidak setampan dan se-gagah Arnold jadi dia benci? Ataukah karena tubuh itu terasa kotor? Ataukah karena dia membenci situasinya? Entahlah! Tuhan mungkin yang tahu.


Segera Mona membersihkan tubuhnya dengan kasar hingga berkali-kali menggosoknya berharap noda-noda merah, beserta ingatan tentang pria paruh baya menjijikkan itu menghilang dari otaknya. Tidak tahu akan jadi seperti apa hidupnya, yang pasti Mona merasa sudah tidak mungkin lagi memikirkan hal lain sekarang ini.


***


" Katakan padaku, apa kau yang melakukanya?! " Marisa menunjukkan sebuah gambar yang membuatnya tak tahan lagi untuk menangis. Gambar itu adalah gambar Mona dan salah satu pria paruh baya yang sedang melakukan hubungan badan.


" Siapa yang mengizinkanmu memeriksa ponselku? " Digo menatap tajam Marisa yang menangis sembari menunjukkan layar ponsel berisi photo Mona dan seorang pria, untunglah pesan sebelumnya sudah di hapus, batin Digo.


" Bukan itu yang jadi masalah, Digo. Tidak penting kenapa bisa aku memeriksa ponselmu, sekarang katakan saja padaku, kenapa kau melakukan ini?! Kenapa?! Kau kan sudah janji tidak akan melakukan apapun pada keluargaku, kenapa kau mengingkari janjimu?! " Marisa menahan kembang kempis dadanya yang tak karuan mengatur nafas hingga tersengal beberapa kali saat bicara tadi.


Digo terdiam sejenak, dia menatap kembali kedua bola mata Marisa yang nampak begitu kecewa. Digo menghela nafas panjang, di raihnya ponsel dari tangan Marisa, lalu berbalik berniat untuk pergi dari kamarnya. Bukan tidak ingin menjawab, hanya saja Marisa terlihat kacau, jadi dia pikir kalau Marisa pasti tidak akan percaya apapun dengan yang dia katakan nanti.


" Selangkah saja kau keluar dari kamar ini tanpa penjelasan, aku benar-benar tidak akan membuatkan anakmu lahir, Digo. "


Deg!


Langkah kaki Digo terhenti, tangannya yang sudah akan meraih handle pintu juga mengambang di udara selama beberapa detik sebelum dia kembali memutar tubuhnya menatap Marisa yang justru semakin kacau.


" Kenapa kau melakukan ini? " Marisa mencengkram kuat kain daster hamil yang ia gunakan karena takut kalau saja jawaban itu seperti yang dia pikirkan.


Digo tersenyum miring.


" Aku memang ingin membuat kakakmu itu miskin, tapi siapa sangka kalau dia bahkan sudah miskin terlebih dulu, dan dia juga menjadi wanita simpanan beberapa pria sekarang. Itu adalah jalan yang dipilih oleh kakakmu, tentu saja bukan salahku. "


Marisa menyeka air matanya, dia menghela nafas berharap dapat sedikit mengurangi segala kekesalan yang tertimbun di dadanya.


" Digo, aku tahu kau ikut campur sehingga kakakku bisa sampai seperti ini. "


Digo menelan salivanya tanpa ekspresi.


" Kakakmu saja yang bodoh, bukanya dia bisa menolak? Atau datang padaku, lalu memohon, mungkin saja aku akan sedikit berbelas kasih. "


Marisa mengepalkan tangannya kuat, matanya semakin bercucuran meski tak sedikitpun suara terdengar dari bibirnya. Sakit, sungguh sangat menyakitkan kata-kata Digo barusan. Iya, dia tahu kalau Mona sudah melakukan kesalahan dengan menyakiti adiknya, tapi apakah tidak cukup hingga harus sampai membuat kakaknya seperti ini? Simpanan beberapa pria, belum lagi kata-kata Digo yang seolah menjatuhkan sekali harga diri yang seharunya milik keluarga.


" Digo, aku tahu, aku sangat tahu kalau kakakku, juga kami sekeluarga sangat jauh dari dirimu. Aku juga paham kakakku sudah melakukan kesalahan yang besar, tapi bagaiman denganmu? Aku adalah korban mu, Digo. " Marisaa menunjuk dirinya sendiri, berkata-kata dengan bibir bergetar menahan tangis yang hampir saja pecah.


" Kau sibuk menghakimi orang lain, lalu bagaimana dengan kesalahanmu? Apakah kau berpikir kau bebas melakukan apapun karena kau punya uang? Digo, kau bukanlah Tuhan, tolong jangan menghukum orang lain karena itu bukan tugasmu. "


Digo mencengkram kuat dagu Marisa, menatapnya marah, hingga tidak perduli bagaimana Marisa merasakan sakit dalam diam.


" Berhenti banyak bicara! Aku memperlakukanmu dengan lembut juga karena desak kan Ibuku, jadi jangan salah paham, Kau masih tetap mainan bagiku, kau mengerti? " Digo menjauhkan tangannya dari dagu Marisa dengan kasar.


" Baik, aku sudah mengerti sekarang. Mulai hari ini, berbuatlah sesukamu, karena setiap tindakan akan mendapatkan balasannya dari Tuhan. "


Digo keluar dari kamar dengan wajah marah.


Bersambung...