
" Arnold, lihat aku! Apakah aku tidak menarik lagi? Aku tidak kehilangan kemampuanku, aku bisa melakukan apa yang kau lakukan dengan Shen, jadi mari kita lakukan agar aku bisa membuktikannya. " Mona melajukan langkahnya berniat merengkuh Arnold, Tetapi niat itu tidak dapat ia lanjutkan karena Arnold segera menahan tubuhnya untuk tidak lagi semakin mendekat padanya.
" Kenapa? " Mona menatap dengan tatapan kecewa. Rasanya sudah merendahkan diri hingga sejauh ini, tapi kenapa Arnold malah semakin menjauh? Padahal dia sudah susah payah membuat Arnold dekat dengannya, tapi karena Shen kembali dengan tampilan yang berbeda, semuanya menjadi ikut berubah.
Dia akui, dari awal Arnold memang dingin dan tidak mudah didekati, tapi tak khayal dia juga sempat merasakan Arnold mulai membuka hati untuknya, lalu apakah secepat itu hatinya tertutup saat dia belum sepenuhnya masuk kedalam sana?
" Arnold, aku tahu kau memiliki rasa untukku, tapi kenapa kau begitu berubah? Apa yang kurang dariku? "
Arnold mengeraskan rahangnya. Sejujurnya apa yang kurang? Bukan itu yang pasti. Karena hatinya lah yang tidak memiliki keteguhan, hatinya lah yang berputar-putar di lingkaran yang sama, sudah mencoba untuk mencari rasa yang lain yaitu, menerima Mona. Tapi pada akhirnya dia justru kembali ke titik awal, dengan rasa yang berbeda. Iya, rasa cinta dihatinya tumbuh, dan cinta di hatinya itu milik Shen.
" Mona, aku yang kurang memahami hatiku, aku yang kurang keyakinan, dan aku yang kurang segala hal. Aku ragu, lalu membiarkan mu masuk semakin dalam dengan perasaanmu, tapi perasaan yang aku miliki nyatanya tak bisa ku arahkan sesuka hati. Aku jatuh hati, tapi bukan denganmu, melainkan istriku sendiri. "
Mona kembali meneteskan air matanya. Dia memang sudah menduganya, tapi rasanya tetap sakit saat Arnold mengatakannya secara langsung. Benar, dari awal Arnold memang tidak menjanjikan apapun, termasuk cintanya. Tapi hatinya sudah begitu hanyut dalam lautan khayalan akan Arnold, bagaimana bisa dia menerima dan menganggap semua akan menjadi masa lalu saja?
" Arnold, kau pikir kau bisa membebaskan hatimu dengan mengatakan itu? Kau pikir aku akan mengerti dan mulai menjauh? " Mona tersenyum dengan tatapan kecewa.
" Aku adalah Mona, aku tidak akan menyerah, kau pikir dengan mengatakan itu kau akan hidup bahagia bersama Shen? Tidak! Digo, dan juga keluarga Shen lainnya tidak akan membiarkan Shen terus bersama pria yang sudah pernah berselingkuh dari Shen tercintanya. "
Arnold menatap Mona marah, memang benar apa yang Mona katakan, tapi kalau urusan rumah tangga bukanya Shen adalah istrinya? Mereka memang adalah keluarga kandung, tapi statusnya sebagai suami juga tidak kalah kan?
" Mona, terimakasih karena sudah mengingatkan. Sekarang pergilah, aku harus bersiap untuk menjemput putriku. "
Brak!
Mona menutup mulutnya agar tak bersuara saat dia menangis. Sungguh sangat sakit hati yang tengah patah, tapi semua itu justru membuat Mona semakin tak akan mengalah.
" Bagaimana rasanya? " Shen yang sudah kembali dengan segelas air tersenyum menatap betapa menderitanya Mona.
Mona tak menjawab, tapi dia mulai melangkahkan kaki dan melewati Shen.
" Bagaimana rasanya saat cinta mendorongmu untuk masuk kedalam hati seseorang, tapi orang itu juga mendorongmu keluar dari hatinya? "
Mona menghentikan langkahnya, dia berbalik menatap punggung Shen yang mulai berubah posisi karena Shen memutar tubuhnya menatap Mona.
" Kau sengaja ingin membalasku? " Mona menatap dengan tatapan marah.
Shen terkekeh sebentar. Kini matanya dingin menatap sosok wanita yang dulu begitu angkuh, dan sangat percaya diri saat menghinanya.
" Iya, tapi siapa sangka kalau semudah itu kau mencoba bunuh diri. " Shen berjalan mendekati Mona, menyibakkan rambutnya, lalu membisikkan sesuatu di telinganya.
" Lihatlah dirimu, dan nilai lah dirimu sendiri, seberapa murahannya dirimu, dan betapa menjijikkannya wanita yang selalu menyodorkan dirinya kepada laki-laki. " Shen menjauhkan tubuhnya, lalu tersenyum kembali.
Mona mengigit bibir bawahnya kesal, mengepal kuat karena dada yang berdenyut sakit dan ngilu mendengar ucapan Shen.
" Arnold, dia hanya terlena sesaat. Cepat atau lambat, dia pasti akan kembali padaku. "
Berbeda dengan Shen, Mona kini semakin marah hingga nafasnya menderu tak beraturan.
" Kau boleh saja menang sekarang, tapi aku akan membuktikan bahwa aku tidak akan terus kalah, Arnold adalah milikku! " Mona mendelik kesal hingga kedua kepalan tangannya gemetar hebat.
" Arnold? Bahkan sampah bekas ku saja tidak akan pernah aku biarkan kau memungutnya. "
Mona semakin tak tahan lagi, jadi dia memilih untuk bergegas pergi meninggalkan Shen agar tak semakin membuat hatinya kacau.
Jika Arnold masih ingin pergi dari sisiku, maka tentu saja tidak akan aku larang. Karena laki-laki yang tidak bisa bertahan dengan satu wanita saja, dan berhenti mendua setelah perselingkuhannya terungkap, maka laki-laki itu hanyalah sampah tidak berguna. Tapi sampah juga tidak akan kubiarkan kau mendapatkannya.
Shen tersenyum miring, dia menatap ke arah bawah dimana Mona sedang berjalan menuruni anak tangga. Tapi setelah dia melintas tepat di bawahnya, Shen menuang segelas air yang ia pegang dan mengenai Mona, serta membuat wanita itu terjatuh karena lantai yang licin.
" Ah! " Pekik Mona saat dia terjatuh dengan posisi duduk.
" Shen!! " Teriak Mona menatap ke atas tepat kearah Shen.
" Oh, maaf! Tanganku licin. "
" Kakak! " Anya berjalan dengan hati-hati untuk menolong Mona, begitu juga dengan Ibu Resa yang baru datang dan langsung berwajah panik.
Anya dan Mona kompak menatap Shen dengan marah. Sementara Ibu Resa hanya bisa memijat pelipisnya karena pusing degan semua yang terjadi belakangan ini, terlebih saat Mona dan Shen berdekatan.
" Shen! Kau sengaja kan?! Jawab jujur, dasar brengsek! "
" Aku bilang tanganku licin, tapi kau juga harus tetap bersyukur karena gelas ini tidak menimpa kepalamu kan? " Shen tersenyum tipis.
" Kak Shen, Mona adalah tamuku, kau seharunya tidak boleh memperlakukannya dengan buruk! " Kesal Anya.
Shen terdiam dengan wajah dingin.
" Kalau dia memang tamu, dan juga teman mu, maka jaga dia dan jangan biarkan dia mendatangi kamar suamiku. Kalau dia terus salah mendatangi kamar, aku sarankan untuk jangan terlalu banyak memelihara teman semacam ini. Karena bisa saja dia salah mendatangi kamar lelakimu nanti. " Shen tersenyum miring, lalu berjalan meninggalkan tempat menuju kamarnya sendiri.
" Shen!! Kau brengsek! " Pekik Mona yang sudah tidak tahan lagi dengan rasa marahnya.
" Kenapa kau melakukan itu? "
Langkah kaki Shen terhenti saat suara Arnold terdengar. Dia tersenyum, lalu membalikkan tubuhnya.
" Karena aku merasa dia kotor, dan aku berniat membersihkannya dengan air. Tapi ternyata, dia tetap saja kotor. " Shen meninggalkan senyum sebelum masuk kedalam kamarnya.
Bersambung......
***