
Pagi hari.
Tak seperti biasanya, karena hari ini yang menyiapkan sarapan adalah Mona. Sayur capcay dengan potongan daging ayam, ada telur ceplok, juga ada ikan goreng.
" Ibu, aku tidak mau telur yang ada kecapnya. " Ucap Asha merengut saat Mona meletakkan telur ke piring Asha.
" Pft.....! " Shen menutup mulutnya karena tidak kuasa menahan diri untuk tidak tertawa.
" Sayang, itu bukan kecap, tapi hitam karena gosong. "
Asha menjauhkan piringnya, lalu menatap sedih ke wajah Ibunya yang membiarkan Mona melayaninya.
" Ibu, aku mau makanan buatan Ibu. " Rengek Asha.
" Asha, kalau tidak mau telur, kan ada ikan. " Ujar Mona memaksakan senyumnya.
" Tidak mau! "
Ya Tuhan,.... Shen benar-benar terhibur melihat apa yang terjadi pagi ini. Mona yang bangun pagi-pagi sekali, memakai daster rumahan yang dulu ia pakai, memasak dengan rambut digulung ke atas, bau asap dapur, berkeringat hingga membuat lepek dasternya. Huh! ini benar-benar gambaran dirinya dulu, melayani Anya yang sangat suka protes seperti Asha sekarang ini, mencoba mengambil hati Arnold yang kini menatapnya dingin, dan Ibu Resa yang masih terdiam karena tidak bisa berbuat apa-apa.
" Aduh! Mona, maaf, tapi aku tidak makan sebanyak yang kau makan. " Shen tersenyum menatap Mona yang kini tengah menahan diri untuk tidak marah. Kenapa? Karena dia merasa Dejavu dengan kejadian ini, dan setelah dia ingat lagi, kata-kata itu dulu ia gunakan untuk menghina Shen secara tidak langsung.
Sabar, Mona kembali bergerak untuk mengurangi nasi yang ada di piring Shen. Setelah itu, barulah ia duduk di kursinya yang berada di samping Arnold.
Sejenak dia mengigit bibir bawahnya karena merasa malu. Malu karena dia menyendok nasi yang sangat banyak, belum juga lauk pauk double dari pada yang lainnya.
" Oh iya, Arnold kau mau minum jus? Aku akan buatkan untukmu ya? "
Shen kembali tersenyum, ternyata Mona benar-benar berusaha sangat payah seperti dirinya dulu. Tapi syukurlah, dia masih bisa mengabaikan itu semua demi mendapatkan hati Arnold, dan memberikan kesan baik untuk calon Ibu mertuanya.
" Tidak perlu. " Arnold sebenarnya sama sekali tidak suka dilayani oleh Mona. Selain tidak sesuai porsinya, makanan yang dibuat Mona terlalu berminyak.
Sementara Asha, dia hanya bisa memakan selembar roti dengan selai coklat yang diberikan Shen untuknya.
Setelah sarapan selesai, Shen bergegas menysul Arnold yang sudah lebih dulu berjalan menuju teras rumah karena sudah waktunya dia bekerja.
" Arnold! " Panggil Shen.
" Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku saat kau sudah ingin berangkat? " Ucap Shen seraya berjalan mendekati Arnold yang terdiam seperti tatapan tidak percaya bahwa Shen masih ingin bicara padanya.
" Kenapa kau diam? Apa kau membenciku karena adikku? "
" Bukan, aku sudah melakukan kesalahan lagi, jadi aku pikir kau tidak akan mau mengantarku ke depan lagi. "
Shen tersenyum, dia memeluk tubuh Arnold.
" Aku memang marah dan kecewa padamu, tapi aku bisa apa? Semua sudah terjadi, sekarang hanya bisa membiasakan diri untuk tidak terlalu dekat denganmu karena akan ada Mona di antara kita. "
Nyut!
Lagi, dada Arnold terasa seperti di tusuk sesuatu hingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.
" Maaf, aku benar-benar menggila karena kemarahan ku. Aku tahu apa yang aku lakukan sekarang ini sudah sangat mematahkan hatimu, sekarang aku bahkan tidak tahu seberapa besar kekacauan yang akan terjadi atas tindakan bodohku. " Ucap Arnold seraya menikmati aroma shampo dari rambut Shen yang kini terbenam di dadanya.
Shen mengurai pelukannya, menaikan tatapannya agar bisa bertatapan dengan Arnold yang juga tengah menatapnya.
" Kalau begitu jalani saja. " Shen menjijitkan kakinya, begitu juga dengan Arnold yang menunduk karena dia tahu Shen ingin mencium bibirnya.
" Eh, ada Mona? " Shen berpura-pura terkejut, lalu tersenyum setelahnya.
" Ada apa? Kok kelihatannya sedang kesal? "
" Kelihatannya? " Mona menatap tajam bola mata Shen yang terlihat berbinar bahagia.
" Kau sendiri yang bilang kalau akan menjadi tugasku melayani Arnold, tapi kau tetap saja merusuhi kesempatanku! Seharusnya aku yang mengantar Arnold, kan? "
Shen menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan senyum yang seolah kikuk dengan kata-kata Mona barusan.
" Sudahlah, aku minta maaf kalau kau merasa seperti itu. Dari pada bertengkar, bagaimana kalau aku temani ke pusat belanja agar kau bisa membeli baju baru? Kau tidak mungkin selamanya menggunakan baju bekas mu kan? "
Mona mengeryit heran dengan tawaran Shen yang aneh baginya.
" Rencana licik apa yang ada di otakmu huh?! " Mona mendelik dengan tatapan menelisik mencoba menerka apa maksud dan tujuan dari ucapan Shen.
" Aduh, aku tidak punya maksud. Hanya saja aku tidak rela baju milikku dipakai oleh mu. Sekarang daster yang kau pakai, nanti kalau kau memakai suamiku bagaimana? "
Mona menaikkan sisi bibirnya karena kesal dengan ucapan Shen meski memang dia memiliki niat itu. Setelah dipikirkan kembali, dia memang ogah memakai baju Shen yang seperti kebanyakan Ibu rumah tangga lain yang jauh dari kata stylish. Kalaupun harus memakai daster, tentu saja dia ingin menggunakan daster yang memiliki corak tren kekinian.
" Bagaimana? Mau aku temani tidak? "
Mona menelan ludahnya sendiri karena tidak biasa akrab dengan Shen yang menjadi saingannya selama ini. Tapi dari pada pergi sendiri, lebih baik biarkan saja Shen menyebalkan itu ikutb, batin Mona.
" Ya sudah! "
Disebuah pusat belanja yang cukup terkenal dengan barang-barang branded. Tapi tak juga melulu branded, karena disana juga ada produk lokal yang berkualitas baik, bahkan ada beberapa yang bisa melebihi barang luar negeri yang digemari banyak kalangan atas.
" Biarkan aku yang membawanya untukmu. " Shen mengambil tiga dari empat paper bag milik Mona.
" Tidak perlu! "
" Ayolah, tidak apa-apa. Lagi pula aku kan tidak membeli apapun. "
Mona membiarkan saja karena malas berdebat dengan Shen yang aneh sekali hari ini.
" Aduh! Mona, sepatumu kotor. " Shen berjongkok dengan kesulitan, laku menyeka sepatu Mona dengan telapak tangannya.
" Apa yang kau lakukan?! " Bentak Mona seraya menepis tangan Shen menggunakan satu kakinya.
" Aku hanya menyeka debu di sepatumu. " Shen mendongak dengan wajah sedih.
" Kau, jangan aneh-aneh! Aku tidak menyuruhmu melakukan apapun! Jangan sok baik! " Mona merebut tiga paper bag dari tangan Shen, hingga Shen terjatuh dengan posisi duduk.
" Ah! " Pekik Shen, padahal dia sendiri yang mengambil kesempatan untuk jatuh tadi. Tapi jujur ya, itu memang sakit.
" Salahmu sendiri! " Ucap Mona dengan wajah kesalnya, lalu berjalan meninggalkan Shen disana.
Tak jauh dari mereka.
" Ck! Shen ini benar-benar sudah berubah menjadi ratu drama yang luar biasa. " Zera tersenyum miring setelah mendapatkan rekaman Video Shen dan Mona tadi.
" Kau ini hebat ya Shen? Kalau begini, siapa yang tidak akan merasa iba, Iba karena istri sah ditindas oleh calon istri kedua. Heh! "
Bersambung...