
" Arnold, mari kita bercerai. "
Satu kalimat ini seakan mampu membuat hidup Arnold serasa kiamat. Iya, meskipun melihat adanya hal tidak biasa kepada Shen, tapi pria itu masih saja menampik kuat kecurigaannya. Bercerai, sebenarnya baik dulu hingga sekarang dia masih belum bisa membayangkan jika akhirnya akan ada ucapan ini dari mulut Shen. Mungkin, jauh sebelum rasa dihatinya semakin dalam untuk mencintai Shen, kata-kata ini tidak akan sebegitu menyakitkan. Satu kata, Bercerai, yang tak lain adalah sebuah perpisahan.
Arnold menelan salivanya sendiri dengan perasaan sedih yang sedalam apa, sebesar apa juga tidak akan mungkin bisa digambarkan. Setelah kembali melihat wajah Shen yang begitu datar, dia masih ingin tidak percaya. Tapi beberapa detik setelahnya, Shen melepaskan cincin pernikahan yang selama ini selalu dia gunakan dan tidak pernah sekalipun ia lepaskan. Shen menyodorkan cincin itu tepat di depan tangan Arnold yang saling mengait erat dengan tatapan datar.
" Sudah hampir tujuh tahun, dan aku sudah melakukan yang terbaik untukmu, dan juga keluargamu. Sekarang, biarkan aku melakukan apa yang aku inginkan untuk kebahagiaanku, tanpa mengesampingkan kebahagiaan Asha. " Shen meninggalkan senyum di akhir kalimat. Sungguh, rasanya masih sangat berat saat mencoba melepaskan cincin itu tadi. Tidak rela, juga tidak siap akan rasa sakit saat perpisahan. Tapi, bukankah pilihan terbaik adalah melepaskan kait yang menyangkut di hati? Mungkin akan terasa sakit, tidak apa-apa, seiring berjalannya waktu pasti akan sembuh walau menyisakan bekas luka.
Arnold menghembuskan nafas lewat mulut seraya menahan tangis. Tangannya gemetar begitu melihat cincin pernikahan terlepas dari jemari Shen. Sakit? Tentu saja rasanya sangat sakit.
" Shen, kita punya Asha, dan jika kebahagiaan Asha adalah kita hidup bersama bagaimana? "
" Kita tentu saja akan tetap menjadi orang tuanya Asha, Hanya saja status kita yang berbeda. "
Arnold menyimpan tangisnya yang tercekat di tenggorokan. Sejenak dia menarik nafas, mengusap matanya yang memerah, lalu menatap Shen dengan tatapan memohon.
" Shen, aku tahu aku sudah melakukan banyak sekali kesalahan di tujuh tahun pernikahan kita. Aku juga tahu, semua yang terjadi ini tidak akan mudah untuk bisa kau maafkan. Tapi bisakah beri aku waktu untuk menunjukkan kesungguhan ku? "
Shen tersenyum pilu.
" Arnold, aku sudah pernah memberikan kesempatan itu, bahkan berkali-kali. Tapi kau tidak pernah bisa melihatnya. " Shen menghela nafas, dia kembali menatap Arnold yang nampak sangat terluka dengan apa yang dia minta saat ini.
" Arnold, di saat aku mulai sembuh dari kecelakaan waktu itu, orang pertama yang aku ingin lihat adalah wajahmu, lalu Asha. Tapi lagi-lagi aku harus kecewa, dan aku sama sekali tidak bisa berhenti mencintaimu. Aku melakukan segala cara agar kau bisa melihatku, juga mencintaiku. Aku mencoba segala cara untuk menjauhkan Mona dari hidup kita, tapi lagi-lagi kau menariknya mendekat. Awalnya aku hanya ingin mempertahankan rumah tangga kita Arnold. Jujur, aku terlalu terobsesi karena tidak ingin kehilanganmu, kehilangan gelar ku sebagai istri sah mu, dan aku juga tidak rela kalau Mona menjadi Ibu tiri putriku. Tapi, perasaan semacam itu sungguh menyiksaku, Arnold. Aku lelah karena terus berusaha menjauhkan Mona, sementara kau selalu membuatnya mendekat. Aku lelah bersiasat, dan aku juga tahu kalau Mona juga terus menyiksa dirinya hanya demi perhatian darimu. Biarkan aku memilih jalanku, meski bahagia atau tidak, setidaknya aku tidak akan merasakan beban seperti ini lagi. "
" Shen, sungguh aku menyesal untuk segala yang kau alami. Tapi jika bisa menggantikannya, maka aku akan melakukanya untukmu. "
Shen tersenyum setelah menghela nafas.
" Semuanya sudah berlalu, anggap saja apa yang terjadi di masa lalu kita sebagai pembelajaran agar kita hidup dengan lebih baik. " Shen mengeluarkan selembar amplop berwarna coklat dari tasnya, lalu menyerahkannya kepada Arnold.
" Secepat ini? Kau sudah merencanakannya dari jauh-jauh hari? " Tanya Arnold setelah mengetahui bahwa isi dari amplop coklat itu adalah surat permohonan cerai.
" Aku tidak merencanakan bercerai, tapi semua yang terjadi selalu mendorongku untuk melakukan ini. "
" Tidak, berikan aku waktu, jangan secepat ini. " Pinta Arnold.
" Waktu untuk apa? "
" Untuk menunjukkan kesungguhan ku, Shen. "
" Sudah kubilang kan? Aku sudah pernah memberikannya, tapi kau sendirilah yang tidak menggunakannya dengan baik. Arnold, tolong penuhi permintaanku ini ya? "
" Tidak! Shen, kau boleh minta apapun, tapi tidak dengan cerai. "
Shen mengangguk dengan senyum pilunya.
Arnold terdiam, dia membiarkan saja air matanya jatuh membasahi pipinya.
" Kalau begitu, izinkan aku mengejar mu lagi setelah kita bercerai. Biarkan aku berusaha mengembalikan rasa cintamu padaku, dan kita bisa memulainya dari awal lagi. "
Shen terdiam sesaat.
" Aku tidak bisa mengatakan tidak kan? Mau mengejar ku atau tidak, itu adalah pilihanmu. Tapi aku tidak akan menjanjikan apapun padamu, selain kekompakan kita sebagai orang tuanya Asha. " Shen membenahi posisi tasnya, lalu bangkit dari duduknya.
" Untuk Asha, kita akan membagi waktu seadil mungkin. Jangan memaksa jika Asha menolak, jangan menjemputnya diam-diam juga, dan jangan mengatakan hal yang tidak-tidak kepada Asha. "
" Kenapa aku merasa, Asha menjadi korban dari keputusan ini? " Ujar Arnold entah bagaimana ekspresinya karena Shen enggan untuk menatapnya.
" Asha, sudah mnejadi korban semenjak kau membawa Mona ke dalam rumah ini. Saat ini dia memang belum paham artinya Mona, tapi saat dia dewasa, dia akan mengingat kejadian ini, dia akan mengingat bagaimana perlakuan mu kepada Mona, juga terhadapku. Jika kita terus bersama, bayang-bayang Mona juga tidak akan bisa lepas dari kita. Arnold, pernahkah kau memikirkan bagaimana pendapat Asha saat kau memutuskan untuk membawa Mona kerumah ini? "
Nyut!
Sakit sekali rasanya dada Arnold mendengar pertanyaan Shen barusan. Iya, dia tahu dia mengabaikan tentang hal ini, dan sekarang dia juga harus bersiap saat Asha mulai mengerti, mungkin Asha akan membencinya.
" Seperti yang kau pikirkan, Asha akan membencimu. Bukan hanya itu, dia juga akan lebih membencimu karena menahan Ibunya untuk terus bersama hanya karena ego mu yang sulit dikalahkan. " Shen berjalan keluar, lalu menuju dimana Asha sekarang.
" Asha? " Panggil Shen, dia tersenyum seraya mengulurkan tangannya agar Asha berlari ke arahnya, lalu menggenggam erat tangannya.
" Ibu? " Seperti yang Shen harapkan, Asha kini sudah menggenggam jemarinya dengan senyum yang indah.
" Kita kembali dulu, besok baru Ayah akan menjemputmu untuk bermain bersama. Tidak apa-apa kan? "
Sebentar Asha mengeryit karena bingung.
" Kita tidak akan tinggal disini lagi? "
Shen berjongkok agar bisa leluasa bertatapan dengan putrinya.
" Dengar, mulai hari ini, kau akan tinggal dirumah Ibu, juga dirumah Ayah kapanpun kau mau. Seperti itu boleh kan? "
" Kalau aku ingin berjalan-jalan bersama Ayah dan Ibu, apa boleh? "
" Boleh, tapi tidak bisa terlalu sering. "
Asha mengangguk mengerti. Sementara Ibu resa menutup mulutnya Karena paham apa yang telah dibicarakan Shen dan Arnold barusan. Sedih? Iya! Walau bagaimanapun Shen juga menantu yang baik, tapi dia juga tidak bisa menahannya karena malu dengan apa yang sudah terjadi selama ini.
Bersambung....