
Empat bulan sudah waktu terlewati. Perut Marisa sudah semakin membesar karena usia kandungannya hampir tujuh bulan akhir, atau hampir memasuki usia delapan bulan.
Hubungan antara Marisa dan Digo juga malah semakin memburuk karena Marisa hampir tak pernah berbicara kepada Digo, sementara Digo juga merasa canggung jika harus menegur terlebih dulu. Empat bulan terlewati, nyatanya itu semua bagaikan empat abad bagi seorang Digo. Dia hanya bisa memandangi punggung istrinya, menahan diri agar tidak memeluk karena dia tahu akan mendapatkan penolakan.
Hari ini, Digo sudah beberapa kali memergoki Marisa menangis, juga matanya sembab saat malam hari. Jujur, hatinya terasa sakit, ingin sekali memeluk dan meminta maaf. Tapi, setiap kali dia ingin mencoba melakukanya, Marisa seperti sudah bisa merasakannya, dan memilih pergi menjauh agar tak mendengar apapun, atau berbicara apapun dengan Digo.
" Kau tidak bosan seperti ini? Kau tahu sudah berapa lama kau bertingkah gila? " Ucap Digo yang tak bisa menahan lebih lama lagi.
Marisa yang tadinya akan meraih handle pintu kini menghentikan tangannya. Dia berbalik menatap Digo yang terlihat marah, iya Marisa tahu benar jika Digo marah dengan sikapnya selama ini.
" Apa yang kau inginkan dariku? " Tanya Marisa dengan wajah datarnya.
" Aku tidak menginginkan hal besar, hanya jangan seperti ini. Kita adalah suami istri, tapi kau bertingkah seolah-olah kita ini adalah dua manusia asing yang tidak saling kenal. "
" Aku hanya, memenuhi peranku sebagai mainan mu. "
Digo terdiam menahan umpatan kasarnya ingin ia ucapkan kepada Marisa. Tapi, dia juga mengingat dengan jelas bahwa kata-kata itu adalah dia sendiri yang mengatakannya beberapa kali kepada Marisa secara tegas.
" Aku akan tersenyum saat kau memintanya, aku akan melakukan apapun, bukankah kau hanya perlu memerintahkan ku? Bukankah kau hanya perlu mengatakan apapun yang kau inginkan? Nanti kalau sudah merasa terhibur, bukankah hanya tinggal meletakkan ku di sudut ruangan? "
" Marisa, semakin hari kau semakin menjadi saka ya?! "
Marisa menatap kedua bola mata Digo yang mendelik kesal padanya. Takut? Tidak! Dia hanya merasa muak, muka sekali menghadapi Digo dengan segala tingkah polah nya yang kadang arogan, kadang juga manja seperti anak-anak.
" Digo, lihatlah dirimu. Kau memaksakan tubuh bernyawa yang kau anggap mainan ini untuk memenuhi tugas sebagai istri, kau juga menjelaskan status kita, jadi aku bingung harus dominan kemana? Aku ini istri mainan, atau aku istri paruh waktu? "
Digo menghela nafas kesalnya. Dia paham sih kalau dia melakukan kesalahan, tapi dia juga tidak bisa menerima hubungannya yang semakin buruk setiap harinya.
" Marisa, kalau kau mau menguji kesabaran ku, maka kau salah besar. "
" Tidak, aku tahu kau seperti apa. "
Marisa tiba-tiba mengeryit, memegangi perutnya yang terasa sakit hingga terasa panas seketika. Dia menggigit bibir bawahnya, hingga tanpa sadar keringat dingin mulai muncul dari pori-piri kulitnya.
" Ah! "
" Ada apa? " Tanya Digo yang mulai panik saat melihat ada yang tidak beres dengan Marisa.
" Ah! "
" Marisa, kau ini kenapa?! "
Digo melihat kebawah secara tak sengaja karena Marisa terus memegangi perutnya. Darah? Digo membukakan matanya lebar-lebar, perlahan mengangkat tubuh Marisa, dan dengan cepat berjalan menuju ke parkiran mobil.
" Digo, ada apa? " Tanya Ibu Lean yang saat itu tengah berada di rumah, dan tak sengaja melihat Digo menggendong Marisa ke parkiran mobil.
Ibu Lean terkejut seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan.
" Cepat, kita kerumah sakit! "
" Marisa, Marisa! Marisa, buka matamu! Jangan tertidur, Marisa! " Pekik Digo yang bisa dengan jelas melihat Marisa yang terlihat sangat pucat tanpa suara. Matanya terlihat seperti sangat mengantuk, hingga hanya warna putihnya saja yang terlihat.
" Digo, sadarkan dia terus, jangan biarkan dia tidur. " Pinta Ibu Lean yang kini duduk di sebelah sopir dengan panik mempringati Digo.
" Marisa! " Digo menepuk-nepuk pipi Marisa, karena sudah tak lagi membuka mata, Digo akhirnya meraih tangan Marisa yang mulai terasa dingin. Dia menggosok-gosok telapak tangan itu agar kembali terasa hangat. Tapi sayang, keadaan Marisa malah semakin memburuk, tapi untunglah dia segera sampai di rumah sakit.
Setelah tiga puluh menit mendapatkan penanganan, akhirnya Dokter keluar untuk menyampaikan keadaan Marisa.
" Ibu dari bayinya mengalami stres berat yang berlebihan selama kehamilan. Ini juga mengharuskan bayinya dilahirkan segera, setelah prosedur dipenuhi, kami akan segera melakukan tindakan operasi. "
Digo tertunduk lesu, tapi Ibu Lean dengan segera memastikan keadaan keduanya.
" Apa ini akan baik untuk keduanya? " Tanya Ibu Lean.
" Kita lihat setelah operasi selesai nanti. "
Tidak ada lagi suara, Ibu Lean kini sendirian di ruang tunggu selama operasi berlangsung. Sementara Digo, dia kini terus menatap wajah Marisa yang terpejam tak berdaya di ruang operasi. Air matanya luruh tak tertahankan, menyesali apa yang dia lakukan. Mungkin apa yang dia lakukan untuk Mona cukup membuatnya puas. Tapi dia sama sekali tidak memikirkan imbasnya, jika saja pada akhirnya Marisa akan mengalami stres hebat selama kehamilan, dan kini membuat nyawanya dan juga bayinya dalam bahaya, tentu saja dia akan mengesampingkan egonya yang tak bisa menahan untuk tidak membuat Mona menderita.
" Tetaplah hidup, semua yang terjadi adalah salahku. " Digo menggenggam jemari Marisa yang tak sedikitpun bergerak.
" Semua yang terjadi benar adalah salahku, jadi jangan seperti ini. Biarkan aku yang menerima karena telah menyakitimu, kau bangun ya? Aku janji, setelah kau bangun, aku tidak akan pernah lagi ikut campur dengan kehidupan keluargamu, aku juga akan menceritakan segalanya padamu. " Digo mengecup punggung tangan Marisa, juga satu kecupan di keningnya. Di usapnya lembut wanita cantik yang diam-diam sudah menempati ruang di hatinya. Meski mendengar apa yang dia katakan atau tidak, rasanya Digo ingin sekali mengatakan apa yang dia rasakan untuk Marisa.
" Marisa, aku mencintaimu. Tolong jangan pergi meninggalkan aku karena ke marahanmu, berjuanglah untuk hidupmu, Jangan lupakan juga anak kita yang sekarang juga sedang berjuang. Setelah ini aku janji, apapun yang bisa aku lakukan untuk membuatmu bahagia, maka aku akan melakukannya. "
Selama operasi berlangsung, Digo terus menggenggam tangan Marisa, berdoa demi keselamatan Marisa, juga bayinya. Entah sudah berapa kali doa yang sama terucap dari lubuk hatinya yang terdalam hingga operasi selesai.
" Ibunya akan pulih, tapi membutuhkan waktu karena pendarahan hebat. Sedangkan bayinya membutuhkan perawatan intensif karena kondisinya yang lemah, juga paru-parunya yang masih belum matang. "
Digo memegangi tembok untuk menopang tubuhnya yang lemas.
" Apakah anakku akan baik-baik saja? "
" Kita akan berusaha sebaik mungkin agar anak anda bisa melewati masa kritisnya, Tuan. Semoga Tuhan juga memberikan mukjizat nya. "
Kritis? Bahkan dia hampir tidak bisa berdiri melihat Marisa yang tak kunjung sadar, kini dia juga harus menerima kenyataan bahwa putranya dalam keadaan kritis?
" Marisa, bagaimana aku memberitahumu nanti? "
Bersambung....