
Marisa dan Digo kembali ke rumah dengan perasaan yang lega. Setelah memeriksakan diri ke Dokter, rupanya Marisa mengalami darah rendah. Tak ada yang perlu di khawatirkan dengan kandungannya, selama Marisa rutin mengkonsumsi obat juga vitamin yang di berikan Dokter, semuanya akan baik-baik saja nantinya.
" Dengar Digo, sekarang ini tugasmu sebagai seorang suami adalah menjaga dengan baik istri dan calon anakmu. Jangan sekalipun membuat emosi Marisa tidak stabil dengan mulut tajam mu, dan kau juga tidak diperbolehkan membantah keinginan Marisa. " Ibu Lean memberi perintah dengan wajah serius dan mengancam apabila ucapannya tadi diremehkan oleh anaknya, maka dia juga tidak akan segan-segan bertindak tegas.
" Aku tidak pernah membuat Marisa emosi kok, juga aku tidak pernah membantah apa yang dia ucapkan. " Kilah Digo tak berani menatap mata Ibunya.
" Heh! Kemarin aku lihat, Marisa meminta pak satpam untuk membelikan martabak telur, lalu meminta pak satpam membelikan asinan buah, burger, soto, juga bubur ayam. Coba ingat kembali kapan kau membelikan makanan saat Marisa mengidam? "
Digo menelan salivanya seraya melirik kesal kepada Marisa. Ini sungguhan dia tidak tahu menahu soal beli membeli, karena Marisa sama sekali tidak pernah meminta apapun padanya.
" Itu, aku, aku kan- "
" Aku aku aku, apa?! " Ibu Lean semakin melotot tajam, dia bahkan tidak sadar juga memukul meja.
" Kau ini mau jadi ayahnya tidak? Kalau begitu terus, lama-lama bayi yang ada di dalam kandungan Marisa akan memiliki ikatan batin dengan pria yang sudah memenuhi keinginan ngidam Ibunya, dan kau Ayah kandungnya hanya akan di anggap paman oleh anakmu sendiri. "
" Ka kalau begitu ya tinggal pecat saja satpam di depan, kan beres? "
Ibu Lean mendesah sebal. Memang bodoh bin menyebalkan anak sulungnya itu, tapi ya sudahlah, memang harus ekstra sabar kalau membicarakan orang itu.
" Ibu, bagaimana kalau mulai sekarang biarkan saja si sopir baru yang membeli kebutuhan ngidam kakak ipar? Aku lihat sopir baru kita juga cukup tampan, sudah gitu wajahnya oriental sekali, lucu dan manis pula. " Saran Shen sembari melempar senyum kepada Digo yang mulai mendengus kesal.
" Benarkah? Apa dia mirip dengan aktor yang sedang digemari anak muda jaman sekarang? " Tanya Marisa dengan wajah yang mulai antusias.
" Iya! Kakak ipar benar sekali. Boleh koh sering-sering melihat dia, supaya anak kakak ipar nanti mirip dia. Aku sarankan melihatnya pas pagi-pagi dia sedang mencuci mobil, uh.... Ganteng dan imut sekali. " Shen memegangi wajahnya mengagumi wajah sopir barunya yang memang tampan dengan wajah oriental nya.
" Sungguh? " Marisa nampak bersemangat kali ini, dan dia benar-benar tidak sedang berpura-pura karena dia memang mengidolakan aktor yang seperti diceritakan Shen tentang sopir barunya.
Digo mendelik kesal kepada Shen, tapi sepertinya tatapan itu terabaikan seolah Shen memang sengaja mengabaikannya.
" Marisa? " Panggil Digo, bibirnya tersemyum, tapi tatapannya sungguh sangat mengancam.
" Dokter bilang kan harus banyak istirahat, sekarang istirahat ya? Ayo aku antar ke kamar. " Digo mulai bangkit dari posisinya, memeluk pundak Marisa, mengabaikan si pemilik tubuh yang mengeryitkan dahi dengan tatapan tak setuju di bawa ke kamar.
" Cih! Bilang saja cemburu. " Gumam Ibu Lean dan Shen berbarengan.
" Ibu, hari ini aku akan pergi berbelanja, Ibu mau ikut? " Tanya Shen yang sedari tadi memang sudah rapih hendak pergi.
" Tidak ah! Ibu ingin dirumah saja, mengawasi kakakmu, Ibu juga ingin bermain bersama Asha. Kau tidak apa-apa kan pergi sendiri? "
Shen tersenyum, mengangguk, lalu menyodorkan jempolnya.
" Aduh, banyak sekali aku malah jadi bingung. " Gumam Shen masih sibuk memperhatikan tas-tas disana. Baru dia akan berpindah tempat, tida sengaja Shen mendengar beberapa orang seperti membicarakannya, segera Shen memfokuskan telinganya untuk mencuri dengar.
" Iya, dia adalah istri sahnya? Cantik sekali, kenapa suaminya malah memilih wanita seperti itu? Sudah begitu, kenapa juga wanita secantik ini ditindas? Wanita ke dua itu benar-benar tidak tahu malu ya? "
Shen tersenyum miring, sungguh dia tidak menyangka kalau gosip itu sama sekali tidak mereda setelah satu bulan menyebar.
" Hei, Nona? Anda Nona Shenina yang ada di hot news itu ya? " Tanya salah satu Ibu-Ibu yang penasaran dan tidak tahan untuk bertanya.
" Oh, benar saya Shenina. Tapi, berita apa? Hot news apa? " Tanya Shen berpura-pura bingung, juga tidak tahu agar lebih meyakinkan.
" Nona tidak tahu? Video Nona Shenina yang ditindas oleh calon istri kedua suamimu itu kan sudah menyebar luas. "
Shen terperangah berpura-pura terkejut.
" Lihat ini, aku sampai menyimpan videonya. " Ucap Ibu itu sembari menyodorkan ponselnya.
Shen menutup mulutnya seolah dia tengah menahan tangis.
" Mohon maaf atas berita memalukan itu ya? Setelah hari itu saya berlibur keluar negeri, jadi saya kurang informasi, ditambah lagi setelah kembali saya sangat sibuk, sampai tidak mengetahui jika ada berita seperti ini. "
" Ya ampun, Nona Shenina. Aku benar-benar prihatin melihatnya, semoga kau tabah, dan tidak lagi ditindas oleh wanita semacam itu lagi. Tapi tenang saja Nona Shen, kalau aku melihat wanita itu, aku dan teman-temanku akan memberikan pelajaran untuk mewakili mu. " Para kumpulan Ibu-Ibu itu mengangguk setuju dengan wajah yang ikut serta merasakan kekesalan.
" Ya ampun, Nyonya-Nyonya tidak perlu sampai seperti itu, mungkin ini memang sudah jalan takdir saya. " Ujar Shen memperlihatkan dengan jelas senyum pilunya.
" Mana boleh begitu, wanita perebut suami orang adalah wanita yang lupa dimana letak harga dirinya. Anggap saja kita sedang membantu dia untuk mengingat dimana dia meletakkan harga dirinya. " Ibu-Ibu itu nampak bersemangat seolah siap memenuhi ucapannya.
" Baiklah, Nona Shenina. Kami harus segera pergi karena kami akan ada arisan sebentar lagi, jaga dirimu dengan baik ya, Nona Shenina? Jangan mau ditindas lagi oleh wanita kotor seperti itu. "
Shen tersenyum, lalu mengangguk saja.
Wuah! Mona, image mu benar-benar sangat populer sekarang. Lihatlah, Mona! Lihatlah juga wanita di luar sana yang masih saja mau masuk kedalam hubungan rumah tangga orang lain. Sekali kotor, akan tetap kotor seberapapun kamu mencoba membersihkannya.
***
Arnold terdiam layaknya orang kehilangan kehidupannya. Matanya tak henti menitihkan air mata semenjak surat permohonan cerai itu sampai ke tangannya.
Inilah akhir dari perselingkuhan yang ia lakukan. Sekarang harus apa? Mau mengejar Shen lagi juga belum tentu akan menang, kalaupun menikahi Mona juga pasti tidak akan bahagia. Benar, beginilah akhir dari tokoh yang berselingkuh, sebisa apapun mencoba bahagia, semua rasanya akan semu karena bayang-bayang dosa menyakiti hati yang lain akan tetap mengiringi hidupnya.
Bersambung.....