Spicy Wife

Spicy Wife
BAB 55



Arnold terdiam dengan tatapan kosong setelah tubuh gagahnya kini terbalut tuksedo hitam. Rasanya dia ingin sekali mati saja dari pada harus menikah lagi, entah bagaimana dan apa alasannya, tapi perasaan sakit dan tak rela sangat jauh lebih menyakitkan dibanding akan menikahi Shen dulu.


Sudah semalaman dia tidak tidur, juga semalaman dia sudah mencoba untuk keluar kamar agar bisa menemui Shen dan bicara, tapi apa? Saat sampai di depan pintu kamar Shen, yang ada dia malah takut. Iya, dia takut kalau Shen tengah menangis, dan dia tidak akan sanggup melihatnya. Bahkan sampa pagi ini pun dia masih tidak berani melihat bagaimana keadaan Shen.


" Arnold, kau tahu dimana Shen? Semua orang sibuk dan dia entah kemana? " Tanya Ibu Resa setelah membuka pintu kamar Arnold.


" Shen tidak ada? Apa mungkin dia masih di kamar? " Arnold mulai tak tenang, dia segera bangkit dari posisinya, lalu berjalan menuju kamar Shen tanpa mendengarkan apa yang di katakan Ibunya lagi.


Tok Tok


" Shen, kau masih di dalam? Boleh aku masuk? " Lama tak ada jawaban, akhirnya Arnold memutuskan untuk menggerakkan handle pintu, lalu membukanya perlahan karena takut akan menganggu Shen disana.


" Shen? " Panggil Arnold karena tak mendapati Shen ditempat tidur. Dia masih bisa berpikir positif, karena dia pikir Shen sedang berada di dalam kamar mandi. Segera dia berjalan mendekati kamar mandi, mengetuk pintunya hingga beberapa kali. Lumayan lama Arnold memanggil Shen seraya mengetuk pintu kamar mandi, tapi nyatanya dia tak mendapatkan jawaban apapun. Tentu Arnold mulai merasa curiga, maka bergegas dia membuka pintu kamar mandi, dan lagi-lagi tak ada Shen disana.


" Ibu, apa Ibu melihat Shen pagi ini? " Tanya Arnold panik setelah berlari kepada Ibunya.


" Tidak ada, makanya Ibu bertanya padamu. "


Arnold mengusap wajahnya, dia mulai berjalan cepat menyusuri anak tangga dan bertanya kepada pelayan rumahnya yang saat ini tengah sibuk mempersiapkan segala hal untuk menyambut para tamu meski tidak banyak yang datang.


" Kau melihat istriku? " Tanya Arnold kepada salah satu pelayan yang kini tengah menyusun kue ke piring kecil.


" Saya belum melihatnya Tuan. Terakhir saya melihat Nyonya muda semalam. "


Arnold mengeryit bingung, juga merasakan takut.


" Kau tanya dia akan kemana? "


" maaf, tapi saya tidak berani bertanya tuan. Saya hanya melihat Nyonya muda keluar dari pintu gerbang saja. "


Segera Arnold meraih ponselnya untuk menghubungi shen. Sudah enam kali, tapi dia juga tidak mendapatkan jawaban apapun karena sepertinya Shen menonaktifkan ponselnya. Tidak menyerah sampai disitu saja, Arnold mencoba untuk menghubungi salah satu orang tua Shen, dan syukurlah dia mendapatkan jawaban.


Ada apa? Saut Ibu Lean.


" Ibu mertua, bolehkah aku berbicara dengan Shen sebentar? "


Hening sejenak.


Kau pikir kau pantas? Menikah sajalah dan jangan perdulikan putriku, dan juga cucuku!


Arnold memegangi dadanya yang terasa nyeri mendengar Ibu Lean berbicara dengan nada membentak, dan ini adalah kali pertama baginya.


" Ibu mertua, aku akan menerima segala hukuman yang kalian berikan, tapi tolong izinkan aku bicara sebentar dengan Shen. "


Sudah tidak ada gunanya, Dia sudah pergi bersama Asha ke luar negeri.


Arnold memegangi pinggiran meja karena tubuhnya lemas seketika mendengar Shen dan Asha pergi.


" I Ibu mertua, apa sedang bercanda? Aku tahu Ibu mertua marah padaku, tapi tolong jangan membuat lelucon seperti ini. " Ujar Arnold yang menolak untuk mempercayai ucapan Ibu Lean.


Aku tidak akan mau bercanda denganmu, lagi pula bukankah itu bagus untukmu? Sekarang kau puas? Gara-gara kau, aku jadi harus berjauhan dengan anak dan cucuku, gara-gara kau putriku hancur dan lagi-lagi memilih untuk pergi!


" Ibu mertua, tolong beritahu aku, kemana Shen pergi. "


Tidak tahu, dia tidak memberitahu siapapun kemana dia akan pergi.


Panggilan terputus.


Begitu Arnold menyadari panggilan telah berakhir, segera dia berjalan cepat untuk mengambil kunci mobilnya, lalu berjalan berniat untuk mendatangi bandara dan mencari tahu kemana Shen dan Asha pergi.


" Arnold, kau mau kemana? Pernikahan kita akan segera di mulai. " Ucap Mona seraya menahan lengan Arnold karena dia tahu bahwa Arnold akan pergi.


" Lepas! " Arnold berbalik dan menghempaskan tangan Mona. Tentu semua ini menjadi pemandangan yang mengejutkan bagi para tamu yang kebanyakan adalah keluarga inti saja.


" Arnold, aku mohon jangan begini. Tolong, pernikahan kita sudah harus dimulai. "


Arnold mengeraskan rahangnya karena kesal sendiri.


" Dari awal, kaulah yang terus menerus datang menggodaku, kau melakukan segala cara untuk masuk ke hatiku, tapi bodohnya aku membiarkan saja karena lelah menolak mu, tapi karena ini aku kehilangan anak dan istriku. Menjauh lah, Mona. Aku tidak janji bisa bertahan lama untuk bisa mencegah tanganku memukul orang. "


" Arnold, tolong pikirkan bagaimana perasaan keluargaku, juga harga diri kami. "


Prok Prok Prok


Seorang wanita cantik dengan tatapan seolah jijik kini bertepuk tangan. Matanya yang bengkak, merah, bahkan masih tersisa air mata disana. Dress berwarna krim dengan motif bunga-bunga kecil nampak lusuh, rambut panjangnya tergerai agak berantakan, bahkan dia juga tidak memakai alas kaki.


" Marisa? " Seluruh anggota keluarga kini terperangah melihat keadaan Marisa yang kacau.


" Marisa, ada apa denganmu? " Tanya Ibunya Mona seraya berjalan mendekat, berniat untuk menyentuh wajah sang putri, tapi sayangnya Marisa mencegahnya dengan tatapan datar.


" Marisa, kenapa kau seperti ini? " Tanya Mona yang merasa iba melihat penampilan adiknya.


Marisa terkekeh dengan linangan air mata yang bercucuran. Begitu Marisa berhenti terkekeh, kini dia menatap Mona dengan tatapan dingin.


Plak!


" Marisa! Apa yang kau lakukan?! " Ibu mereka melotot marah ke arah Marisa, dengan segera dia memegangi Mona agar tak terjatuh.


" Marisa, apa kau gila?! " Kesal Mona sembari memegangi pipinya yang terasa panas.


" Marisa, tenangkan dirimu nak. Bicarakan saja baik-baik, jangan gunakan kekerasan. " Ayah mereka berjalan mendekat, niat awalnya ingin memeluk Marisa, tapi gadis itu dengan tegas menolak melalui tindakannya.


" Kau, kau adalah orang yang mengajariku tentang pentingnya harkat, martabat seorang wanita, kenapa kau tidak tahu malu merebut suami orang?! Dasar sampah! Mulutmu selalu sok bijak, tapi kelakuanmu seperti seorang pelacurrr! "


" Marisa! " Mona menampar pipi sang adik karena dirasa kata-kata Marisa sangat keterlaluan.


Marisa kembali menatap Mona, dia tersenyum seolah tak merasakan sakit di pipinya.


" Karena cinta bodoh mu, karena ke-egoisanmu, aku juga harus menderita, apa kau sadar seberapa banyak hati yang terluka karena ego mu? Kau menyakiti Shen, putrinya, orang tuanya, kakak dan adiknya, juga membuatku menderita! Karena mu aku tidak memiliki alasan untuk hidup lagi! Semuanya karena mu! kenapa kau menyakiti kami semua?! Apa salah kami?! Hanya karena satu pria, kau begitu tega terhadap kami! "


Bersambung......